
Andreas maju tiga langkah, saat matanya melihat ke arah wajah yang begitu pucat keningnya mengernyit dan kedua alisnya menyatu.
Andreas merasa tidak percaya, ia yakin tidak salah lihat. Ia berharap bukan gadis kecilnya, hanya terlalu banyak memikirkan gadis kecilnya dulu. Saat ia akan membalikan tubuhnya dilihatnya air mata keluar dari sudut mata wanita yang kini berstatus sebagai mantan istri dari adiknya itu.
Andreas menghampiri wanita yang kini meneteskan air matanya itu, diusapnya dengan lembut dan berkata, "Aku akan menjagamu, bertahanlah."
Andreas keluar dari ruang ICU, di luar ada Mamanya. Tak lama Tuan besar Setyawan datang mengajak anak dan istrinya untuk pulang, karena keduanya perlu bersiap-siap.
Clara dan Jack masih di rumah sakit karena keduanya harus membicarakan sesuatu, tak lama Merry datang dengan langkah lebarnya.
"Ada apa, Kak?" tanya Merry merasa khawatir saat disuruh datang ke rumah sakit.
Jack mempersilahkan sahabat adik itu untuk duduk, ia mulai menceritakan apa yang terjadi kepada Velicia. Wanita itu menatap Jack seakan tidak percaya apa yang baru ia dengar.
"Apa itu benar, selama ini Cia tidak pernah mengatakan apa-apa." Merry berdiri dengan air mata yang sudah berlinang membasahi kedua pipinya.
"Apa kamu bisa ikut?" tanya Jack.
"Maaf, aku harus lapor selama dua minggu," kata Merry sedih.
"Jangan dipikirkan, yang penting doakan Cia sehat kembali," ujar Jack mengusap bahu Merry yang kini berdiri melihat Velicia dari kaca.
Clara juga merasa sedih karena ia tidak bisa ikut, wanita itu harus kembali bekerja karena itu yang dipesan oleh Velicia kepadanya. Jack pamit untuk menyiapkan beberapa pakaian untuk adiknya karena jam lima nanti akan membawa adiknya untuk berobat, Walaupun hanya 5% harapannya ia tidak ingin menyerah begitu saja.
****
Di kediaman Tuan Besar Setiawan.
Pria paruh baya itu mengatakan kepada asistennya untuk pergi keluar kota selama satu minggu karena ada urusan mendadak, ia juga mengatakan kepada Arnold putranya. Saat Anderas menarik koper untuk membawanya ke mobil bersamaan dengan Arnold yang masuk rumah.
"Mau kemana, Kak?" tanya Arnold.
"Sudah waktunya aku kembali, oh, iya. Aku akan membawa Mama untuk cek up," pamit Andreas.
__ADS_1
"Bukannya Mama baik-baik saja," ujar Arnold karena ia belum tahu kalau wanita itu kini sedang duduk di ruang keluarga.
Andreas hanya diam, ia membawa barangnya ke mobil milik Papanya, Arnold saat akan naik ke lantai dua dihentikan oleh suara yang tidak asing.
"Sejak kapan kamu berubah, Nak?" tanya Maria sambil berdiri meghampiri putranya itu.
"Mama, kapan datang?" tanya Arnold tanpa menjawab pertanyaan Mamanya itu.
"Jawab pertanyaan Mama!" seru Maria kepada putranya.
Arnold menautkan kedua alisnya dan bertanya."Apa yang berubah, itu hanya perasaan Mama saja."
"Apa kamu mau mengikuti jejak Papamu, mencintai wanita lain di saat ada istri sahnya, hah!" teriak Maria histeris melihat putranya itu.
Tuan besar mendengar suara istrinya berteriak langsung keluar dari kamar, ia melihat Arnold menatap mata Maria dengan tidak suka ada kilatan marah pada pria itu saat harus disamakan dengan Papanya.
"Mama tidak tahu apa-apa!" seru Arnold dengan nada tinggi.
"Ar, Papa tidak pernah mengajarkan untuk berteriak kepada wanita apalagi dia Mamamu sendiri," ucap Tuan besar.
"Lalu apa yang kamu lakukan apa tidak sama!" sahut Andreas ikut menimpali.
"Iya aku melakukan itu biar Papa merasakan kalau wanita yang dijodohkan denganku akan merasakan sakit yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Mama!" kata Arnold menatap wajah Kakak dan Papanya bergantian.
"Ar, apa yang kamu lakukan itu tidak baik, buang rasa benci dan dendammu selama ini. Jangan sampai kamu menyesalinya," kata Maria sambil menangis.
Tubuh Maria luruh ke lantai, ia tidak menyangka rumah tangganya membawa putranya memiliki rasa dendam yang begitu besar kepada Papanya sendiri. Walau sekarang wanita yang dicintai suaminya itu sudah tiada akibat kecelakaan. Tidak membuat Maria ingin kembali lagi kepada Setyawan.
"Kamu akan menyesal, Nak!" kata Maria sambil menenggelamkan wajahnya di atas lututnya, Andreas membantu Mamanya untuk duduk di ruang keluarga.
Arnold menatap wanita yang terlihat begitu rapuh itu, apa itu juga yang dirasakan Cia saat ia lebih memilih Viona. Pria itu bersujud di kaki Maria, tangis Arnold pecah di pangkuan wanita yang sudah melahirkannya itu.
Tuan besar melihat itu begitu sesak dadanya, tidak hanya Maria yang terluka atas apa yang ia lakukan di masa lalu, tetapi kedua putranya juga turut merasakan akibatnya. Sampai Arnold membalas dendam kepada Velicia.
__ADS_1
"Kamu tahu mantan istrimu tidak salah apa-apa, cari dia dan minta maaf. Jika perlu batalkan pernikahanmu dengan wanita itu, kalau di sini masih ada nama menantu Mama," ujar Maria mengusap dada Arnold lembut.
Andreas ,mengajak Mamanya untuk pamit kepada Arnold, begitu juga dengan Tuan besar yang akan ikut karena putra keduanya itu tahunya ia akan keluar kota saja untuk mengurus bisnis.
Setelah Kepergian kedua orang tua dan kakaknya, Arnold mengirimkan pesan untuk bertemu dengan Viona, ia berjanji akan mencari Velicia, tetapi ia akan menyelesaikan urusannya terlebih dahulu bersama Viona.
Arnold langsung keluar Rumah menuju ke mobilnya, pria itu akan bertemu dengan tunangannya. Ia tidak ingin seperti papanya menyesali sampai seumur hidup.
Mobil yang dikemudikan Arnold sampai di kafe di mana ia mengajak Viona untuk bertemu. Pria itu langsung masuk dan melihat wanita yang kini sedang duduk santai sambil menikmati jusnya.
"Sayang." Viona langsung berdiri mau mencium pipi Arnold, tapi langsung di tolak oleh tunangannya itu.
"Sayang, kamu kenapa? apa aku ada salah?" tanya Viona merasa ada yang berubah dari calon suaminya itu.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Arnold datar.
Viona mengernyitkan dahinya, wanita itu heran pria yang biasa lembut dan hangat kepadanya sekarang berubah dingin dan datar.
"Aku baik-baik saja, apalagi saat kamu mengajakku bertemu, Yang." Viona hendak memeluk lengan Arnold, tapi langsung ditepis oleh pria itu.
Viona tidak terima dan marah kepada Arnold, lalu berkata," Kamu kenapa?"
"Aku ke sini untuk membatalkan pernikahan kita," ujar Arnold santai tanpa menatap wajah wanita yang terlihat shock dengan apa yang ia putuskan.
Viona menutup mulutnya, wanita itu yakin kalau Arnold hanya bercanda kepadanya saat ini, lalu ia berdiri dan duduk di samping pria yang ia cintai walau hanya hartanya saja.
"Kamu bercandanya nggak lucu!" seru Viona cemberut.
"Aku tidak bercanda, Viona. Hari ini semua berakhir, jalani hidupmu sebagaimana mestinya!" kata Arnold dengan nada dingin dan sombong.
Arnold beranjak dari duduknya, saat ia akan melangkah terdengar kata-kata Viona menghentikannya.
"Apa ini karena wanita ****** itu, hah!" teriak Viona dengan nada tinggi membuat para pengunjung menatapnya.
__ADS_1
"Velicia bukan ******, bahkan kamu yang layak mendapatkan predikat itu!" kata Arnold dingin
Viona menatap kepergian Arnold, ia tidak terima diputuskan begitu saja. Bukan Viona namanya kalau tidak bisa mendapatkan Arnold lagi.