
Arnold mengecup kening Cia dan berkata, "Saat hari itu tiba kamu harus bisa memilih aku atau Andreas karena sampai sekarang aku masih mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Ar! 'kata Cia lirih.
Cia mendengar pintu terbuka, ia yakin itu Arnold yang keluar karena sebentar lagi ia akan dipindahkan ke ruang rawat. Wanita itu bertanya-tanya apa yang sudah di korbankan pria itu ke kakaknya.
Shinta dan perawat datang untuk menjemputnya, wanita itu terlihat begitu lamas. Saat sampai pintu Andreas menyambutnya dengan senyum tulusnya.
"Apa sudah ada hasilnya?" tanya Andreas.
"Belum jawab," Cia.
Sesampainya di ruang rawat Cia begitu terkejut melihat ada Jack dan istrinya, Senyum Jack mengembang dipeluknya adiknya dan begitu juga dengan Selly tersenyum menyambut Cia yang baru siap Kmo dan menjalani berbagai tes untuk memastikan jika sel kanker sudah tidak ada lagi dalam tubuhnya.
"Apa kabar?" tanya Selly begitu senang bertemu dengan Cia.
"Baik Kak," jawab Cia walau sekarang tubuhnya masih terasa begitu lemah saat ini.
Jack begitu senang saat istrinya sudah bisa menerima Cia dan tidak marah saat ia izin untuk bertemu adiknya. Namun, pria itu tidak ingin pergi sendiri. Walau Selly awalnya menolak diajak karena ia tidak suka di dalam pesawat terlalu lama.
"Cia, Kakak harap kamu segera sehat dan kembali ke tahan air. Apa kamu tidak kangen kota kelahiranmu?" tanya Jack.
Cia tersenyum, ia begitu merindukan kota kelahirannya itu. Rindu akan sahabatnya dan Clara asisten dinginnya. Wanita itu dari tadi sama sekali tidak melihat Arnold.
"Ada apa?" tanya Andreas yang melihat gadis kecilnya itu terlihat gelisah.
Cia hanya tersenyum, kemudian ia berbaring. Semua itu tidak luput dari pandangan Jack, Pria itu yakin jika adiknya sedang memikirkan sesuatu. Namun, ia tidak ingin bertanya takut akan membuatnya lebih terbebani.
"Cia, istirahatlah!" perintah Jack.
"Iya Jack, apa kalian akan langsung ke hotel?" tanya Cia menatap Kakak angkatnya itu.
"Kami langsung ke hotel, kalau ada apa-apa hubungi aku ya," kata Jack lirih karena pria itu merasa jika adiknya itu tidak nyaman bersama Andreas.
Cia hanya tersenyum, ia yakin jika Jack mengerti akan apa yang sekarang ia rasakan. Namun, tidak mungkin kalau tiba-tiba kakaknya mengusir Andreas.
Velicia ingat ucapan Arnold jika mantan suaminya itu sudah cukup berkorban demi Kakaknya, itu berarti untuk pria yang dulu dicintainya itu yang tidak lain Andreas.
Cia begitu ingin tahu apa yang sudah Arnold korbannya untuk Andreas. Ditatapnya pria yang kini sedang memainkan ponselnya itu.
"Kak," panggil Cia membuat Andreas tersenyum dan menyimpan ponselnya.
"Ada apa?" tanya Andreas dengan senyum yang tidak pernah berubah itu.
"Arnold kemana?" tanya Cia.
Andreas terdiam sejenak dan menjawab." Ke Paris."
Mendengar itu Cia rasanya tidak percaya karena ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada kakak beradik itu.
__ADS_1
"Apa dikerjakannya sudah selesai?" tanya Cia
Andreas menarik napas dalam, pria itu merasa tidak suka jika Cia menanyakan adiknya.
"Cia, jika Arnold mengajak untuk rujuk apa kamu mau?" tanya Andreas.
Cia terdiam sejenak, wanita itu memejamkan matanya. Entah kenapa yang ia rasakan hanya cinta buat mantan suaminya itu.
"Kenapa Kakak bertanya seperti itu?" tanya balik Cia.
Andreas beranjak dari duduknya, kini hanya tinggal berdua saja bersama Cia. Ini waktunya ia mengutarakan isi hatinya kepada gadis kecilnya.
"Cia, setelah sembuh menikahlah denganku." Andreas menggenggam jemari lentik Cia.
Mendengar apa yang dikatakan oleh pria yang sekarang berada di depannya membuat Cia terkejut. Walaupun dulu ia mencintai Andras. Namun, tidak untuk sekarang.
"Kak, aku hanya ingin menikmati hari-hariku sendirian saja," ujar Cia.
"Kamu tidak harus jawab sekarang, karena aku akan menunggu," kata Andreas.
"Kak!" seru Cia.
"Kamu istirahat ya, aku akan pulang sebentar," pamit Andreas.
Cia hanya mengangguk, wanita itu begitu kesal dengan Aura karena dari kemarin gadis itu tidak menampakkan dirinya.
Saat pintu tertutup, Cia memejamkan matanya karena merasa begitu lelah.
"Ada apala-," ucapan Cia terhenti karena sekarang yang berada di samping pria yang begitu ia rindukan.
"Kenapa melihatku begitu, apa aku terlalu tampan, Nona," goda Arnold menatap istri yang begitu disayanginya itu.
Wajah Cia seketika merona, wanita itu begitu malu karena Arnold begitu terlihat tampan dan tidak henti- hentinya untuk menggodanya.
Arnold beranjak dari duduknya, pria itu menutup tirai dan mengunci pintu.
"Ayo kita istirahat," ajak Arnold.
Velicia tercengang, apalagi sekarang Arnold sudah berada di sampingnya.
"Tidurlah," kata Arnold memberikan lengannya untuk bantal Cia.
Tanpa menunggu lama, keduanya sama-sama terbaring dan Cia bertanya."Ar, kenapa Andreas tahunya kamu berada di Paris?"
Arnold membuka mata yang sudah hampir terpejam tadi, pria itu kini menatap wajah cantik istrinya dan menjawab."Andreas tidak tahu kalau aku ada di sini."
"Kenapa di rahasiakan?" tanya Cia.
"Ada alasan lain," ujar Arnold.
__ADS_1
Cia yang mengerti jika pria di sampingnya itu tidak ingin menceritakan hanya mengangguk, Arnold kembali memejamkan matanya dengan tangan meningkat di perut istrinya.
Arnold yang merasakan jika istrinya itu gelisah bertanya."Ada apalagi?"
"Ar, apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Cia.
"Tidak ada. Aku hanya ingin memeluk seperti ini," ujar Arnold.
Cia hanya tersenyum, rasa hangat yang diberikan mantan suaminya itu begitu membuatnya tenang. Namun, ia salah karena keduanya sudah bercerai.
"Ar, ini tidak seharusnya kita tidur bersama!" kata Cia mengingatkan Arnold.
"Ini tidak dosa percayalah," ucap Arnold membuat Cia memukul lengan mantan suaminya itu begitu geram.
Entah mengapa ada rasa bahagia dalam hatinya, sedari tadi begitu resah karena tidak melihat pria yang masih bertahta dalam hatinya. Cia menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Arnold hal itu membuat pria dingin dan sombong itu tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.
Cia yang baru saja akan terlelap mendengar ponsel Arnold berdering. Arnold bangun dan untuk melihat siapa yang menghubunginya.
"Halo," kata Arnold dingin.
"Tuan tolong Anda kasih tahu kepada Nona Viona untuk tidak membuat keributan di kantor," ujar Clara.
"Apa maksudmu, Clara?" tanya Arnold.
"Nona Viona datang setiap hari marah-marah karena kami bilang jika Anda sedang tidak ada di tempat," jelas Clara.
Arnold mengusap wajahnya dengan kasar, dan bertanya."Apa wanita itu masih di sana?"
"Masih Tuan," jawab Clara.
"Berikan ponselnya!"perintah Arnold.
Arnold berjalan mendekati Cia dan berbisik kalau Viona sedang ingin bertemu dengan dirinya, mendengar itu mata Cia melebar.
"Halo sayang," kata Viona begitu senang karena bisa menghubungi Arnold walau melalui wanita dingin.
"Kenapa mencariku?" tanya Arnold terdengar begitu dingin.
Cia mendengar itu hanya diam terpaku, apalagi mantan suaminya itu kini mengusap pipinya begitu lembut.
"Sayang kamu di mana?" tanya Viona dari seberang sana.
"Bulan madu," jawab Arnold Langsung mematikan ponselnya.
"Ar!" seru Cia karena pria itu langsung mengecup keningnya.
"Apa sayang," kata Arnold lembut.
Cia menatap kesal kepada pria yang sedang menatapnya itu dan bertanya."Kenapa kamu bilang kita Bulan madu?"
__ADS_1
bersambung ya...