PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Ikatan Batin


__ADS_3

Arnold mengikuti serangkaian tes, setelah satu jam hasilnya keluar, seorang perawat meminta Arnold untuk berganti baju karena operasi akan langsung dilakukan saat pukul sepuluh waktu singapura.


Sebelum operasi Arnold bertemu Mamanya, dan berkata."Mam, jika ada apa-apa denganku tolong berikan ini kepada Cia."


Maria menerima  amplop berwarna  Pink, matanya menatap putranya  sendu dan berkata."Ingat ada Cia yang menunggumu, Nak."


Arnold  tersenyum dan berkata."Mam, maaf jika selama ini aku tidak pernah menjadi kebanggaan  kalian seperti kakak."


Maria memeluk  putranya erat, ibu mana tidak sakit hatinya saat putranya membandingkan dengan saudaranya. Tuan Besar menatap dua orang yang begitu dicintai itu sambil mengusap  air matanya.


Arnold mengurai pelukan  dari Mamanya kini ia menatap  Papanya yang selama ini selalu ia repotkan.


"Pa-." Arnold tidak sanggup untuk meneruskan ucapannya. 


"Jangan katakan apa pun, Nak."Tuan Besar memeluk putra keduanya itu sambil mengusap bahu Arnold.


Maria datang dan memberikan ponselnya  kepada Arnold.


"Adikmu ingin berbicara," kata Maria.


"Halo," kata Arnold.


Mata Arnold  melebar saat mendengar suara istrinya yang begitu ia rindukan.


"Cia," ucap Arnold.


"Hai, kenapa terkejut. Apa Anda tidak mau mengabariku Tuan," goda Cia sambil terkekeh  walau ia tahu Arnold tidak melihatnya.


Senyum mengembang di bibir Arnold, melihat itu Maria dan Tuan Besar Setyawan saling pandang.


"Cia mungkin nanti aku akan jarang menghubungimu. Namun, percayalah jika aku baik-baik saja." Arnold tidak ingin jika ada sesuatu terjadi pada dirinya saat pasca operasi nanti istrinya akan mencarinya.


"Apa pun yang terjadi tetap kabari aku!" pinta Cia.


"Pasti sayang," ujar Arnold. 


Arnold tersenyum menatap handphone Mamanya, senyum itu menular kepada kedua orang tuanya.


Seorang perawat datang, meminta supaya Arnold segera masuk ruang operasi. Arnold memeluk kedua orang tuanya bergantian.


"Doakan semua lancar, Pa, Ma." Arnold langsung berjalan mengikuti perawat masuk ke sebuah ruangan.


Hawa dingin mulai terasa di kulitnya saat melihat Andreas sudah berada di ruangan yang sama dengannya. Ditatapnya wajah pucat itu dan berkata."Semoga lancar Kak, jika ada apa-apa denganku aku titip Cia."

__ADS_1


Dokter Marsel mengusap bahu Arnold dan mempersilahkan pria itu untuk berbaring. Arnold menatap langit-langit ruang operasi dipejamkannya matanya untuk mengingat satu nama di hatinya Velicia yang sekarang juga sedang berjuang untuk kesembuhannya sendiri.


Di luar ruang operasi Maria terlihat begitu gelisah, begitu juga dengan dua orang tak jauh darinya Tuan Besar Setyawan dan Shinta juga terlihat begitu mencemaskan Andreas dan Arnold.


*****


Berlin.


Velicia yang sedang makan, merasakan dadanya tiba-tiba sesak hal itu membuat Aura menghampirinya dan bertanya."Kakak kenapa?" 


"Aura, kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak. Apa Arnold sudah menghubungimu?" tanya Cia menatap mantan adik iparnya itu penuh harap.


"Belum Kak, percayalah Kak Arnold pasti sekarang sedang sibuk," ujar Aura.


Maaf, andai Kakak tahu jika Arnold kini sedang mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Kak Andreas.


Velicia menatap Aura, seakan ada yang sedang disembunyikan darinya. Namun sayang, ia bukan tipe yang harus memaksa.


Aura terlihat begitu gelisah, sudah satu jam semenjak Mamanya mengirimkan pesan kepadanya jika Arnold sudah masuk ruang operasi.


"Aura, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Cia karena wajah gadis di depannya itu terlihat begitu pias.


"Tidak ada Kak, aku hanya menunggu proyek yang sedang dikerjakan Leon dan Kak Arnold," ujar Aura terpaksa berbohong.


Aura tersenyum, ia ingat pesan Arnold jangan terlalu mencemaskan dirinya. Gadis itu sebisa mungkin terlihat merasa lega.


"Kak, kenapa aku bisa meragukan si kaku itu," kata Aura sambil menggelengkan kepalanya.


"Jodoh kali, "goda Cia yang langsung dipelototi oleh Aura.


Cia langsung tergelak, wanita itu sudah lama tidak tertawa lepas seperti saat ini. Aura yang ditertawakan oleh Kakak iparnya itu hanya memanyunkan bibirnya.


"Kak!"seru Aura.


Cia hanya menggigit bibir bawahnya, tetapi sayangnya semakin membuat Aura terlihat kesal. Melihat Bibir cemberut mantan adik iparnya itu akhirnya Cia berkata."Maaf, jangan marah."


"Kak, apa kakak sampai sekarang masih mencintai Kakak Arnold?" tanya Aura.


Velicia menatap Aura intens, kemudian menarik napas panjang dan berkata."Cinta itu tidak mudah dihapus begitu saja."


Cia tersenyum tipis, jika mengingat selama tiga tahun ia salah menikahi pria. Namun, itu tidak membuat cintanya berubah kepada Arnold. Apalagi saat mantan suaminya mendampinginya saat kemoterapi membuat hatinya begitu tersentuh karena selama ini Andreas yang cinta pertamanya tidak melakukan hal yang dilakukan adiknya.


Sekarang Cia tidak menyesali jika pernah menikahi Arnold walaupun awalnya tidak dianggap selama tiga tahun. Baginya saat ini pria itu mendampinginya begitu tulus.

__ADS_1


Entah kenapa Cia selama satu jam merasa perasaannya tidak enak, wanita itu berharap semua baik-baik saja.


 Ingin rasanya menghubungi Arnold, tetapi ia tidak ingin mengganggunya. Wanita itu membaringkan badannya perlahan dibantu oleh Aura.


"Aura, jika Arnold menghubungimu tolong bangunkan aku ya." Velicia berpesan kepada Aura.


"Iya." Aura membetulkan selimut Cia.


Saat melihat Velicia tertidur, Aura mengirimkan pesan kepada Mamanya untuk menanyakan apa operasinya sudah selesai. Namun sayang, tidak ada balasan dari Mama atau pun papanya.


Aura terlihat begitu frustasi, saat gadis itu sedang menghubungi Shinta tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara Velicia yang terlihat begitu gelisah.


"Ar, Arnold jangan pergi ...!" seru Cia dengan mata terpejam.


Aura langsung menghampiri Cia dan membangunkannya." Kak ... Kakak."


Velicia yang merasa terusik membuka matanya dengan napas yang tersengal-sengal. Wanita itu menatap sekeliling dan kini melihat ke Aura.


"Aura, tadi aku bermimpi," kata Cia sambil mengusap air matanya.


"Ah, itu hanya bunga tidur," ujar Aura untuk menenangkan wanita yang kini dibantu untuk duduk sambil bersandar di kepala ranjang.


Aura mengambil air dan memberikan kepada Velicia. Setelah mantan kakak iparnya itu sudah lebih tenang ada rasa lega dalam hatinya.


Velicia menarik napas beberapa kali, diusapnya dadanya beberapa kali. Melihat itu Aura tersenyum tipis dan bertanya."Kakak bermimpi apa?"


Velicia menatap Aura dan menggelengkan kepalanya, entah mengapa ia begitu takut untuk menceritakan kepada gadis yang kini sedang menunggu jawaban darinya.


"Apa Kakak tidak ingin berbagi denganku, siapa tahu bermimpi pangeran berkuda!" goda Aura.


Velicia menggelengkan kepala dan bertanya."Apa Arnold belum ada menghubungimu?"


Aura menarik napas dalam sambil menggelengkan kepalanya, gadis itu harus pura-pura kesal supaya Cia tidak curiga kepadanya.


"Apa yang mereka kerjakan sampai tidak menghubungi kita!" kata Aura kesal.


Velicia mengerutkan keningnya merasa heran dengan sikap Aura saat ini, entah kemana ekspresi gadis itu terlihat dibuat-buat.


"Aura!" pekik Cia karena gadis itu suaranya begitu berisik.


"Eh, iya ada apa?" tanya Aura yang terkejut atas teriakan Velicia.


Velicia hanya mendengus dan berkata."Aku bermimpi, ada cahaya putih. Namun, semakin lama cahaya itu membawa Arnold kian menjauh!"

__ADS_1


__ADS_2