
"Jangan maksud apa , Ar?" tanya Cia .
"Sayang, selama ini Viona tidak ada kabar. Tiba-tiba datang memberikan anaknya kepada kita." Arnold mengusap punggung istrinya itu.
Cia terdiam, ia hanya menarik napas panjang." Ayo kita titipkan anak kita ke Mama."
Arnold. mendengar itu hanya mengangguk, kini kedua keluar dari kamar. Sedangkan Maria kini sedang membaca majalah di ruang keluarga.
"Mama, apa akan keluar?" tanya Cia.
Maria mendengar itu langsung mengangkat kepalanya, wanita paruh baya itu langsung terlihat berbinar saya melihat anak yang berada di gendongan Cia.
"Tidak Mama hanya di rumah saja, kenapa?" tanya Maria.
"Mam, aku dan Cia akan belanja perlengkapan anak itu." Arnold menunjuk bayi yang berada di gendong istrinya.
"Anak kita, Ar." Cia menatap tidak suka suaminya itu karena enggan menyebutkan anak mereka berdua.
Selama dalam perjalanan, Cia hanya diam. Hatinya begitu hangat saat anak Viona berada dalam dekapannya.
Ia berharap suaminya segera mengurus surat adopsi untuk putranya itu. Cia sedang memikirkan siapa nama untuk putranya nanti. Sedangkan Arnold membiarkan istrinya sibuk dengan pikirannya sendiri. Pria itu fokus mengemudikan mobil
Arnold menghentikan mobilnya depan toko perlengkapan bayi. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Cia langsung keluar tanpa menunggunya.
"Sepertinya aku akan memiliki saingan setelah ini," kata Arnold lirih.
Arnold segera
Maria langsung berdiri, wanita itu dengan senang hati mengambil alih bayi berjenis kelamin laki-laki itu dari tangan Cia." Kalian pergilah, biar mama jaganya." Maria langsung membawa anak itu masuk kamar.
Arnold dan Cia segera keluar, keduanya segera menuju mobil. Tidak berselang lama Arnold mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kita langsung ke perlengkapan bayi saja."
Arnold hanya mengangguk, keduanya sama-sama tidak masuk kantor. Hingga para sekretaris yang kini sibuk.
Cia dan Arnold sudah sampai, keduanya sibuk memilih. perlengkapan untuk anaknya Viona yang sebentar lagi akan menjadi anak adopsi untuk keduanya.
***
__ADS_1
Di Apartemen, Pagi harinya Aura terbangun lebih dulu dari suaminya, wanita itu begitu terkejut saat duduk tiba-tiba selimutnya terjatuh dan menampakan tubuh polosnya. Dengan gerakkan cepat wanita itu langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Namun, saat tubuhnya sudah tertutup matanya melebar dan langsung berteriak melihat tubuh polos suaminya.
"Sayang, ada apa?" tanya Leon terkejut karena mendengar istrinya memekik.
Aura menutup wajahnya dengan selimut karena suaminya kini duduk menghadap ke arahnya dan berkata."Kak pakai bajunya."
"Oh, kirain apa," jawab Leon santai tanpa rasa bersalah.
Aura mendengar pintu kamar mandi tertutup baru membuka selimutnya. Wanita itu segera mengambil pakaiannya yang tercecer begitu juga punya suaminya. Walau ada rasa malu atas apa yang dilihatnya tadi
Aura memakai kimono dilihatnya jam masih menunjukan pukul empat tiga puluh menit. Tidak lama pintu kamar mandi terbuka Leon keluar hanya melilitkan handuk di pinggangnya.
"Sayang mandi, gih!"perintah Leon.
"I-iya Kak," jawab Aura gugup karena melihat suaminya keluar telanjang dada hanya handuk yang menutupi aset berharganya.
Leon tersenyum saat melihat istrinya masih malu-malu kepadanya. Pria itu mengambil pakaian yang sudah disiapkan Aura.
Leon mengambil ponsel istrinya ada panggilan tak terjawab dari Maria, dan pesan mengatakan jika Aura anak nakal. Tanpa menunggu lama ia menghubungi mertuanya itu
"Halo Mama," sapa Leon.
"Kamu sudah lupa sama Mamamu, hah! dasar anak nakal!" Maria mengomel kepada putrinya dari semalam dihubungi tidak diangkat.
Sambungan telepon tiba-tiba mati. Namun, tidak lama ada panggilan video call. Leon yang tahu mertuanya dalam mode on langsung mengangkatnya.
"Kamu sedang di mana, kamu apakan Shinta sampai menghubungi Mama menangis kayak orang habis ditinggal mati pacarnya ," ujar Maria tanpa jeda.
"Mama tanyanya satu-satu, ia Andreas ribut sama Shinta karena menunda pernikahan," adu Leon.
Maria terdiam, wanita itu menatap Leon tidak percaya dan bertanya, "Kenapa bisa begitu?"
"Pernikahan Andreas dan Shinta belum tahu kapan karena tidak ada kepastian dari pihak wanitanya," jawab Leon sambil memberi kode kepada istrinya untuk mendekat.
Kini Aura yang terlihat di ponsel Bundanya dan berkata."Secepatnya kalian nasehati Shinta."
"Iya Yah, tunggu waktu yang tepat," jawab Leon.
Aura menarik napas panjang dan bertanya."Kenapa kita yang jadi mengurus mereka, Kak."
__ADS_1
"Sabar," kata Leon sambil mengusap kepala istrinya.
Aura hanya tersenyum, wanita itu mengusap perutnya yang susah mulai terlihat itu. Leon ikut mengusap perut istrinya.
"Sayang, sepertinya anak kita ingin dijenguk Papanya lagi," ucap Leon.
Mendengar itu Aura memukul lengan suaminya."Tidak aku lelah."
Leon hanya tersenyum, pria begitu bahagia walau istrinya sering berpikir seperti anak kecil, tapi rasa sayang untuk istrinya kian besar.
Leon beranjak dari duduknya pria itu menuju ke ruang kerjanya.
Setiap orang ingin pernikahannya langgeng sampai kakek Nenek, begitu juga dengan Aura. Diperintahkan yang kedua ini berharap tanpa gangguan dari pihak ketiga ataupun yang lainnya.
Nyatanya itu hanya isapan jempol semata, memiliki suami tampan dan seorang CEO. Membuat wanita itu harus lebih sabar untuk mendampingi Leon yang tak lain suaminya.
Leon, Beraut wajah tampan hidung mancung, kulit putih dan pipi jambang tipis. Merupakan paket komplit karena ia juga seorang CEO dari perusahaan milik keluarganya
Memiliki otak yang cerdas, membuat Leon dengan mudah memajukan perusahaan dan memiliki rekan kerja baik di luar dan dalam negeri.
Sifatnya yang begitu posesif kepada Istrinya membuat, Aura setiap keluar harus di jaga oleh anak buahnya. Leon tidak mengizinkan Aura hanya pergi seorang diri
Aura hampir lupa tujuannya turun lebih dulu tadi, wanita itu buru-buru beranjak dari duduknya karena kopi Leon belum dibuatnya.
Ia hanya menggelengkan kepalanya saja, Tidak berselang lama Leon terlihat menuruni tangga dengan menenteng tas dan jasnya. pria itu terlihat terkejut karena masih pagi sudah ada Andreas.
"Tumben?" tanya Leon
"Santai aja," jawab Andreas
Leon yang paham hanya mengangguk, pria itu segera menuju meja makan untuk sarapan. Anderas ikut bergabung.
"Aura," sapa Andreas.
Aura tersenyum melihat suaminya diacuhkan oleh Andreas sedangkan Leon menatap kakak iparnya itu tidak suka karena saat di sapa harusnya menjawab atau membalasnya dengan tersenyum.
"Aura ingat pesan Kakak," kata Leon.
Aura hanya mengangguk, Wanita itu tersenyum karena Leon tidak lelah Mengingatkannya untuk hati-hati.
__ADS_1
Leon mengusap punggung tangan istrinya, ia paham bagaimana perasaan Aura. Pria itu akhirnya agak terlambat ke kantor karena harus mengantarkan Andreas.
Setelah suaminya pergi Aura mengajak Shinta untuk bertemu, wanita itu duduk di ruang keluarga. Aura merasa tidak enak karena apartemen sepi jika suaminya pergi