PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Rindu gadis kecilnya


__ADS_3

Maria sudah mulai tenang, ditatapnya Arnold yang masih belum sadar juga itu. Ada rasa sedih karena anak keduanya belum sadar pasca operasi dan rasa bahagia karena Andreas selamat.


"Tadi Aura telepon jika Cia sempat Kritis juga," kata Setyawan.


Maria menatap mantan suaminya itu dan bertanya."Kapan?"


"Saat Arnold melewati masa kritisnya, Cia juga sama," kata Tuan Besar merasa kalau ikatan batin Arnold dan Cia begitu dekat.


Maria tertegun, ditatapnya suaminya dengan intens."Apa Leon jadi melamar Aura?"


Tuan Besar Setyawan menatap wanita yang sudah melahirkan anak-anaknya itu sambil tersenyum.


"Leon ingin menunggu waktu yang tepat," ujar Tuan Besar.


Maria hanya mengangguk, karena ia tahu jika putrinya itu begitu tidak suka dengan orang kepercayaan suaminya itu.


"Kalau Aura tidak mau ... jangan dipaksa!" kata Maria tegas.


Tuan Besar hanya menganggukkan kepalanya saja, pria itu juga tidak ingin putrinya terpaksa menerima Leon.


Dokter Marsel membuka pintu ruang rawat Arnold, pria itu tersenyum dan langsung mengecek kondisi Arnold. Maria begitu was-was saat perawat sedang memasukan obat lewat tangan Arnold yang dipasang Infus itu.


"Dokter, bagaimana keadaan putra saya?" tanya Maria.


"Kondisinya baik, semoga akan segera sadar," ujar Dokter Marsel.


"Terimakasih Dokter," kata Maria sambil tersenyum.


Setelah dokter pergi wanita paruh baya itu menatap putranya sendu dan berkata."Apa yakin tidak ingin Andreas tahu siapa yang sedang mendonorkan ginjal kepadanya."


"Tidak. Anderas tidak akan tega kepada adiknya, jika sampai ia tahu pasti ia akan merah pada kita." Tuan Besar mengusap wajahnya kasar.


Pria paruh baya itu tahu jika Andreas begitu sayang kepada adik-adiknya. Jika sampai anak sulungnya tahu kalau Arnold yang telah berkorban demi keselamatannya.


Tuan besar Setyawan yang ingin melihat Andreas langsung keluar ruang rawat Arnold, pria itu berjalan menuju ruang sebelah di mana Andras sedang memulihkan kondisinya pasca operasi. Pria paruh baya itu membuka pintu dan tersenyum saat melihat Andreas menatapnya.


"Papa senang kamu baik-baik saja," ujar Tuan besar sambil duduk di dekat brankar Andreas.

__ADS_1


"Pa, kenapa yang mendonorkan ginjalnya tidak ingin aku tahu?" tanya Andreas yang terlihat begitu penasaran.


Tuan besar hanya bisa menarik napas panjang, ia menatap Shinta dan hanya senyum tipis balasan gadis itu.


"Aku harap ini bukan dari keluarga kita," kata Andreas menatap sendu Papanya.


"Kamu ini, Aura sekarang sedang bersama Leon untuk belajar bisnis, sedangkan Arnold menjaga Velicia," ujar Tuan Besar untuk membuang kecurigaan putranya itu.


Andreas mengangguk, karena kalau sampai ini dari keluarganya untuk apa ia hidup jika ada yang menderita karenanya.


Seorang perawat datang membawakan botol Infus, Andreas hanya memejamkan matanya karena sekarang ia begitu merindukan gadis kecilnya itu. Pria itu yakin jika ia begitu mencintainya.


Jika Cia juga sudah mencintainya sejak awal, ia pastikan wanita itu akan menerimanya. Andreas tidak peduli jika wanita yang dicintainya adalah mantan adik iparnya. Apalagi Arnold dan Cia sudah bercerai dengan mudah ia bisa menikah dengannya.


Senyum mengembang saat ia mengingat senyum manis dari wanita itu, ia berharap Arnold selama menjaga Cia tidak membujuknya untuk rujuk.


"Shinta ponselku mana?" tanya Andreas.


"Ada di apartemen, Kak," jawab Shinta merasa heran karena pria itu meminta ponselnya.


"Pa, boleh pinjam handphonenya untuk menghubungi Cia," ujar Andreas.


Andreas hanya menghembuskan napasnya kasar, ia ingin sekali melihat wajah cantik wanita yang kini sudah bertahta di hatinya itu.


*****


Di Berlin, tepatnya di ruang rawat dimana Cia sudah sadar dari komanya. Wanita itu menatap kosong langit-langit kamarnya. Air matanya menetes dari sudut matanya.


Aura yang mendengar isak tangis Cia perlahan beranjak dari duduknya, Leon yang sedang sibuk dengan laptopnya menghentikan pekerjaannya. Pria itu menatap Aura yang berjalan menghampiri Cia yang kini sedang menangis.


"Kakak," kata Aura sambil tersenyum karena wanita itu sudah sadar. 


Leon yang mengerti arti tatapan dari Aura menatapnya sambil mengangguk dan ikut menghampiri wanita yang terlihat lemah itu.


Aura menekan tombol, tidak lama perawat dan dokter yang tidak lain asisten dari dokter James masuk dan langsung memeriksa Cia.


"Pasien sudah stabil, jangan membuatnya stres," ujar dokter muda itu menatap lekat Aura.

__ADS_1


Leon menatap dingin pria itu sambil mengepalkan kedua tangannya dan berkata." Jangan tebar pesona, dasar murahan."


Aura menatap tidak percaya dengan suara bariton di belakangnya, bisa -bisanya papanya ingin ia menikahi pria yang sudah beberapa kali mengatakan kalau dirinya wanita murahan.


Aura tidak ingin emosinya meledak-ledak saat ini karena ada Cia yang harus diutamakan sekarang.


"Kakak sudah baikan," kata Aura sambil duduk di kursi samping brankar Cia.


Velicia tersenyum menatap Aura, diusapnya air mata yang membasahi keningnya, mata wanita itu berbinar saat melihat ada orang kepercayaan mantan mertuanya.


"Tuan Leon, Arnold mana?" tanya Cia dengan senyum mengembang di bibirnya.


Leon menarik napas dalam dan menjawab."Maaf Nona saya ada pekerjaan di sini, sedangkan Tuan Arnold masih berada di tanah air."


Wajah Cia berubah sendu, wanita itu menatap Aura dan Leon bergantian. Air matanya menetes begitu saja, saat mengingat anak kecil yang begitu mirip dengan Arnold. Banyak yang kini hinggap dalam pikirannya.


"Aura, apa kamu percaya jika kakak dulu pernah hamil," kata Cia.


Mata Aura membulat, gadis itu selama ini hanya tahu jika rumah tangga Arnold dan Cia baik-baik saja.


"Lalu mana anak Kakak?" tanya Aura begitu antusias karena akan ada yang memanggilnya aunty.


Cia tersenyum getir, wanita itu menatap Aura dan memejamkan matanya untuk menghalau sesak di dadanya saat ia mengingat bagaimana dulu Arnold menggagahinya begitu kasar hingga ia tidak sadar sampai keguguran. 


"Keguguran," jawab Cia sambil mengusap air matanya.


Aura menutup mulut, gadis itu menggelengkan kepalanya karena ia sama sekali tidak tahu kalau kakak iparnya itu pernah keguguran.


"Apa Mama dan papa tahu, Kak?" tanya Aura.


Cia menggelengkan kepala, jangankan mertuanya. Ia saja tidak tahu jika  sedang hamil, jika tahu pasti akan menolak suaminya untuk menjadikannya pemuas nafsunya saja.


Leon hanya diam, pria itu walaupun sedang memainkan ponselnya. Namun, ia mendengar apa yang sedang kedua wanita itu bicarakan.


Leon tahu karena Tuan besar pernah menyuruhnya untuk menyelidiki Cia dan suaminya, jika keduanya tidak saling menghargai. Rumah tangga yang keduanya jalani hanya semu saja. Saat itu ia ketahuan oleh Clara  jika ia sedang menguntit. 


Cia yang tahu kalau Leon sedang menyelidikinya mengajaknya untuk bertemu dan meminta untuk tidak menceritakan kepada Tuan besar.

__ADS_1


"Aura, apa kamu percaya kalau anak kakak sekarang sudah besar dan mirip dengan Arnold?"


Bersambung ya….


__ADS_2