PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
BERTEMU MERRY


__ADS_3

Velicia tidak menjawab pertanyaan pria disamping itu, ia tidak ingin banyak bicara dengan Arnold saat ini. Selama duduk di samping matan suaminya banyak timbul pertanyaan dalam hatinya.


Saat bus berhenti,  Velicia  tergesa-gesa turun dari bus di halte berikutnya,  hal itu membuat Arnold terkejut. Namun, dia enggan untuk mengejarnya.


Valecia menatap jalan saat melihat taksi ia  kemudian menghentikannya, wanita itu masuk dan mengatakan menuju ke taman. Bus yang di naiki Arnold dan adiknya kembali lagi berjalan saat ia melihat taksi yang di naiki oleh mantan istrinya itu melaju meninggalkan halte bus.


Valecia kembali ke taman, ia segera menuju dimana mobilnya terparkir tadi, lalu dia mengemudikan mobilnya kembali ke villa, benaknya dipenuhi oleh perkataan Arnold. 'Aku berhutang sebuah acara pernikahan padanya'.


Velicia  tenggelam dalam emosinya, dia merasa dirinya sangat konyol, selama 3 tahun ini dia tidak lain hanya menumpang, sekarang semuanya akan kembali seperti semula.


Saat pikirannya sedang kemana-mana ponselnya berdering terlihat nama sahabatnya Merry menelponnya.


"Hallo," kata Velicia.


"Cia ... apa kamu tahu? sekarang di samping kedaiku ada konser musik yang di adakan seorang pianis yang baru saja pulang dari luar negeri, dan aku tahu kamu suka konser musik. Sekarang kamu datang ke sini ya ...," kata Merry dengan suara yang terdengar begitu gembira.


"Benarkah, apa acaranya sudah mulai?" tanya Valecia.


"Belum, makanya sekarang kamu ke sini," jawab Merry gembira.


"Oke aku akan ke sana," kata Velicia.


Velicia berpikir kalau uang sebelas miliar ini tidak dapat membantunya menemukan cinta, maka lebih baik diberikan kepada Merry untuk membuka kedai teh, sambil berpikir dia pun keluar dengan kartu bank tersebut.

__ADS_1


Valecia memutar balik mobilnya karena kedai teh sahabatnya berlawan arah dengannya saat ini. setelah menempuh perjalan selama dua puluh menit ia sapai di kedai, matanya menatap keramaian yang tak jauh dari tempat usaha sahabatnya itu.


Velicia keluar dari mobil, dari pintu Velicia sudah melambaikan tangan kepada sahabatnya, keduanya berpelukan karena sudah lama tidak bertemu.


"Aku kangen, kamu jarang sekali menghubungiku, apa se sibuk itu mejadi CEO?" tanya Merry sambil mengedipkan matanya ke arah Valecia.


Valecia terkekeh mendengar pertanyaan sahabatnya itu, ia duduk di dekat jendela dimana dia bisa melihat acara. ia duduk sambil meminum teh dan di pangkuannya ada kucing milik sahabatnya itu.


Tepat saat dia sedang minum teh sambil memeluk kucing di kedai teh Merry, Valecia sekilas melihat sesosok bayangan yang familiar, sosok itu menyatu dengan sosok pemain piano yang disukainya sewaktu kecil, "Apa itu Arnold?"


Namun, terlihat tidak mirip dengan Arnold yang dingin. Velicia langsung menggelengkan kepalanya tidak mungkin. tiba-tiba kucing di pangkuannya terkejut langsung turun dari pangkuan Velicia.


Velicia merasa sangat susah menghilangkan Arnold dari hatinya, saat seperti ini pun dia mengingatnya, hingga seakan orang yang dilihatnya begitu mirip mantan suaminya itu. lagi-lagi ia menangis karena pria kasar dan dingin itu lagi, hingga Merry keluar dari ruang kerjanya dan menanyakan," kamu kenapa akhir-akhir ini sering menangis?"


Velicia diam ia tidak menjawabnya, selama ini dia tidak pernah menceritakan masalah rumah tangganya yang ia jalani dengan Arnold, semua itu ia pendam sendiri.


Keduanya berjalan memasuki aula konser musik, senyum keduanya terlihat manis walau di dalam hatinya begitu sedih dan rapuh. saat berjalan keduanya mendengar percakapan pasangan kekasih muda. Si  wanita bertanya kepada kekasihnya, "Kapan kamu menikahiku?”


"Aku akan menikahimu saat kamu dewasa," jawab cowok yang merupakan kekasihnya itu.


Velicia dan Merry saling pandang, keduanya sama-sama teringat akan kisah cinta Merry.


"Merry, dengar-dengar orang yang kita cintai saat muda tidak bisa dilupakan seumur hidup," kata Valecia, tentu hal itu berlaku pada Merry.

__ADS_1


Merry jatuh cinta pada seorang preman saat duduk di bangku SMA kelas 2, pria itu jelas-jelas tidak punya apa-apa, tidak ada yang bisa diberikannya kepada Merry, tapi Merry tetap saja cinta mati padanya.


Velicia ingat Merry pernah berkata, “Pria itu punya jiwa yang baik di balik penampilannya yang seenaknya, aku memahami kelemahannya, betapa sensitifnya dia, harga dirinya dan juga rasa cintanya yang begitu besar. Cia, dia tidak lebih buruk dari Arnold yang kamu kenal waktu itu, dia punya pemikiran dan keangkuhannya sendiri."


Pria itu meninggal dalam sebuah kecelakaan saat dia duduk di bangku kelas 3 SMA saat menolongnya. Seiring kepergiannya, hati Merry juga telah tiada.


Konser musik dimulai membuat Merry kembali ke alamnya, Konser musik ini sangat membosankan, hingga Velicia mendengar suara alunan piano yang familiar 《Sleep in the Deep Sea》, sosok itu menyatu dengan sosok yang disukainya beberapa tahun lalu.


Valecia merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang, rasanya ini mimpi dia yang dulu dilihatnya waktu itu kini ada di depan matanya. Wajah tampan itu, apa dia Arnold. namun, kenapa terlihat tidak ada aura dinginnya. 


Sorak dan suara para penonton membuat Valecia tersadar akan sosok itu, jika itu Arnold kenapa dia tidak pernah melihat pria itu memainkan piano di villanya.


Setelah sebuah lagu selesai dimainkan, Velicia berlari ke belakang panggung untuk mencari pria tadi, dia sudah seperti orang gila, tapi sayang ia tidak menemukannya.


"Kemana dia, aku yakin pria itu adalah yang ada di sekolah waktu itu" kata Valicia lirih. Ia melihat sekeliling, tapi pria itu tadi sudah tidak ada, rasa lelah kini ia rasakan karena tadi berlari hingga Valecia tidak mengindahkan teriakan Merry.


Valecia mulai menjauhi tempat konser berlangsung ia tak ingin lagi melihatnya, walau sejujurnya dia begitu pemasaran dengan pria itu tadi.


Valecia melangkah dengan sedih di jalanan yang basah akibat turun hujan. Dia terlihat susah berjalan di jalan yang licin dengan sepatu hak tingginya, ia seakan putus asa. Samar-samar ia melihat sosok yang tidak asing itu. 


Valecia menutup mulutnya dengan satu tangannya, seakan dia mimpi, pria itu sekarang berdiri di depannya. Dia satu-satunya yang bisa membuatnya jatuh cinta di pandangan yang pertama. walau saat itu dirinya masih begitu kecil.


Valecia perlahan mendekati pria itu, tanpa ia sadari air mata bahagianya sudah keluar membasahi kedua pipinya. Dia semakin yakin pria di depannya itu berbeda  dengan mantan suaminya

__ADS_1


Pria itu menatap Velicia, sama seperti waktu ia kecil, lembut, dan rupanya dia masih mengenali Velicia, “Gadis kecil, kamu mengikutiku lagi ….”


Velicia berkata dengan tidak percaya, “Arnold ….”


__ADS_2