
Andreas ponselnya berdering terlihat nama Leon yang muncul.
"Hallo," kata Andreas.
"Tuan Besar masuk rumah sakit dan-," kata Leon yang langsung di sela oleh Andreas
"Apa? Andreas terkejut.
Semua yang berada di ruangan itu menatap pria itu, Andreas berjalan menuju ke arah, adiknya dan Mamanya. Pria itu mengajaknya keluar dulu untuk membiarkan apa yang sudah Leon katakan kepadanya.
Setelah ketiganya keluar, pria itu menatap sendu adik Mamanya dan berkata."Papa dirawat di rumah sakit sekarang."
Deg, Aura mantap Kakak dan Mamanya bergantian. Gadis itu merasa kalau mimpinya tadi malam itu sebagai firasat.
Air mata Aura sudah mengalir membasahi kedua pipinya, melihat itu Mama Maria memeluk putrinya itu.
"Coba hubungi Arnold, Nak!" perintah Mama Maria.
"Tidak diangkat Mam," kata Andreas.
"Ada apa?" tanya jack yang keluar karena ia tahu ada sesuatu yang serius.
"Papa masuk rumah sakit, jantungnya kambuh lagi," ujar Andreas.
Jack menarik napas panjang, ia tidak mungkin pulang jika keluarga Andreas juga sedang dalam masalah.
"Kalian pulang, bagaimanapun itu lebih penting," kata Jack.
"Kamu enggak apa-apa?" tanya Andreas.
"Jangan Khawatir," jawab Jack sambil mengusap bahu Andreas.
"Kami akan langsung cari tiket, Jack, sebaiknya jelaskan kepada Cia kalau sekarang ia berada di jerman," kata Andreas.
"Biar aku yang mengurusnya." Jack mengantarkan Andreas sampai di lift.
Setelah lift tertutup barulah Jack pergi menuju ruang rawat adiknya, perlahan dibukanya pintu kedua wanita yang begitu berarti untuknya itu sedang menatapnya.
"Jack ada apa?" tanya Velicia.
Jack hanya menatap Adik dan istrinya bergantian, ia berat untuk mengatakan kepada wanita yang sedang terbaring lemah itu, tapi mau tak mau lambat laun Cia akan mengetahuinya.
"Cia, maaf kalau aku harus membawamu dengan cara berbohong," kata Jack.
"Berbohong soal apa?" tanya Cia sambil menaikan kedua alisnya.
Jack akhirnya menceritakan kepada adiknya apa yang terjadi saat Cia menolak untuk keluar negeri waktu itu. Mendengar itu Cia menatap tak percaya.
Jack menatap Cia intens, dan wanita itu menjawab." Aku sudah tahu, saat kemoterapi kedua."
"Maaf," kata Jack sambil memegang tangan Cia.
__ADS_1
"Apa yang terjadi tadi?" tanya Cia yang tidak mau membahas hal tadi.
Jack mengusap wajahnya dengan kasar." Tuan besar jantungnya kambuh."
Velicia terdiam, air matanya menetes jika ingat pria paruh baya itu pasti saat ini sendiri karena anak dan istrinya berada di Jerman bersamanya.
"Jack apa mereka sekarang langsung kembali ke tanah air?" tanya Cia menatap sang kakak yang hanya menganggukkan kepalanya saja.
Velicia hanya diam, wanita itu menatap langit-langit kamarnya, kalau Cia sendiri karena tidak ada yang ia miliki lagi, sedangkan Tuan besar keluarganya semua ada. Namun kurangnya komunikasi.
"Cia, kamu jangan diam saja, maaf jika aku mengecewakanmu," ujar jack yang merasa adiknya marah kepadanya itu.
"Aku nggak marah Jack," ujar Cia tersenyum.
Melihat adiknya yang sudah mengantuk Selly memberi kode kepada suaminya untuk duduk di sofa saja. Karena tidak ingin mengganggu tidurnya.
****
Di Ternate.
Di Salah satu ruang rawat, pria paruh baya masih terbaring dengan lemah ditemani oleh putrinya yang kini duduk di samping ranjangnya.
Tuan Besar Setyawan menatap putranya yang baru datang itu dengan intens dan bertanya," Ar, Apa kamu masih menjalin hubungan dengan wanita itu?"
"Papa jangan memikirkan itu dulu," kata Arnold karena tidak ingin orang tuanya membahas hal pribadinya.
Tuan Besar hanya tersenyum tipis, putranya yang nomor dua itu benar-benar mengikuti semua sikapnya.
"Leon apa hari ini aman?" tanya Tuan Besar Setyawan.
"Aman Tuan, untuk masalah kerja sama dengan Jack sudah saya selesaikan," ujar Leon.
"Saya percaya kamu bisa diandalkan," ujar Tuan Besar Setyawan.
Arnold hanya diam, ia tahu kalau papanya itu sedang menyindirnya. Leon merasa tidak enak, tapi kenyataan kalau itu apa adanya.
"Ar, kamu nggak jemput adik dan kakakmu, Nak?" tanya Tuan besar Setyawan.
Arnold hanya menarik napas panjang, kalau ia tidak fokus bekerja bisa -bisa grub Arista akan gulung tikar karenanya, sedangkan dulu waktu masih di handle oleh Velicia tidak pernah mengalami goncangan seperti ini.
Arnold beruntuk Cara cerdas dan cekatan, hingga masaIah yang timbul bisa ia selesaikan dengan cepat tanpa terendus publik.
"Ar, satu jam lagi pesawat akan sampai," ujar Leon.
"Iya bawel!"gerutu Arnold kesal sambil beranjak dari duduknya.
"Hati-hati, Nak." Tuan Besar menatap putranya itu.
"Iya Pa," kata Arnold sambil menutup pintu.
Tuan besar yang akan duduk dibantu oleh Leon, pria paruh baya itu melarang Leon untuk pergi karena ia akan berniat menjodohkan putrinya itu dengan asistennya hingga perusahan akan tetap terkendali saat dipegang menantunya nanti.
__ADS_1
"Tuan, saya harus kembali ke kantor," kata Leon.
"Kamu tunggu sampai Andreas sampai baru pergi, karena saya tidak mau sendiri," ujar Tuan besar kepada asistennya.
"Leon apa kamu sudah mengirim orang untuk menjaga Velicia?" tanya Tuan Besar.
"Sudah Tuan, pagi tadi sudah berangkat," kata Leon
"Syukurlah, kasihan anak itu." kata Tuan Besar.
Leon hanya diam karena ia jujur tidak tahu masalah apa, hingga Nona Arista harus dibawa ke jerman dan Arnold jangan sampai tahu.
Setelah satu jam Aura dan Andreas masuk ke ruang Papanya, melihat anak dan istrinya datang pria itu langsung teringat Velicia.
"Kenapa kalian datang semua?" tanya Tuan Besar Setyawan.
"Papa kami khawatir," kata Aura langsung memeluk pria paruh baya itu.
Leon hanya terdiam hingga, pria itu pamit. Namun, Tuan besar berharap Aura untuk ikut Leon ke kantor.
"Pa, kenapa harus aku," kata Aura karena ada Andreas dan Arnold.
"Kamu kuliah jurusan bisnis, mulailah belajar, Nak." Tuan besar tersenyum hangat kepada putrinya itu.
Leon jalan lebih dulu di ikuti Aura yang terlihat kesal, karena ia capek dan Lelah.
"Kak," panggil Aura.
"Hem," jawab Leon dingin.
"Aku nanti enggak ikut meeting ya aku mau tidur," kata Aura yang kini sudah berada di mobil bersama asisten papanya itu.
"Nona, kalau Tuan menanyakan Anda bagaimana?" tanya Leon.
"Hah, aku capek," kata Aura sambil menyadarkan kepalanya.
Aura menatap Leon yang fokus mengemudikan mobilnya, gadis itu tersenyum jika ia ingat harus menjadi wakil Papanya saat meeting nanti.
"Kak, "panggil Aura lagi.
"Hem." Leon menjawab singkat.
Selama Kak Cia pergi apa yang dilakukan kak Arnold?" tanya Aura.
"Maaf Nona, itu bukan urusan saya," jawab Leon.
Aura menatap kesal orang kepercayaan Papanya itu dan berkata." Kakak pria yang paling nyebelin yang aku kenal."
"Hati-hati Nona, bisa jadi saya jodoh Anda!"
Bersambung ya..
__ADS_1