
Di Ternate, Arnold melihat istrinya masih terlelap tersenyum. Velicia kini sudah dinyatakan sembuh, Walau keduanya tidak akan memiliki anak,. Namun, hal itu tidak membuat pria itu menuntut. Ia begitu sadar karena dirinyalah sang istri terkena kanker.
Andai waktu bisa diputar jika tahu Cia hamil pasti Arnold akan melakukannya pelan-pelan.
Saat sedang memperhatikan wajah cantik Cia, perlahan wanita itu mengerjapkan matanya.
Arnold tersenyum.” Pagi Sayang.”
Cia wajahnya bersemu merah, begitu malu seharusnya lebih dulu bangun daripada suaminya.
Wanita itu segera menuju ke kamar mandi membersihkan tubuhnya, hanya butuh waktu 20 menit dia keluar dari kamar mandi dan sudah tidak ada lagi suaminya di sana.
Dia segera memakai baju untuk langsung ke kantor, karena hari ini harus mulai aktif lagi menjadi di grup Arista. Sudahkah untuk sementara Arnold akan memegang perusahaan milik Papanya.
Karena sebenarnya enggak untuk kembali lagi ke perusahaan keluarganya itu, itu lebih suka jadi memegang kendali adalah Leon atau Aura. Namun kini pria itu sedang mencari adiknya untuk membawanya pulang.
Sedangkan Andreas masih sibuk mengajar les piano, Walau terkadang diam-diam pria itu masih memperhatikan istrinya.
Namun saat ini, jika kakaknya itu sedang dekat dengan cinta sang asisten.
Cia sampai bawah melihat suaminya duduk di meja makan, wanita itu memperhatikan sekelilingnya untuk mencari mertuanya namun tidak ia temukan.
“Ar, Mama mana?” tanya Cia karena tidak melihat wanita paruh baya itu.
“Pergi dengan Andreas,” jawab Arnold.
Cia hanya mengangguk, setelah itu sarapan bersama dengan suaminya. Saat keduanya sedang sarapan anak buah Sam masuk dan langsung membisikan sesuatu kepada Arnold.
Tubuh Arnold langsung menegang saat itu juga, ditatapnya sang istri dan tidak berselang lama ia melihat tiga orang datang dan langsung duduk di ruang keluarga.
Tamu yang tidak diundang itu tidak akan bisa melihat Arnold dan Cian, tapi sebaliknya pasangan suami istri itu bisa melihat dengan jelas.
"Ar, siapa mereka?" tanya Cia menatap dua orang yang tidak kalah tampan, apalagi saat melihat pria yang satu lagi terlihat asik dengan ponselnya bahkan tidak peduli dengan sekitarnya.
"Kamu masuk kamar dan jangan keluar!" perintah Arnold.
Cia menatap suaminya intens."Siapa mereka?"
"Rekan bisnis," jawab Arnold lalu mengantarkan istrinya untuk masuk kamar.
__ADS_1
Setelah itu Arnold mengunci dari luar karena tidak ingin sang istri khawatir, pria itu menarik napas dan segera turun tangga.
Arnold tahu jika pria yang kini sedang memakai kaos itu adalah Alek dan ia begitu yakin jika salah satunya Jhon.
Arnold langsung menemui tamunya dan pria itu menyambut dengan ramah. Alek menatap Arnold dan kini melirik ke arah bosnya.
"Tuan Arnold kedatangan kami mau menanyakan Aura, apa adik Anda ada?" tanya Alek.
Mendengar itu Arnold menaikan kedua alisnya, kini ditatapnya Alek dan Jhon bergantian.
"Bukanya Aura ada bersama kalian!" tebak Arnold menatap Alek dan Pria yang kini duduk tidak jauh darinya.
"Suaminya sudah mengambilnya," ucap Jhon.
Arnold menatap Alek dan kini ada rasa lega dalam hatinya, tapi itu hanya sesaat karena anak buah Alek memberikan berkas dan saat suami dari Cia itu.
"Ini perjanjian kapan?" tanya Arnold.
"Saat adik Anda menyerahkan diri kepada kami di bandara," ucap Alek.
Mendengar itu Arnold memejamkan matanya, kenapa Aura seceroboh itu menggantikan dirinya demi keluarganya. Pria itu memijat pelipisnya dan satu tarikan napas."Aura tidak ada di sini, kalau Leon sedang cuti."
Biasa semua Papanya yang mengurus, tapi sayang sekarang Tuan Setiawan sudah tidak ada.
Arnold langsung terperanjat saat ada seseorang memukul bahunya, ditatapnya tajam pria yang kini tersenyum menatapnya.
"Huff, kagetin aja," ucap Arnold.
Pria itu tidak lain adalah Jack yang baru sampai bersama sang istri, Pria itu langsung duduk di depan Arnold.
"Ar, Cia mana?" tanya Sheryl.
"Cia, astaga!" pekik Arnold membuat Jack dan istrinya ikut terkejut.
Jack dan istrinya saling pandang saat melihat Arnold langsung berlari naik ke atas, tidak lama pria itu turun bersama Cia.
"Ada sih?" tanya selly merasa penasaran.
"Aku di kunci di kamar," jawab Cia menatap suaminya itu tajam.
__ADS_1
"Maaf sayang, aku benar lupa," ucap Arnold.
Cia melipat tangannya dada, tidak lama istri Arnold itu menutup mulutnya melihat kakak iparnya itu.
"Kakak hamil!" seru Cia.
Sheryl dan Jack tersenyum bahagia, tapi sedetik berikutnya Cia terlihat murung karena mengingat saat ini tidak akan pernah memiliki anak lagi.
Arnold yang tahu jika istrinya sedang sedih langsung menarik tubuh kurus itu dalam dekapannya.
"Jangan banyak berpikir kita bisa mengadopsi nanti, tapi tunggu kamu sehat bentul," ujar Arnold lembut.
"Ar, aku sudah sehat," kata Cia merajuk.
Arnold tersenyum, pria itu begitu geli saat sang istri merajuk persis anak kecil. Dulu ia begitu tidak peduli akan apa pun yang dilakukan Cia padanya.
Namun, kini sedikit saja apa yang istrinya lakukan pasti akan membuatnya begitu bahagia. Arnold lebih suka jika Cia bergantung padanya.
Ia sudah berjanji akan memberikan sesuatu yang bisa membuat istrinya bahagia. Kasih sayang yang tidak didapatkan Cia karena sesuatu terjadi kepada orang tuanya.
"Kakak kalau anaknya kembar aku mau," ucap Cia.
"Tapi sayangnya hanya satu," jawab Sheryl merasakan kesedihan kepada Cia.
Cia terdiam, kini Jack dan Arnold sedang mengobrol di ruang kerja milik Tuan Setiawan dulu. Sedangkan Cia dan Sheryl sedang berada di ruang keluarga.
"Kak kayaknya aku harus minta Arnold menikah lagi, deh," ucap Cia.
Sheryl mendengar itu begitu terkejut, ia yakin jika Arnold tidak akan mau melakukan itu karena sekarang ia bisa dilihat jika pria itu sudah begitu mencintai Velicia.
"Kamu jangan berpikir seperti itu karena Arnold yang sekarang itu begitu sayang padamu, Cia." Sheryl mengusap bahu adik iparnya itu.
"Kak, bagaimanapun aku yakin Arnold itu menginginkan anak dari darah dagingnya sendiri." Cia mengusap air matanya.
Sheryl menarik napas dalam, ia tidak bisa bilang apa-apa lagi saat ini. Semua itu keputusan keduanya. Wanita mana yang rela suaminya menikah, Apa lagi hanya biar bisa mendapatkan anak.
Dadanya sesak lebih menderita lagi Cia, ia harus menerima kenyataan jika tidak akan bisa memiliki anak lagi. Pasti penerus dari Arista akan berhenti sampai dirinya saja.
Kedua wanita itu asyik dengan pikirannya sendiri, hingga keduanya tidak menyadari jika suami mereka kini sedang memperhatikannya.
__ADS_1
Cia yang merasakan bahunya diusap begitu lembut langsung menoleh dan tersenyum kepada suaminya."Ar, aku mau kamu menikah lagi."