
Arnold menatap wanita yang kini menatap kosong ke depan, ia tidak tahu kalau 2 tahun yang lalu Velicia dioperasi untuk mengangkat rahimnya, dia tidak bisa hamil lagi.
Velicia selalu memendam apa yang terjadi dalam hidupnya, karena ia selama ini merasa hidup sendiri.
"Ar, tolong kamu bebaskan dia," bujuk Velicia.
Arnold mantap dingin, saat seperti ini mantan istrinya itu memikirkan orang lain, apa dia tidak tahu kalau hatinya saat ini begitu sedih karena kehilangan anaknya walaupun itu terjadi dua tahun yang lalu.
Velicia merinding saat tatapan dingin itu sedang menatapnya. Akhirnya dia menjelaskan kepada Arnold apa yang terjadi sebenarnya.
"Ar, Viona menabrak Hansen dan sengaja membuat Merry marah karena hal ini," kata Velicia.
Arnold masih diam, seakan dia menulikan apa yang dikatakan wanita di sampingnya itu. Velicia yang merasa diacuhkan merasa kesal.
"Kamu tahu Ar, Hansen sekarang harus kehilangan dua kakinya akibat kecelakaan itu," ujar Velicia berharap mantan suaminya itu memiliki rasa iba.
"Ar, Viona tak sebaik dari yang kau lihat saat ini," kata Velicia mencoba mengingatkan pria itu.
Arnold malah tidak peduli pada hal ini, karena dia masih begitu shock atas apa yang dikatakan mantan istrinya itu.
"Cia, apa yang terjadi setelah kamu keguguran?" tanya Arnold terlihat rasa kecewa di netranya.
Pertanyaan Arnold membuatnya enggan untuk mengingat apa yang terjadi dua tahun yang lalu, di mana dia hanya bisa menangis seorang diiri saat tahu janin itu sudah tidak ada. yang lebih menyedihkan lagi Velicia harus melakukan pengangkatan rahim hingga seumur hidupnya dia tidak bisa memiliki anak.
Hidupnya penuh dengan kejutan, menikah muda, suami tidak menganggapnya dan harus keguguran yang membuatnya rahimnya harus diangkat, sekarang di vonis dokter kanker serviks.
Rasanya Velicia ingin menyerah saja, jika tidak ingat dosa mungkin ia akan mengakhiri hidupnya tidak perlu menunggu dua bulan lagi.
"Tidak terjadi apa-apa saat itu," jawab Velicia sinis.
__ADS_1
"Apa yang kamu sembunyikan lagi, Cia?" tanya Arnold.
"Badanku jadi lemah setelah keguguran dan dokter bilang akan sangat sulit hamil lagi, itulah kenapa aku mau memberikan seluruh bisnis keluarga Arista padamu, keluarga Arista sudah tidak punya penerus lagi, Ar!" kata Velicia.
Setelah selesai mengatakan itu Velicia pergi meninggalkan Arnold di nyaman sendiri, ia tahu pria itu sedih, tapi sekarang ada yang lebih penting lagi ya itu melihat sahabatnya di kantor polisi.
Velicia memesan taksi, karena dia tidak membawa mobil, wanita itu langsung minta diantarkan ke kantor polis dimana sahabatnya di tahan, seperti dirinya yang hanya sendiri, begitu juga dengan Merry.
Setelah menempuh perjalan selama tiga puluh menit taksi sampai di depan kantor polisi, Velicia membayar ongkosnya, tanpa ragu dia langsung masuk. wajahnya yang sudah tidak asing lagi bagi para polisi yang bertugas langsung disambut dengan ramah.
Velicia mengatakan kalau sahabatnya di tahan disini, setelah menjelaskan semuanya ia bisa menemui Merry.
"Cia," kata Merry.
Keduanya saling berpelukan, Velicia tahu sahabatnya itu sedang tertekan karena laporan yang Arnold lakukan.
"Apa kamu bisa membantuku keluar dari sini?" tanya Merry terlihat begitu berharap.
"Apa kamu yakin?" tanya Merry.
Tak lama sosok tinggi tegap dan wajah tampan walau terlihat dingin dan sombong masuk kedua wanita itu saling tatap. Arnold menuju ke salah satu polisi dan mengatakan niatnya datang.
Setelah selesai dia berbincang, pria itu berjalan menghampiri Velicia dan Merry. Arnold menatap Merry tajam, karena wanita itu hampir saja dia kehilangan wanita yang dicintainya, tapi setelah apa yang dikatakan mantan istrinya tadi di rumah sakit akhirnya Arnold memutuskan kalau Merry hanya ditahan selama tiga bulan dari hasil negosiasi terakhir.
Terlihat raut kecewa dari Velicia atas apa yang diputuskan mantan suaminya itu, karena dia minta agar sahabatnya dibebaskan bukannya negosiasi. Wanita itu akhirnya pamit dia berjanji besok akan datang lagi untuk melihat sahabatnya itu.
"Kamu baik-baik ya, aku besok akan datang lagi," kata Velicia.
"Terima kasih," ucap Merry lirih. Velicia mendengar itu tersenyum, dipeluknya tubuh sahabatnya itu.
__ADS_1
Setelah keluar dari kantor polisi Velicia kembali pesan taksi, dia minta antar ke villa milik keluarga Arista, wanita itu melihat ponselnya dan tanggal dimana hidupnya kurang satu bulan lagi. itu artinya waktu akan semakin cepat berjalan.
Taksi sampai di halaman Villa, setelah membayar ongkosnya Velicia segera masuk dan langsung menuju ke kamarnya. ia begitu lelah saat ini. Wanita itu untuk membersihkan tubuhnya saja sudah tidak kuat, akhirnya dia merebahkan diri di ranjangnya.
Setelah satu jam dia ia tertidur dan segera melakukan ritualnya, dia mulai mengurus pemakamannya sendiri.
Velicia pergi mencetak foto hitam putih, lalu memilih tanah kuburannya. selemah apapun dirinya ia akan melakukannya sendiri.
Saat akan kembali ke villa, dia melewati pusat les piano dan mendengar alunan lagu yang familiar, membangkitkan kembali kenangan masa kecilnya, Arnold bermain piano, tapi Velicia tidak masuk bertemu dengannya karena sudah membenci pria itu
Velicia langsung pulang, sesampai di villa dia mandi dan tidur, saat sedikit mengantuk, ia merasa dipeluk seseorang, rupanya itu Arnold.
"Apa yang kamu lakukan, pergi jangan pernah muncul lagi di rumah!" usir Velicia karena Merry dan segala hal lainnya, dia tidak ingin berurusan dengan Arnold lagi.
"Jangan meneriaki, aku bisa berbuat nekat, Cia!" ancam Arnold, tapi Velicia malah memperingatinya dengan dingin agar pergi dari rumahnya.
Setelah satu jam Velicia tertidur dan langsung melakukan ritualnya, Rencana dia akan mengurus Arnold yang tidak mau pergi, akhirnya Velicia membiarkannya di rumah.
Velicia pergi ke tepi pantai, dia teringat dulu juga ke sini saat emosi. Saat dia sedang asik menatap ombak yang saling berkejaran telepon berdering lagi-lagi mantan suaminya menghubunginya.
"Halo," kata Velicia dingin.
"Cia, hari ini aku mencarimu untuk membicarakan beberapa hal, dulu aku merasa bisa menebus sesuatu untukmu, maka aku merawatmu sepenuh hati, tapi sayangnya ini sudah salah,” katanya dari seberang sana.
Velicia hanya menarik napas, entah apa maksud Arnold itu, dengan mudah dia datang memberikan harapan palsu dan secepatnya dian pergi meninggalkan luka.
Arnold yang sekarang, tidak sedingin Arnold yang dulu, pria itu lebih banyak bicara dengannya, walau kata-katanya begitu sering menyakitkan hatinya. Entah sampai kapan keduanya akan saling menyakiti walau sudah tidak ada hubungan pernikahan lagi.
"Kamu mau mengatakan apa, Ar?" tanya Velicia sambil berjalan menyusuri pantai.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Arnold. Keduanya saling diam.