PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Kegundahan Cia


__ADS_3

Cia menatap datar pria yang mudah mengatakan jika ia harus ikut itu, wanita itu membalikan badan. Arnold hanya menarik napas panjang saat melihat istrinya masuk kamar mandi.


Pria itu memijit pelipisnya, ia tidak menyangka kalau istrinya mendengarkan semuanya. Tidak lama pintu kamar mandi terbuka, Cia sudah keluar dengan wajah terlihat sudah segar.


Arnold menatap wanita yang kini sedang marah dengannya itu, pria itu beranjak dari duduknya."Aku akan mengajakmu untuk bertemu wanita itu."


"Untuk apa? bukannya tanpa aku kamu akan menikahi dia juga!" Cia menatap wajah suaminya dari pantulan cermin.


"Setidaknya wanita itu tahu siapa aku dan kamu sebenarnya," ucap Arnold.


Cia menggelengkan kepalanya, wanita itu kini mulai memoleskan cream malam karena ia tidak ingin ikut makan malam dengan mertua munafiknya itu.


"Aku capek, kalau mau pergi silahkan," kata Cia.


Mendengar itu Arnold menatap istrinya, entah kenapa ada rasa takut di hatinya. Namun, Arnold tidak ingin terbawa emosi. Pria itu menghampiri istrinya.


"Sayang," kata Arnold lembut.


"bersiaplah, jangan biarkan calon istrimu menunggu," ucap Cia.


Cia berusaha menekan perasaannya, entah kenapa ia merasa kecewa saat akan meminta Arnold menikah lagi , suaminya itu begitu marah. Namun, kini ia tahu jika Arnold juga menginginkan anak. Cia menarik napas dalam lalu berkata," Pergilah! bukannya kamu juga menginginkan anak darinya."


Saat mengatakan itu hati Cia begitu sakit, dadanya sesak. Apa ini semua kesalahannya selama ini, hingga ia harus merasakan sakit hati kembali.


Cia memiringkan tubuhnya, wanita itu membelakangi Arnold. Saat terdengar pintu tertutup, Cia membalikan tubuhnya. Air matanya menganak sungai, suaminya memilih menemui wanita itu.


Ia menatap langit-langit kamarnya, apa dirinya tidak pantas untuk bahagia. Perlahan Cia membuka pintu balkon kamarnya dilihatnya mobil Arnold keluar, wanita itu menatap nanar mobil yang kini sudah tidak terlihat lagi itu.


Andreas yang melihat Cia dari jarak agak jauh hanya menarik napas panjang, pria itu meminta salah satu pelayan untuk menjaga wanita yang dulu dicintainya itu


Setelah merasa semua aman, Andreas segera masuk karena masih pekerjaan.


Diam-diam Maria menatap putranya itu, entah dari mana Andreas karena saat keluar buru-buru, wanita paruh baya itu tidak bisa mengikutinya.


"Ada apa Mama?" tanya Aura yang melihat Mamanya menatap punggung kakaknya itu


"Mama hanya ingin bicara dengan Andreas sebentar," kata Maria.


Mendengar itu Aura tersenyum, wanita itu mengerti karena selama ini Andreas jarang memperhatikan rumahnya. Ternyata sering keluar kota, jarang tinggal di rumah.


Aura tidak bisa menyalahkan Andreas, tapi ternyata begitu menyesalkan Apa yang dilakukan Andreas selama ini kepada Shinta.


Namun, ia sebagai adik Andreas hanya bisa mengingatkan. Tanpa adanya ikut campur urusan kakaknya itu.


Dilihatnya Andreas sedang duduk bersama Shinta, entah kenapa ia melihat Shinta seperti tidak bahagia. Wanita itu terlihat begitu capek, Aura perlahan berjalan menghampiri Shinta dan Andreas.


"Shinta, kamu sedikit pucat. Sebaiknya kamu Istirahat saja," kata Aura.


Mendengar apa yang dikatakan Aura, gadis itu tersenyum."Aku di sini saja tidak apa-apa."


Mendengar apa yang dikatakan Shinta, Andreas segera mengusap tangan kekasihnya itu."Sayang, bener apa yang dikatakan Aura tadi, kamu pasti lelah saat ini."


"Apa kamu tidak apa-apa aku tinggalin sebentar," kata Shinta.


Andreas tersenyum menatap kekasihnya, pria itu menggelengkan kepalanya. Tidak lama Cia datang, wanita itu mengusap perut Aura sambil bertanya," Ada apa ini?"

__ADS_1


"Kakak apa kamu mengantarkan Shinta ke kamarnya," pinta Aura.


Cia langsung mengangguk, setelah kepergian dua wanita itu Aura dan Andreas saling pandang.


"Apa ada sesuatu yang sudah terjadi?" tanya Aura.


Andreas hanya menarik napas panjang, pria itu lalu menceritakan apa yang terjadi dengan Cia dan Arnold


Mendengar apa yang dikatakan oleh Andreas, Aura mengepalkan kedua tangannya. Hatinya begitu sakit, bagaimanapun juga Cia adalah wanita baik-baik. Tidak sepantasnya Arnold melakukan itu kepada Cia.


"Apa kita harus bertindak?" tanya Aura.


Andreas menghembuskan napas kasar, bukannya dia tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga Cia. Namun, wanita itu pasti tidak ingin melibatkan orang lain. Apalagi jika Aura tahu apa yang dilakukan Arnold kepada istrinya saat ini .


"Kita jangan ikut campur, tunggu Cia minta tolong. Itu pun kita hanya bisa menasehati saja tidak lebih."


Aura mengangguk, tanda wanita itu paham dengan apa yang dikatakan kakaknya.


Kini keduanya bergabung dengan yang lainnya, Aura melihat Cia. Namun, wanita itu tidak melihat di mana Arnold.


Namun, wanita itu tidak ingin bertanya karena suasana masih ramai


Leon yang baru datang langsung masuk ke ruang keluarga. Andreas melihat adik iparnya itu tersenyum karena sekarang Leon terlihat begitu berisi.


Shinta bergabung dengan Maria, tidak lama Aura juga bergabung.


"Apa ada sesuatu?" tanya Shinta.


Aura mengangguk, wanita itu berbisik kepada Shinta. wanita itu menarik napas panjang.


"Aku tidak bisa turun tangan langsung, kondisiku hamil."


Shinta mendengar itu tertawa, kedua sahabat itu bukan pasangan yang begitu unik. Walaupun dia tahu kalau keduanya saling mencintai.


Namun, hal itu tidak membuat Andreas dan Leon menjaga jarak, baik Leon dan Andreas juga tidak masalah karena itu juga takdir yang diberikan Tuhan kepada keluarganya.


Andreas yang melihat Shinta sudah berapa kali menguap, pria itu segera mengajak wanita itu untuk naik ke lantai dua.


"Kalau capek jangan dipaksakan, sayang." Andreas mengusap kepala kekasihnya itu


Shinta hanya tersenyum, wanita itu tahu Andreas begitu khawatir akan dirinya. Namun, tanpa Andreas sadari. Sikapnya itu membuat Shinta merasa senang, wanita itu merasa diperhatikan oleh kekasihnya.


Ini keduanya sudah berada di kamar, baik Shinta dan Andreas membersihkan tubuhnya. Walaupun bergantian. Setelah lima belas menit Shinta keluar dari kamar mandi.


Andreas menghampiri Shinta."Sayang, bisa ikut aku sebentar."


Shinta langsung mengangguk, wanita itu menatap punggung kekar kekasihnya yang kini berjalan keluar rumahnya.


Andreas yang merasa khawatir terhadap Cia karena sedari tadi wanita itu hanya diam hampir tiga jam berada di Balkon.


Shinta melihat Cia duduk di balkon merasa heran, karena hari sudah malam. Wanita itu menatap Andreas seakan menanyakan apa yang terjadi.


"Arnold mana?" tanya Shinta.


"Pergi," jawab Andreas.

__ADS_1


Shinta memicingkan matanya menatap kekasihnya."Apa aku melewatkan sesuatu, Sayang."


Andreas menatap Shinta, pria itu menarik napas panjang dan mulai menceritakan apa yang sudah terjadi kepada Cia dan Arnold.


Shinta mendengar itu mengepalkan tangannya, Ia segera menghubungi Aura untuk datang. Andreas bisa melihat perubahan dari kekasihnya sedang begitu marah.


Setelah sepuluh menit Leon datang dan diikuti oleh Aura, keduanya menatap Shinta dan Andreas bergantian.


"Ada apa, Shinta?" tanya Leon.


"Kamu bawa Cia ke masuk jangan kasih keluar, satu lagi buang ponselnya!" kata Andreas.


"Sayang, sebaiknya biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri dulu, saat Cia meminta bantuan kita baru bergerak," usul Shinta.


Andreas memejamkan matanya, wanita itu entah kenapa dadanya begitu sesak. Rasa tidak percaya akan apa yang dilakukan Arnold. Selama ini ia begitu percaya kepada adiknya itu, Leon dan yang lainnya begitu terkejut dengan apa yang terjadi, Sedangkan Aura hanya diam.


"Apa kalian sudah tahu masalah ini ?" tanya Shinta kepada Aura.


Leon dan Aura menggelengkan kepala, sedangkan Shinta menatap Aura


"Aura!"


"Iya aku tahu, tapi Mama melarangku untuk memberitahu kalian," ujar Aura.


Kini Cia masuk, tidak lama wanita itu keluar menuju ke taman samping vilanya.


Shinta menarik napas panjang, ia tidak menyangka sahabatnya itu menyembunyikan hal in.


Aura meminta yang lain untuk masuk, wanita itu akan menemani Cia. Kini yang lain masuk kecuali Aura.


"Hai, kenapa?"


Cia mengusap air matanya, wanita itu menatap adik iparnya dengan tersenyum tipis. Ia tidak tahu mau berkata apa."Kakak, jika dengan bercerita akan membuat beban ringan. Aku akan menjadi pendengar setia."


"Aku masih bisa, InshaAllah semua akan baik-baik saja."


Cia mengusap air matanya, ia berharap suaminya segera pulang. jujur ia tidak ingin Arnold mendatangi wanita itu.


Cia melihat mesin waktu di tangan kirinya, sedangkan Aura sibuk bermain ponselnya. Sudah dua jam lebih keduanya hanya diam.


"Kak, masuk yuk. Di sini dingin," ajak Aura.


"Duluan saja, aku tunggu di sini," jawab Cia.


Cia sudah begitu mengantuk, tapi tidak ada tanda-tanda jika suaminya pulang. Wanita itu ragu untuk masuk ke dalam, akhirnya ia memilih duduk di taman hingga suara Adzan subuh berkumandang.


Cia begitu kecewa karena suaminya tidak pulang, wanita itu beranjak dari duduknya untuk masuk ke rumah. Saat sampai di dalam, Wanita itu hanya melihat para pelayan yang sedang mengerjakan pekerjaannya.


Walaupun Cia sering disakiti oleh suaminya, tetapi karena rasa cintanya yang begitu besar kepada Arnold. Wanita itu harus menutupi semua kesalahan suaminya.


Ia tahu ini salah, tetapi wanita itu tidak ingin suaminya nanti disalahkan oleh ibunya sendiri. Selama ini yang ia tahu suaminya begitu patuh atas apa kata ibunya. Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan Cia saat ini? Hatinya begitu hancur.


Suami yang ia harapkan bisa selalu berada di sampingnya, Kini sedang bersama dengan wanita lain. Dan bodohnya dirinya memberikan jalan kepada wanita itu termasuk ke dalam celah rumah tangganya. Cia bukan tidak ingin melarang suami yang dekat dengan wanita itu, tapi ada cara yang ingin ia lakukan supaya suaminya bahagia.


Namun, nanti saat berpisah dengan suaminya demi wanita itu. Cia berharap, Arnold akan mengingat bagaimana pengorbanannya untuk membuat suaminya bahagia.

__ADS_1


Sempat terbesit di hatinya, untuk menyerah saat ini. Namun, rasa cintanya kepada suaminya begitu dalam.


Setelah tiga puluh menit Cia mendengar suara mobil suaminya. Wanita itu tersenyum saat melihat mobil suaminya terparkir di depan rumah.


__ADS_2