
"Kesalahan saya di masa lalu, membuat putra dan putri saya menjauh. Mereka semua menghukum pria tua ini."Tuan besar mengusap air matanya yang kian deras. Ia tidak peduli kalau anak buahnya itu akan mengatakan kalau dirinya cengeng.
"Leon, Maukah kamu menikah dengan Aura?" tanya Tuan Besar dengan mata yang menatap lurus langit-langit kamar rawatnya.
"Maaf Tuan, Nona masih fokus belajar jangan dibebankan lagi dengan pernikahan," ujar Leon.
"Saya takut kalau saya tidak bisa melihatnya bersanding dengan pria lain, "kata Tuan besar.
Leon hanya diam. Pria itu menatap ke arah Bosnya. Jangankan untuk menikah, sekarang saja ia belum ada dekat dengan wanita.
"Apa kamu tidak mau dengan Aura, tapi saya yakin kamu bisa menjaga dan mengarahkannya lebih baik," ujar Tuan Besar.
Leon Hanya diam, ia juga tidak ingin terlalu berharap. Karena jodoh itu sudah ada yang menentukan .
****
Di salah satu kafe di Ternate, seorang pria duduk di atas kurus rodanya. ditatapnya seorang gadis yang bergerak ke kanan dan ke kiri untuk melayani para pengunjung kafenya yang kian ramai saat sore hari.
Hansen, sesekali tersenyum melihat rambut yang diikat ekor kuda itu bergerak-gerak, Merry tetap gadis yang ceria dan agak sedikit bar-bar.
"Kenapa dari tadi lihatin aku terus, Kak?" tanya Merry.
"Aku takut kamu capek," ujar Hansen sambil mengusap keringat di kening Merry.
Merry tersipu malu, gadis itu selalu dibuat salah tingkah oleh Hansen, melihat wajah yang bersumu merah itu membuat pria itu menjadi gemes.
"Kak, ayo waktunya kita istirahat," ajak Merry sambil mendorong kursi roda milik kekasihnya itu.
"Sayang, aku akan tetap di sini." Hansen menahan tangan Merry untuk mendorongnya.
"Kak!"seru Merry tidak suka akan penolakan Hansen.
Pria itu tidak ingin membuat wanitanya marah, akhirnya ia menurut dan kini ia dibantu Merry untuk masuk ke mobil.
__ADS_1
"Kenapa, hari ini aku libur. Hanya ingin membantumu," ujar Hansen.
Merry tidak menjawab, ia membantu pria itu duduk dan melipat kursi roda lalu menyimpannya di bagasi.
Merry mengemudikan mobilnya menuju salah satu kafe di mana ia akan mengajak kekasihnya untuk makan di tempat mereka dulu sering datangi.
"Maaf kalau aku sering merepotkanmu," kata Hansen dengan tatapan lurus ke depan.
Merry hanya tersenyum, ia mengusap tangan pria itu dengan lembut, dan mengatakan," Kakak yang paling terbaik aku miliki."
Hansen hanya diam, tepi dalam hatinya ia begitu bahagia. Walau ia tahu Merry bisa dengan mudah mendapatkan lelaki yang sempurna. Namun, cinta itu kini bisa dilihatnya nyata.
Merry tidak berubah dan tidak malu, seperti saat ini gadis itu membawanya di kafe tempat dimana ia dulu awal bertemu dengannya.
"Apa kau suka, Kak?" tanya Merry.
"Apa kamu tidak malu jika nanti bertemu dengan sahabat waktu SMA." Hansen menatap netra pekat yang kini menatapnya.
Merry terkekeh, ia bukan tipe orang seperti itu. Walau saat ini banyak pengunjung memperhatikannya. Gadis itu tidak peduli, baginya Hansen adalah pria normal bukan lemah. Buktinya masih mau bekerja walau dengan kondisi tidak bisa berjalan lagi.
Merry berdiri dan langsung membalikan tubuhnya, ia menggebrak meja di depan dua wanita yang mulutnya sangat lancang itu.
Kedua wanita itu langsung berdiri karena tidak menerima saat minuman tumpah oleh ulah Merry.
"Kenapa Anda mau marah, Hah! harusnya aku yang marah. Dia kekasihku masih mau bekerja tidak seperti kalian yang suka menghamburkan uang!" sentak Merry.
Melihat keributan itu Hansen memutar kursi rodanya dan memegang tangan Merry, melihat itu gadis itu berjalan dan keluar dari kafe tersebut dengan perasan marah karena sudah ada yang menghina kekasihnya.
"Harusnya jangan layani mereka tadi," kata Hansen.
"Mereka itu harus dikasih pelajaran, Kak. Jangan mentang-mentang kaya ia semena-mena dengan kita!" kata Merry bernada kesal.
Hansen hanya mengangguk, kalau banyak bicara ia pastikan kekasih bawelnya itu tidak akan diam sepanjang jalan nantinya.
__ADS_1
Selama diperjalanan keduanya hanya diam, rencana untuk mengenang apa yang selama ini ia ingat saat awal berjumpa kini sirnah. Merry mengemudikan mobilnya menuju salah satu rumah yang ditempati oleh Hansen. Saat mobil sampai, seorang wanita paruh baya keluar sambil tersenyum melihat siapa yang datang.
Merry membantu kekasihnya turun, setelah melihat pria yang dicintainya itu kini diambil alih oleh wanita yang ia tahu sepupu dari mamanya Hansen.
Merry masuk mobil dan langsung mengemudikan mobilnya, wanita itu kini menuju ke rumah asisten sahabatnya karena dari kemarin ia tidak bisa menghubungi Jack untuk menanyakan kabar Velicia.
Mobil yang dikemudikan oleh Merry sampai di kediaman Clara, saat gadis itu turun, bersama dengan datangnya mobil berwarna putih milik orang kepercayaan dari sahabatnya itu.
Clara menatap datar wanita yang ia tahu kalau itu sahabat dari Nonanya yang agak Bar-bar itu.
"Mau masuk," tawar Clara.
"Tidak, aku cuma mau tanya kabar dari Velicia saja," kata Merry.
"Nona masih dalam pengobatan," jawab Clara singkat.
"Apa ada kemungkinan untuk sembuh?" tanya Merry dengan wajah sendu.
Clara hanya menggelengkan kepalanya aja, karena ia juga belum tahu kabar yang sebenarnya dari Jack tentang Velicia. Keduanya duduk di taman depan rumah Clara. Wanita itu ingin sekali menanyakan apa selama ini Arnold mencari Nonanya kepada wanita yang kini hanya diam termenung menatap lurus ke depan.
"Apa Arnold ada menemuimu, Nona?" tanya Clara.
"Ada."Merry menatap Clara sambil tersenyum tipis.
"Saya harap Anda merahasiakan hal ini kepada Tuan Arnold!" pinta Clara.
"Pasti, jangan khawatir," jawab Merry sambil beranjak berdiri dan langsung pamit karena ia tidak tahan juga duduk lama-lama dengan wanita yang hanya mau bicara apa perlunya saja.
Setelah Merry pergi, Clara menatap ada rasa bersalah kepada wanita itu. Ia tidak memberitahu kebenarannya kepadanya jika Nonanya sekarang sedang berjuang antara hidup dan mati saat Jack mengirimkan video Nonanya yang terbaring lemah.
Clara masuk ke rumahnya, tapi saat akan masuk kamar ponselnya berdering, dilihatnya Arnold sedang menghubunginya. Wanita itu hanya bisa mendesah, ini sudah di luar jam kerjanya. Wanita itu mengacuhkannya. Namun, ponselnya terus berdering tanpa henti.
Wanita itu mengambil ponselnya dan langsung mematikannya, ia begitu lelah hari ini mengerjakan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab Arnold, Pria itu alasannya menunggu Tuan Setyawan di rumah sakit.
__ADS_1
Clara yang tadinya tidak percaya, akhirnya ditelepon oleh Leon orang kepercayaan Tuan Setyawan. Wanita itu merasa kalau Tuan besar benar-benar membutuhkan anaknya. hingga ia mau mengambil alih pekerjaan dari Ceo yang kini dijabat oleh Arnold.