
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, karena sengaja Leon ingin lebih lama bersama gadis di sebelahnya itu.
"Kak , itu Mama dengan kak Arnold," tunjuk Aura.
Leon segera menepikan mobilnya, Aura langsung keluar dan berlari ke arah Mamanya. Maria begitu merindukan putrinya itu.
"Kau tidak rindu padaku!" kata Arnold.
Aura memanyunkan mulutnya karena melihat sikap Arnold yang masih dingin itu dan berkata."Aku kira Kakak siap operasi menjadi baik dan lembut."
"Kakak hanya diambil satu organnya," kata Arnold langsung menarik hidup Aura gemas.
"Pagi Nyonya," sapa Leon.
"Leon kamu harus membiasakan memanggilku Mama, " goda Maria membuat Leon hanya tersenyum tipis.
Mereka berjalan menuju mobil yang tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi, Sepanjang jalan Aura cerita dan matanya seketika melebar karena ingat sesuatu.
"Kak Leon, apa tadi ingat saat Andreas memarahiku?" tanya Aura.
"Ingat Nona," jawab Leon tetap kaku seperti biasa.
"Itu karena ia menerima ginjal dari orang dingin seperti di sampingmu, Kak." Aura langsung tergelak karena Arnold menoleh ke belakang dan melebarkan matanya.
"Aura jangan kamu ganggu Kakakmu, Nak." Maria menyela putrinya itu.
Aura langsung menutup mulutnya, wajahnya sudah memerah dan tanpa sengaja matanya bertemu dengan netra pekat milik Leon lewat spion.
Mobil kini sudah memasuki area parkir apartemen, Mereka semua keluar menatap gedung yang menjulang tinggi itu.
"Mari Nyonya, Tuan," kata Leon sedangkan barang-barang Maria di bawa oleh anak buah Samuel.
"Nak, mereka siapa?" tanya Maria lirih saat sudah masuk lift.
"Mereka yang akan menjaga keluarga Anda selama ada di sini, Nyonya." Leon menjawab dengan tangannya tanpa sengaja menggenggam jari lentik Aura.
Pintu lift terbuka, Samuel yang sudah menunggu di depan pintu tersenyum. Arnold juga tersenyum menatap pria yang sudah beberapa kali menolongnya itu.
"Apa kabar?" tanya Arnold.
"Baik, Mari silahkan masuk." Samuel memberikan jalan kepada keluarga Arnold untuk masuk ke apartemennya.
"Nyonya sebaiknya Anda istirahat dulu, dan ini kamar untuknya." Leon membuka pintu dan mempersilahkan Maria untuk istirahat.
__ADS_1
Saat Leon sampai ruang keluarga dilihatnya Aura sedang membuat minuman, pria itu menghampirinya dan berkata."Kamu kalau mau istirahat naik ke lantai dua ada kamar di ujung yang bisa kamu pakai."
"Iya Kak," jawab Aura sambil membawa nampan berisi kopi dan cemilan yang ia ambil dari kulkas.
"Ar, kamu istirahatlah. Ingat organ tinggal satu." Samuel menggoda pria yang beberapa kali ditolongnya itu.
Arnold tidak menjawab, pria itu menatap kesal ke arah Samuel, Aura yang merasa lelah beranjak berdiri dan naik ke lantai dua. Samuel mengernyitkan keningnya melihat gadis itu naik ke lantai dua.
Ditatapnya Leon yang hanya tersenyum menatapnya, Samuel hanya menggelengkan kepalanya.
Aura yang berada di lantai dua kini sudah berada di depan kamar yang dikatakan oleh Leon, gadis itu perlahan membuka, tiba-tiba ia merasa tubuhnya didorong seseorang untuk masuk.
"Kenapa tidak langsung masuk?" tanya Leon.
"Eh, itu hanya mau lihat kamar siapa," jawab Aura.
Leon tersenyum, pria itu menarik tangan Aura setelah itu dibukanya lemari. Namun, ia membalikan tubuhnya menatap gadis yang sedang memperhatikan sekeliling kamarnya.
"istirahatlah pakai baju ini agak besar dikit," kata Leon.
"Ini baju siapa?" tanya Aura menatap Leon.
"Baju suamimu," jawab Leon langsung keluar dari kamar.
"Dasar pria kaku!"seru Aura langsung mengganti pakaiannya karena ia merasa gerah.
"Aura duduklah sini!" perintah Arnold.
Aura duduk dan langsung mengambil jus dalam gelas yang ia kira milik Kakaknya, hal itu membuat Arnold heran.
"Sejak kapan kamu mau minum bekas si kaku?" tanya Arnold.
Deg, Aura yang baru tahu langsung menelan minuman, hal itu membuatnya tersedak. Leon hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Besok jam berapa Cia akan kemo?" tanya Arnold.
"Siang Kak, " jawab Aura.
"Leon pastikan Samuel bisa mengantar karena aku akan berada di dalam ruangan saat Cia kmo." ujar Arnold.
"Iya Tuan," jawab Leon.
"Kak, bukannya kakak tidak ingin kak Andreas tahu jika kakak yang mendonorkan ginjal untuknya." Aura tidak habis pikir karena pasti Andreas akan menemani Cia.
__ADS_1
"Leon yang akan mengantarnya," kata Arnold santai.
Aura hanya diam, gadis itu menyadarkan kepalanya di sofa, semua itu tidak lepas dari perhatian Leon.
"Kak kalau masih mencintainya ajak rujuk," kata Aura.
"Kami tidak akan pernah rujuk," ucap Arnold tegas.
"Kenapa?" tanya Aura menatap kakaknya penuh emosi.
"Kamu tahu pria yang dicintainya bukan Kakak, Aura!" seru Arnold frustasi.
Aura yang terkejut akan suara tinggi Kakaknya matanya berkaca-kaca dan berkata."Lalu untuk apa kau muncul lagi, hah!"
"Aura pelankan suaramu!" bentak Arnold yang tersulut emosi.
Tangis Aura langsung pecah, melihat itu Arnold mengusap wajahnya dengan kasar lagi-lagi adiknya dibuatnya bersedih.
"Katakan pada kak Cia jika kakak mencintainya!" kata Aura lirih sambil duduk di sofa.
"Tidak semudah itu, jika Cia akan bahagia aku akan melepaskannya," kata Arnold berlalu dari hadapan adiknya.
Leon tersenyum melihat Aura yang emosi, pria itu mengambil air dingin dari kulkas dan memberikan kepada gadis yang sudah menyita perhatiannya itu.
"Minumlah biar lebih tenang," ujar Leon.
"Kak Arnold itu nyebelin!" gerutu Aura. Namun, masih bisa didengar oleh Leon.
Keduanya duduk dalam diam, Aura memejamkan matanya dan bertanya."Kak, kalau kakak mencintai wanita jangan seperti kak Arnold."
Leon tersenyum dan menipiskan jarak dengan Aura, lalu pria itu berbisik."Aku mencintaimu."
Aura matanya langsung terbuka dan membulatkan matanya menatap Leon, melihat itu pria itu tersenyum dan langsung mengecup kening Aura dan berkata."Aku ada kerjaan di luar, istirahatlah!"
Aura masih terpaku, gadis itu memegang keningnya yang baru dicium bibir hangat si kaku tadi. Dadanya berdebar, banyak pertanyaan yang timbul di hatinya apa benar orang kepercayaan Papanya itu.
"Aku yakin pria kaku itu mengerjaiku, dadar kaku!" seru Aura lirih sambil berjalan menuju ke kamar untuk istirahat.
Sampai di kamar gadis itu bukannya tidur. Namun, ia penasaran dengan pintu yang berada di samping lemari pakaian.
Aura perlahan melangkah mendekati pintu dan memutar handle pintu yang tidak terkunci. Matanya melihat sekeliling ruang kerja yang begitu rapi.
Ditatapnya foto yang di atas meja, perlahan disentuhnya pigura di mana ia melihat Leon dan seorang wanita cantik bermata biru dan rambut pirang itu terlihat begitu bahagia.
__ADS_1
Dikembalikannya pigura itu, Aura membuka laci. Lagi-lagi ia menemukan foto orang yang sama. Saat sedang asik ia tidak menyadari jika ada seseorang berdiri menatap tajam Aura. Pria itu berjalan dan bertanya."Apa yang kau lakukan?"
Bersambung ya….