
Velicia menatap suaminya, wanita itu mengusap air matanya. Kini ia bisa merasakan bahagia. Ditambah lagi kehadiran Langit di tengah-tengah rumah tangganya.
Arnold mengecup kening istrinya dan berkata, “Aku berharap kita akan seperti ini, Sayang. Saling jaga dan saling mengingatkan.”
Cia memeluk pinggang suaminya lebih erat. “terima kasih. Ar.”
“Sama-sama, Sayang.”
Rasa bahagia kian dirasakan Cia, Arnold pun mulai menerima langit dan bermain dengan putranya itu. Sedangkan Cia berharap putranya baik-baik saja. Ia juga berharap Viona tenang di sana. Nanti setelah putranya dewasa, pasti akan memberitahu siapa ibunya.
Arnold mengajak istrinya keluar dari kamar, sedangkan Langit kini dijaga oleh Meli. Meli ikut Cia, tapi dengan syarat harus kuliah demi masa depan gadis itu.
Arnold juga tidak keberatan, akan apa keputusan istrinya itu. Kini semua sudah berada di ruang keluarga di mana bulan depan Andres akan menikah dengan Shinta. Di adakan di salah satu panti di mana dulu orang tua Shinta membuangnya.
Shinta juga ikut hadir ,bukan hanya itu saja Ayah angkat dan kakak angkatnya juga akan hadir saat menikah nanti. Tuan Jimmy akan datang karena ia begitu sayang dengan anak angkatnya itu.
Jhon juga tidak kalah, pria itu akan sekalian membawa Clara karena pasti istri datarnya itu tidak mau ditinggalkan.
“Shinta kapan Clara akan datang?” tanya Cia karena begitu senang orang kepercayaannya dulu akan datang.
“Dua minggu lagi, Kak,” jawab Shinta.
Cia mengangguk, sedangkan Aura dan Mamanya sibuk mencatat siapa saja yang akan diundang.
“Cia jangan lupa bilang sama Jack dan istrinya,” ucap Maria.
“Iya, Mam,” jawab Cia.
“Ar, Leon apa rekan bisnis kalian tidak diundang?” tanya Maria.
“Mama, kita hanya di panti, hanya keluarga inti saja,” sahut Andreas.
“Jangan begitu walaupun di panti, mama juga akan mengundang teman-teman Mama, Andreas.” Maria menatap tidak suka putranya itu.
Arnold hanya diam, ia tidak akan terlalu ikut campur, karena saat ia menikah dulu semua diurus papanya dan itu pasti melibatkan Leon.
Andreas menatap Arnold dan Leon. Kedua pria itu hanya diam saja, seakan tidak suka jika dirinya akan segera menikah.
__ADS_1
Andreas beranjak dari duduknya, pria itu kini bergabung dengan Arnold dan adik iparnya itu.
“Kalian apa tidak suka aku mau menikah?” tanya Andreas.
Arnold dan Leon saling pandang, sedangkan Andreas mendengus melihat kedua adiknya itu. Entah mimpi apa dia, punya adik dingin dan ipar sama dengan Arnold sebelas dua belas.
“Kak setelah menikah lebih baik pimpin perusahaan, aku tidak bisa kalau harus urus dua,” kata Leon.
“Aku tidak bisa Leon, kamu tahu itu bukan keahlianku, kalau aku mau dari awal pasti sudah aku pimpin,” jawab Andreas.
“Aku tidak akan langsung lepas tangan begitu saja,” ujar Leon.
Andreas menatap Arnold dan Leon. “Kenapa kalian tidak senang melihatku bahagia?”
Arnold menarik napas panjang lalu berkata,” Apa salahnya coba, Kak. Leon sebentar lagi anaknya lahir, Perusahaannya juga sudah berkembang pesat.”
“Siap bulan madu nanti aku coba, tapi kamu jangan langsung keluar, Leon!” kata Andreas.
Arnold dan Leon tersenyum tipis karena Andreas seakan mengancam. Setelah asyik mengobrol Leon yang diberi kode oleh istrinya langsung pamit karena keduanya akan segera ke dokter untuk cek up kandungan Aura.
Setelah Leon dan istrinya pergi, Baik Arnold dan Andreas bergabung dengan yang lainnya. Cia hanya tersenyum saat melihat Maria begitu sayang dengan Langit.
Arnold menggenggam tangan istrinya, sedangkan Andreas dan Shinta akan keluar untuk fitting baju pengantin karena sudah ada janji dengan pihak butik.
“Cia kamu istirahat saja, biar langit bersama Mama,” kata Maria.
“Iya, Mam.”
Arnold mengajak istrinya untuk naik lantai dua, sedangkan Maria dan Meli menjaga Langit sambil menonton televisi.
“Meli apa Cia jadi menguliahkanmu tahun depan?” tanya Maria.
“Jadi Nyonya,” jawab Meli.
“Kamu itu, panggil Mama saja,” pinta Maria.
“Maaf,” kata Meli.
__ADS_1
Maria hanya mengangguk, ia tidak akan tahu jika tidak ada Meli dan langit pasti akan kesepian. Wanita itu rindu rumahnya yang berada di pinggir kota. Lain kali meminta kepada Arnold atau Andreas untuk mengantarkannya.
“Mama memikirkan apa?” tanya Meli.
“Mama itu kadang kesepian, Meli. Apa lagi kalau tingal di Vila Setiawan, di sana hanya asa pelayan. Sedangkan Andreas kadang pulang kadang juga tidak.” Maria menceritakan apa yang selama ini menjadi bebannya itu.
Meli memeras iba, kalau ibunya ditinggalkan di Vila milik keluarga Setiawan tidak akan kesepian. Di sana banyak pelayan. Sedangkan di Villa milik Tuan Arnold. Pelayan Tidak banyak.
Namun, keluarga Cia begitu hangat. Meli merasa damai saat melihat Andreas dan lainnya sedang berkumpul.
Meli yang melihat Langit sudah tidur, gadis itu segera memindahkan ke bok bayi tidak jauh darinya. Gadis itu menatap Langit. Ia begitu iba masih bayi mamanya sudah meninggal. Sedangkan ayahnya tidak tahu siapa.
Dilihatnya Maria masuk ke kamar, sedangkan Meli menonton televisi lagi. Sesekali ia bermain handphone untuk melihat sosial media yang isinya hanya status teman sekolahnya pada sedang galau.
Meli mendengar suara derap langkah menuruni tangga, gadis itu langsung menyimpan handphonenya.
Cia tersenyum menatap Meli, sedangkan gadis itu hanya diam.
"Kakak kenapa?" tanya Meli
"Jack mau anaknya di jodohkan dengan Langit."
Mendengar itu Meli hanya menatap Cia Sabil tersenyum. Namun, saya melihat langit wanita itu yakin saat besar nanti bayi itu akan menjadi pria tampan.
"Meli kakak penasaran dengan Viona, padahal ingin tanya siapa nama ayah langit."
"Janganikan Kakak, aku saja penasaran siapa ayahnya. Kalau aku perhatikan mirip Viona hanya mata saja."
"Benar, aku takut kalau ayahnya akan mengambil hak Langi," ucap Cia dengan air mata yang membasahi kedua pipinya. Jujur sekarang begitu takut akan hal yang tidak terduga nantinya.
Cia menatap wajah lucu anaknya, walaupun Langit anak dari Viona. Bagaimana dulu mamanya itu menyakiti dan memfitnahnya di depan Arnold. Namun, tidak ada rasa sedikit pun dendam. Ia sudah ikhlas dan menjalani saja sesuai alurnya.
"Kakak jangan terlalu memikirkan yang belum tentu terjadi," kata Meli.
Cia mengangguk, wanita itu menegakkan tubuhnya. Kini pandangannya menuju ke arah mertuanya. Hal itu membuat Maria ingin heran ." Ada apa ?"
"Mama mau kemana?" tanya Cia tanpa menjawab apa yang ditanyakan oleh menantunya itu.
__ADS_1
Maria mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya."Cia itu kenapa pandai saat di kantor."
Cia hanya menaikkan kedua bahunya, biar saja dia naik motor."