PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Viona berpulang


__ADS_3

Cia Sedang sibuk untuk mencari bok bayi, wanita itu begitu asyik untuk memilih.”Ar, bagus yang warna apa?”


“Sayang, warna biru bagus,” jawab Arnold.


Cia melihat bok bayi yang begitu menarik hatinya itu, ia kini berjalan ke arah bok yang berwarna biru. Di mana suaminya sedang memperhatikan bok bayi itu.


“Kita butuh dua,” kata Arnold.


“Untuk apa?” tanya Cia.


“Di ruang keluarga satu, Sayang.” Cia langsung mengangguk mendengar apa kata suaminya itu.


Kini bok bayi sudah dapat, wanita itu mencari pakaian dan semua yang dibutuhkan. Arnold tersenyum melihat betapa istrinya begitu bahagia.


Setelah membayar dan memberikan alamat di mana barang-barang yang dibelinya untuk diantarkan langsung ke villanya.


Arnold tidak ingin istrinya begitu lelah, pria itu melihat jam di tangannya sudah menujukan jam makan siang. “Sayang kita makan ya.”


Cia mengangguk, wanita itu merasa bersalah karena hampir lupa jam makan siang. Kini keduanya masuk ke salah satu restaurant di mana sang istri begitu menyukai menu andalannya.


Cia dan Arnold duduk tidak jauh dari kaca yang menghadap ke jalan raya, Arnold menyipitkan matanya saat melihat nama seseorang yang menghubunginya.


"Kenapa tidak diangkat?” tanya Cia.


“Nomor tidak kenal,” jawab Arnold.


“Sayang angkat saja siapa tahu penting,” kata Cia.


Arnold menarik napas panjang, pria itu menatap sang istri. Tanpa menunggu lama saat nomor itu menghubunginya dengan cepat mengangkatnya.


“Halo, sia-,” ucapan Arnold terhenti.


Cia melihat perubahan wajah suaminya merasa heran. Siapa yang menghubungi suaminya itu. “Sayang.”


“Baik saya segera ke sana,” kata Arnold.


“Kita ke rumah sakit,” ucap Arnold.

__ADS_1


“Ada apa?”


“Viona korban tabrak lari,” jawab Arnold.


Cia menutup mulutnya, tanpa menunggu lama keduanya langsung pergi dengan meninggalkan uang sepuluh lembar di atas meja. Arnold mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Cia beberapa kali mengatakan untuk berhati-hati kepada suaminya itu, Tapi Arnold hanya mengangguk. Mobil sudah sampai di salah satu rumah sakit di mana Viona dibawa.


Arnold menggemgam tangan Cia, keduanya langsung menuju ke UGD. Cia melihat suaminya sedang berbicara serius dengan dua orang pihak berwajib. Setelah itu dua orang itu pergi,


“Sayang, orang tua Viona sudah tidak ada. Kita urus jenazahnya,” ucap Arnold.


Velicia mendengar apa kata suaminya hampir tidak percaya. Air matanya menetes di pipinya saat meliat brankar keluar dari UGD. Arnold meminta pihak rumah sakit untuk mengurusnya,


Ia juga tidak lupa meminta Leon dan Andreas untuk mengurus pemakaman Viona. Maria mendengar kabar dari Arnold begitu terkejut. Wanita paruh baya itu meminta jenazah Viona di bawa ke Villanya.


Setelah satu jam, kini jenazah Viona dibawa ke rumah duka milik keluarga Setyawan.


Cia duduk menatap tubuh yang terbujur kaku itu, baru pagi ia bertemu, tapi siang sudah mendengar jika wanita itu lebih dulu kembali kepada yang kuasa. Cia dalam hati akan menjaga putra yang dititipkan kepadanya itu.


Saat Jenazah Viona di masukan ke mobil Jenazah, tangis anaknya terdengar begitu pilu. Seakan anak itu tahu jika ibunya sudah pergi. Arnold yang melihat istrinya seperti itu. Pria itu melarang sang istri untuk ikut ke pemakaman.


Cia sudah bertekad untuk menjaga anak dari Viona, wanita itu lebih bersyukur karena saat orang tuanya pergi ia sudah SMP. Sudah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Dipeluknya bayi yang masih begitu membutuhkan ibunya itu, tapi takdir tidak berpihak kepadanya. Cia membawa anak itu ke kamar. Wanita itu tersenyum saat terlintas nama. “Langit Aresta Setyawan.”


“Mami akan memanggilmu Langit, Nak. Semoga Daddymu setuju.


Cia menimang-nimang Langit, tidak menunggu lama balita itu sudah terlelap mungkin karena begitu lelah karena terus saja menangis.


Setelah dua jam Arnold, Leon dan Andreas pulang, Aura menatap suaminya itu. “Kakak langsung pada mandi.”


Ketiga pria itu mengangguk patuh, tidak lama seseorang. Melihat siapa yang datang Aura begitu antusias.


“Wah sudah besar,” kata Aura saat melihat Selly masuk dengan mengendong bayi berumur dua bulan itu.


Jack yang baru datang hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Aura, setelah itu ia bergabung dengan yang lainnya. Pria itu terkejut saat mendengar Viona meninggal karena menjadi korban tabrak lari.

__ADS_1


“Kenapa bisa polisi itu menghubungimu?’ tanya Jack setelah Arnold menceritakan semuanya.


Arnold hanya menaikan kedua bahunya, hal itu membuat Jack memutar matanya malas. Sedangkan Cia yang sedang memangku Langit tertawa.


“Kakak sapa namanya?” tanya Cia melihat anak kakak iparnya itu.


“Namanya Jingga, Mami,” jawab Selly menirukan suara anak kecil.


“Ar, sebaiknya segera kamu urus surat adopsinya . Bukannya kalian tidak tahu siapa ayah biologis anak ini?” tanya Selly.


Arnold menatap Cia, sedangkan sang istri menggelengkan kepalanya. Melihat itu Leon berkata, “Biar pengacara keluarga yang mengurusnya.”


Arnold dan yang lainnya mengangguk tanda setuju, Cia segera membaringkan Langit di dekat kasur milik Jingga. “Nanti kalian harus saling jaga.”


“Amin,” jawab Selly.


Selly dan Cia asyik mengobrol tentang cara merawat anak, sedangkan Aura sedang bermanja dengan Maria. Shinta yang sedari tadi hanya menyimak apa yang Cia dan Selly bicarakan.


Wanita itu melihat ponselnya berkedip tanda ada pesan masuk. Ia menarik napas panjang saat membaca pesan dari Andreas.


Shinta berjalan menuju dapur, melihat itu Aura menatap sahabatnya itu heran. “Shinta mau kemana?’


“Minum.”


Aura hanya mengangguk mendengar apa kata sahabatnya itu, jarak sepuluh menit. Andreas menerima telepon dan kakaknya itu keluar lewat pintu depan.


****


Di taman belakang, Shinta sedang duduk di bangku tidak jauh dari danau buatan. Wanita itu sedang menunggu Andreas, hari ini ia berjanji akan memberikan jawaban atas apa yang ditunggu Andreas.


“Sayang, maaf lama tadi ada telepon dari wali murid,” ujar Andreas.


Shinta hanya tersenyum, wanita itu menatap wajah tampa di depannya. Walau pun sudah kepala tiga, tapi Andreas masih terlihat seperti umur puluh lima tahun.


“Kakak, apa pun jawabanku nantinya. Aku harap tidak sampai silahturahmi kita terputus, Kakak juga akan hidup lebih baik.”


Andreas menatap netra indah itu, dadanya berdegub kencang. Apa pun keputusan Shinta jika di terima berarti sudah jodohnya. Jika bukan Shinta bukan terbaik untuknya.

__ADS_1


Shinta menarik napas panjang, wanita itu menghadap ke arah Andreas.” Aku mau kakak hidup lebih baik lagi, tentunya itu denganku.”


Andreas terdiam, pria itu mencerna apa yang diucapkan Shinta barusan. “Aku akan hidup lebih baik dengan adanya dirimu di sampingku.”


__ADS_2