PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Rencana Jimmy dan menantunya


__ADS_3

Jhon seperti orang yang kebingungan, pria itu lari ke pos jaga. Saat tahu istrinya malam itu pergi membuat Jhon menyesal.


"Bodoh kamu Jhon," batin Jhon.


Alek hanya menatap tuannya dari teras, ada rasa iba. Namun, ini yang terbaik untuk Nonanya.


Jhon berjalan ke arah mansionnya, pria itu kini menatap Alek. 


"Al, suruh anak buahmu mencari di mana Clara."


"Untuk apa di cari, bukannya itu yang kami mau. Istrimu pergi, Hem?"


"Pa," kata Jhon dengan tatapan yang berbeda.


Jimmy  tersenyum sinis. Pria itu memberikan kode kepada Alek untuk mengikutinya. Alek menunduk ke arah Jhon. Setelah itu mendorong Tuan Jimmy keluar dari mansion.


Jhon mengusap wajahnya dengan kasar, ia mengingat apa yang sudah dikatakan kepada istrinya. Hingga dengan brengsek ia menyewa wanita dan melakukan di depan Clara.


Jhon menghempaskan tubuhnya di sofa. Pria itu tanpa sadar meneteskan air matanya. Clara yang sedang hamil darah dagingnya. Kini memilih pergi meninggalkan dirinya.


Pria itu begitu menyesal, walaupun ia sakit hati atas apa yang dilakukan wanita itu. Namun, tidak seperti ini maunya.


Jhon naik ke lantai dua, ia mengambil minuman. Pria itu seperti biasa, jika sedang ada masalah akan menghabiskan waktunya dengan minuman. 


****


Ditempat lain, Alek dan Tuannya kini mengemudikan mobilnya menunjuk ke pinggir kota. Pria itu meminta anak buahnya untuk memantau kepergian Clara. 


Jimmy tidak ingin kehilangan cucunya, mobil berhenti di salah satu penginapan.


Alek membantu Tuannya untuk duduk di kursi roda. Setelah itu mendorong untuk masuk dalam lobby.


Alek menjelaskan tujuan, awalnya resepsionis tidak mau. Namun, saat melihat Jimmy. Kedua wanita itu ketakutan.


Akhir Alek dan Tuannya dipersilahkan untuk masuk. Kini keduanya sudah berada di depan kamar yang ditempati oleh Clara.


Alek segera mengetuk pintu kamar Nonanya. Tidak lama. Pintu terbuka. 


Clara begitu terkejut melihat siapa yang sekarang berada di depannya.


"Papa," kata Clara.

__ADS_1


"Boleh kami masuk?" tanya Jimmy.


Clara dengan tatapan yang susah di artikan wanita itu akhirnya mempersilahkan mertuanya untuk masuk.


Setelah Alek dan Papa Jimmy masuk, Clara melihat ke arah pintu. Setelah merasa aman. Wanita itu menutup pintunya.


Jimmf dan Alek menatap Clara, kedua pria itu bisa membaca dengan seksama jika wanita itu khawatir jika Jhon ikut.


"Tenang, Nak. Anak bodoh itu tidak tahu apa-apa," kata Jimmy.


Clara yang paham ke arah mana maksud tujuan mertuanya, hanya mengangguk.


"Ada apa, Pa. Bagaimana papa bisa tahu aku di sini?" tanya Clara.


"Sekarang bukan itu yang kita bahas, Nak."


Clara menata mertuanya, wanita itu heran. Apa pria paruh baya di depannya itu tahu. Akan apa yang terjadi di rumah tangganya.


Setahu Clara, suaminya dan Papanya tidak begitu dekat. Keduanya selalu bermusuhan bila sedang dalam satu ruangan.


Namun, kali ini. Mertuanya datang hanya untuk melihat keadaannya.


"Maafkan anak Papa, kamu tidak bertemu dengan John. Tidak Masalah,Nak."


Clara melakukan menaikkan kedua alisnya, wanita itu merasa heran. 


"Maksud Papa apa?"


"Papa bisa lindungin kamu dari pria brengsek itu, tetapi dengan satu syarat kalian tidak akan pernah pisah. Dengan alasan ada anak diantara kalian."


Clara terdiam, dari awal Ia menikah tidak ingin satu rumah dengan mertuanya.  Alasannya tidak ingin ada orang lain masuk dalam lingkup rumah tangganya. Apa yang ditakutkannya selama ini akhirnya terjadi, berat bagi wanita itu untuk memaafkan suaminya.


Namun,  ia tidak bisa menyalahkan John. Suaminya melakukan itu karena sakit hati kepadanya, tetapi dengan cara yang salah.


Seharusnya suaminya mengajaknya berbicara terlebih dahulu, tidak seperti ini. Ini Clara bingung dengan keputusan mertuanya itu. Namun , ada rasa syukur dalam hatinya. Papa Jimmy  tidak membawa John datang ke hotel tempatnya menginap.


"Pa, keputusanku sudah bulat untuk meninggalkannya, Papa bisa tanya kepada tuan Alex. Apa sebenarnya terjadi pada rumah tanggaku. Kalau untuk anak ibu kandung ini, aku akan merawatnya sendiri. Papa jangan khawatir, sudah lahir pasti aku akan memberitahu." Clara menatap mertuanya.


Jimmy mendengar itu terdiam, ya itu begitu kecewa atas keputusan yang diambil oleh Clara.


"Kalau hanya karena kamu membunuh anak buah kami, sudah takdir, Nak."

__ADS_1


Alat dan Clara mendengar ucapan Tuan Jimmy saling pandang, alat dengan berat hati akhirnya membersihkan sesuatu ke telinga tuannya.


Jimmy mendengar itu mengepalkan kedua tangannya, dia tidak menyangka putranya bisa sebrengsek  itu.


Kini  Jimmy paham, akan Apa yang dimaksud oleh Clara tadi.


"Bagaimana kalau kamu tinggal di Paris saja, di sana ada perusahaan papa yang tidak ingin dikelola oleh John." 


"Apa Papa percaya kepadaku?"


"Papa sangat percaya kepadamu bisa mengelolanya, buktikan kepada suamimu brengsek itu. Tanpa dirinya kamu masih bisa hidup baik dengan anakmu."


Suara hanya menggangguk, wanita itu dari tadi memikirkan akan pergi ke mana. Iya pulang ke tanah air pasti dengan mudah suaminya mendapatkannya.


Suara akhirnya setuju, wanita itu akan membuktikan kepada suaminya. Setelah kesepakatan disetujui, Jimmy dan Alex langsung keluar dari kamar Clara.


Tidak lupa alek  menempatkan penjagaan ketat kepada nonanya itu. Keselamatan Nona nya lebih berharga daripada nyawanya sendiri.


Setelah kedua orang pria itu pergi, menarik nafas lega. Wanita itu besok akan langsung berangkat ke Paris. Malam ini Alek akan membereskan data-datanya , supaya tidak tercium oleh John.


Clara membuka pintu belakang kamarnya, wanita itu menatap ke langit-langit. Ia berharap keputusannya ini benar-benar yang terbaik untuk hidupnya dan anaknya nanti.


Wanita itu tidak banyak meminta permintaan kepada mertuanya, asalkan ia nyaman dan jauh dari suaminya. Dia akan hidup bahagia.


Clara mendapat cincin yang melingkar di jarinya, wanita itu lupa melepas saat meletakkan semua barang-barang pemberian dari Jhon.


Clara perlahan melepaskan,  cincin yang melingkar di jari manis yaitu. Setelah itu diletakkan di atas nakas. Dia duduk di tepi ranjang, masih teringat dengan jelas Bagaimana suami yang mengatakan kata-kata tadi malam.


Haruskah ia mengubur rasa cinta yang begitu dalam kepada Jhon. Rasa sakit yang begitu dirasakannya, rasanya benar-benar menghujam ke ulu hatinya. Bukan Clara tidak terima atas keputusan pria itu, tetapi caranya saja yang ia merasa tidak dihargai.


Selama ini Clara tidak pernah menuntut apapun kepada suaminya, iya ingat apa pesan dari Maria,  sebelum  ia diboyong Berlin. Suka tidak suka kamu harus melayani suamimu, jangan sampai ia merasa nyaman jika berada di luar rumah.


Clara menarik nafas dengan kata-kata itu, apa selama ini suaminya sedang bermain wanita di luar sana. Namun, dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.


Clara mengusap perutnya yang masih rata, tapi wanita itu merasakan yang bagian bawah begitu keras." Baik-baik ya nak bersama Bunda, Ayahmu etap pria baik. Asal kamu tahu tidak ada nama ayah yang jahat kepada anaknya sendiri."


Lalu meneteskan air matanya, hatinya begitu pedih. Semua ia korbankan untuk bisa bersama pria itu. Namun, balasannya begitu dahsyat kepadanya. Mungkin hanya kesalahan dia mabuk, cara masih bisa memaafkannya. Namun ,  dengan terang-terangan di depan matanya sendiri. Pria itu memperlihatkan Bagaimana yang menghasilkan dua wanita itu, aku sebaliknya suaminya memperlihatkan Bagaimana cara baik melayaninya.


Clara tersenyum sinis, dalam hati yang ingin sekali meninggalkan pria itu. Namun, di sisi lain. Apa yang akan dilakukan keluarga suaminya.


Namun, dengan kedatangan orang tuanya tadi, wanita itu berharap kekasihnya pulang.

__ADS_1


__ADS_2