PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Jhon murka


__ADS_3

Mansion milik Jhon, pria berbadan tegap itu kini sedang menatap semua anak buahnya yang tidak bisa menemukan Aura.


Kedua tangan Jhon mengepal, matanya sudah memerah. Baru kali ini ia dan anak buahnya merasakan gagal.


Alek yang baru memeriksa CCTV begitu terkejut karena yang menyelamatkan Aura adalah suaminya sendiri. Pria yang ia tahu kepercayaan dari mendiang Tuan Setiawan.


Jhon mendengar itu begitu muka, pria langsung beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar Aura.


Alek berada di luar kamar mendengar beberapa barang pecah, udah yakin jika bosnya itu begitu muka. Masih begitu terlintas dibenaknya saat Jhon mengajaknya lekas pulang untuk melihat Aura langsung.


Namun, sampai kediamannya hujan begitu murka karena wanita yang sudah ia menjadi miliknya kabur. Yang membuatnya lebih murka lagi ia menyelamatkan Aura adalah suaminya sendiri.


Dari laporan anak buah awet Jika suami Aura sama sekali tidak mencintai gadis itu, karena ada wanita lain yang dicintai oleh Leon.


Setelah agak tenang Jhon keluar dari kamar gadis itu, ditatapnya Alex yang sedang menundukkan kepalanya.


“Cari sampai dapat, Aku mau suami juga ikut!” titah Jhon langsung dianggukkan oleh Alek.


Alek sudah lama tidak melihat bosnya itu begitu marah besar seperti saat ini, akhir John marah karena mendengar adik angkatnya dibunuh oleh anak buah dari Sam.


Pria segera memerintahkan anak buahnya untuk melanjutkan pencarian Aura. Ada juga mengirimkan beberapa anak buahnya untuk memantau keluarga dari Aura.


Jhon kini sedang berada di kamar pribadinya, pria itu menatap ke arah foto yang kini berada di atas nakas mejanya.


Foto dirinya dan adik angkatnya yang kini sudah tenang di sana. Pria itu membaringkan tubuhnya di atas ranjang king Sizenya.


Sampai sekarang pria itu begitu penasaran akan apa yang, ia membuang lagi barang-barang yang berada di kamar tamu itu.


Keributan di kamar tamu ujung itu membuat Shinta terbangun dari tidur nyenyaknya, ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Wanita itu tertegun saat melihat Jhon marah.


"Shinta," kata Jhon dengan suara tercekat. Pria itu melihat ke arah ranjang di mana pria itu yang baru duduk memperhatikan semua yang ada di ruangan itu.


Shinta memperhatikan lelaki seumuran Ayahnya duduk di kursi roda dengan pandangan menghadap arah jendela. Rasa penasaran yang ia rasakan membuatnya turun dari ranjang, ia melangkah perlahan menghampiri pria yang hanya menatap arah jendela itu.

__ADS_1


Alek yang melihat Shinta mendekati pria itu hanya bisa memberi kode ke Jhon maupun anak buahnya. Ketiganya diam, ingin melihat respon dari pria yang kini duduk di kursi roda itu.


Shinta kini berdiri tepat di depan pria itu, wajah pria itu tidak asing menurutnya. Jimmy yang merasa ada yang menghalanginya kini menatap tajam ke arah wanita yang berdiri di depannya.


Pria itu perlahan berdiri dari kursi rodanya, ia menatap Shinta dengan intens. "Rania kamu masih hidup?" tanya Jimmy sambil memegang bahu Shinta.


Alek dan Jhon di buat terkejut, karena setahu mereka Jimmy Shinta. Semenjak itu pria itu tak pernah berbicara dengan siapapun.


"Jimmy," sapa Alek dengan pelan.


"Jon, dia masih hidup, dan ini nyata. Jadi hanya Rere yang meninggal waktu itu." katanya lirih sambil menatap Shinta dengan tatapan sendu.


"Jim, dia anak Rania yang selama ini dirahasiakan oleh orang tuanya," ujarnya.


Jimmy membalikan badanya, di tatapnya Alek dan Jhon bergantian. "Apa kamu enggak berbohong, lalu dia masih hidup!" teriaknya dengan suara menggema.


"Uncle," kata Jhon.


"Kamu sudah besar," katanya.


Jimmy menganggukan kepalanya, "Apa kamu anaknya?' tanya Jimmy kembali bertanya sambil menatap Shinta.


Alek memapah Jimmy untuk duduk di ruang keluarga, semua terkejut melihat pria yang biasa jarang keluar ruangan itu kini berjalan tanpa bantuan kursi roda.


Shinta segera membuat teh hangat untuk yang lainya, walaupun banyak pelayan tidak membuat wanita itu selalu bergantung pada mereka.


Alek menceritakan semuanya, hingga Jimmy mengepalkan kedua tanganya. Jhon begitu bahagia saat Ayahnya yang dulu pertama membawanya ke tanah air sudah mau berbicara lagi.


"Lihat aku merawatnya sesuai keinginanmu, dia tumbuh dewasa dengan baik. Asal kamu tahu wanita tadi adalah adiknya," jelasnya sambil tersenyum.


"Jean mana?" tanya Jimmy akan anak angkatnya itu.


Semua terdiam, hal itu membuat pria paruh baya itu memicingkan matanya."Jhon mana Adikmu?"

__ADS_1


Jhon diam seribu bahasa saat ini, bukan hanya hatinya yang kaku, tapi seluruh raganya seakan menolak untuk mengatakan kepada Ayahnya jika adiknya sudah tiada.


Alek melihat bos sekaligus sahabatnya itu merasakan hatinya sesak. Pria itu menempuh bahu Jhon seakan katakan saja.


"Jean sudah meninggal, Yah," ucap Jhon.


Jimmy menatap putranya itu tajam, pria itu kini menatap Alek dan Shinta bergantian.


"Ceritakan!" perintah Jimmy.


Jhon menceritakan, tapi tentang adiknya yang mengganggu Aura sama sekali tidak. Pria itu bilang jika Jean kecelakaan dan tidak tertolong lagi. Semua itu ia lakukan karena akan memberikan pelajaran kepada suami Aura dan anak buahnya.


Jhon tidak ingin Ayahnya mengambil alih dendamnya, nyawa harus dibalas dengan nyawa. Namun, itu kini tidak berlaku sejak Aura menyerahkan diri kepada Alek dengan syarat jangan ganggu lagi keluarganya.


Janji itu akan Jhon tepati saat ini, karena bagaimanapun juga pria itu tidak boleh ingkar janji kepada siapa pun.


Pria itu masih berpegang teguh akan prinsipnya, tapi hanya karena wanita yang bernama Aura. Ia bisa merubah prinsipnya yang dulu ia bangun begitu kokoh walau kasat mata.


Alek mendorong kursi roda Jimmy untuk masuk kembali lagi ke biliknya, Kini pria itu menatap Shinta.


"Apa kamu masih mencintai Andreas?" tanya Jhon.


Shinta hanya mengangguk, Jhon tahu jika adik angkatnya itu sangat menyayangi sampi mau menjadi asistennya Andreas.


"Kejar cintanya!" kata Jhon setelah itu berlalu begitu saja.


Semua yang berada di situ terkejut akan apa yang dikatakan oleh pria dingin dan tidak tersentuh itu.


Alek menatap punggung Jhon. selama ini Aura saja belum bertemu dengan bosnya, tapi Jhon bisa mengagumi gadis itu dari kejauhan.


Shinta menatap Alek, sedangkan orang kepercayaan kakaknya itu hanya menaikan bahunya saja saat ini.


Shinta hanya tersenyum menanggapinya, entah kenapa saat diizinkan pulang wanita itu merasakan sebuah kebebasan dalam hidupnya. "Kak, apa kamu tahu saat ini aku begitu merindukan Andreas," ujarnya sambil berjalan meninggalkan Alek begitu saja.

__ADS_1


Tanpa Shinta tahu, Alek mengusap dada bidangnya. Ia baru sadar mencintai dalam diam itu lebih menyakitkan saat ini.


Ditatapnya punggung Shinta sampai gadis itu tidak terlihat karena sudah berbelok ke lorong lain tidak jauh dari kamarnya saat ini.


__ADS_2