PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Bujukan Maria


__ADS_3

Shinta begitu malu atas jawaban dari sahabat sekaligus adik iparnya itu. Dari dulu Aura suka bicara tanpa di filter dulu.


Setelah mereka selesai sarapan, semua duduk ruang keluarga. Andreas menatap Shinta yang kini wajahnya kian memerah karena godaan dari Aura.


"Kapan mau bulan madu, Kak?" tanya Arnold.


"Belum tahu," jawab Andreas


Arnold hanya mengangguk, entah kenapa rasanya tanggung jawab yang dulu dipegang oleh papanya sekaan sekarang dirinya yang mengambil alih. Bukannya Ia keberatan akan untuk membantu Andreas. Namun, pria itu akan membicarakan hadiah bulan madu untuk Shinta dan Andreas dengan Cia.


Jujur Arnold tidak ingin sang istri menjadi marah, lalu minta pisah lagi.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" tanya Andreas.


"Hanya tanya saja," jawab Arnold acuh.


Andreas hanya menggeleng kepalanya, pria itu menatap Cia yang terlihat begitu bahagia mengurus Langit. Sedangkan Aura dan Shinta begitu serius mengobrol.


Pria itu setelah sarapan tidak melihat mamanya, Andreas beranjak dari duduknya pria itu sudah yakin jika mamanya berada di kamar.


Perlahan pria itu memutar handle pintu, benar adanya kamar yang biasa terkunci. Kini bisa dibuka dengan mudah.


Andreas mendorong pintu perlahan, pria itu mendengar suara tangisan yang tidak lain suara wanita yang sudah melahirkannya itu.


Andreas menuju ruang baca, di mana dulu Papanya suka menghabiskan waktu seharian untuk membaca buku-buku koleksinya. Andreas tertegun melihat Mamanya menangis dengan memeluk pigura foto mendiang Papanya.


"Mama," panggil Andreas lembut.


Maria mengangkat kepala, wajah wanita itu terlihat sembab.


Andreas memeluk tubuh renta itu dan bertanya," Mama kenapa , jangan menangis seperti ini?"


Maria bukannya diam, wanita itu semakin pecah tangisnya. Selama ini hanya Andreas, anak yang mau mendengar keluh kesahnya. Ya, dari dulu putra sulungnya itu yang paling peka akan apa yang dirasakannya.


"Apa kamu yakin tidak ingin resepsi, Nak?" tanya Maria.


"Mama kenapa tanyakan hal itu lagi?"


Andreas perlahan melepaskan pelukannya, ia tidak mengerti kenapa masih membahas resepsi lagi.


"Tuan Jimmy meminta mama untuk membujuk kamu dan Shinta untuk resepsi di Berlin, Nak."


Andreas mengerutkan keningnya, kenapa tiba-tiba pria itu ingin mengadakan pesta di sana.

__ADS_1


Andreas mengusap wajahnya dengan kasar, pria itu tidak habis pikir dengan tuan Jimmy. Ia juga tahu kalau Shinta anak angkat pria itu.


"Apa Mama tidak jelaskan kalau aku saja Shinta tidak ingin ada pesta lagi?"


Maria menatap putranya, wanita itu yakin ini yang akan terjadi saat seperti ini saat mengatakan yang sebenarnya kepada Andreas.


"Mama mohon, Nak. Kamu pikirkan lagi. Di mana -mana orang tua menginginkan hal itu."


Andreas menatap Mamanya dan berkata," Andreas tidak janji Mama."


Setelah mengatakan hal itu, Andreas langsung keluar dari kamar kedua orang tuanya dengan menahan kesal.


Saat ia sampai di ruang keluarga hanya mendapatkan Cia yang sedang memainkan ponselnya.


"Yang lain mana ,Cia?" tanya Andreas.


Cia menatap kakak iparnya itu, wanita itu menautkan kedua alisnya karena melihat wajah Andreas terlihat sedang marah.


"Ada apa?"


Andreas menarik napas panjang, lalu pria itu menjelaskan apa yang dibicarakan dengan Mamanya.


Cian mendengar itu hanya tersenyum, wanita itu menatap kakak iparnya itu.


"Kak, apa salahnya mengabulkan permohonan orang tua. Kakak harus bersyukur masih ada mama. Sedangkan aku, Kak."


Air matanya mengalir membasahi kedua pipinya, hal itu membuat Andreas khawatir.


"Cia kamu kenapa?"


Cia bukan menjawab, wanita itu terisak. Arnold yang baru dari luar dengan Leon, begitu terkejut melihat istri menangis dan hanya ada Andreas di sana.


"Ada apa ini?" tanya Arnold dingin.


"Aku tak tahu, tiba-tiba menangis," ucap Andreas.


Arnold menghampiri istrinya, Pria itu menatap wajah cantik yang kini dibanjiri orang air mata.


Pria itu berlutut di depan istrinya, melihat itu Cia merasa tidak enak dengan Andreas karena Arnold terlihat dingin menatap kakaknya.


"Aku hanya kangen dengan mama dan papa, Ar. Ini tidak ada hubungannya dengan Kak Andreas," ujar Cia.


Arnold hanya mengangguk, pria itu sudah salah sangka dengan kakaknya. Dipikinya istrinya menangis karena Andreas.

__ADS_1


Jika benar Andreas, yang membuat sedih. Pria itu tidak akan pernah memaafkannya.


Arnold mengajak istri untuk beristirahat di kamarnya dulu, pria itu memberi kode kepada Aura untuk menjaga Langit.


Setelah itu keduanya pergi, Andreas hanya menarik napas panjang dan menghembuskan dengan kasar. Masalah satu belum selesai. Sudah timbul masalah baru lagi.


Leon melihat kakak iparnya hanya diam saja. Pria itu tidak ingin ikut campur. Sedangkan Aura ingin bertanya, tapi tatapan suaminya seakan memberikan kode untuk diam saja.


Andreas beranjak dari duduknya, pria itu keluar dan masuk mobilnya. Shinta yang baru dari kamar tidak melihat suaminya mengernyitkan keningnya."Kakak mana?"


"Keluar," jawab Aura.


"Keluar!" kata Shinta.


Aura hanya menganggukkan kepalanya, wanita itu yakin jika Shinta tidak tahu akan apa yang terjadi. Ia memilih diam saja, agar Andreas yang menjelaskan kepada istrinya.


Shinta merasa ada yang aneh, tapi wanita itu tidak ingin berburuk sangka dengan suaminya. Jika nanti banyak bertanya akan muncul pertanyakan lainnya.


"Kenapa?" tanya Aura.


"Papa Jimmy minta kami ke Berlin karena akan mengadakan resepsi di sana." Shinta menatap Aura dengan tatapan yang berbeda.


"Terus," kata Aura.


"Aku menolak, karena kak Jhon yang anak kandungnya saja tidak ada pesta," jawab Shinta.


Kini Aura mengerti apa maksud dari sahabatnya itu. Mungkin kalau dirinya di posisi Shinta akan melakukan hal sama.


"Apa itu yang membuat kakak keluar?" tanya Aura.


Shinta menatap adik iparnya itu, wanita itu bingung karena ia belum mengatakan apa-apa kepada suaminya.


"Aku belum bicara dengan kak Andreas, Aura." Shinta kini mengambil ponselnya.


Shinta menghubungi suaminya karena pergi tidak memberitahunya, tapi sudah hampir lima panggilan tidak terjawab. Aura melihat sahabatnya itu gelisah jadi serba salah akan ucapannya tadi.


"Aura aku ke luar sebentar," pamit Shinta.


Aura hanya mengangguk, setelah kepergian Shinta. Tinggallah Aura dan suaminya. Ingin sekali wanita itu minta pendapat suaminya. Namun, pasti jawabannya jangan urus rumah tangga orang lain.


Leon tersenyum tipis, pria itu bukannya tidak tahu jika istrinya ingin bicara. Namu, pria itu hanya acuh saja membaca surat kabar. Sedangkan Aura hanya bsia memendam akan apa yang ingin dikatakan.


Leon beranjak dari duduknya, hal itu membuat Aura menatap nyalang suaminya itu.

__ADS_1


"Dasar suami tidak peka!" umpat Aura kesal.


Leon bukan tidak dengar, pria itu hanya menggulum senyum dan masuk ke kamar istrinya dulu.


__ADS_2