PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
mencari tujuan Maria


__ADS_3

Cia berlari, wanita itu menatap mobil yang baru berhenti. Tidak berselang lama Arnold keluar. Pria itu menautkan kedua alisnya."Sayang, kenapa sudah keluar. udaranya dingin."


"Aku pikir kamu tidak pulang, Ar?" tanya Cia.


Arnold tersenyum, ada rasa lega karena istrinya mengkhawatirkannya saat ini, pria itu mengajak Cia untuk masuk. Keduanya langsung masuk kamar.


"Sayang maaf aku baru pulang," kata Arnold.


Cia tersenyum, entah kenapa lagi-lagi ia merasakan sesak di dadanya. Apa mungkin suaminya menginap di rumah wanita itu.


Arnold yang melihat istrinya hanya diam saja segera menghampirinya." Ada apa, Sayang. Jangan berpikir aku semalam menemuinya."


Mata Cia langsung melebar, karena suaminya bisa menebak akan apa yang sedang dipikirkannya. Wanita itu langsung menunduk. Entah kenapa ia malu saat Arnol seakan bisa membaca apa yang sedang ia pikirkan saat ini.


Cia sedang menunggu telepon dari seorang, wanita yang sedang menghubunginya yang tidak lain adalah Clara 


Clara mengatakan jika Arnold akan bertemu dengan wanita yang akan menjadi madu dari Cia. dua hari lagi karena keduanya sedang ingin membicarakan hal penting.


Cia mendengar itu hanya diam, wanita itu tidak habis pikir kenapa harus dirinya dan suaminya. Apa tujuan Maria sebenarnya, ia memijat pelipisnya setelah menerima laporan dari Clara. 


Clara tidak dapat diragukan lagi, wanita itu tidak pernah memakai hati dalam bertugas. ini bukan pertama kalinya orang kepercayaan Cia itu ditugaskan Cia saat genting.


Cia masih mempertimbangkan kerja sama yang akan ditawarkan Andreas untuk mengajar di tempatnya membuka les piano.  Wanita itu menarik napas panjang karena ia tidak bisa mengambil keputusan ini sendiri. Ada Arnold yang akan ia minta pertimbangan.


Sebenarnya Cia merasa penasaran apa tujuan mertuanya, apa wanita itu ingin memisahkan dirinya dan Arnold. Wanita itu merasa jika ini ada hubungannya karena ia tidak punya anak.


Cia keluar dari kamar, wanita itu meninggalkan suaminya yang sedang mandi, Maria kini  duduk tidak jauh dari Cia perlahan berdiri dan menghampiri wanita yang kini sedang melamun itu.


"Sayang, apa sedang ada masalah. Dari tadi mama perhatian kamu melamun saja." Maria duduk di samping menantunya itu.


"Tidak ada Mama, apa hari ini jadi ikut Aura?" tanya Belinda.


"Tidak. Mama ada urusan dengan Arnold." 


Arnold yang baru datang langsung ikut bergabung.


"Maaf,"  kata Cia.


Arnold tersenyum, pria itu sejujurnya begitu kecewa akan keputusan Mamanya untuk menikah lagi. Apalagi saat Cia mengatakan kalau tidak ada kebohongan antara keduanya.


Tanpa Cia tahu, Arnold menjual namanya supaya Mamanya di ajak ke Berlin oleh Andreas.

__ADS_1


"Apa Mama tidak jadi ikut Andreas, kasihan kalau pergi sendiri." Arnold  menatap Mama dan Cia bergantian.


"Tapi Mama tidak bisa jauh dari Aura." Maria mengusap air matanya.


Cia mengusap bahu ibu mertuanya, ada rasa tidak tega. Namun, wanita itu juga tidak bisa jauh dari anaknya.


Arnold yang tidak tega melihat Mamanya menangis, pria itu beranjak dari duduknya dan segera naik ke lantai dua.


Cia dan Maria melihat itu hanya diam.


"Kamu beruntung, sayang. Arnold  tidak membatasi pergerakanmu." Maria mengusap kembali air matanya.


"Apa Mama merasa tertekan?" Cia mengusap punggung tangan Maria


"Kamu tahu, anak-anak melarang mama ke dapur. Nanti capek, sakit. Kadang Mama iri sama kamu Cia begitu juga dengan Aura. Leon dan Arnold begitu baik dan tidak egois. Buktinya kamu bisa mengelola perusahan kalau mau. Sedang Aura masih bisa janjian dengan teman-temannya untuk bertemu." Maria seakan mengeluarkan semua apa yang dirasakan selama ini


Cia memeluk mertua yang sudah dianggap seperti ini kandungnya sendiri itu. 


"Wanita hebat, tanpa ibu Papa tidak akan sampai ke titik ini." Cia mengusap air matanya.


Maria mengangguk, tidak lama pintu terbuka sosok menjulang tinggi itu menatap dua wanita berbeda usia itu sedang menangis.


Arnold perlahan menghampirinya." ada apa ini, Sayang?" 


"Ada apa?" Arnold duduk di samping Mamanya. Kini Maria duduk di tengah antara Cia dan Arnold.


"Tidak ada, Nak. Hanya cerita saja." Maria mengusap air matanya dan perlahan mengusap lengan Arnold.


"Mama ke kamar dulu." Maria beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke lantai dua.


Kini tinggal Arnold dan Cia. Pria itu menatap sang istri. Berharap akan menjelaskan kenapa Mamanya menangis.


Ia hafal betul, Mamanya itu jarang menangis. Kadang Papanya dulu bilang Mamamu hidupnya terlalu senang. Namun, tanpa Papanya tahu. Maria  seperti itu karena tidak ingin dianggap lemah oleh suaminya


"Sayang, ada yang mau kamu jelaskan kepadaku?"


Cia menggelengkan kepalanya, wanita itu tidak tahu dari mana menjelaskan kepada Arnold.


Leon yang baru masuk rumah dengan membawa tas kerjanya menatap sepasang suami istri itu dengan menaikkan kedua alisnya." Apa ada masalah?"


Arnold hanya menggelengkan kepalanya, sedang Cia memberikan kode kepada Leon untuk duduk dulu karena ada yang akan dibicarakan.

__ADS_1


"Mama sepertinya memiliki tujuan yang lain." Cia menatap dua pria itu bergantian.


"Maksudnya?" Leon merasa semua baik-baik saja saat ini


Cia menarik napas panjang, tidak mungkin wanita itu mengatakan kepada suami dan adik iparnya jika Mamanya ada niat lain kenapa meminta suaminya menikah diam-diam.


"Sayang, kamu jangan berburuk sangka dulu itu tidak baik." Arnold sebenarnya sama dengan apa yang dipikirkan oleh istrinya.


Namun, Pria itu ingin menyelidiki dengan Leon tanpa sepengetahuan Aura  dan  Cia.


"Maaf." Cia tidak ingin suami dan adik iparnya curiga kepadanya.


Arnold segera mengajak istrinya untuk naik ke lantai dua. Sedang Leon tidak menunggu lama masuk kamar.


Cia mengikuti Arnold dan kini pasangan suami istri itu sudah sampai depan kamar.


Arnold melihat ke arah istrinya, pria itu tersenyum hangat dan memutar handle pintu.


"Sayang, sebaiknya kamu tunggu di sini. Biar aku siapkan makanan dan kopi." Cia segera keluar dari kamarnya.


Arnold yang hendak masuk kamar, menghentikan langkahnya.


"Sayang." 


"Iya." 


"Nggak mau di bawah saja?" tanya Arnold dengan mengedipkan satu matanya.


Cia segera memalingkan wajahnya, wanita itu masih saja merona jika suaminya menggodanya. Sedang Arnold menutup pintu dengan menggelengkan kepalanya.


Setelah menyiapkan makan malam. Belinda naik, bersamaan Aura keluar dari kamar dengan senyum mengembang di pipinya.


"Lagi bahagia itu bagi-bagi," kata Cia sambil tersenyum.


"Kakak bisa aja, sebenarnya enggak ada apa-apa hanya Leon minta anak banyak." 


Cia menghentikan langkahnya sedang Aura tersenyum menatap kakak iparnya yang terlihat terkejut itu."Apa ada yang salah?" 


"Tidak lebih baik dibicarakan lagi," kata Cia


"Bicarakan dengan siapa?" tanya Aura.

__ADS_1


"Kalian harusnya berkaca dari apa yang terjadi padaku.”


Aura mendengar itu baru sadar, wanita itu menatap wajah kakak iparnya itu. Ia lupa jika Cia tidak akan bisa memiliki anak lagi sekarang.


__ADS_2