PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Aura sedih


__ADS_3

Andreas hanya bisa diam, saat gadis yang sudah lama bersamanya dipaksa oleh dua orang anak buah dari Samuel.


Loen menatap kakak iparnya, ada sesuatu yang sulit dijelaskan.


"Percayalah anak itu tidak akan apa-apa,” kata Leon.


Andreas menatap adik iparnya dan bertanya.” Apa boleh aku menemuinya?"


"Tentu,” jawab Leon.


Andreas tersenyum, pria itu berjalan mengikuti pria tegap. Entah kenapa dadanya berdebar saat akan menemui Shinta.


Ruang bawah tanah yang begitu gelap membuat Andreas tidak percaya Shinta gadis yang ia takut gelap harus mendekam di dalam ruangan yang begitu lembab.


"Silahkan, gadis itu ada di ujung," kata pria yang mengantarkan Andreas.


Andreas mengeluarkan kunci, walau cahaya remang-remang ia masih bisa melihat gadis yang sedang duduk sambil menenggelamkan kepalanya di lututnya.


Andreas masuk, pria itu duduk di samping Shinta. Dipeluknya tubuh wanita yang kini hanya diam.


"Jangan takut aku ada di sini, semua akan baik-baik saja,” kata Andreas.


Andreas ingat saat di pantai jika Shinta bertanya siapa yang akan dipilihnya keluarga atau pria yang ia cintai.


"Tetaplah selalu menjadi wanita yang mencintaiku, Shinta.” Andreas mengecup pucuk kepala Shinta.


Shinta membalas pelukan Andreas berkata.” Aku sudah tidak takut gelap lagi, Kak."


"Iya Kakak percaya,” jawab Andreas yang kini merasakan hatinya begitu damai saat bersama Shinta.


Andreas tersenyum saat mendengar dengkuran halus dari gadis yang kini berada di pelukannya.


Perlahan dibaringkannya Shinta, pria itu ikut membaringkannya tubuhnya karena ia berjanji akan menemani Shinta selama ditahan oleh Samuel. Tidak menunggu lama Andreas ikut terlelap.


****


Pagi harinya di sebuah apartemen mewah di Jakarta. Cia yang baru membuka matanya terkejut karena Arnold sedang menatapnya lekat.


"Ar, pagi,” kata Cia karena malu.


"Pagi sayang, ayo aku mandikan,” kata Arnold.


Wajah Cia langsung bersemu merah, wanita itu menggelengkan kepala.


"Kenapa?” tanya Arnold.


"Aku malu," jawab Cia.


Arnold terkekeh, tanpa menunggu lama ia menggendong sang istri langsung membawanya ke kamar mandi.


Setelah lima belas menit keduanya keluar dari kamar mandi dan Arnold berkata.”Tunggu di sini."

__ADS_1


Arnold tanpa menunggu lama mengambil pakaian ganti untuk istrinya.


"Ar, aku bisa sendiri!” tolak Cia.


"Sayang menurutlah,” kata Arnold lembut.


Cia hanya diam, setelah selesai Arnold mencari wig untuk menutupi kepala sang istri.


"Kamu lebih segar dengan rambut pendek, Sayang.” Arnold mengecup kening Cia.


Keduanya keluar kamar di ruang makan sudah ada Maria dan Aura. Arnold melihat wajah sang adik terlihat murung hanya menarik napas panjang.


"Apa suamimu belum ada menghubungi?” tanya Arnold.


Aura hanya menggeleng. Ia tidak akan menghubungi dulu Loen walau itu membuat hatinya tersiksa.


Egois itu yang kini dirasakan Aura, jika Leon benar-benar mencintainya harusnya pria itu memberikan kabar. Namun , dari tadi malam pria itu tidak sama sekali menghubunginya.


"Apa sudah kamu hubungi?" tanya Cia.


"Belum Kak. Pernikahan ini terjadi karena Leon kasihan kepadaku. Gadis korban pelecehan. Aku rasa semua pria akan jijik jika tahu aku pernah dijamah pria lain." Aura menatap Cia dan Mamanya yang sudah meneteskan air mata.


"Mama mohon jangan bicara seperti itu,” kata Maria memeluk putri bungsunya.


Sebagai seorang ibu hati Maria-lah yang paling sakit. Sakit saat tahu putri satu-satunya menjadi korban pelecehan. Keputusan yang diambil dengan menikahkan Aura dengan Leon menyisakan luka karena seharusnya pria itu saat seperti ini berada di samping putrinya.


"Ayo kita makan dulu," kata Maria memberikan piring yang sudah isi makanan.


Aura yang tidak ingin melihat Mamanya bersedih memakan dengan lahap nasi gorengnya.


"Kenapa pria itu ingin membalas dendam, Ar?" tanya Cia.


"Pria yang sudah melecehkan Aura adik angkat dari pria itu," jawab Arnold.


"Jadi yang sebenarnya dicari oleh John adalah Aura," ucap Cia


"Iya, nyawa adiknya meninggal bagi pria itu nyawa harus dibalas nyawa." Arnold menjelaskan kepada istrinya tanpa keduanya tahu jika Aura mendengar semuanya.


Lagi-lagi air matanya menetes, ini tidak adil karena dirinya semua terkena imbasnya. Aura masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya di ambilnya ponselnya. Gadis itu menghubungi salah satu teman kuliahnya. Aura bertanya siapa pria yang bernama John.


Setelah mendapatkan informasi siapa pria yang sedang mencarinya Aura tersenyum.


"Aku akan membuat keluarga tenang.” Aura membuat menulis di buku hariannya yang menjadi teman curatnya.


Aura yang memiliki hobi menulis, selalu mengungkapkan perasaannya selama ini di buku.


Aura keluar dari kamar, dilihatnya pintu kamar Cia tertutup rapat. Ia melihat hanya ada Mamanya saja di ruang keluarga sedang merajut.


"Mama, Kak Arnold ke mana?” tanya Aura.


Maria tersenyum menatap putrinya sudah kembali ceria.

__ADS_1


"Mereka ke rumah sakit untuk cekup," jawab Maria.


Aura hanya tersenyum, wanita itu setelah mengisi botol minumnya kembali masuk ke kamarnya.


Diambilnya ponselnya, dilihatnya ponselnya tidak Satu pun pesan dari suaminya.


"Kamu jahat kak, menikahiku hanya rasa kasihan.” Aura mengusap air matanya.


Dihubunginya sahabatnya Shinta. Namun sayang, tidak aktif. Aura menghubungi Andreas saat panggilan pertama tidak dijawab. Namun, panggilan kedua baru diangkat teleponnya.


"Halo,” kata Andreas.


"Kakak baik-baik saja?" tanya Aura.


"Baik walau tidak bisa keluar bebas karena anak buah John menyebar untuk mencarimu!" kata Andreas.


"Maafkan aku, aku jamin ini tidak akan lama,” kata Aura dengan mengusap air matanya.


"Entahlah," jawab Andreas.


"Kak, jangan bilang ke Leon jika aku menghubungimu," kata Aura.


"Kenapa?” tanya Andreas.


"Aku akan menghubunginya sendiri,” jawab Aura sambil mengusap air matanya.


Andreas merasa adiknya menyembunyikan sesuatu. Namun, saat akan menanyakan sambungan sudah terputus.


Samuel yang melihat Andreas melamun menghampirinya dan bertanya.” Ada apa?"


Andreas hanya tersenyum dan menjawab.”Sampai kapan kita akan sembunyi seperti ini."


"Aura, jika john sudah mendapatkannya pasti pria kejam itu akan berhenti menarik anak buahnya.


"Apakah Leon benar-benar mencintai Aura?"tanya Andreas.


Samuel menatap Andreas, ia bisa menebak ada rasa khawatir dari mata pria itu.


"Kenapa nggak Anda tanyakan langsung?" tanya Samuel balik.


Andreas menarik napas panjang dan berkata." Aura menceritakan jika Leon dari dulu tidak suka dengannya. Apalagi saat Aura mulai terjun di perusahaan."


"Kanapa?"tanya Samuel.


"Aura sering dibentak dan dikatakan manja. Kalau saja Leon tahu Aura selama di Berlin kerja di toko roti," ujar Andreas.


Samuel tertegun mendengarkan apa yang diceritakan oleh Andreas. Selama ini Leon mengeluh karena dijodohkan oleh Tuan Setiawan dengan putri bungsunya.


"Apa Leon ada menghubungi Aura?" tanya Andreas.


"Saya juga tidak tahu," jawab Samuel.

__ADS_1


Andreas yakin jika adiknya sudah berbohong kepadanya jika akan menghubungi suaminya.


Bersambung ya….


__ADS_2