
Velicia mendongak menatap bibir Arnold ia perlahan mendekatkan bibir, matanya terpejam saat benda kenyal itu kini menempel di bibirnya. Arnold yang baru terbangun saat istrinya itu sedang menenggelamkan wajahnya di dadanya hanya diam.
Ia perlahan menggerakan bibirnya, dan menyesap semakin dalam, apa lagi saat Cia membalas menyesap bibir itu, hingga Arnold menggigit kecil sampai mulut Cia terbuka. Saat sedang membelitkan lidahnya tiba-tiba terdengar."Hem."
Cia dan Arnold langsung melepaskan pagutannya, Arnold tetap dengan ekspresi datarnya, sedangkan Velicia wajahnya sudah merona karena malu.
Jack dan Merry masuk dengan tatapan yang susah diartikan, Merry langsung memeluk Sahabatnya dan air matanya pun sudah tidak tertahan lagi.
"Apa kamu baik-baik saja, kok kamu jadi kurus," kata Merry sambil teruskan menatap tubuh Cia.
"Ini risikonya," jawab Cia sambil tersenyum menatap sahabatnya.
Arnold kini duduk di sofa diikuti oleh Jack, kedua pria itu hanya diam menatap dua wanita yang heboh sedang bercerita.
"Kita ngopi yuk," ajak Jack membuat Arnold menaikan alisnya satu karena ia dan pria di depannya tidak pernah sedekat ini sampai ngopi bersama.
"Sudah jangan banyak mikir, mereka tidak akan menghiraukan kita," ucap Jack keluar lebih dulu.
Arnold bukannya mengikuti Jack, tetapi pria itu menghampiri Cia yang sedang tertawa karena ocehan Merry.
"Cia, aku keluar dulu. Kamu, sebelum aku datang jangan pergi!" titah Arnold dingin.
"Dasar Kulkas!"seru Merry sambil menatap kesal punggung Arnold.
"Sudah jangan marah, kamu kenapa bisa ke sini. Terus siapa yang jaga kafe?" tanya Cia karena ia tahu dari Jack kalau Merry sibuk buka cabang kafenya.
Merry senyum-senyum dengan wajah merona, melihat itu Cia menjadi curiga. Ia menaikan kedua alisnya seakan bertanya apa yang sudah di sembunyikan darinya.
"Apa?" tanya Merry karena sahabatnya menaikan kedua alisnya.
"Apa yang tidak aku ketahui?" tanya Cia balik.
Merry terkekeh melihat sahabatnya yang mulai curiga kepadanya, lalu ia bilang." Hansen yang menjaganya."
"What? kok bisa?" tanya Cia shock karena ia tahu Merry tidak ingin kembali lagi bersama Hansen.
__ADS_1
Merry mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, kalau Hansen pura-pura tidak mengingatnya itu karena ia ingin melindunginya dari Viona.
Cia mendengar itu hanya bisa menarik napas dalam, lagi-lagi Viona biang kerok dari semua kejadian dirinya dan sahabatnya.
"Apa Kamu menerima apa pun keadaan Hansen yang sekarang?" tanya Cia.
"Iya, aku tidak bisa membohongi hatiku kalau masih begitu mencintainya, apa kamu tahu kami akan menikah satu bulan lagi," ujar Merry.
Cia menutup mulutnya tidak percaya, ia begitu senang mendengarnya. Wanita itu merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Merry sahabatnya.
"Aku senang sekali mendengarnya, tapi maaf aku tidak bisa datang," kata Cia sendu.
"Hai, aku tahu itu. Makanya aku datang sekarang apa lagi Jack membayar tiketku pulang pergi," bisik Merry membuat Cia langsung tergelak.
"Kamu palak jack, enggak apa-apa karena uangnya banyak," kata Cia sambil mengusap air matanya karena tertawa terlalu senang.
Tanpa keduanya sadari di pintu seorang pria diam-diam ikut tersenyum saat melihat istrinya begitu gembira, ia baru menyadari kalau Cia begitu cantik saat tertawa lepas seperti itu.
Cia yang menyadari kedatangan Arnold menatapnya sambil tersenyum dan berkata." Ar, sini."
Arnold yang mau duduk di sofa mengurungkannya, pria itu berjalan menghampiri Merry dan istrinya. Ia duduk di tepi ranjang samping Cia, melihat itu Merry merasa ada yang berbeda dari pria arogan yang pernah mencarinya ke kafe.
"Tidak ada, oh iya kapan kamu tahu Cia ada disini?" tanya Merry menatap Arnold tajam.
"Merry," kata Cia.
"Tidak apa-apa," sahut Arnold sambil mengusap punggung Cia.
"Cih, nggak usah sok romantis gitu," cibir Merry saat melihat wajah Cia merona karena ulah Arnold yang menatapnya begitu hangat.
"Aku dua hari yang lalu baru sampai," jawab Arnold tanpa melihat ke arah Merry.
Merry hanya mengangguk, ia juga bilang kalau Clara mengirimkan salam dan semoga cepat sembuh. Mendengar itu hati Cia menghangat walau sudah tidak ada saudara lagi selain Jack ada asisten dan sahabatnya yang memberi perhatian lebih kepadanya.
"Katakan nanti kalau bertemu, suruh Clara cari kekasih," kata Cia sambil terkekeh karena ia tahu kalau Clara tidak pernah menjalin hubungan dengan pria.
__ADS_1
"Apa Clara bisa jatuh cinta?" tanya Arnold menatap Cia dan Merry bergantian.
"Bisalah, kamu saja yang kaku bisa," ujar Merry sambil menutup mulutnya menahan tawanya.
Arnold menatap tajam kepada Merry , melihat itu Cia mengusap lengan Arnold membuat pria itu mengalihkan tatapannya ke arah istrinya.
"Jangan diambil hati, Merry hanya bercanda," kata Cia.
Mendengar itu Arnold hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, senyum yang selama ini Cia inginkan karena biasanya ia akan melihat saat pria itu bersama Viona.
Ada rasa sakit di hati Cia, saat mengingat bagaimana dulu suaminya terang-terangan mengatakan kalau ia mencintai wanita lain. Arnold yang melihat istrinya melamun mengusap tangannya dan bertanya."Ada apa?"
"Tidak ada, apa kamu ada bertemu dengan pengacaraku?" tanya Cia sambil menaikan kedua alisnya.
Arnold diam, ia tidak ingin menjawab pertanyaan dari istrinya karena ia tahu kemana arah dari maksud wanita yang kini terlihat menatapnya intens itu.
"Ar, kamu baik-baik saja?" tanya Cia yang melihat Arnold hanya diam saja.
"Aku baik," jawabnya sambil tersenyum dipaksakan.
Merry yang melihat kedatangan Jack, begitu bahagia. gadis itu langsung menagih untuk dibawa keliling di kota Berlin. Arnold dan Cia melihat itu hanya bisa membeo sejak kapan Merry menjadi adik Jack.
"Jack, ayo. Kamu harus ajak aku jalan," bujuk Merry sambil bergelayut manja di lengan Jack.
"Jack, ajak saja jalan keliling rumah sakit," goda Cia membuat Merry melotot ke arah Cia, tapi Arnold balas menatap tajam Merry.
Jack yang sudah lelah akhirnya mengikuti apa mau sahabat adiknya itu. Kini keduanya keluar ruang rawat Velicia.
"Cia, kamu istirahat dulu," kata Arnold.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, ia hanya ingin bersama mantan suaminya. Walau ia selama tiga tahun disakiti dan tidak dianggap, tapi rasa cinta itu mampu mengalahkan benci dan dendam dalam hatinya.
Sebesar apa pun Cia ingin melupakan cintanya kepada Arnold, tetapi selalu gagal hingga ia mengikuti kata hatinya. Apa lagi perubahan mantan suaminya itu membuatnya semakin sayang.
Cia sudah mencoba untuk mencintai Andreas, cinta pertamanya saat kecil dulu. Namun, hatinya sama sekali tidak berdesir sedikit pun saat bersama cinta pertamanya.
__ADS_1
Arnold membantu istrinya untuk berbaring di branker, pria itu membetulkan selimut hingga ke dada istrinya dan berkata." Jangan pernah bermimpi pria lain selain aku."
Cia menatap Arnold dan bertanya ."Meskipun cinta pertamaku?"