PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Harus mendapatkan Shinta


__ADS_3

Shinta menatap Andreas dan Maria bergantian. Entah kenapa tidak merasakan dadanya berdegup kencang,  saat pria yang dulu disukainya itu mengatakan ingin menikah dengannya.


"Kakak jangan bercanda," kata Shinta.


"Bukannya kamu mencintaiku sudah lama?" tanya Andreas.


Semua yang berada di ruangan itu hanya menjadi pendengar saja. Sedangkan Shinta hanya menatap Andreas dengan malas.


Begitu juga dengan Maria, entah apa yang dipikirkan putranya itu. Dulu mengatakan jika hanya menganggap Shinta seperti Aura. Tidak ada lebih.


"Kakak Andreas mencintaimu itu kesalahan bagiku, apa lagi sekarang Kakak angkatku juga sudah bahagia dengan istrinya. Aku waktunya membuka diriku sendiri, tapi tidak denganmu, Andreas."


Semua begitu terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Shinta, tapi tidak untuk Andreas. Buktinya gadis itu masih mau menjadi asistennya saat ini.


Cia melihat ke arah kakak iparnya itu, entah kenapa melihat Andreas tersenyum devil membuatnya merinding. Walaupun wanita itu tahu senyum itu tidak untuk dirinya. Melainkan ditunjukkan kepada Shinta.


Maria hatinya begitu sakit, saat melihat putranya ditolak terang-terangan di depannya . Namun, wanita yang masih terlihat begitu cantik. Hanya bisa menarik napas panjang.


"Ini bukan salah kamu, Nak. Dulu anak Mama yang begitu acuh padamu."


Shinta tersenyum canggung, entah kenapa ia lupa kalau ada Maria di sampingnya. Tidak seharusnya tadi mengatakan hal itu, tapi semua sudah terjadi.


"Mama, maaf. Bukan  saya tidak mau menghargai. Namun, ini kenyataan yang terjadi." Shinta menggenggam tangan Maria lembut.


"Walaupun tidak menjadi menantu mama, kamu akan jadi anak mama juga, Nak." Maria menatap Shinta penuh sayang.


Shinta matanya langsung berkaca-kaca, melihat itu Andreas semakin ingin memperjuangkan Shinta untuk menjadi istrinya.


Arnold melihat tingkah sang kakak yang senyum-senyum sedari tadi merasa curiga." Apa rencanamu, Kak?"


Andreas tersenyum dan berkata,"Aku pastikan akan segera mendapatkannya."


Arnold hanya menggelengkan kepalanya, pria itu tidak habis pikir. Jelas-jelas tadi Shinta menolaknya.


"Jangan suka memaksa." Arnold beranjak dari duduknya.


Cia melihat suaminya naik tangga hanya tersenyum, wanita itu sudah menduga. 


Cia begitu paham sekarang, Arnold pasti tidak ingin Andreas salah mengambil keputusan lagi. Cukup bagi Andreas menyukai wanita yang masih berstatus sebagai istri adiknya.


"Saya  permisi untuk istirahat, Jack kamu sudah bisa ditempati. Ajak kakak ipar untuk istirahat." Dia segera berdiri.

__ADS_1


Semua menatap punggung itu dengan perasaan yang berbeda, Cia selama dinyatakan sembuh. Wanita itu tetap harus periksa enam bulan sekali karena takut jika ada sesuatu yang tiba-tiba tidak diinginkan.


Setelah Cia tidak terlihat lagi, Selly menatap suaminya dan bertanya," Apa dokter itu masih menginginkan hasil cek upnya?"


Jack menatap sang istri, pria itu lalu mengambil ponselnya. Dilihatnya email dari dokter Herman. Pria itu mengepalkan kedua tangannya.


Terakhir ia mendapatkan salinan itu, sebelum Cia di bawa ke Berlin. 


Selly melihat suaminya wajahnya memerah, ia yakin ada seorang yang terjadi. Jack tanpa berkata apa-apa pergi begitu saja meninggalkan ruang keluarga.


Pria itu masuk kamar tamu yang disiapkan untuknya, pria itu langsung mencari kontak dokter Herman. Tanpa menunggu lama Jack menghubunginya.


"Halo selamat sore , Tuan." Sapa pria yang terdengar begitu lembut.


"Kenapa hasil cek up Velicia tidak ada Anda kirim, Dokter?"


"Maaf, Tuan Jack. Itu permintaan dari Nona Setyawan." 


Jack mengepalkan kedua tangannya , pria itu lalu bertanya," Apa hasilnya?"


"Tuan. Nyonya Setyawan melarang saya untuk mengatakan pada yang lain," ucap Dokter Herman.


"Baik." Jack langsung memutuskan teleponnya.


Pria bermata coklat itu menghempas tubuhnya di sofa yang berada di kamar tamu.


"Aku harus mencari tahu, tapi bagaimana caranya?" 


"Cara apa, mencari tahu tentang apa, Jack?" 


Jack langsung menoleh, pria itu begitu terkejut." Sayang."


"Apa ada yang kamu sembunyikan dariku lagi, Jack?" tanya Selly menatap suaminya itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Jack merasa bersalah, pria itu kini dilema. Jika berkata jujur  akan membuat sang istri kecewa. Namun, jika dia mengelak. Selly akan lebih kecewa lagi.


"Sayang, aku tadi menghubungi dokter Herman. Salinan hasil cek upnya Cia sejak pergi ke Jerman tidak di email lagi padaku," ucap Jack pelan-pelan.


Pria itu berharap sang istri tidak marah, Jack perlahan menatap wajah cantik Selly." Apa kamu tidak mengecek saat kita semua sudah pulang, Jack?"


"Maaf, aku harus.mengeceknya."

__ADS_1


Selly melipat tangannya di dada. Wanita itu menatap tajam suaminya." Harus kau cepat cari tahu, Jack. Aku khawatir penyakit sialan itu ada lagi." 


Jack begitu terkejut dengan tanggapan sang istri. Pria itu tadi mengira jika Selly akan marah dan meminta pulang.


Sayang, apa kamu tidak marah?" tanya Jack.


"Astaga, Jack. Kenapa kamu jadi orang tidak peka. Kamu suruh anak buahmu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku rasa anak itu sedang merencanakan sesuatu."  Selly menatap suaminya duduk di atas pangkuan Jack.


Jack begitu terkejut, pria itu langsung.memeluk pinggang ramping istrinya itu. Biar Selly begitu cerewet. Namun, jika sudah berada dibawahnya. Istri itu itu menjadi pendiam. Hal itu yang membuatnya begitu menyayangi istrinya.


Selly melihat Jack senyum-senyum, dan  menggerak-gerakkan kepala di dadanya merasa heran.


"Ada apa?" tanya Selly.


"Kangen," jawab Jack sambil menatap penuh iba.


Inilah sosok Jack  yang tersembunyi dari sikap dinginnya. Bahkan hanya Selly satu-satunya orang yang tahu jika Jack itu aslinya manja.


Selly yang melihat bayi besar itu yang merengek jika belum mendapatkan apa yang diinginkannya.


Sepasang suami-istri itu pun olahraga sore,  di saat di luar  yang lain sedang berkumpul.


Cia yang sudah bergabung lagi, karena Arnold sedang tidur begitu nyenyak. Sedangkan Shinta masih asik mengobrol dengan Maria.


"Mama, apa tidak ingin istirahat?" tanya Cia. 


"Nanti saja , Nak." Maria tersenyum menatap menantunya itu.


Cia hanya mengangguk, wanita itu begitu beruntung karena memiliki keluarga yang begitu menyayanginya selama ini. Andai papa mertuanya masih hidup,. pasti keluargangnya akan begitu hangat lagi.


Namun, wanita itu ingat. Iya  tidak  bisa menjadi istri yang sempurna untuk Arnold. 


Cia terlihat lagi melamun hal itu tidak luput dari lirikan Leon. Pria itu ingat pesan Tuan besar Setiawan, agar  dirinya  menjaga Nona Cia. Belum sempat Leon menjawab, orang yang membuatnya sampai titik bisa seperti ini sudah lebih dulu menghembuskan nafas terakhirnya.


"Cia kami kenapa?" 


"Mama, saya tidak apa-apa," jawab Cia.


Maria tersenyum, wanita itu melihat menantunya sepertinya sedang ada masalah. 


"Kalau ada apa-apa kamu ceritakan sama Mama, Sayang."

__ADS_1


Cia mengangguk, wanita itu saja heran dengan dirinya sendiri.


__ADS_2