PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Aura pergi


__ADS_3

Andreas yakin jika adiknya sudah berbohong kepadanya jika akan menghubungi suaminya.


Andras beranjak dari duduknya dan langsung dihentikan oleh Samuel dan bertanya." Mau kemana?"


"Menemani Shinta," jawab Andreas.


Samuel hanya mengangguk, sedang ia berpikir apa yang dikatakan Andreas ada benarnya juga.


Samuel tahu wanita yang dicintai oleh sahabatnya itu adalah Clara wanita yang cerdas dan mandiri.


****


Di apartemen di Jakarta.


Aura setelah  melihat Mama dan kakaknya keluar dari apartemen langsung mengganti baju dan menenteng tas ranselnya.


Taksi yang dipesannya sudah menunggu  di depan. Mobil melaju menuju ke Bandara Soekarno-Hatta.


Setelah empat puluh menit  gadis itu sudah sampai di bandara dan langsung membayar ongkos taksinya.


Saat akan mematikan ponselnya Aura mendapatkan pesan dari kakaknya dan membaca[ kamu berbohong kamu melihat video itu ]


Aura perlahan mendownload apa yang dikirimkan kakaknya kepadanya. Di sana Leon mengatakan jika hanya Clara wanita yang dicintainya.


Air mata Aura sudah tidak bisa dibendung lagi hatinya begitu sakit karena dirinya hanya istri balas budi.


"Ini keputusan yang tepat," kata Aura.


Pesawat yang dinaiki Aura sudah  mendarat dengan selamat di kota tempat dirinya dilahirkan. Aura menatap ada beberapa orang sedang siaga. Ia berharap  jika mereka anak buah John, ia menghampiri  pria berbadan tegap  itu dan bertanya."Apa Anda anak buah Johnathan?"


Kedua pria itu saling tatap dan mengangguk. 


"Tunggu sebelum aku dibawa ke marakas apa boleh saya mematikan ponsel saya dulu." Aura menatap kedua pria


"Silahkan, Nona," kata pengawal  itu.


Aura mengirim  rekaman yang tadi kepada suami  dan mengetik [Terima kasih].Setelah itu Aura membuang ponselnya hingga hancur di aspal membuat kedua pria itu tertegun. Dilihatnya Aura mengusap air matanya kasar.


Aura sadar ia korban pelecehan dan haruskah di permainkan hatinya, sakit itu yang kini dirasakan putri dari Setyawan itu. Aura juga mendengar jika pria yang duduk di sampingnya menghubungi anak buahnya untuk kembali ke markas.


Aura naik jet pribadi milik Johnathan, air matanya menetes dan hentinya. Pria yang tidak jauh darinya itu memperhatikannya sedari tadi.


"Nona sebelum take of, apa ada yang akan Anda hubungi?" tanya pria yang bernama Alek itu memberikan ponselnya kepada Aura.


Aura menatap pria yang wajahnya begitu dingin dan datar itu ternyata punya sisi baiknya. Gadis itu perlahan menghubungi Maria.


"Halo," kata Maria lembut.


"Mama," sapa Aura.


"Aura kamu  di mana, Nak. katakan biar Mama jemput dan kakakmu," tangis Maria pecah.


"Mama baik-baik sajakan?" tanya Aura menahan tangisnya.

__ADS_1


"Halo Aura kamu di mana?" Suara Arnold terdengar begitu kesal.


Aura tidak sanggup untuk berkata, gadis itu menutup mulutnya  tidak lama Alek mengambil ponselnya dan berkata."Anda jangan khawatir Nona akan baik-baik saja sama kami."


"Kamu siapa?" tanya Arnold.


"Saya Alek Tuan," jawab Alek lalu mematikan ponselnya dan membuang kartunya.


Aura menutup wajahnya, ia berharap dengan begini membuat keluarganya tenang. Alek memberikan sapu tangannya kepada Aura gadis itu menerimanya.


"Nona istirahatlah di sebelah sana ada kamar bisa Anda gunakan," ujar Alek.


Aura yang ingin melupakan tangisnya  memasuki kamar mewah seperti hotel bintang lima itu, gadis itu membuka tirai ditatapnya awan karena sudah take of.


"Sekarang aku naik ini, tapi entah apa nanti yang akan terjadi padaku," kata Aura lirih. Ia menghempaskan tubuhnya ke kasur yang empuk karena begitu nyaman ia tertidur.


*****


Di Ternate.


Leon yang sedang berada di kantor Setyawan sedang memeriksa dokumen penting dikejutkan dengan kedatangan Samuel dan Erik. Kedua pria itu kini duduk di sofa ruangannya.


"Ada apa?" tanya Leon melihat wajah Samuel dan Erik seakan ada sesuatu yang terjadi. Dua jam yang lalu John menarik anak buahnya. Bahkan di bandara dan yang lainnya sudah tidak ada." Erik menatap Leon dan Samuel bergantian.


"Apa ini jebakan?" tanya Leon.


"Takutnya," sahut Samuel.


"Halo Nona," sapa Leon.


"Leon, apa Aura ada menghubungimu. Apa anak itu kembali ke Ternate?" tanya Velicia.


Deg, Leon terdiam. Pria itu menatap kedua rekannya di depannya dan berkata."Nona tenang dulu saya akan meminta anak buah saya untuk mencarinya."


"Ada apa?" tanya Samuel.


"Aura pergi." Leon mengusap wajahnya dengan kasar.


Ditatapnya ponselnya dan ada pesan masuk dari Aura mengirikan video dan tulisan terimakasih. Perlahan dibukanya, mata Leon melotot dan kini menatap tajam ke arah Samuel.


"Kenapa?" tanya Samuel.


"Apa yang kamu kirim ke Aura?" tanya Leon penuh emosi.


"Nomornya saja aku tidak tahu!" bentak Samuel karena tidak terima atas tuduhan Leon.


Leon memberikan ponselnya kepada Samuel, pria berwajah tampan itu menggelengkan kepalanya karena ia tidak mengirimkan apa-apa.


"Lalu siapa yang melakukannya?" tanya Leon.


"Aku," sahut Andreas menatap tajam ke arah Leon dengan tajam.


"Apa maksud Anda, ah!"teriak Leon.

__ADS_1


Andras tersenyum tipis, karena ia juga tahu jika anak buah John sudah ditarik ia yakin ini ada hubungannya dengan adiknya.


"Biar Aura tahu, siapa suaminya!"kata Andreas dengan tatapan tajam yang berstatus sebagai adik iparnya itu.


"Erik periksa di mana posisi Aura saat ini!"perintah Leon.


Andreas duduk di sofa single dan berkata."Aku yakin masih di apartemen karena tadi aku telepon mama Aura masih tidur."


Erik melihat di mana titik terakhir dari Aura begitu terkejut, pria itu melihat ponsel Leon kapan Aura mengirimkan pesan dan jam berapa John menarik anak buahnya.


Ditatapnya Leon dan Andreas dan berkata."Titik Aura di bandara Sultan Babullah."Leon dan Andreas saling tatap, dan berkata."Kamu yakin." 


"Lihatlah, tapi sekarang nomornya tidak aktif lagi," kata Erik.


Andreas mendapat telepon dari Maria, pria itu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Halo Mam," sapa Andreas.


"Apa adikmu sudah ditemukan, tadi keamanan bilang aura membawa tas dan naik taksi?" tanya Mari.


"Ini Leon dan lainnya sedang melacak keberadaan Aura, Mama tenang saja ya," kata Leon.


"Apa Mama sudah boleh pulang, Nak?" tanya Maria.


"Boleh Mam, bilang sama Arnold dan Cia ya," kata Andreas.


Setelah panggilan tertutup Andreas mengingat apa kata Aura waktu menghubunginya jika sebentar lagi keluarganya akan berkumpul dan bahagia.


"Apa Aura menyerahkan diri ke John?" tanya Andreas.


Leon hanya diam, pria itu beranjak dari duduknya. Samuel melihat itu mengikutinya dan berkata."Bukankah ini yang kamu inginkan, lepas dari pernikahan balas budi."


"Aku sudah berjanji untuk menjaganya," jawab Leon.


"Lepaskan kalau tidak bisa mencintainya," kata Samuel.


Leon hanya diam, sedangkan mobil dikemudikan oleh Samuel, kini keduanya sudah berada di rumah Leon. Pria itu mengeluarkan koper dan memasukan beberapa pakaiannya.


"Kamu mau kemana?" tanya Samuel.


"Jemput istri," jawab Leon.


"Batalkan saja," kata Andreas yang kini bersandar di pintu kamar Leon.


Andreas dan Erik sengaja mengikuti Leon, karena keduanya bisa menebak  jika pria itu akan mencari Aura.


"Lepaskan Aura," kata Andreas.


"Kenapa?" tanya Leon.


"Biarkan Aura mencari kebahagiaannya sendiri, jika kalian akan tetap bertahan itu akan saling menyakiti." ujar Andreas.


Leon diam, selama Aura ke Jakarta ia tidak pernah menghubunginya. pria itu mengusap wajahnya kasar. Harusnya belajar untuk mencintainya.

__ADS_1


__ADS_2