
Arnold mengusap pipi istrinya lembut, ia ingin bertanya siapa pria yang dicintainya. Namun, ada rasa takut jika itu bukan dirinya. Dikecupnya kening Cia dengan lembut dan agak lama ia menempelkan bibirnya dan bertanya." Cia, siapa pria yang kamu cintai sekarang?"
Velicia menatap Arnold, wanita itu merasa tidak harus menjawab apa yang ditanyakan mantan suaminya itu. Arnold yang melihat mantan istrinya hanya diam saja hanya menarik napas dalam.
"Maaf, seharusnya aku tidak menanyakan kepadamu masalah ini. Tanda diam sudah membuat jawaban jika Andreas yang kini bertahta di hatimu," ujar Arnold merasa begitu bodoh kenapa ia menanyakan hal yang seharusnya tidak perlu ditanyakan.
Arnold membuka pintu ruang rawat Cia dan langsung keluar untuk menenangkan hatinya yang sakit.
Cia melihat itu hanya diam dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya. Apa mantan suaminya itu tidak peka jika ia masih begitu mencintainya.
Velicia berusaha untuk turun dari ranjang, saat kakinya memijak lantai tiba-tiba ia langsung terperosok hal itu membuatnya merintih karena merasakan tubuhnya begitu sakit.
Semenjak ikut kemoterapi kakinya sangat susah digerakkan, wanita itu kini menarik kakinya untuk sampi pintu, ia berusaha berdiri untuk memutar handle dengan susah payah Cia akhirnya berhasil.
Cia perlahan membuka pintu sambil mengusap air matanya, sesampainya di luar ia melihat ke kanan dan ke kiri begitu sepi tidak ada orang. Wanita itu sebisa mungkin untuk mencari Arnold, hingga mendengar suara yang begitu ia kenal sedang telepon. Namun, saat dirinya sampai pria itu sudah selesai menghubungi seseorang.
Arnold yang merasa ada yang menghampirinya langsung membalikan badan, matanya melebar begitu terkejut karena istrinya sudah ada di belakangnya.
"Cia, apa yang kamu lakukan di sini sayang!" kata Arnold langsung menggendong istrinya.
Cia tidak menjawab, wanita itu melingkarkan kedua tangannya di leher Arnold. Sesampai di ruang rawat istrinya ia perlahan membaringkan dan memeriksa kaki istrinya, pria itu menarik napas dalam sambil menatap lembut mata wanita yang begitu dicintainya.
"Lain kali jangan lakukan ini!" kata Arnold tegas.
Cia hanya mengangguk saat mantan suaminya begitu perhatian kepadanya, wanita itu ingin sekali mengatakan kalau ia sampai sekarang masih mencintai pria yang kini sedang membersihkan kakinya.
"Ar," panggil Cia sambil menyadarkan kepalanya di bahu Arnold yang kini duduk di sampingnya.
"Hem," jawab Arnold sambil mengusap wajah istrinya.
"Apa berkasnya tidak bisa di email saja?" tanya Cia.
"Kenapa?" tanya Arnold balik.
__ADS_1
"Aku ingin selalu seperti ini di sisa hidupku," ujar Cia.
Deg, Arnold menatap mata Cia intens, pria itu merasa tidak percaya jika istrinya ingin bersamanya selama sisa hidupnya.
"Cia apa maksudmu, aku ini Arnold bukan Andreas pria yang kamu cintai." Arnold mencoba menyadarkan istrinya.
"Dulu aku mencintainya, hingga tanpa berpikir panjang aku menerima perjodohan itu, Ar." Cia menceritakan apa yang dulu ia pikirkan kepada Arnold.
Arnold mendengar itu semakin merasa bersalah, jika selama ini istrinya sudah menikahi pria yang salah. Namun, dadanya begitu sesak takdir apa yang sedang direncanakan Tuhan kepadanya. Ia menerima perjodohan karena ingin membalas atas apa yang papanya lakukan kepada mamanya membuat istrinya tidak dianggap dan hanya sebagai pemuas ***** saja.
Sedangkan Cia menerima perjodohan karena merasa kalau ia adalah Kakaknya, pria itu memijat pelipisnya.
Cia semakin mengeratkan pelukannya ke pinggang Arnold, membuat dada pria itu semakin berdetak lebih cepat. Ditatapnya mantan suaminya itu lekat.
"Ar, sebaiknya kamu mencari pengganti Viona. Umurmu sudah berapa? apa kamu tidak ingin memiliki anak, hem?" tanya Cia walau ada rasa tidak rela.
Arnold mengecup kening istrinya, bukannya ia tidak ingin memiliki anak. Namun, wanita di sampingnya ini sakit karena dirinya, Andai ia dulu tidak kasar kepada istrinya saat meminta haknya mungkin tidak akan terjadi seperti ini.
Cia merasa heran karena Arnold tidak menjawabnya, pria itu beberapa kali mengecup keningnya seakan sedang mencurahkan rasa sayangnya kepada dirinya.
"Sekitar tiga tahun atau dua tahun gitu," jawab Cia karena ia tidak ingat pasti.
"Semoga sekarang anak kita melihat kita," ucap Arnold.
Cia meneteskan air matanya dan bertanya."Apa kamu jadi berangkat?"
Cia sambil mendongak menatap wajah tampan yang selalu tanpa ekspresi itu.
"Selama dua minggu kamu akan ditemani Aura, apa kamu tidak masalah," kata Arnold karena ia sudah mengatakan kepada Papanya kalau malam ini akan berangkat sedangkan Aura sekarang sudah pasti sudah berada di pesawat.
"Aku tidak masalah, ingat kamu janji akan kembali, Ar." Cia mengingatkan mantan suaminya itu.
"Hangat pelukanku atau Andreas?" tanya Arnold menggoda istrinya setelah mendengar jika wanita itu ikut selalu seperti ini sampai sisa hidupnya itu artinya Cia masih mencintainya.
__ADS_1
"Andreas jarang memelukku, karena selama ini yang aku tahu jika Andreas adalah dirimu," ujar Cia.
Arnold tersenyum, jika Kakaknya itu tahu batasannya selama ini, ada rasa lega dalam hatinya jika istrinya hanya ia yang menyentuhnya.
"Ar, aku begitu senang saat aku kmo kamu mau masuk dan menemaniku. Eh, kenapa kamu tidak marah saat aku muntah di badanmu?" tanya Cia sedari tadi penasaran.
Arnold hanya tersenyum dan bertanya." Apa kakimu masih sakit?"
Cia hanya mencibirkan bibirnya karena pertanyaannya tidak dijawab, Arnold kini berganti menanyakan kondisi kakinya.
"Sudah tidak sesakit tadi," ujar Cia jujur.
"Sayang, lain kali jangan lakukan itu lagi," kata Arnold menatap wajah cantik istrinya.
"Maaf, karena aku tidak ingin kamu marah," kata Cia sedih.
Arnold tergelak, kalau dulu istrinya bersikap manja seperti ini sudah pasti ia tidak akan tega untuk menyiksanya. Namun, itu sudah berlalu.
"Cia apa boleh kau bertanya?" tanya Arnold mantap istrinya intens
"Boleh, tentang apa?" tanya balik Cia sambil menaikan kedua alisnya yang kini sudah tidak ada bulu alisnya lagi.
Arnold terdiam, ada rasa ragu saat ia akan mengatakan jika selama ini kalau dirinya masih suami sah dari Velicia Arista.
"Apa Ar? jangan buat aku penasaran!" kata Cia sambil bergelayut manja di lengan kekar mantan suaminya itu.
Arnold tergelak, ia semakin suka jika melihat istrinya bermanja-manja dengannya. Pria itu akhirnya berdehem dan mengedipkan matanya membuat Cia kesal dan melepaskan pelukannya dari legan mantan suaminya.
"Gitu aja kok marah, Sayang," kata Arnold sambil mengusap pipi istrinya.
"Kamu nyebelin, katanya mau menanyakan sesuatu, tetapi bohong!" kata Cia dengan ketus.
Wanita itu menarik napas dalam, kalau dulu ia bersikap seperti ini pasti Arnold sudah menendangnya keluar dari Villa.
__ADS_1
"Cia, jika aku lebih dari dua minggu nanti apa kamu akan menungguku?"
bersambung ya