
Setelah telepon terputus ucapan Viona berlalu dan Arnold keluar dari kamar. Akhirnya Velicia pasrah, rupanya ini semua hanya kepalsuan.
Arnold pergi meninggalkan dirinya sendiri karena Viona, lagi-lagi ia terlalu berharap kebahagiaan dari mantan suaminya itu akhirnya kekecewaan yang ia dapatkan. Velicia meletakkan syal hadiah dari pria yang disukainya sejak kecil di kamar, cintanya juga berakhir di saat itu. Wanita itu ditinggalkan begitu saja di rumah ibu Arnold.
Velicia memesan taksi, hari ini dia akan langsung ke rumah sakit karena kondisinya kian melemah, sesampai di rumah sakit wanita itu menguatkan dirinya untuk sampai di ruang dokter Herman.
"Dok, "kata Velicia sambil mendorong pintu.
"Nyonya Setyawan!" seru dokter langsung membantu Velicia yang hampir saja jatuh.
Velicia tersenyum tipis, karena sampai sekarang orang masih mengenalnya kalau dirinya Nyonya Setyawan.
"Panggil saya Velicia, Dok!" pintanya sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Baik Nyonya," jawab Dokter Herman.
Velicia menjelaskan kepada pria itu kalau dia sekarang merasakan sering lemas dan merasa sudah tidak ada tulang, karena terkadang buat berdiri saja dia tidak ada tenaga.
Pria berumur sekitar empat puluh tahun itu mendengarkan dengan seksama, setelah itu menyuruh perawat untuk membawa Velicia ke ruang cek up untuk memeriksa sejauh mana kanker itu menyebar di tubuh wanita yang terlihat tegar itu.
Dokter Herman begitu salut, saat kondisi seperti ini wanita itu masih bisa datang sendiri ke rumah sakit, seakan dia hanya sakit flu.
Velicia saat akan dimasukan kamar, ia sekilas melihat bayangan pria yang tak asing darinya. Namun, wanita itu sudah enggan untuk berurusan dengan pria yang bernama Arnold itu.
Tanpa dia duga kamarnya bersebelahan dengan Viona karena melihat ada mantan suaminya disana. Ia merasa aneh apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita itu. Apakah ini hanya akal-akalan saja
Tiba-tiba ponselnya berdering, Merry menghubunginya. Tanpa ragu Velicia mengangkatnya, matanya seketika melebar saat tahu kalau sahabatnya ditahan kantor polisi. Dia juga memberitahu padanya kalau dulu Viona yang menabrak Hansen sampai cacat kehilangan kedua kakinya.
"Merry, apa kamu yakin dia yang menabraknya?" tanya Velicia.
"Iya," jawab Merry, Dia tidak bisa menemukan Hansen saat itu dan mencari Viona, Merry emosi lalu menabrak Viona.
Arnold melapor polisi untuk menangkap Merry, pengacara Viona menuduh Merry atas dakwaan atas pembunuhan berencana dan dijebloskan ke penjara.
Velicia mendengar cerita dari sahabatnya itu begitu sedih, betapa buruknya wanita pilihan Arnold.
__ADS_1
"Velicia kamu bisa bantu aku!" seru Merry.
"Kamu yang sabar, aku pasti akan membantumu," kata Velicia.
Velicia memejamkan matanya, ia mengingat sisa umurnya, tak lama dokter datang mulai memeriksanya, Ia tersenyum saat pria itu hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Anda sebaiknya dirawat, Nyonya," kata Dokter itu yang begitu iba.
"Apa dengan saya dirawat, saya bisa sembuh, Dok?" tanya Velicia sambil tersenyum.
"Setidaknya sampai tenaga Anda ada, Nyonya," jawab dokter itu.
Velicia tahu kalau penyakitnya kian parah, dan itu artinya mungkin ia sekarang sudah tidak lama lagi bertahan, sekarang wanita itu tidak memikirkan dirinya sendiri melainkan bagaimana nasib sahabatnya yang sekarang sedang ditahan dikantor polisi.
Tangan Velicia dipasang infus dan beberapa obat dimasukkan dari sana, wanita itu memejamkan matanya rasa sakit luar biasa saat salah satu obat itu mulai mengalir ke tangannya melalui selang infus.
"Ini akan sedikit nyeri, Nyonya. Karena saya menaikan dosisnya dari sebelumnya," ucap dokter Herman.
Velicia sebelumnya meminta obat penahan nyeri yang lebih tahan beberapa jam, karena dia kan mencari Arnold. ia tidak ingin saat bertemu pria itu dalam keadaan lemah.
"Maaf Nyonya, kami akan melepas Infusnya," kata Perawat itu.
Velicia hanya mengangguk, setelah infus dibuka ia duduk di tepi barker. Dia berharap Arnold masih ada di ruangan sebelah, jika ia benar ia tidak perlu mencarinya jauh-jauh.
Velicia menguatkan dirinya untuk mencari Arnold, ia perlahan turun dari brankar dan berjalan perlahan keluar dari pintu ruang rawatnya. Saat sampai ruang rawat sebelah karena pintunya tidak tertutup rapat wanita itu mendengar Arnold berbicara lembut dengan Viona.
"Sayang, aku mau kamu jagain aku disini," kata Viona manja.
"Aku akan jagain kamu, Viona," kata Arnold lembut.
Velicia agak ragu untuk masuk ruangan itu, karena dia tidak ingin bertemu wanita jahat yang hidup penuh kepura-puraan. Akhirnya ia memutuskan menunggu Arnold di luar ruangan sambil duduk di kursi tunggu.
Satu jam, dua jam pria itu tidak juga keluar dari ruangan itu, membuat Velicia merasa bosan menunggunya. Saat dia akan beranjak meninggalkan ruang tunggu, pintu terbuka keluar sosok yang ditunggunya dari tadi.
Arnold mengerutkan kedua alisnya melihat ada Velicia di depan ruang rawat Viona dan rasa penasaran itu membuatnya menghampiri mantan istrinya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan disini, Cia?" tanya Arnold.
"Ar, bisa kita bicara sebentar," kata Velicia.
"Apa itu penting?" tanya Arnold dingin.
Deg, hati Velicia entah mengapa merasakan tercubit mendengar apa yang ditanyakan pria itu, Velicia menarik napas dalam sambil berkata," KIta bicara di taman rumah sakit," ajak Velicia.
Arnold yang merasa penasaran apa yang akan dikatakan wanita itu mengikutinya dari belakang menuju ke taman belakang rumah sakit. Keduanya duduk di bangku yang disediakan untuk berjemur para pasien saat pagi.
"Apa yang akan kamu katakan, Cia?" tanya Arnold.
Velicia memejamkan matanya, dia berencana akan membuat kesepakatan kepada pria di sampingnya kini, tapi berfikir apa kesepakatan itu untuk menyelamatkan sahabatnya dari tuntutan Arnold.
Velicia menggunakan alasan keguguran 2 tahun yang lalu untuk membuat kesepakatan dengan Arnold.
"Ar, aku dua tahun lalu pernah keguguran," kata Velicia.
"Cia, kamu bilang apa?" tanya Arnold terkejut
Arnold terlihat begitu shock, jadi istrinya dulu sempat hamil, dia tidak tahu, Arnold walau dingin dan tidak mencintai istrinya dia juga menginginkan anak, walau sebenarnya ia mau dari rahim Viona bukan Velicia.
"Aku keguguran dua tahun yang lalu setelah kamu melakukannya begitu kasar padaku, Ar," kata Velicia sambil menunduk, ia mengingat dimana dia harus kehilangan janinnya yang masih berumur empat minggu itu.
Terlihat kesedihan di raut wajah pria itu, Velicia tidak menyalahkan Arnold sama sekali atas kejadian itu, ia yakin itu semuanya karena takdir yang membuatnya tidak bisa hamil lagi.
"Kenapa kamu tidak pernah bilang kepadaku, Cia. Jika saat itu kamu sedang mengandung?" tanya Arnold sambil menundukkan kepalanya.
"Apa kamu mau mendengar apa yang aku katakan, di saat kamu menginginkannya, Ar?" tanya Velicia kepada pria di sebelahnya.
Arnold lagi-lagi terdiam, entah mengapa ada rasa bersalah di dalam hatinya, karena dirinya anaknya pergi untuk selamanya.
"Maaf," kata Arnold lirih.
"Ar, bisakah kamu membebaskan Merry?" tanya Velicia.
__ADS_1