PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Penolakan Velicia


__ADS_3

Velicia terdiam, ia menatap wajah tampan di depannya. Untuk apa pria itu menanyakan hal itu kepadanya. Sekarang bahkan dia sudah tidak memikirkan lagi, wanita itu menatap lekat wajah Arnold.


"Ar, aku pamit," kata Velicia.


"Cia, aku tahu kamu mencintaiku. Mari kita pacaran sekarang," kata Arnold.


Velicia menghentikan langkahnya, jujur dia tidak mengerti apa maksud dari pria itu , wanita itu bingung kenapa dulu Arnold menolaknya, kenapa harus sekarang baru bilang ingin pacaran dengannya? Banyak pertanyaan yang bersemayam dalam harinya.


Velicia ragu-ragu sampai Arnold berkata, "Dia bisa pacaran dengannya sebelum menikah dengan Viona."


Mendengar apa yang  baru di dengarnya membuat Velicia tersadar Arnold sudah mau menikah dan sekarang mau pacaran dengannya hanya sebatas rasa kasihan pada dirinya saja. wanita merasa tidak perlu di kasihani.


"Maaf Aku tidak bisa ,Ar!" seru Velicia.


Arnold tertegun, padahal dia yakin kalau mantan istrinya itu masih mencintainya. Namun, kenapa dia dengan mudah menolaknya. Pria itu merasa dadanya sesak, tapi dia bingung apa yang kini dirasakannya saat mantan istrinya ya itu menolak pacaran dengannya.


Velicia berjalan menuju pintu luar, langkahnya terlihat lambat karena menahan rasa sakit karena kanker serviksnya itu. Ia menuju ke mobilnya, perlahan mobil itu melaju dengan kecepatan sedang.


Hari-hari Velicia kini terlihat begitu lemas, dia rasanya tidak sanggup untuk hidup lebih lama lagi, tapi ia ingin melihat pria yang dicintainya bahagia menikah dengan wanita yang dicintainya itu.


Velicia tidak ingin menghabiskan waktunya hanya diam diri saja di dalam rumah diakhir hidupnya yang tinggal beberapa hari lagi ini, Dia keluar dari rumah tidak lupa menguncinya lagi.


Saat sedang berjalan menuju mobil tak lama ponselnya bergetar tanda ada telepon masuk, Wajahnya yang tadi terlihat murung kini tersenyum kembali saat melihat nama Merry yang menghubunginya.


"Halo, Merry," sapa Velicia.


"Kenapa lama sekali mengangkatnya, apa kamu tidak rindu padaku, Velicia?" tanya Merry yang terdengar kesal.

__ADS_1


"Jangan bilang begitu, tapi ada apa tiba-tiba kau menghubungiku?" tanya Velicia.


"Hahhahah, kamu sahabat terbaikku. Selalu tahu apa yang aku mau," goda Merry dari seberang sana.


"Cih, katakanlah! apa yang bisa aku bantu, Merry?" tanya Velicia.


"Baiklah jika kamu memaksanya, temani aku mencari Hansen," kata Merry.


"Kapan?" tanya Velicia singkat.


"Hari ini kalau Anda tidak repot , Nona." kata Merry.


"Baiklah tunggu aku dua puluh menit lagi," kata Velicia setelah itu dia mematikan teleponnya.


Velicia mengemudikan mobilnya menuju kediaman Merry, wanita itu tidak lupa meminum obatnya yang ada dalam tas dan air mineral yang selalu dia siapkan di mobil. Setelah menempuh perjalan selama tiga puluh menit karena macet wanita itu sampai di depan Kafe.


Velicia segera turun dan menuju ruang merry, saat dirinya sampai dia melihat sahabatnya tersenyum. Karena Velicia sudah lama tidak melihat merry berdandan, terlihat murni sekali. Dia memakai kaos putih dan celana jeans, lalu berkata, “Hansen tidak pernah melihatku berdandan.”


Velicia juga berdandan simple saja, ia ganti baju, tapi wanita itu tidak sanggup menutupi aura dirinya yang elegan. Senyum mengembang saat dia memakai makeup tipis di wajahnya, jujur baru pertama kalinya ia berdandan natural seperti ini. Namun, wanita itu terlihat masih begitu muda.


Selama dia menikah dengan Arnold, Velicia tidak pernah menampakan wajah polosnya kepada pria itu, karena dia ingin terlihat dewasa di depan suaminya. Keduanya sudah siap, dan segera masuk mobil untuk menuju ke salah satu desa terpencil, jalanan yang begitu sempit dan  banyaknya lobang membuat Velicia lambat mengemudikan mobilnya. Ditambah lagi habis turun hujan membuat kondisi jalan membutuhkan skil untuk  memacu adrenalin.


Selama menempuh perjalan  3 jam keduanya sama sekali belum istirahat, Merry membaca alamat yang dia dapat waktu itu, ia memberikan arahan jalan kepada Velicia. Kini mobil berhenti tepat di depan rumah yang terlihat jauh dikatakan dari sederhana itu.


Merry berjalan menuju ke arah rumah yang dipastikan itu rumah neneknya Hansen, Velicia perlahan mengikuti sahabatnya itu.


"Apa kamu yakin ini rumahnya?" tanya Velicia.

__ADS_1


"Sepertinya ia, lihat ini alamatnya sesuai, tapi sepertinya tidak ada orang," jawab Merry.


Tidak lama pintu terbuka, muncul sosok yang seorang pria yang duduk diatas kursi roda, disusul wanita paruh baya. Merry begitu terkejut melihat Hansen kehilangan kedua kakinya, kini dia duduk di kursi roda, ibarat bunga Sakura yang sudah hampir gugur. Ia berjalan menghampiri Hansen dan bertanya,"Kenapa bisa menjadi seperti ini?"


"Kamu siapa?" tanya Hansen.


Merry terkejut, pria yang dicarinya itu selama delapan tahun itu sama sekali tidak mengenalnya.


Nenek Hansen melihat Merry yang begitu sedih saat Hansen tidak mengenali dirinya pun berkata," Hansen bilang sering begini, tidak tahu apa sudah jadi bodoh."


Setelah selesai berbasa-basi dengan Nenek Hansen Merry dan Velicia pamit untuk segera kembali ke kotanya, terlihat wajah kecewanya. Selama di dalam mobil wanita  itu yakin kalau Hansen baik-baik saja, dia merasa Hansen kekeh tidak mau mengenalnya.


Selama diperjalanan hanya ada keheningan saja, Sampai Merry berkata," Harusnya aku mati delapan tahun yang lalu, jika Hansen tidak menyelamatkanku,."


Hati Merry  baru akan berdetak dan bahagia jika Hansen masih hidup dan dirinya akan bahagia! Wanita itu berulang kali mengatakan kata, "Bahagia.”


" Aku akan kehilangan segalanya jika mengejar Hansen, terutama uang," kata Merry


Velicia menatap sahabatnya itu lalu mengingatkan Merry dan berkata, "Setahun yang lalu, aku meletakkan sebuah kartu di depan komputermu, harusnya kamu tahu itu, tapi kamu tidak pernah menanyakan PIN-nya padaku.”


"Aku tahu pinnya berapa!" kata Merry, Hal itu membuat Velicia tidak bisa mengatakan apa-apa karena sahabatnya itu paling mengerti akan dirinya.


Mobil yang dikemudikan oleh Velicia sudah sampai di depan kafe, tak lama keduanya turun dan segara duduk di meja bagian pojok dimana meja itu paling disukai oleh Velicia. Pelayan datang membawakan teh untuk kedua wanita cantik itu, keduanya terlihat begitu lelah.


Merry masih memikirkan Hansen yang tidak mengenali dirinya tadi, entah apa itu lebih baik untuk dirinya. Namun, gadis itu merasa hutang budi kepada pria cacat itu. Hansen cacat karena dia menyelamatkan dirinya.


Pengorbanan Hansen begitu besar, dia rela mati hanya demi dirinya. Merry menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasa bersalah dan hutang budi kepada pria itu begitu dalam. Apa sebaiknya dia mengurus Hansen untuk membalas budinya.

__ADS_1


Velicia yang sedang asik menikmati teh hijaunya yang membuat hatinya tenang, tapi tiba-tiba ia merasakan tubuhnya lemas.


Bersambung ya.


__ADS_2