
Arnold masih diam, suara itu tidak asing untuknya. Tak lama dilihatnya nomor yang tertera di ponselnya. Matanya menyipit, ia berharap tidak salah lihat saat nama Viona yang menghubunginya.
"Apa?" tanya Arnold dingin.
"Aku sakit," jawab Viona dengan suara yang lemah.
Tidak ada lagi suara manja Viona, tetapi saat mendengar suara lemahnya ia mengingat Velicia.
Arnold menutup sambungan teleponnya ia tidak ingin lagi berurusan dengan mantan kekasihnya itu.
"Cia, kamu di mana?" kata Arnold lirih
Arnold kembali lagi membaringkan tubuhnya, ia merasa kalau mantan istrinya itu sengaja menghindarinya.
Arnold mulai mengingat apa yang dulu pernah ia lakukan kepada Velicia, dadanya terasa sesak. Hanya karena ingin wanita yang dijodohkan dengannya menderita seperti apa yang dilakukan oleh Papanya terhadap Mamanya, ia dengan tega melakukan hal yang tidak begitu manusiawi.
Velicia, walau sudah disakiti dan tidak dianggapnya masih bertahan semenjak ia mengatakan kalau akan menikah dengan kekasihnya saat ia pulang nanti.
"Maafkan aku, Cia!" Kata Arnold lirih sambil memejamkan matanya.
Merasa selama ini ia begitu egois, hingga tidak ada memikirkan bagaimana perasaan wanita yang sudah dinikahi selama tiga tahun itu. Air mata Arnold keluar begitu saja, ditatapnya foto keluarga milik mantan istrinya itu.
Bik Imah sebenarnya merasa iba dengan pria yang kini sedang menatap foto Nonanya itu, walaupun ia tinggal sudah lama. Namun, sama sekali ia tidak tahu masalah rumah tangganya Velicia dan Arnold.
Arnold menatap wanita paruh baya yang melewatinya itu, tak lama ia berkata."Bik, boleh tolong buatkan kopi."
"Boleh Tuan, tunggu sebentar." Bik Imah langsung menuju ke dapur.
Bik Imah datang membawakan kopi dan cemilan buat Tuannya, kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan Arnold sendiri sambil menyalakan televisinya. Saat sedang menatap televisi Arnold tiba-tiba ingat akan sahabat dari mantan istrinya itu.
Arnold mengambil ponselnya dilihatnya foto KTP milik Merry , di situ dapat melihat alamatnya. Senyum mengembang di bibirnya ia berharap Velicia berada di sana. Setelah menghabiskan kopinya tanpa pamit pria itu langsung keluar villa milik Arista.
Arnold berjalan dengan langkah lebar, ia berharap sekali kalau mantan suaminya itu ada disana, tetapi yang membuatnya agal was-was akan mencari kemana lagi mantan istrinya ya itu.
Mobil yang dikemudikan oleh Arnold melaju dengan kecepatan sedang, ia juga memasang GPS di ponselnya untuk mencari alamat dari sahabat Velicia itu. Kini Arnold telah sampai di dekat kafe teh hijau. Mata Arnold melihat sekelilingnya.
Arnold turun dari mobilnya dan masuk ke kafe, ia duduk di pojok supaya melihat Merry jika ia datang. Tak lama sosok yang dicarinya muncul. Arnold langsung mengikutinya.
"Tunggu," kata Arnold mengejutkan Merry.
__ADS_1
"Kamu!" kata Merry yang terkejut melihat pria yang akan memenjarakan dirinya itu kini ada di depannya.
"Bisa kita bicara sebentar!" pinta Arnold.
"Maaf, aku sibuk !" kata Merry ketus.
"Aku mohon, kita duduk di sana," pinta Arnold sambil menunjuk meja tempat ia duduk tadi.
Merry hanya menarik napas dalam, ia berharap tidak berjumpa lagi dengan pria dingin dan sombong yang kini duduk di depannya.
" Ada apa?" tanya Merry.
"Katakan di mana Velicia!" kata Arnold.
"What? kamu tanya di mana Veli sama aku, Tuan Arnold?" tanya Merry penuh penekanan.
Arnold memutar matanya jengah, ia ingin jawaban langsung bukan drama seperti sekarang. Pria itu hanya bisa menarik napas supaya tidak sampai emosinya membuat ia gagal mendapat informasi tentang mantan istrinya.
"Aku enggak tahu di mana Cia, Tuan. Coba Anda cari di Villa Arista," ujar Merry.
Arnold langsung beranjak dari duduknya, ia tanpa bicara apa-apa langsung pergi begitu saja meninggalkan Merry yang hanya bisa mengumpat tidak jelas.
Merry menjadi ingat akan sahabatnya itu, bagaimana sekarang dengan kondisinya, ingin rasanya ia menghubungi Cia kalau enggak Jack.
Merry menatap ponselnya, ia berharap akan mendapat kabar dari Jack, tetapi ada rasa ragu untuk menghubungi kakak dari sahabatnya itu. Dilihatnya kafenya semakin ramai semua itu karena saran dari Velicia.
****
DI Jerman.
Velicia seharian mengikuti beberapa tes untuk bisa melanjutkan pengobatan selanjutnya, Walau ia lelah, tetapi ia tidak ingin membuat orang yang sudah menjaganya sampai kecewa. Jack rela meninggalkan istrinya hanya untuk bisa menemaninya.
Wanita itu kini terbaring dengan infus dan oksigen menempel di tangan dan hidungnya, Velicia merasakan tubuhnya berdenyut, meskipun dokter Herman dan James sudah mengatakan akan mengalami hal ini dari efek samping dari apa yang sudah ia minum tadi.
Velicia meneteskan air matanya, ia begitu sedih, karena seharian tidak bertemu dengan Arnold. Entah kemana pria itu, tiba-tiba ia ingat akan apa yang terjadi sebelumnya. Mantan suaminya itu kembali jalan dengan kekasihnya saat ia berjanji akan bersamanya selama tiga bulan.
Velicia memukul dadanya yang begitu sesak, ia berharap itu tidak terjadi. Jika itu terjadi ia tidak ingin melihat pria berengsek itu lagi.
"Ya, Tuhan, kenapa aku harus jatuh cinta dengan pria seperti itu," kata Velicia lirih.
__ADS_1
Saat mendengar pintu terbuka, Velicia dengan cepat mengusap air matanya. Dilihatnya Mama Maria dan Aura tersenyum menatapnya. Ia baru ingat jika malam ini kedua wanita beda usia ini yang akan menjaganya.
"Apa kabar, sayang," kata Maria langsung mencium kening menantunya itu.
"Kak, mau makan apa?" tanya Aura sambil berbisik.
Velicia terkekeh melihat tingkah Aura, hal itu membuat Mama Maria tersenyum, kini ketiganya duduk di dekat ranjang Velicia.
"Aura, apa kamu tahu di mana Arnold saat ini?" tanya Velicia.
"Ada meeting dengan rekan kerjanya kak, mungkin agak malam ia kembali," ujar Aura sambil tersenyum.
Velicia merasa tidak percaya karena dilihatnya wajah Aura kalau sedang berbohong, Mama Maria yang melihat menantunya itu gelisah akhirnya mengambil teleponnya. dilihatnya jam kalau putranya itu belum mulai konsernya.
"Halo, Nak." Mama Maria menghubungi Andreas.
"Ada apa, Mam?" tanya Arnold.
"Ini ada yang mau berbicara," kata Mama Maria menempelkan handphonenya ke telinga Velicia.
"Bicaralah Nak!" titah Mama.
"Halo," kata Velicia lemah.
"Apa kamu rindu denganku gadis kecil," sapa Andreas dari seberang sana.
Wajah Velicia langsung merona, ia dibuat selalu salah tingkah oleh perhatin Arnold, Ia begitu malu apa lagi ada Aura dan Mama Maria yang memperhatikannya.
"kenapa diam saja?" tanya Andreas.
"Apa kamu masih lama?" tanya Velicia lirih.
"Jam sebelas baru selesai karena banyak yang akan dibahas, kamu istirahat saja. Nanti kalau sudah selesai aku akan langsung ke rumah sakit," ujar Andreas.
"An, apa sudah siap?" tanya seorang wanita.
Deg, Velicia yakin tidak salah dengar dan bertanya," Ar, apa kamu sedang bersamanya?"
bersambung ya….
__ADS_1