
Clara hanya menatap suaminya dengan kesal. Ia tidak ingin saat sedang masak diganggu.
“Tuan, pergilah. Biar saya selesaikan masakan ini,” kata Clara.
“Aku hanya ingin membantumu, Sayang.”
Wajah Clara langsung merah merona, saat pria itu memanggilnya sayang.
Jhon tersenyum melihat istrinya yang salah tingkah. Pria itu merasa, jika wanita itu tidak sekuat dan setegar yang selama ini dilihat dari luar.
Pelan-pelan ia mulai tahu, akan sifat istrinya yang sebenarnya. Kini yang ia pikirkan bagaimana cara menjelaskan kepada Clara, Jika ia sudah tidak bekerja lagi kepada Cia.
Setelah satu jam di dapur, Clara baru siap menyelesaikan masakannya. Wanita itu begitu terampil menyusun semua hasil olahannya di atas meja makan.
Clara menatap sekelilingnya tidak ada suaminya, wanita itu bergegas masuk kamar untuk membersihkan tubuh. Setelah lima belas menit, Clara keluar dari kamarnya.
Kening wanita itu berkerut, saat mendengar suara di ruang tamu. Matanya membulat melihat suaminya sedang membongkar laptopnya.
“Kenapa laptopnya, Tuan?” tanya Clara.
Clara merasa heran, apa yang dilakukan suaminya, wanita itu hanya duduk di depan John.
Entah apa yang terjadi dengan laptop pria itu, melihat sang istri memperhatikannya terus. Jhon menghentikan kerjaannya. Pria itu menatap istrinya dengan tatapan yang berbeda.
Clara tahu sedari tadi suaminya sudah kelaparan, wanita itu berinisiatif untuk mengambil piring dan lauk untuk Jhon yang kini sedang asyik membongkar laptopnya. Tidak Berapa lama Clara datang, wanita itu membawa nampan berisi makanan dan minum untuk John.
Clara duduk di samping John, wanita itu langsung menyodorkan sendok ke mulut suaminya.
John begitu terkejut, tapi tidak itu mengerti apa tujuan istrinya lalu ia membuka mulutnya.
Pria itu tersipu malu, Ini pertama kalinya disuapi oleh seorang wanita walaupun itu istrinya sendiri.
“Kamu tidak makan?”
“Nanti saja, Tuan,” kata Clara.
John mengambil alih sendok, lalu menyuapi sang istri. Keduanya makan, tanpa terasa sudah habis.” Mau tambah lagi, Tuan?”
“Tidak.”
Clara lalu beranjak dari duduknya, wanita itu menuju ke dapur untuk membuat kopi hitam dengan satu sendok gula. Setelah itu wanita itu berjalan ke arah suaminya.
__ADS_1
“Ini kopinya,” kata Clara.
“Sayang, bisa bantu aku untuk membuat surat penawaran ini,” kata Jhon.
Clara kini duduk di samping suaminya, wanita itu membaca apa yang ditunjuk oleh Jhon.”Bisa, tapi nanti Anda cek dulu ya.”
John tersenyum lalu mengangguk, saat Clara akan beranjak dari duduknya pria itu menahannya.
Satu kecupan mendarat di kening suaminya, Clara begitu terkejut.” Lain kali kalau mau cium kasih tahu dulu.”
“Kenapa ?” tanya Jhon.
“Biar saya bisa kabur.”
Jhon tersenyum dan mengusap rambut istrinya.” Terimakasih sudah mau berada di sampingku.”
“Iya,” jawab Clara.
Jhon menatap wajah cantik yang kini sedang begitu serius. Pria itu tersenyum. Andai tahu begini dari awal akan mencari sosok yang sudah lama ia cari . John dulu pernah bertemu Clara saat pelelangan perusahaan yang akan gulung tikar. Sosok dingin dan begitu acuh. Padahal rata-rata wanita mencuri pandang kepadanya. Namun, saat Jhon dan Alek mengambil tempat duduk di samping Clara, wanita itu begitu cuek dan sama sekali tidak menoleh kepadanya.
Sekarang setelah wanita itu ia paksa untuk menikah dengannya, ternyata memang begitu dingin seperti awal melihatnya. Jhon begitu senang, biar Clara datar dan bersikap acuh. Namun, ia begitu menurut kepadanya.
“Tanggung, Tuan. Ini sebentar lagi selesai,” kata Clara tanpa melihat ke arah suaminya.
“Maaf, rencana kita ke sini untuk bulan madu, tapi harus berkerja juga,” ujar John merasa bersalah.
Clara melihat suaminya dan tersenyum tipis. Wanita itu begitu terkejut saat laptop yang berada di pangkuannya di ambil alih oleh John.
Namun, saat akan berbicara. Tiba-tiba John berbaring dengan berbantalkan pahanya. John meraih tangan Clara dan meletakkan di atas kepalanya. Wanita itu menarik napas panjang dan perlahan mengusap kepala John dengan lembut.
Senyum mengembang di bibir gadis itu. Sifat dingin pria yang kini sedang berbaring di pangkuannya itu, hanyalah untuk menutupi rapuhnya seorang John yang begitu di takuti oleh rekan bisnisnya.
Baru beberapa hari bersama dengan John, wanita itu bisa menebak sebenarnya pria itu sejujurnya begitu manja. Namun, selama ini dituntut ayahnya untuk bekerja lebih keras lagi.
Clara tersenyum saat mendengar dengkuran halus dari suaminya. Wanita itu lama-lama diserang kantuk yang begitu kuat. Iya bersandar kursi dan tidak lama matanya terpejam begitu saja karena begitu lelah.
****
Di Vila milik Keluarga milik Arista. Cia sedang duduk santai di balkon kamarnya. Wanita itu menunggu suaminya pulang.
Hingga pintu kamar terbuka, sosok yang terlihat begitu kusut itu menatapnya."Banyak kerjaan ya?"
__ADS_1
"Iya Sayang, apa lagi tidak ada Clara. Aku harus menghandlenya sendiri," adu Arnold.
Mendengar suaminya yang kini begitu manja dengannya, Cia hanya tersenyum. Wanita itu mengajak suaminya masuk kamar. Ia masuk kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk Arnold.
Setelah selesai, wanita itu meminta suaminya untuk segera mandi.
"Sayang jangan turun dulu, tunggu aku ya!" pesan Arnold.
Cia tersenyum tipis mendengar apa yang dikatakan suaminya itu, Entah kenapa ia memikirkan Clara sekarang. Apa wanita itu sekarang baik-baik saja, atau sebaliknya.
Sebenarnya Cia berat melepaskan Clara, tapi bagaimanapun Tuan Jhon adalah suami dari orang kepercayaannya itu.
"Sayang."Arnold menatap sang istri yang sedang melamun sambil memegang bajunya.
"Eh, maaf," kata Cia.
"Sedang memikirkan apa, Hem?" tanya Arnold.
"Kenapa Clara tidak ada kabar sampai sekarang?" tanya Cia.
"Sayang, Clara ada suaminya. Jangan terlalu dipikirkan," kata Arnold.
Cia mengangguk, ada benarnya apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Namun, apa Clara tidak marah saat suaminya mengurus resend-nya langsung.
"Ayo kita turun, Sayang," ucap Arnold.
Cia menggangguk, keduanya keluar dari kamar. Saat sampai di ruang keluarga, Cia begitu terkejut karena sudah ada Aura dan Leon.
"Kapan kalian sampai?" tanya Arnold.
"Baru, Kak. Oh, iya Kak, Kak Anderas mana?" tanya Aura.
Arnold hanya menarik napas dalam, pria itu juga sudah hampir dua minggu ini tidak melihat kakaknya itu, yang ia dengar dari Jimmy kalau Andreas sedang dekat dengan seorang wanita.
Sebenarnya Arnold ingin marah, karena Mamanya mengatakan Andreas jarang pulang ke Vila keluarga. Namun, ia sadar kakaknya seperti itu sejak tahu jika Cia dan dirinya tidak pernah bercerai.
"Apa Andreas tidak pernah menghubungimu?" tanya Arnold.
"Tidak, Kak. Apa mereka masih ada hubungan?" tanya Aura.
Cia menatap Aura, wanita itu berpikir jika Andreas selama ini hanya sendiri." Aura, Siapa yang kamu maksud?"
__ADS_1