PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Misi Menyelamatkan Aura


__ADS_3

Leon perlahan mundur, Samuel yang lima belas menit baru sadar langsung mengumpati sahabatnya itu yang suka bertindak sendiri saat melihat Aura di masukan ke ruang gelap.


"Ada apa?" tanya Jack melihat Samuel mengumpat tidak jelas.


"Leon bergerak sendiri," jawab Samuel.


"Erik cari tahu di mana Leon menyusup!" perintah Samuel menatap anak buahnya yang sedang mengotak-ngatik keyboard laptop.


Erik bisa melihat Leon sedang mengendap-endap di balik tembok, Samuel tersenyum karena insting sahabatnya itu tidak melesat ia yakin tadi melihat titik lokasi yang berada di monitor.


"Tuan sebaiknya Anda tunggu di sini," kata Samuel karena ia tahu dua pria itu masih dalam pemulihan.


Arnold tidak mengindahkan apa ucapan Samuel, pria itu mengikuti anak buah Samuel yang akan menyerang dari belakang. Namun, sebelumnya berkata kepada Andreas."Kakak di sini saja."


Andreas hanya mengangguk menatap adiknya yang sedang menutup wajahnya pakai masker dan memakai topi hitam. Sesampainya di titik di mana sesuai arahan anak buah Erik. Semua bersiap. Namun, Arnold menatap tembok tempat Leon melompat tadi perlahan pria itu berjalan menunduk supaya tidak terpantau oleh musuh.


Arnold langsung memanjat dan melompat, pria itu langsung bersembunyi. Diperhatikan sekeliling memang aman. Saat Arnold akan keluar dari persembunyiannya ia dikejutkan oleh seseorang yang datang.


Pria itu berjalan mengendap dan langsung memukul pria yang sedang bersantai. Arnold menarik tubuh pria itu dan melepaskan pakaian penjaga itu. Arnold mengikat tubuh dan menyumpal mulutnya menggunakan kain.


Arnold berjalan santai supaya tidak mencurigakan dengan mudah ia masuk. Tidak lama Erik mengatakan lewat alat pendengar yang dipakai Arnold. Pria itu mengikut arahan dari Erik dan saat sampai di lantai dua ia bisa melihat Leon sedang berlindung di seberang


Leon memberikan kode kepada Arnold untuk maju karena ia akan melindungi pria itu. Arnold perlahan menaiki undakan, sedangkan Leon berjalan di belakangnya untuk berjaga.


Kini keduanya sampai di depan ruang berpintu warna hitam. karena dilihat dari titik GPS dari Aura ini titi terakhir.


Erika memberikan aba-aba untuk anak buahnya menyerang, bersamaan Leon mendobrak pintu. Wajah Leon langsung merah padam saat melihat Aura begitu memperhatikan. Arnold yang begitu geram langsung menyerang pria bercodet itu.


Leon langsung melepaskan  kaosnya dan untuk dipakaikan kepada Aura. Mulut Aura si sumpal pakai kain, sedangkan tangannya diikat di sudut ranjang. Air mata tidak berhenti membasahi kedua pipi yang sekarang terlihat lebam itu.


Leon saat menggendong Aura bisa merasakan jika tubuh gadis itu bergetar, pria itu begitu marah andai saja ia tahu kalau Aura hendak keluar tidak akan begini jadinya. Leon yakin pria itu belum menyentuhnya. 


Leon melihat Arnold sudah mulai terdesak ia membaringkan  tubuh Aura yang sekarang tidak sadarkan diri. pria itu ikut menyerang Pria yang dari awal sudah pernah berkelahi dengannya. Hanya dalam waktu lima belas menit pria itu ia lumpuhkan.

__ADS_1


"Ikat saja, pria itu saya harus membawa ke rumah sakit," kata Leon menatap Arnold.


Arnold menangguk setelah mengingat ia berjalan lebih dulu untuk melihat situasi aman. Saat ia akan keluar anak buah Erik tiba dan langsung meminta Leon dan Arnold untuk mengikutinya.


Setelah bisa keluar dari pagar yang sudah diamankan oleh anak buah Erik, Leon langsung memasukan Aura dan Arnold yang mengemudikan mobilnya.


Arnold bisa melihat dengan jelas jika Leon begitu khawatir dengan adiknya, ia berharap Aura tidak mengalami trauma saat sadar nanti. setelah menempuh perjalan selama tiga puluh menit mobil sampai di depan UGD. Leon langsung menggendong Aura dan meminta perawat untuk menolongnya.


Leon disuruh menunggu di luar, pria itu berjalan tidak tentu, kadang duduk dan kadang kembali lagi berdiri.


Arnold langsung ikut menunggu adiknya, saat Leon duduk pria itu bertanya."Siapa pria itu tadi?"


Leon menceritakan awalnya Aura menampar pria itu karena selama di rumah sakit gadis itu akan dilecehkan oleh pria yang sama, Awalnya sudah memberikan pelajaran. Namun, sepertinya pria bercodet itu menyimpan dendam.


Arnold yang paham hanya mengangguk, tidak lama dokter keluar dan meminta keluarganya untuk mengikutinya.


Arnold berjalan mengikuti dokter sedangkan Leon mengikuti perawat untuk memindahkan Aura. Sesampainya di ruang rawat Leon duduk di samping brankar. Digenggamnya tangan Aura dengan lembut.


Aura masih belum sadar, hal itu membuat Leon makin khawatir karena dokter bilang satu jam paling lama akan sadar.


Arnold perlahan membuka pintu ruang rawat Adiknya, ia tidak mungkin memberitahu mamanya jika adiknya tadi diculik dan sempat akan diperkosa.


"Leon," panggil Arnold dengan suara pelan.


"Iya Tuan," jawab Leon.


"Saya minta tolong kamu harus menjaganya. kamu tahu kalau mama tahu akan berakibat buruk pada kesehatannya.


"Baik Tuan," jawab Leon.


"Aku bertemu mama dulu, aku khawatir sama keselamatan mereka karena aku yakin jika pria itu mempunyai bos lagi." ujar Arnold.


Leon hanya mengangguk, Saat pintu tertutup Leon merasakan tangannya ada pergerakan. Dilihatnya Aura membuka matanya. Gadis itu menatap kosong langit-langit kamarnya.

__ADS_1


Leon menekan tombol untuk memanggil perawat, tidak lama seorang dokter dan perawat masuk dan langsung memeriksa Aura.


"Nona," panggil dokter itu,


Aura hanya bisa menangis, melihat itu hati Leon begitu sakit karena gagal menjaga wanita yang dicintainya itu. Pria itu mengepalkan kedua tangannya sampai kukunya berwarna putih. Bahkan ia tidak merasakan jika sudah menyakiti tangannya sendiri.


Dokter keluar tinggal Leon dan Aura, gadis itu sama sekali tidak menatapnya dan akhirnya Leon berkata."Maaf aku terlambat."


"Keluar kak," usir Aura kepada Leon.


"Nona, biarkan aku menjagamu," kata Leon.


"Untuk apa Anda menjagaku  lagi Tuan Leon!" seru Aura.


Leon menarik napas dalam dan menjawab."Maaf saya gagal menjaga Anda."


"Semua terlambat, aku bukan Aura yang dulu lagi." Aura menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Saya tidak peduli siapa Anda sekarang, izinkan saya tetap ada di sini, Nona." Leon mengusap kepala Aura.


"Aku sudah kotor," tangis Aura langsung pecah begitu saja.


Leon tanpa ragu memeluk gadis rapuh itu, ia merasakan betapa hancurnya sekarang Aura. Namun, ia pasti setelah kondisinya pulih akan menikahinya.


Leon membelai pipi yang masih terlihat lebam membiru itu, ia begitu merutuki bajingan itu. Saat nanti bertemu akan memastikan Leon yang menghajarnya.


"Kak, apa Mama tahu?" tanya Aura.


"Tidak," jawab Leon.


Aura mengusap air matanya, gadis itu masih merasakan kalau itu tadi seperti mimpi rasanya begitu takut jika mengingat ia disiksa dan akan merenggut kesuciannya.


"Kak," panggil Aura kepada Leon.

__ADS_1


Leon beranjak dari duduknya, kini pria itu duduk di tepi brankar dan bertanya."Ada apa, katakanlah?"


Bersambung ya...


__ADS_2