PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Kedatangan Jack


__ADS_3

Velicia pergi ke rumah sakit di mana Dokter Herman yang menangani dirinya dari awal, Sesampainya ia di rumah sakit langsung menuju ke ruangan Dokter.


Ia mengetuk pintu, tak lama seorang suster membukakan-nya. Velicia masuk dan disambut hangat oleh Dokter Herman.


"Apa kabar, Dok?" tanya Velicia sambil tersenyum mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Dokter Herman


"Kabar baik, Nyonya. Apalagi memiliki pasien yang begitu semangat seperti Anda," ujar Dokter Herman.


Tanpa menunggu lama Dokter Herman memeriksa Velicia dan melakukan tes darah lagi. Pria itu kembali memberikan obat anti nyeri buat pasiennya. Setelah selesai seperti biasa hasil tesnya akan diambil oleh Clara.


Velicia berlenggang keluar dari rumah sakit menuju ke mobilnya. Wanita itu tidak peduli dengan tatapan orang  yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Ia masuk mobil dan langsung melajukan dengan kecepatan sedang. Kini dihidupkannya musik di mobilnya, selama ini tidak pernah tahu apa hasil dari pemeriksaannya karena tidak ingin mendengarnya.


Velicia akhirnya sampai di villanya, wanita itu masuk di sambut Bik Imah dengan senyuman. Ia hanya tersenyum sekilas lalu berjalan menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. Dibukanya pintu kamarnya, diambilnya handuk kemudian masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


***


Di vila milik Tuan Besar Setyawan Andreas yang sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya, pria itu tersenyum melihat foto gadis kecil yang selalu memintanya memainkan piano. Senyum mengembang di bibirnya saat mengingat pertemuannya waktu melakukan konser di dekat kafe.


Lamunannya buyar karena kedatangan adik dinginnya itu. Arnold datang langsung menghempaskan tubuhnya. Mata Andreas mengernyit karena baju yang dipakai  sang adik  terlihat basah di depannya.


"Ar, kamu dari mana? Kenapa pakaianmu basah?" tanya Andreas.


Arnold menunduk melihat bajunya, karena ia sekarang begitu gerah dan tubuhnya terasa lengket. Ditambah lagi aroma jus di tubuhnya. Namun, pria itu begitu lelah untuk berjalan menuju ke kamarnya.


"Apa ada masalah?" tanya Andreas yang begitu menyayangi sang adik.


"Tidak Kak, hanya lelah saja," jawab Arnold tersenyum.


"Syukurlah," ujar Andreas.


Arnold tidak menjawab, ia masih mengingat bagaimana mantan istrinya hari ini begitu cantik. Bibirnya naik ke atas andai saja senyum tadi untuk dirinya. Pria itu mengerti kenapa Velicia bersikap seperti itu karena kesalahannya begitu fatal untuk istrinya.

__ADS_1


Sekarang Arnold hanya butuh waktu untuk membuktikan kepada Velicia, kalau sekarang dirinya akan berjuang untuk kembali lagi kepadanya. Kenapa cinta itu datang saat ia sudah berpisah dengan sang mantan istri.


"Kak, apa kamu sudah pernah jatuh cinta?" tanya Arnold sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Iya, bahkan waktu itu kami bertemu, gadis itu tetap sama tidak berubah," ujar Andreas sambil tersenyum.


Arnold terkekeh, melihat wajah Kakaknya yang begitu senang. Menceritakan orang yang dicintai memang begitu menyenangkan. Ia beranjak dari duduknya, membuat sang Kakak merasa heran.


"Mau kemana?" tanya Andreas.


"Mencari cinta sejati," jawab Arnold sambil terkekeh melihat wajah sang Kakak yang begitu kesal atas jawabannya.


Arnold langsung berjalan menuju ke arah tangga di mana kamarnya dulu berada. Pria itu tersenyum, ia rindu akan kebersamaan keluarga yang utuh. Dulu tidak ada rasa untuk membina rumah tangga bersama mantan istrinya, yang ada  hanyalah saling menyakiti dan memuaskan, walaupun dirinya tidak pernah bersikap lembut. Velicia selalu mau melayaninya entah itu ikhlas ataupun terpaksa.


Arnold tersenyum, saat mengingat mata mantan istrinya tadi begitu shock karena ulah Viona, ia juga merasa perasaannya kepada kekasihnya itu sekarang terasa hambar. 


Arnold masuk kamar mandi, dan langsung melakukan ritualnya, Sedangkan di lantai bawah Andreas sedang asik dengan ponselnya sampai tidak menyadari akan kehadiran Tuan Besar Setyawan.


Andreas  hanya tersenyum dan mengangguk, ia menatap pria paruh baya itu yang terlihat begitu letih. Ada rasa iba dalam hatinya karena di umur yang tidak lagi muda Papanya masih begitu giat bekerja.


Andreas berjalan menuju ke kamarnya saat melihat Tuan Setyawan sudah tidak terlihat lagi. ia hanya bisa menarik napas dalam. Rumah ini sudah tidak sehangat dulu lagi. Pria itu merebahkan tubuhnya, tak lama  kedua matanya tertutup.


***


Di Bandara Sultan Babullah, seorang pria memakai kacamata hitam, tubuh tinggi sedang berjalan dengan buru-buru menuju keluar bandara. Tak jauh darinya seorang wanita berwajah datar sedang menunggu.  Pria itu tak lain Jack, jam lima subuh mendapat email dari Dokter Herman yang menangani Velicia mengatakan kalau kondisi adiknya itu sudah begitu parah, walaupun ia terlihat begitu kuat dan tegar dengan penyakitnya.


Jack tanpa menunggu dibukakan pintu langsung masuk ke kursi kemudi membuat Clara sang asisten Velicia hanya tersenyum tipis. Pria itu paling pantang kalau seorang wanita menjadi sopir atas dirinya.


"Clara, kamu sudah atur pertemuan dengan Dokter Herman?" tanya Jack.


"Sudah Pak, bahkan beliau yang langsung mencari dokter di Jerman," ujar Clara.

__ADS_1


Jack hanya diam, pria itu fokus mengemudikan mobilnya, sekarang yang ia pikirkan bagaimana membujuk Velicia untuk pergi keluar negeri. Walau di rumah sakit tempat dokter Herman praktek sudah ada beberapa alat yang begitu canggih. Namun, Dokter itu masih menyarankan agar Velicia di bawa ke dokter James Smith. 


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, pria itu sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah sakit. Mobil berhenti di area parkir rumah sakit. Jack langsung keluar beriringan dengan Clara.


Sesampai di lobby Dokter Herman sudah menunggu Jack karena subuh tadi  Clara menghubunginya. Mereka langsung berjalan menuju ke ruangan Dokter Herman.


"Bagaimana, Dok?" tanya Jack.


Dokter Herman menjelaskan kalau Velicia sudah semakin memburuk kondisinya, tetapi semangat untuk hidup itu yang begitu besar hingga wanita itu masih bertahan tidak perlu untuk dirawat.


Jack dan Clara saling tatap, tak lama Dokter Herman juga menjelaskan kemungkinan apa yang akan terjadi saat pengobatan yang akan dilakukan oleh Velicia. Karena dokter hanya bisa berusaha, sedangkan yang memberi hidup Tuhan. Tak lama keduanya pamit kepada Dokter Herman.


Jack mengemudikan mobilnya menuju Vila milik keluarga Arista. Selama tiga puluh menit keduanya sampai, Villa terlihat begitu sepi membuat Jack hanya bisa menarik napas panjang.


Pintu terbuka keluar sosok wanita yang kini sedang tersenyum kepada Jack, Bik Imah begitu merindukan anak angkat dari majikannya itu.


"Tuan Muda, apa kabar?" tanya Bik Imah sambil menunduk hormat.


Jack begitu geli dengan pengasuhnya, dipeluknya wanita paruh baya itu dan mengajaknya masuk. 


"Bik, Cia mana?" tanya Jack.


"Wah, kamu jahat Jack! datang tidak memberitahuku," sahut Velicia dari tangga.


"Hai gadis nakal," kata Jack langsung memeluk tubuh adiknya itu.


Jack memejamkan matanya, saat mendapatkan kalau tubuh yang dipeluknya kini semakin kurus. Diajaknya Velicia untuk duduk bersamanya.


"Cia, apa kamu mau berobat keluar Negeri?'


Bersambung ya...

__ADS_1


__ADS_2