
Aura dan Leon saling pandang dan memutuskan untuk masuk, saat pintu terbuka sudah ada Andreas yang menatap Aura tajam dan berkata."Dari mana kalian, kenapa tinggalkan Cia sendiri, hah?"
Aura terkejut karena ini pertama kalinya melihat Kakaknya membentaknya. Gadis itu mundur selangkah hingga menabrak Leon.
"Dari mana kamu?" tanya Andreas melembut karena melihat adiknya yang terlihat ketakutan melihatnya.
Cia menarik napas karena ia tidak menyangka mantan kakak iparnya itu akan semarah itu kepada adiknya.
"Apa kabar Tuan?" tanya Leon menyapa Andreas.
"Kabar baik, Kenapa kamu di sini?" tanya Andreas karena baru tahu jika asisten Papanya ada di Berlin.
Leon hanya tersenyum, sedangkan Aura masih diam sedari tadi. Wanita itu bingung apa yang akan dikatakan nanti kepada Kakaknya baik Arnold dan Andreas.
Andreas kembali mengobrol dengan Cia, tapi terlihat ada yang berbeda dari gadis kecilnya itu.
"Cia, kamu kenapa?"tanya Andreas terlihat khawatir melihat wajah murung dari wanita yang sekarang sudah singgah di hatinya itu.
"Tidak apa, hanya kurang istirahat saja," jawab Cia.
Velicia menatap Aura yang juga menatapnya. Seakan kakak iparnya itu membutuhkan dirinya.
Aura beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Cia dan berkata." Kakak sebaiknya istirahat saja dulu."
Andreas terlihat tidak suka karena adiknya mengusirnya.
"Aura, Kakak tadi telepon Papa. Kenapa Arnold pergi ke paris bukankah harusnya ada di sini?" tanya Andreas.
"Kakak tanya saja sendiri, Kak Arnold bilang mau pulang bantu Kantor," jawab Aura karena ia tahu jika Kakaknya akan sampai besok ke Berlin.
Leon sibuk main ponselnya, tapi telinganya mendengar apa yang sedang diobrolkan adik dan Kakak itu.
Andreas hanya diam, sedangkan Cia yang mendengar jika Arnold ke paris menjadi sedih. Wanita itu ingin saat kmo nanti ada Arnold menemani dan memeluknya saat merasakan obat itu mulai membuatnya kesakitan.
"Benar apa kata Aura sebaiknya Kakak pulang," ujar Cia karena terlihat wajah lelah Andreas.
Andreas hanya bisa mengangguk karena ia juga tidak boleh terlalu lelah selama pemulihan.
"Aku pulang ya," pamit Andreas kepada Cia.
Pria itu menghampiri Cia dan mengecup kepala yang tertutup rambut palsu itu.
Setelah Andreas keluar Cia menatap Aura dan bertanya." Kenapa Arnold ke paris?"
__ADS_1
Aura terlihat gugup karena ia belum membuat alasan dan akhirnya menjawab."Aku juga tidak tahu, Kak."
"Leon?" Cia menatap pria berwajah dingin itu yang sudah mulai jinak selama dekat dengan Aura.
"Saya juga tidak tahu, Nona." Leon menatap Aura sebentar dan beralih menatap Aura.
"Kakak istirahat saja, besok siang harus kaitan," kata Aura mengingatkan Cia.
Velicia hanya mengangguk. Wanita itu berharap sel kanker dalam tubuhnya sudah tidak ada lagi.
Perlahan Cia membaringkan tubuhnya, sedangkan Aura membantu membenarkan selimutnya.
Setelah Cia sudah tertidur Aura duduk di samping Leon. Gadis itu menyandarkan kepalanya ke sofa sambil memejamkan mata.
Melihat itu seulas senyum mengembang di bibir Leon, ditatapnya wajah cantik itu dengan seksama.
Perlahan dielusnya kepala Aura, ia berharap tidak ada penolakan dari gadis itu.
"Kak," Aura memegang tangan Leon untuk menghentikannya.
"Tidurlah, kamu pasti lelah," ujar Leon.
Aura memang sangat lelah, karena ia selama menjaga Cia tidak nyaman tidur di sofa.
Leon tersenyum, hatinya rasanya hangat walau gadis yang sedang tidur di pangkuannya itu kadang sikapnya berubah-ubah.
***
Pagi harinya Andreas dan Shinta sudah sampai di rumah sakit. Aura meminta sahabatnya itu untuk membantu kakaknya untuk menjaga Cia karena ia akan menjemput Kakak dan Mamanya.
"Apa kabar?" tanya Aura saat melihat Shinta dan Kakaknya datang.
"Baik, kamu berangkat bisa jadi Tante sudah sampai," kata Shinta.
"Iya kau titip Kak Cia ya, ingat jangan sampai tahu kalau Kak Arnold yang melakukan itu," kata Aura.
"Pasti," jawab Shinta sambil tersenyum.
Aura merasa lega karena sudah ada yang menjaga kakak iparnya itu, gadis itu berjalan seorang diri melewati lorong rumah sakit. Karena masih pagi masih terlihat begitu sepi. Merasa ada yang mengikuti Aura dengan cepat masuk lift.
Gadis itu begitu takut jika sampai pria yang mengganggunya itu muncul lagi. Aura terkejut saat lift berhenti dan apa yang ditakutkan terjadi. Namun, bersamaan dengan itu anak buah Leon masuk hingga sekarang hanya bertiga.
Anak buah Leon memberikan kode tanda pengenal kepada Aura dengan menyugar rambutnya, Sayangnya gadis itu tidak tahu akan kode itu. Pria yang di samping Aura begitu menatap mendamba karena ia melihat tubuh Aura terang-terangan dari atas sampai bawah.
__ADS_1
Saat pintu lift terbuka, Aura bisa menarik napas lega. Ia segera menuju area parkir karena Leon sudah mengirimkan pesan kepadanya. Namun, saat Aura akan berjalan melewati mobil yang terparkir tangannya dicekal dengan kasar.
"Auh, lepas."Aura menatap tajam pria yang satu lift dengannya tadi.
"Nona, kamu harus membayar mahal karena sudah berani menamparku waktu itu!" seru pria bertato itu
Aura meronta saat tubuhnya dihimpit ke mobil samping Aura, wajah yang sangar itu kian mendekat saat akan menyentuh bibir ranum Aura satu pukulan mengenai punggung pria itu.
"Brebsek!" umpat pria bertato itu karena sudah ada yang mengganggu kesenangannya.
Wajah Leon terlihat begitu murka karena ada yang menyentuh wanitanya, entah sejak kapan pria itu mengklaim jika Aura adalah miliknya.
Perkelahian tidak dihindarkan lagi. Namun, dengan mudah Leon melumpuhkannya. Tidak lama datang Samuel dan anak buahnya.
"Bereskan bajingan itu!" perintah Leon yang langsung dianggukkan Samuel.
Leon membawa Aura yang masih terlihat begitu shock, pria itu membukakan pintu mobil setelah Aura masuk langsung menutupnya. Pria itu memutari mobilnya dan langsung membuka duduk di belakang kemudi.
"Maaf aku terlambat datang," kata Leon merasa bersalah.
Leon melihat tangan Aura memerah, pria itu mengambil kotak di dekat jok. Dilihatnya ada salep, tanpa permisi ia mengoleskan perlahan ke tangan Aura.
"Sudah kak," kata Aura karena jantungnya berdebar saat pria itu menggenggam tangannya
Leon langsung mengemudikan mobilnya menuju bandara, selama diperjalanan hanya ada keheningan saja. Sesekali Leon melirik gadis di sampingnya.
"Siapa pria tadi?" tanya Leon untuk memecahkan keheningan.
"itu pria yang aku tampar waktu tiba-tiba akan menciumku," ujar Aura.
Mendengar itu tangan Leon mencekam kemudinya hingga kukunya berwarna putih, tidak lama diambilnya ponselnya untuk menghubungi Samuel.
"Halo," kata Samuel dari seberang sana.
"Kamu tahan pria tadi, tunggu aku datang!" kata Leon dingin.
Aura mendengar itu langsung menatap pria yang sedang fokus mengemudikan mobilnya dan bertanya."Kakak mau apain orang tadi?"
Leon tersenyum tipis melirik gadis yang menatapnya itu sekilas, lalu kembali lagi fokus ke depan dan bertanya."Kamu maunya aku apakan pria tadi, hem?"
"Kenapa tidak dilepas saja, Kak? kita ini di Negara orang." Aura mengingatkan Leon.
"Jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa," jawab Leon tersenyum karena Aura mengkhawatirkannya.
__ADS_1
bersambung ya….