
Jack dan Velicia langsung melihat siapa yang datang, seorang pria dan wanita masuk sambil tersenyum.
Pria itu Dokter James dan istrinya yang sedang melihat kondisi dari pasiennya itu.
Dokter James merasa puas dengan kondisi Velicia sekarang, pasiennya itu terlihat baik-baik saja.
"Besok siapkan harus kemoterapi, jangan takut itu tidak lama," ujar Dokter itu.
Velicia hanya mengangguk, ia juga berharap akan cepat pulang ke rumahnya. Setelah mengobrol dengan Dokter James dan istrinya. kini keduanya pamit. Pesan Veronica istri dari dokter James supaya tetap semangat dan selalu isi pikir dengan hal positif dan optimis harus sembuh.
Karena hari sudah sore Jack pamit kepada adiknya karena ia akan ikut pesawat pagi besok, kemungkinan tidak akan datang lagi. Pria itu langsung pamit kepada adiknya. Velicia tersenyum walau ada perasaan sedih, tapi Kakak iparnya tidak boleh terabaikan karena dirinya.
Velicia terlalu pandai menyembunyikan kalau dirinya begitu baik-baik saja.
****
DI Indonesia.
Kantor Grup Arista pagi-pagi sudah ada keributan hal itu mengundang banyak tanya bagi karyawan yang melihat seorang wanita memakai pakaian seksi datang dan mengajak sebagai kekasih dari Arnold Setyawan. Hal itu membuat para Karyawan berpikir kalau Ceo mereka sedang berselingkung dari Nona Muda Arista.
Clara yang baru akan pergi karena akan menjemput Jack di bandara menghentikan langkahnya, gadis itu menaikan kedua alisnya saat melihat wanita yang sedang marah-marah dengan resepsionisnya.
"Ada apa ini?" tanya Clara dingin.
"Ibu ini wanita ini ingin bertemu dengan Ceo," kata Salah satu resepsionis itu.
"Apa ia ada janji?" tanya Clara kepada karyawannya.
"He, asal kamu tahu ya, aku ini sudah mau menikah sama Ceo kalian!" teriak Viona dengan suara yang menggema di ruangan itu.
Clara tidak bergeming dari tempatnya, ia menatap karyawannya, karena selama Velicia tidak ada ia menjadi orang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi di perusahaan.
"Kalau wanita ini tidak ada janji dengan Ceo, panggil sekuriti supaya ditarik keluar!"perintah Clara yang langsung menatap tajam ke arah Viona.
Viona tubuhnya bergidik saat melihat Clara menatapnya dengan tatapan membunuh, ia tidak ingin sampai diseret keamanan itu akan membuatnya begitu malu.
__ADS_1
Dengan berjalan menghentikan kakinya di lantai Viona keluar dari perusahaan Arista, Clara melihat itu hanya menarik napas dalam sambil memijat pelipisnya.
Tak lama Arnold muncul dari dalam lift berjalan buru-buru karena ia mendapat kabar dari Papanya kalau Jack akan sampai tanah air, ia harus bertemu dengan kakak angkat istrinya itu untuk menanyakan di mana Velicia.
Saat ia akan keluar melihat ada kerumunan bubar di lobby membuat pria berpakaian rapi hanya mengerutkan keningnya.
"Ada apa?' tanya Arnold saat melihat Clara akan keluar.
"Huff, lain kali kasih tahu cabe-cabean Bapak untuk tidak membuat keributan di kantor!" kata Clara ketus.
"Cabe-cabean, kamu pikir saya jual cabe," kata Arnold sambil berjalan mengikuti asistennya itu.
"Anggap saja begitu!" sentak Clara karena Arnold terus mengikutinya.
"Clara, kamu mau kemana?' tanya Arnold saat sampai di parkiran melihat gadis itu akan masuk mobil.
"Kencan," jawabnya singkat
"What? dasar wanita aneh!" geram Arnold saat melihat mobil yang dikemudikan Clara melaju dengan kecepatan tinggi.
Arnold merasa frustasi ia berencana akan mencari Jack nanti, tetapi jika asistennya itu sedang keluar ia tidak bisa begitu saja meninggalkan perusahaan.
"Tadi siapa yang mencari saya?" tanya Arnold Datar.
"Ibu Viona, Tuan," jawab Karyawannya.
Arnold hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan lobby untuk menuju di mana ruangannya, ia rasanya ingin kembali ke kantor Setyawan. Tapi papanya begitu melarangnya untuk mengundurkan diri dari Coe Arista.
Arnold duduk di kursi kerjanya, tatapannya kosong, ia ingin sekali bertemu dengan mantan istrinya untuk bertanya kemana selama ini karena setiap tempat yang biasa dikunjungi Cia sudah ia datangi.
Arnold ingat pantai di mana tempat, saat ia melamar Valecia, tetapi apa mungkin wanita itu ada di sana. Ditatapnya berkas yang berada di atas mejanya, kerjaan yang semakin menumpuk karena ia lebih memilih mencari mantan istrinya.
Arnold walaupun Ceo, ia tidak bisa sembarangan mengeluarkan uang dari perusahan Valecia karena setiap ia mengeluarkan, harus ada tanda tangan izin dari pengacara keluarga Arista.
Arnold sudah dihubungi pihak keuangan dari Group Setyawan karena kartu kreditnya setiap hari ada pengeluaran yang fantastis. Pria itu memijat pelipisnya, ia ingat kalau kartu kreditnya berada di tangan Viona.
__ADS_1
Pria itu hanya bisa menarik napas entah apa yang dibeli oleh wanita itu, Arnold menyuruh asisten dari Papanya untuk memblokir kartu kreditnya, ia juga memerintahkan untuk menarik semua fasilitas yang sudah ia berikan kepada wanita itu.
****
Di Bandara Sultan Babullah, Jack yang baru sampai langsung keluar karena ia akan mengurus kerja sama dengan Setyawan sesuai kesepakatan kemarin sebelum pergi ke Jerman.
Clara yang sudah siap di samping mobilnya, melihat Jack yang kini sedang berjalan ke arahnya. Tanpa menunggu lama keduanya masuk mobil, seperti baisa Jack yang mengemudikan mobilnya.
"Tuan, bagaimana keadaan Nona?" tanya Clara.
"Dari hasil pemeriksaan baik, dan besok akan kemoterapi. Doakan yang terbaik," kata Jack sambil tersenyum.
"Amin," kata Clara.
Mobil melaju dengan cepat menuju kantor Arista karena Jack untuk membahas kerja sama yang ia batalkan kemarin bersama Arnold. Selama perjalanan tidak ada yang berbicara baik Clara maupun jack.
Setelah menempuh perjalan selama satu jam karena macet adanya kecelakaan tadi akhirnya mobil sampai di depan kantor Grup Arista.
Clara lebih dulu turun diikuti oleh Jack, keduanya masuk tanpa membalas sapaan dari karyawannya.
"Tuan, mau langsung bertemu dengan Tuan Arnold?" tanya Clara
"Tidak aku akan keruangan Cia, ada yang harus aku siapkan untuk kerja sama nantinya," jawab Jack.
Clara hanya mengangguk, karena yang akan diurus oleh Arnold masalah grup Setyawan wanita itu tidak perlu menyiapkan apa-apa.
Saat sedang mengerjakan berkas yang berada di atas manjanya, Arnold langsung menghampirinya.
"Clara apa Jack sudah datang?" tanya Arnold karena ia tahu kalau asistenya itu menjemput kakak iparnya itu.
"Sudah Tuan," jawab Clara.
Arnold menarik napas panjang, pria itu menatap asistennya dengan datar, sedangkan Clara Tak acuh dengan tatapan dari Ceonya itu.
Tak lama ruangan Velicia terbuka, Jack keluar sambil membawa berkas. Arnold terlihat mengepalkan kedua tangannya. Hanya dia yang tidak dikasih tahu password dari Ruangan satu itu. Sedangkan jack dengan mudahnya keluar masuk dari ruangan mantan istrinya itu.
__ADS_1
Jack menautkan kedua alisnya, pria itu menatap Arnold terlihat kesal kepadanya, kemudian ia menghampiri Clara dan memberikan berkas yang dititipkan Velicia kepadanya. Kini Jack beralih menatap Arnold dan bertanya." Ada apa?"
Bersambung ya….