
Tepat pukul empat sore Cia membuka matanya, wanita itu menatap sekeliling. Perlahan ia duduk dan hanya bisa menarik napas panjang. Seingat tadi berada di kantor Arnold, lalu kenapa ia bisa sekarang berada di kamarnya.
Jantung Cia berdebar kencang, wanita itu menoleh ke samping di mana suara pintu terbuka.
Cia memijat pelipisnya masih terasa pusing, sedangkan seseorang yang masuk kamar itu adalah Arnold.
"Sayang, apa kamu masih terasa pusing?" tanya Arnold.
"Apa yang terjadi?" tanya Cia.
Cia hanya ingin tahu, siapa sebenarnya mengantarkan dirinya pulang.
"Apa kamu tidak ingat apa-apa, Sayang?" Arnold memicingkan matanya.
Ia begitu curiga, kenapa sampai tiba-tiba pingsan. Padahal selama ini jika Cia mampu mengontrol emosinya. Namun, takut jika sang istri kembali sakit.
Mendengar pertanyaan dari suaminya itu, Cia menarik nafas panjang.
"Siapa yang membawaku pulang, Ar?"
"Apa kau tak mengingat apa pun?"
Cia hanya menggelengkan kepalanya saja, wanita itu merasa jika suaminya mencurigainya. Cia mengatakan kepada Arnold kalau ia sebenarnya mencari seseorang yang mengancam keselamatan putranya
Mendengar apakah istrinya itu Arnold terkejut, tidak ada yang memberitahunya kalau ada yang menghubungi istrinya.
"Kamu tahu Ar, aku begitu curiga dengan Nick. Karena saat pria itu datang ke kantor menanyakan anak kita."
Arnold menatap istrinya itu lekat, Entah kenapa ada sesak di dadanya kalau diam-diam istrinya bertemu dengan Nick." Apakah kamu sudah lama mengenal pria itu,"
"Tidak. Namun, ia meminta makan siang bersama,"
"Apa maksudmu?" Arnold menatap istrinya tajam.
Cia tersenyum." Aku ingin mencincang tubuhnya jika benar-benar Nick yang menelponku."
Arnold memeluk tubuh istrinya, pria itu tidak ingin jika Cia kembali memikirkan pria lain selain dirinya.
Arnold memberikan kecupan di kening sang istri. Cia memejamkan matanya, entah kenapa ia teringat saat Nick menghubunginya.
Cia menyadarkan kepalanya di dada bidang suaminya, melihat tingkah istrinya itu Arnold tersenyum hangat.
"Kenapa jadi manja begini, Hem?"
__ADS_1
Cia menatap netra indah itu, perlahan tangannya mengusap jambang tipis yang sudah mulai tumbuh di pipi suaminya itu.
Cia entah kenapa begitu merindukan sosok suaminya itu, ia ingin bermanja.
Dikecupnya bibir tebal milik Arnold yang terlihat begitu seksi. Ciuman itu buka sama sekali tidak menuntut ke nafsu.
Cia melepaskan pautan bibirnya, wanita itu menatap wajah tampan itu. Kemudian Ia memeluk tubuh atletis Arnold.
Dibenamkannya kepalanya di dada bidang suaminya, ada rasa nyaman dan begitu menenangkan pikiran dan hatinya.
"Sayang, aku harap kita akan seperti ini selamanya. Namun, jika sesuatu terjadi kepadaku…."
Ucapan Cia langsung terhenti, karena suaminya langsung mencium bibirnya. Wanita itu tidak kalah membalasnya.
"Jangan pernah bicara seperti itu sayang, Aku tidak akan sanggup." Arnold memeluk erat tubuh istrinya.
Cia membalas pelukan suaminya begitu erat. Wanita itu juga tidak ingin ditinggalkan suaminya lebih dulu.
Namun, takdir Siapa yang tahu nantinya. Cia melepaskan pelukannya. Arnold memberikan teh hangat kepada istrinya.
"Diminum biar agak enakan.' Arnold mengusap kepala istrinya.
Cia tersenyum, wanita itu baru ingat belum bertemu anaknya.
"Langit?" tanya Cia.
Cia hanya mengangguk, ia kembali lagi membaringkan tubuhnya di kasur. sedangkan Arnold menyelimuti sang istri sampai sebatas dadanya.
"Aku akan ke ruang kerja, kamu istirahat jangan dipaksakan kalau masih pusing." Arnold mengecup kening istrinya.
Cia memejamkan matanya, setelah itu tersenyum menatap punggung suaminya yang hari ini begitu manis kepadanya.
Andai waktu berdua lebih lama, tapi sayang baik dirinya dan suaminya begitu sibuk. Wanita itu beranjak dari kasurnya. Ia kini mengambil ipadnya. Cia mulai email yang masuk.
Cia berharap usahanya kali ini bisa lebih maju lagi, wanita itu ingin membuat perusahan mulai memasarkan produk bulan depan. Rencana ini sudah lama ia pikirkan, Cia tidak ingin suaminya tahu, karena ini bukan hanya miliknya saja melainkan dari untuk masa depan langit nanti.
Pintu terbuka Arnold menggelengkan kepalanya, melihat sang istri bukannya istirahat."Kenapa tidak istirahat, Sayang?"
"Aku baru bangun, mana bisa tidur lagi," jawab Cia.
Arnold mengecup kening istrinya, setelah itu ia beranjak dari duduknya dan kini menatap sang istri."Sayang, mau mandi bersama."
Wajah Cia tersipu malu mendengar godaan suaminya itu, Arnold melihat itu tersenyum dan segera menutup pintu kamar mandi. Cia kembali sibuk dengan apa yang dikerjakannya lagi, jika ada suaminya wanita itu langsung mengecek tabungannya untuk putranya.
__ADS_1
Cia yang mendengar suara gemericik air di kamar mandi. Wanita itu segera beranjak dari duduknya. Ia mengambil pakaian suaminya dan meletakkan di atas ranjang.
Setelah lima belas menit, pintu kamar mandi terbuka. Arnold keluar hanya mengenakan handuk yang hanya menutupi aset berharganya saja.
Pria itu tersenyum, ia segera mengambil pakaian santai yang sudah disiapkan sang istri tercintanya.
Setelah selesai, Arnold menatap sang istri." Apa masih pusing?"
Cia menggelengkan kepalanya, wanita itu meletakkan ipad. Kemudian mengajak suaminya untuk ke bawah. Cia merasa bosan berada di kamar terus.
Arnold tanpa ada rasa keberatan, pria itu mengikuti apa kata istrinya. Sedang ruang keluarga ada Shinta dan Andreas yang sedang bermain dengan anak semata wayangnya.
"Kakak sudah sehat?" tanya Shinta melihat Cia yang masih terlihat pucat itu.
Cia hanya tersenyum dan wanita itu mengambil alih langit dari pangkuan Shinta. Sedangkan Andreas mengobrol dengan Arnold. Putranya itu sekarang makin berisi badannya.
"Shinta apa sudah ada kabar?" tanya Cia.
" Belum kakak ipar," jawab Shinta
"Bagaimana dengan bulan madunya?"
"Apa harus bulan madu?"
Arnold dan Shinta saling pandang, adik dan kakak itu membiarkan Cia dan Andreas berdiskusi berdua saja .
"Kakak, kapan Langit imunisasi yang terakhir?" Shinta begitu gemas dengan keponakannya itu. Terkadang ia ingin hamil , tapi nanti bagaimana kalau suaminya belum siap.
Arnold melihat sang istri begitu menyayangi anak itu tersenyum.
Dulu ia berharap punya anak banyak, itulah keinginannya selama ini. Pria itu ingin membeli rumah yang bisa untuk anak -anak dan kelak bisa ditempati oleh cucu dan menantunya. Pria itu tersenyum, tanpa sadar semua yang bergabung di ruang keluarga menatap ke arah Arnold.
Cia tersenyum melihat sosok pria yang begitu dicintainya itu.
"Ar!" Aura yang baru datang langsung membuat Arnold terkejut.
"Aura!" seru Arnold
Aura tertawa karena sang kakak melamun, Cia melihat suaminya menatap adiknya itu tajam hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Kak, apa ada kabar dari Clara?" tanya Aura.
Cia menatap adik iparnya itu heran, begitu juga dengan Leon. Merasa diperhatikan Aura menjadi salah tingkah.
__ADS_1
"Kenapa semua melihatku seperti itu?" tanya.
Semuanya diam, tidak ada satu pun yang menjawab apa yang ditanyakan Aura. Sedangkan Cia merasa baru dua hari kemarin saling balas pesan dengan orang kepercayaannya itu.