PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Berhutang nyawa


__ADS_3

Andreas menatap Shinta, pria itu matanya berkaca-kaca. “Sayang.”


Shinta mengangguk, Andreas menarik sang kekasih dalam dekapannya.


“Terima kasih,” kata Andreas.


“Maaf sudah membuat Kakak kecewa selama ini,” kata Shinta.


Andreas menatap netra itu indah itu, Pria itu merasa begitu bahagia. Ia berjanji dalam hatinya tidak akan mengecewakan wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya nanti.


Shinta mengurai pelukan Andreas, wanita itu tersenyum dan berkata, “Aku mau kita menikah di panti tempatku di besarkan, Kak.”


Andreas tersenyum, pria itu mengangguk. Baginya tidak masalah dari mana asal Shinta, sang kekasih pun jika suruh memilih tidak akan mau ditinggalkan kedua orang tuanya begitu saja.


Andreas mengusap pipi Shinta, pria itu masih tidak percaya. Saat dirinya akan menyerah mungkin karena sudah tidak berjodoh. Namun, doa-doanya dijabah oleh yang Maha memberi.


Keduanya segera kembali menuju ke Villa. Aura melihat sahabatnya wajahnya berseri merasa lega. Begitu juga Andreas terlihat bahagia. “Kapan rencananya, Kak?”


“Bulan depan, tepatnya ulang tahun Shinta. Karena semua sedang berkumpul, kami hanya ingin menikah di mana Shinta dibesarkan dulu.” Andreas menjelaskan kepada keluarganya.


Cia yang sedang sibuk dengan Langit hanya tersenyum dan ikut bahagia mendengarnya.


Arnold menatap sang kakak, pria itu menarik napas dan kini menatap Shinta dan Andreas bergantian.


"Kalau butuh apa-apa jangan ragu InsyaAllah kami siap." Arnold menatap saudaranya itu dengan intents.


"Terima kasih, kamu adik yang paling baik." Andreas menepuk bahu Arnold.


"Kalau enggak baik Tidak mungkin mendonorkan ginjalnya ke kakak." Aura langsung menutup mulutnya.


Hening, hingga Andreas menatap Aura dan Arnold bergantian." Apa itu benar, Ar."


Arnold tidak tahu mau jawab apa, pria itu menatap Mamanya dan Maria mengangguk." Maafkan kami, Nak. Terpaksa kami berbohong. Awalnya Mama juga tidak tahu."


Andreas menatap Mamanya , pria itu menggelengkan kepalanya. Tatapannya kini berubah sendu." Kenapa kalian tidak jujur dari awal. Kenapa, Mam?"


Shinta mencoba menenangkan kekasihnya dengan cara mengusap bahunya.

__ADS_1


"Kenapa kalian semua lakukan ini , aku seperti orang bodoh. Setelah ditolong dengan tidak tahu dirinya aku mengejar Cia.


Maria menatap putranya itu dengan tatapan yang berbeda. Wanita itu beranjak dari duduknya.


"Maafkan Mama, ini mama tahu saat kamu sudah mulai pulih Arnold tidak pernah menjenguk karena baru sadar dari kritisnya.


Cia mendengar itu menatap suaminya, ia bingung kapan hal itu terjadi. Kenapa bisa ia melewatkan hal itu.


"Ar, kapan?"


"Waktu kakak Kritis juga, apa kakak ingat mimpi di mana bertemu dengan anak kakak." Aura menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Cia menatap suaminya, wanita itu memberikan anaknya kepada Meli yang baru datang.


Cia memeluk Arnold, ia tidak tahu jika suaminya pernah sama -sama drop seperti dirinya.


Arnold mengusap punggung istrinya, sedang Andreas hanya diam. Ia tidak menyangka Arnold melakukan itu.


"Kenapa harus Arnold waktu itu?" tanya Andreas.


Aura mengusap air matanya." Aku yang mengambil hasil lab waktu itu. Dokter mengatakan hanya satu yang cocok. Dan itu Mama." Aura menatap wajah Mamanya yang begitu terkejut.


"Kenapa kamu tidak bicara dengan Mama, kenapa Harus Arnold saat itu, Aura?"


"Hasil lap kakak sama dengan Mama. Akhir aku dan kakak Arnold memutuskan kalau pendonor salah Kakakku yang dingin dan sekarang bahagia dengan wanita yang dicintainya." Aura mengusap air matanya yang kian banyak keluar mengalir membasahi kedua pipinya.


Leon melihat itu langsung memeluk istrinya, pria itu mengusap dan mengecup kepala Aura.


Leon tidak menyangka saat itu Aura merahasiakan sesuatu yang begitu besar.


Pria itu terlambat saat tahu. Cia masih terisak di pelukan suaminya. Hingga tangis Langit terdengar.


Wanita itu melepaskan pelukannya, ia berjalan ke arah Meli yang sedang mendiamkan putranya itu.


Setelah Cia mengambil alih, Langit langsung diam. Hal itu membuat Arnold dan lainnya tersenyum.


"Langit tidak ingin Maminya sedih, Nak."

__ADS_1


Cia hanya mengangguk, wanita itu merasa ia memiliki ikatan batin dengan Langit.


Selly merasa bangga dengan Cia. Walaupun adiknya itu belum pernah melahirkan, tapi saya mengurus Langit begitu cekatan dan tidak begitu terlihat canggung sama sekali.


Ada rasa yang tidak bisa wanita itu ungkapkan. Bagaimana bisa Cia begitu ikhlas, merawat anak wanita yang sudah membuat rumah tangganya hancur.


Kini ia yakin, kenapa suaminya mengatakan jika Velicia wanita baik. Hingga pertengkaran dulu sering terjadi saya Jack menceritakan tentang kondisi Cia yang sebenarnya.


"Wah anak pintar, " kata Cia saat Langit diam.


Hal itu tidak luput dari tatapan Andreas yang kini pria itu terlihat murung.


"Andreas jangan terlalu dipikirkan, semua itu sudah berlalu dan kita mulai selama kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya," ujar Jack.


Melihat itu Shinta mengangguk, agar kekasihnya bisa bahagia seperti tadi lagi.


Andreas menarik napas dan menghembus dengan kasar, pria itu berharap rasa sesak di dadanya berkurang. Pria itu akui berhutang nyawa dengan adiknya.


Maria menepuk bahu anak sulungnya itu. Wanita itu seakan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Ada rasa sesal saat meminta Arnold untuk menikah lagi.


Kini melihat anak-anak akan memiliki keluarga yang utuh, Maria seakan bebannya bisa mulai berkurang.


Selly memberikan Jingga kepada Jack, setelah itu ia membantu Maria yang akan memasak untuk makan malam nantinya. Sedangkan Cia kini menjaga Jingga dan langit karena Jack akan keluar ada urusan bisnis juga.


Arnold melihat istrinya duduk di karpet dekat televisi, Pria itu bergabung dan sesekali mencium pipi gembul Jingga.


“Sayang Jingga begitu mirip dengan Selly, lihat itu,” kata Arnold.


“Kakak iparku ibunya, wajar. Namun, jika langit mirip kamu itu yang akan aku curigai,” ucap Cia.


Mendengar itu Arnold hanya mendengus, ia tidak akan mau menghianati istrinya lagi. Sudah cukup ia merasakan apa yang sudah terjadi. Itu hanya masa lalu yang akan ia jadikan sebagai pelajaran.


“Ar, terima kasih sudah mau bersabar. Aku harap kamu juga bisa sayang dengan langit, tapi jika kamu ingin memiliki anak dari darah dagingmu sendiri. Coba kamu bujuk Meli.” Cia mengedipkan matanya ke suaminya.


“Kamu itu bicara apa? Tidak akan itu terjadi,” kata Arnold.


Velicia mendengar itu begitu bahagia, ia berharap kebahagiaan ini kian terasa saat hadirnya Langit. Arnold melihat istrinya menangis merasa heran lalu ia bertanya,” Sayang kamu kenapa?”

__ADS_1


__ADS_2