
Arnold begitu terkejut mendengar apa yang ditanyakan istri. Pria itu menatap Cia. Ada rasa bersalah harusnya sang istri tahu darinya.
"Aku tidak bertemu," kata Arnold.
"Oh, " jawab Cia.
Arnold mendengar apa kata istrinya merasa heran, pria itu merasa jika istrinya tidak percaya dengannya. "Apa kamu tidak percaya kalau aku tidak bertemu dengan gadis itu."
Cia hanya menaikkan bahunya, melihat itu Arnold menatap sendu wajah cantik istrinya. Andai Cia tahu kalau ia dan Viona tidak pernah komunikasi lagi.
Namun, sepertinya istrinya tidak percaya. Arnold menatap Cia yang sedang sibuk melihat email yang masuk. Wanita itu terlihat cantik saat sedang serius.
"Sayang, kamu tahu dari mana kalau Viona sudah pulang?" tanya Arnold.
"Dari Leon, ia melihat wanita itu di salah satu restaurant," jawab Cia menatap suaminya.
"Aku harap kamu percaya, ya," kata Arnold.
Cia hanya mengangguk, wanita itu tersenyum menatap Arnold. Ia ingat Viona adalah wanita yang begitu dicintai oleh suaminya waktu itu. Bahkan pria itu tidak menghiraukan dirinya.
"Aku tidak tahu apa tujuannya," kata Cia.
Arnold terdiam, pria itu yakin istrinya tidak akan mudah percaya begitu saja dengannya.
"Aku kalau akan bertemu pasti akan mengajakmu," kata Arnold.
Cia hanya mendengus mendengar apa kata suaminya itu, entah kenapa Arnold begitu menyebalkan saat ini.
"Ar, apa kamu tahu kalau Andreas mengajak Shinta segera menikah?" Cia ingin mendengar dari suaminya langsung apa alasan kakak iparnya itu.
"Wajar sayang, umur Andreas sudah berapa?"
Cia yang paham kini menganggukkan kepalanya, ia terkekeh karena umurnya dan Arnold juga berjarak lumayan jauh. Namun, suaminya itu terlihat awet muda saat ini.
Cia tahu kalau Shinta belum siap, tapi ia tidak tahu apa alasannya. Arnold memeluk pinggang istrinya."Kita tidur ya."
Cia hanya mengangguk karena sudah begitu lelah seharian, tidak menunggu lama keduanya terlelap.
*****
Pagi harinya semua sedang sarapan, bedanya hanya tidak ada Aura dan Leon. Maria sedari tadi hanya diam, Seorang pelayan datang."Nona, ada Nona Viona mencari Anda dan Tuan Arnold."
Cia dan Arnold saling pandang, begitu juga dengan Maria. Cia yang sudah selesai sarapan beranjak dari duduknya, tapi langkahnya terhenti saat tangan suaminya mencekalnya."Sayang."
Cia hanya tersenyum, jika semua akan baik-baik saja. Wanita itu keluar lebih dulu karena Arnold belum selesai sarapannya.
"Biar Mama yang temani," ucap Maria yang begitu penasaran karena sudah lama mantan putranya itu tidak terdengar kabarnya.
__ADS_1
Saat sampai ruang tamu, Viona tersenyum menatap Cia dan Maria. Viona yang kini sedang memangku anak balita itu menatap Cia dan Maria."Cia apa Arnold tidak ada?"
"Sedang sarapan." Cia bisa menebak jika Viona mencari suaminya.
Entah mengapa Cia merasa jika ada yang serius akan dibicarakan wanita itu, apalagi tubuh Viona terlihat begitu kurus sekarang.
"Viona, apa kamu sakit?" tanya Maria yang sudah tidak tahan ingin tahu kondisi wanita itu.
Viona hanya tersenyum, wanita itu mencium anak dalam pangkuannya itu . Tidak berselang lama Arnold ikut bergabung. Pria itu sedikit terkejut karena banyak perubahan yang terjadi dari Viona.
"Apa kabar," tanya Arnold.
"Baik," jawab Viona sambil tersenyum.
Pelayan datang membawakan minum untuk Cia dan tamunya, setelah itu hanya ada keheningan.
"Cia, Arnold. Apa aku boleh minta tolong?" tanya Viona.
"Apa?" tanya Cia.
Viona menatap Arnold dan Cia bergantian, air matanya mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya.
"Apa kalian mau menjaga anakku, kalian boleh adopsi. Aku mohon jaga dan sayangi anakku, hanya kalian berdua yang bisa aku percaya," kata Viona.
Arnold dan Cia saling pandang."Apa yang terjadi?"
"Cia aku mohon jaga dia, aku tidak bisa lama-lama di sini," kata Viona.
Cia dengan tangan gemetar menerima bayi yang terlihat tampan dan menggemaskan itu.
"Terimakasih, aku pergi." Viona pamit dan wanita itu keluar dari Vila dengan berlari.
Arnold menatap mantan kekasihnya itu, tidak lama Viona naik taksi. Pria itu masuk dan menatap anak yang di pangkuan istrinya.
Maria dan Cia sendang asik bermain dengan bayi Viona, hingga tidak menyadari jika Arnold sudah duduk di depannya.
"Siapa namanya?" tanya Arnold.
"Nama, ah, kenapa tidak tanya Viona tadi," kata Cia.
Arnold terkekeh mendengar istrinya seperti itu, Sedangkan Maria membongkar tas yang ditinggalkan Viona. Hanya ada beberapa baju, tapi terlihat kalau itu seperti baju bekas.
Maria melihat amplop, perlahan ia membukanya."Anak ini baru berumur satu bulan."
Cia melihat surat yang diberikan mertuanya itu."Sayang, lihat kenapa nama orang tua atau walinya kosong?"
"Sepertinya Viona sengaja," jawab Arnold.
__ADS_1
"Ar, besok kamu bawa saja ke pengacara, biar diurus langsung," ucap Cia.
"Anaknya laki-laki atau perempuan, Ma?" tanya Arnold.
Cia dan Maria saling pandang, kedua wanita beda usia itu menatap Arnold jengah. Jelas-jelas ia sedang mengganti popok anak itukan terlihat dengan jelas kalau jenis kelaminnya laki-laki.
"Kamu itu, jelas anak ini laki-laki," kata Maria.
Arnold langsung menatap ke arah bayi yang baru umur satu bulan itu."Kenapa beda ya?"
Cia mendengar itu langsung memukul lengan suaminya."Mana bisa disamakan dengan punyamu, Ar."
Maria bukan marah, wanita paruh baya itu tertawa lepas. Sedangkan Arnold hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Cia begitu kesal dengan suaminya itu, sedangkan mertuanya tidak berhenti tertawa." Wajar Arnold bilang beda, Cia."
"Kenapa Mam?" tanya Cia.
"Arnold dan Andreas dari umur delapan bulan sudah disunat," jawab Maria.
Cia menatap suaminya itu, hal itu membuat Arnold menautkan kedua alisnya."Ada apalagi?"
"Beda ya?" tanya Cia polos.
"Cia!" kata Arnold.
Velicia hanya terkekeh, wanita itu kini membawa anak Viona itu ke kamarnya. Saat sampai di kamar, Cia menatap suaminya."Ar, kita nggak ada *** bayi dan lainnya?"
Arnold melihat istrinya yang terlihat bahagia itu tersenyum."Bagaimana kalau kita hari ini nggak masuk kerja, kita cari peralatan buat dia?"
"Kamu harus siapkan nama juga," ucap Cia.
"Kamu saja," jawab Arnold.
"Cie yang tidak bisa move on," ejek Cia sambil tersenyum.
"Sayang!" geram Arnold membuat Cia tergelak.
"Nanti kita pikirkan namanya, sebaiknya biar mama yang menjaganya kita beli perlengkapannya," kata Cia begitu semangat.
Arnold hanya diam, pria itu merasa ada yang janggal dengan Viona. Ia begitu mengenali wanita itu bagaimana.
"Ar," panggil Cia karena suaminya hanya diam.
"Eh, iya," ucap Arnold terlihat terkejut.
"Memikirkan apa?" tanya Cia.
__ADS_1
Arnold ada sedikit rasa ragu, tapi kali ini Cia harus tahu."Sayang, apa kamu merasa ada yang janggal? tiba-tiba Viona datang dan memberikan anaknya kepada kita?"