
Shinta mendengar itu menahan air matanya supaya tidak keluar di depan Andreas, tetapi Andreas bukan pria bodoh, ia bisa melihat perubahan di mimik wajah gadis yang kini sedang menundukan kepalanya itu.
Melihat Shinta yang mencurigakan Andreas bertanya."Apa ada yang kamu sembunyikan, Shin?"
Shinta hanya tersenyum tipis, gadis itu menuju sofa karena hari sudah malam . Ia juga merasa lelah dan butuh istirahat. Setelah dilihatnya Andreas sudah terlelap barulah ia membaringkan tubuhnya yang begitu lelah.
****
Pagi harinya Shinta melihat Andreas masih tidur setelah dokter memberikan obat penahan rasa sakit karena ia merasakan pinggangnya begitu nyeri.
Shinta keluar dari ruang rawat Andreas. Gadis itu berjalan agak menjauh ia akan menghubungi asisten Tuan Besar Setyawan karena tidak ingin penyakit jantung pria paruh baya itu kembali kambuh.
Shinta mendengus karena Leon tidak juga mengangkat teleponnya.
"Huff, dasar banting," umpat Shinta membuat pria yang di seberang sana melotot walau gadis itu tidak melihatnya.
"Siapa yang banteng?"tanya Leon dengan suara dinginnya.
Shinta terkejut langsung melihat ponselnya , ia tidak sadar kalau pria banteng itu sudah mengangkat teleponnya.
"Eh, maaf, "kata Shinta sambil menggaruk kepalanya.
"Ada apa kau hubungi aku, malam-malam begini,?"tanya Leon.
Shinta menceritakan apa yang terjadi kepada Andreas, sedangkan di seberang sana pria banteng itu hanya diam, entah tidur lagi hanya Tuhanlah yang tahu. Namun, tiba-tiba ponselnya mati.
Shinta hanya menarik napas panjang ia berharap hari ini keluarga Andreas biasa sampai di Singapura.
Shinta segera menuju ruang rawat, lagi. Perlahan ia dibukanya pintu, gadis itu hanya memperlihatkan kepalanya saja, melihat itu Andreas mengerutkan keningnya atas tingkah asistennya itu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Andreas.
Shinta hanya cengengesan karena ternyata pria itu sudah bangun dan kini sedang menatapnya. Ia menghampiri Andreas dan menarik kursi tak jauh dari brankar.
"Kamu dari mana?" tanya Andreas
"Dari cari sarapan, Kakak makan buburnya dulu ya," kata Shinta.
Shinta segera mengambil mangkuk bubur yang berada di nakas. Perlahan ia menyuapi Andreas.
"Shin, apa kamu pernah jatuh cinta?" tanya Andreas sambil menerima suapan dari asistennya itu.
"Belum, "jawab Shinta datar.
"Andai kamu tahu kak, aku dulu begitu mencintaimu. Namun, saat kamu katakan kepada Aura jika hanya menganggapku hanya adik saja. Saat itu juga aku mencoba untuk memudahkan rasa ini," bermonolog.
__ADS_1
Andreas menarik napas dalam, ingin sekali menghubungi gadis kecilnya. Namun, takut akan mengganggu istirahatnya.
Shinta yang melihat kegelisahan dari Andreas hanya menggelengkan kepala dan berkata."Kalau rindu telepon saja."
Andreas tersenyum. Ia tahu sekarang pasti Cia masih tidur. Ada rasa takut jika nanti Arnold dan Cia akan kembali rujuk. Lalu hatinya akan kecewa.
Senyum mengembang di bibirnya karena ia orang yang dicintai oleh Velicia bukan adiknya melainkan dirinya.
"Shinta siang ini kita keluar dari rumah sakit," ujar Andreas.
"Tunggu apa kata dokter ya Kak," ucap Shinta.
Tepat pukul empat sore waktu Singapura, rombongan Tuan besar bersama Maria dan Aura sampai di rumah sakit di mana putra sulungnya di rawat.
Pintu terbuka, Andreas begitu terkejut melihat ada kedua orang tuanya. Matanya beralih ke arah gadis yang kini terlihat takut karena tahu ini pasti karena Shinta.
"Mama, "kata Andreas.
Maria langsung memeluk putranya itu, tangisnya pecah membuat Andreas merasa heran. Karena ia hanya sakit biasa saja.
"Mama, kenapa?" tanya Andreas.
"Kamu harus kuat, Mama yakin," jawab Maria.
"Maksudnya?" Andreas menatap Mamanya dan Shinta bergantian.
"Maaf," kata Shinta sambil mengusap air matanya membuat Andreas semakin yakin kalau ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
Deg, Andreas diam. Pria itu menatap semua yang berada di ruangan itu bergantian. Rasanya ia tidak percaya rasa sakit satu bulan ini yang ia rasakan ternyata ginjalnya yang bermasalah.
"Mama yakin secepatnya akan ada pendonor, Nak!" kata Maria sambil mengusap bahu putranya.
"Shin?" panggil Andreas.
"Semua sudah saya atur, untuk konser sudah saya batalkan, dan mereka akan mencari penggantinya," ujar Shinta.
Andreas mengusap wajahnya, apa ini yang dirasakan Velicia saat dokter mengatakan kalau ia divonis sakit kanker. Kalau Cia bisa kuat dan ingin sembuh, ia juga harus bisa sembuh dan berharap ada pendonor yang bersedia memberikan ginjalnya kepadanya.
Tanpa Andreas tahu jika kedua orang tua dan Aura bergantian ikut tes dan berharap ada yang cocok. Tuan besar keluar dari ruang rawat Andreas ia ingin mengatakan kepada Arnold dengan apa yang terjadi kepada Kakaknya.
Saat sedang mencari kontak Arnold Aura datang dan berkata." Pa, sebaiknya kita pindahkan kakak ke Jerman, biar kita lebih mudah mengunjungi Cia dan Andreas."
"Kamu lihat kondisi kakakmu, ia begitu lemah. Saat di sini kita lebih dekat untuk ke tahan air, Nak." ujar Tuan Besar kepada putrinya.
Aura hanya diam. Gadis itu berharap ginjalnya yang cocok, ia tidak ingin kalau Mamanya yang cocok dengan punya kakaknya karena Maria tidak mungkin melakukannya karena kondisinya juga lemah.
"Pa, apa Kak Arnold sudah tahu?" tanya Aura.
__ADS_1
"Belum, kita kasih tau sekarang sayang saja," ujar Tuan besar.
Aura menarik napas dalam, dan menjawab." Nanti saja Pa."
Tuan Besar hanya mengangguk. Keduanya masuk ke ruang rawat lagi, dilihatnya Andreas sedang tertidur karena pengaruh obat yang baru diminumnya.
Maria melihat Aura datang dan kini putrinya itu menghampirinya. Entah kenapa ada rasa sedih terlihat jelas diraut wajah putrinya itu.
"Apa Arnold sudah tahu, jika kakaknya di rawat?" tanya Maria kepada putri dan mantan suaminya.
"Belum, Mam." Aura menjawab sambil menatap Shinta.
Shinta yang mengerti akan tatapan Aura, Gadis itu menggelengkan kepalanya. Ia juga bingung apa yang akan dikatakan kepada Arnold karena jarang komunikasi langsung.
"Shinta bisa ikut Mama sebentar, Nak?" tanya Maria sambil beranjak berdiri dari sofa berjalan menuju pintu yang diikuti oleh Shinta.
Sesampainya di kantin keduanya duduk dan memesan minuman, Shinta menarik napas dalam dan bertanya, "Ada apa, Mam?"
"Sejak kapan Andreas mengeluh sakit pinggang, Nak?" tanya Maria menatap lekat gadis yang kini sedang berada bersamanya.
"Sebulan yang lalu, Kakak suka bilang sering lelah," jawab Shinta sambil mengerutkan keningnya mencoba mengingatnya.
"Mama harap segera mendapatkan pendonor secepatnya," ujar Wanita paruh baya itu sambil mengusap air matanya.
"Mama," Shinta langsung memeluk wanita paruh baya itu.
"Andreas anak baik, Shin." Tangis Maria pecah begitu saja dipelukan Shinta.
Hatinya begitu sakit, ia tidak menyangka putra kesayangannya kini terbaring di rumah sakit secepatnya harus mendapatkan donor ginjal. Apalagi besok baru keluar hasil periksanya.
"Tante kita harus yakin, kalau Andreas akan secepatnya mendapatkan pendonornya," kata Shinta. Kini keduanya asik bercerita berdua, hingga seakan lupa akan waktu.
***
Di Berlin.
Di ruang rawat VIP, Arnold entah kenapa semalam bermimpi buruk. Ia berharap tidak ada sesuatu terjadi kepada keluarganya. Cia yang melihat Mantan suaminya itu terlihat gelisah merasa heran.
"Ada apa, Ar?" tanya Cia.
"Papa dan Mama nomornya tidak aktif," ujar Arnold.
"Coba hubungi Aura." kata Cia.
"Sudah, tapi sama saja," Arnold terlihat frustasi karena ia hanya ingin tahu kabar keluarganya saja.
Arnold akhirnya menyerah untuk menghubungi pria kaku itu, Tak lama nomor tersambung dan diangkat oleh Leon.
__ADS_1
"Leon, Apa semua baik-baik saja," kata Arnold tanpa basa-basi.
Arnold terdiam, ia langsung menatap istrinya. Cia merasa ada sesuatu yang terjadi dan bertanya." Ar, ada apa?"