PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Keputusan Arnold


__ADS_3

Siang harinya Cia keluar naik taksi online, bahkan satu rumah tidak ada yang tahu kalau wanita itu keluar. ia sengaja menunggu semua untuk istirahat siang. Taksi yang ditumpangi oleh Cia kini sudah sampai depan sebuah rumah yang terlihat begitu asri.


Wanita itu melihat seseorang yang begitu dirindukanya sedang duduk santai, Wanita yang tidak lain Merry terlihat begitu terkejut saat melihat sosok yang baru keluar dari taksi itu.


"Cia, kenapa tidak memberitahu kalau mau datang," kata Merry langsung menyambut sahabatnya itu


"Mau buat kejutan," jawab Cia sambil tersenyum.


Merry hanya mencibirkan bibirnya saja, wanita itu merasa ada sesuatu yang akan disampaikan sahabatnya itu. Namun, wanita itu akan menunggu sahabatnya itu mengatakan sendiri.


Cia duduk di kursi yang berada tidak jauh dari sahabatnya itu, wanita itu menatap Merry.


"Ada apa?" tanya Merry.


Cia hanya tersenyum, sahabatnya itu bisa menebak karena tiba-tiba ia datang tanpa memberitahu." Aku mau Arnold menikah lagi!"


"What? gila kamu ya," ucap Merry.


Cia hanya diam, apa yang akan ia lakukan ini demi mendapatkan anak dari wanita lain. Setidaknya Arnold bisa memiliki anak nantinya.


"Kamu tahu aku tidak akan bisa memberikan anak untuk Arnold."


"Iya tapi apa harus sampai Arnold menikah lagi, Cia. Selama ini kalian baik-baik saja."


Cia menarik napas panjang, wanita itu kini menatap sahabatnya itu." Arnold butuh anak, tidak mungkin anak itu dariku. Aku hanya ingin wanita itu tidur bersama Arnold. Karena kalau aku suruh menikah tidak akan mau."


"Terus." Meri menatap sahabatnya itu intens.


"Aku akan adopsi anak itu," ucap Cia.


"Apa ada wanita mau seperti itu, Cia?"


"Aku sudah mendapatkannya, ia sedang butuh dana untuk mengeluarkan orang tuanya dari tuduhan yang tidak dilakukan ibunya."


"Maksudnya?" tanya Merry.


"Ibunya kerja sebagai pembantu, hanya gara-gara anak majikannya jatuh saat sedang main. Ibunya dituduh menganiaya anak majikannya," kata Cia.


Merry mendengar itu menarik napas panjang, ia juga tidak tahu mau mengatakan apa."Apa kamu akan menjebak Arnold?"

__ADS_1


Cia hanya mengangguk, tapi rasanya apa rencana ini akan bisa dan suaminya mau menikahnya."Aku butuh bantuanmu, Merry."


Merry menggelengkan kepalanya, apa yang akan ia lakukan untuk membantu sahabatnya itu."Bagaimana caranya?"


Cia menggelengkan kepalanya, wanita itu belum bisa berpikir jernih, apa lagi Arnold akan marah jika ia membahas akan anak dan saran untuk menikah lagi.


Cia menggelengkan kepalanya, tapi sedetik juga ia tersenyum. Clara pagi tadi mengatakan kalau sedang ada hotel tidak jauh dari kantor. Wanita itu juga mengatakan akan menemuinya lebih dulu karena akan ada yang dibicarakan dengan Cia.


"Cih, apa wanita datar itu mau membantumu?"


Cia melempar kulit kacang kepada sahabatnya itu, entah kenapa wanita itu begitu yakin jika Clara mau membantunya.


Cia melihat jam di tangan kirinya, wanita itu menarik napas panjang, satu jam lagi suaminya akan pulang.


"Merry aku pulang," pamit Cia.


Wanita itu langsung berdiri, melihat sahabatnya itu Merry menatap dengan tatapan heran.


"Cia, lebih baik jangan lakukan itu. Arnold benar-benar tulus padamu.


Mendengar apa kata sahabatnya itu Cia menghentikan langkahnya. Ia menatap Merry."Aku pikirkan lagi."


Merry tersenyum, hingga taksi yang dipesan sahabatnya itu sudah pergi meninggalkan rumahnya.


Wanita itu berpikir jika Arnold menikah lagi, mau tidak mau anaknya akan menjadi ahli waris nanti.


Cia menarik napas dalam, bukan ia tidak sayang dengan suaminya. Wanita itu sudah mengancam, tapi masih juga Arnold tidak mau.


Cia menghentikan taksinya, wanita itu menatap rumah yang begitu sederhana. Perlahan ia keluar dari taksi. Belum sampai ia di pintu, seorang wanita muda keluar dan menatap Cia dengan tersenyum.


"Nona," sapa wanita yang bernama Meli itu.


"Kamu apa kabar?" tanya Cia.


"Baik Nona," jawab gadis berambut panjang itu.


"Meli, kita harus cepat. Malam ini kamu harus tidur dengan suamiku," kata Cia.


Meli terdiam, air matanya berlinang. Gadis itu akhirnya mengangguk karena tidak ada pilihan lain. Tadi pengacara keluarga Arista sudah datang. Ia juga sudah tanda tangan.

__ADS_1


"Baik Nona."


Cia tersenyum, walau hatinya sakit. Namun, ini harus ia lakukan demi suaminya memiliki keturunan. Setelah itu ia pamit karena akan menunggu nanti Meli datang saat suaminya sudah pulang.


Cia bukannya pesan taksi wanita itu pergi ke taman, saat ia duduk merasakan kepalanya begitu pusing, Setelah itu tidak ingat apa-apa lagi.


Cia perlahan membuka matanya, wanita itu melihat sekeliling. Ia menarik napas panjang. Lagi-lagi dirinya dilarikan ke UGD. Saat wanita itu akan duduk, pintu ruang rawatnya terbuka.


Arnold menatap dingin istrinya yang begitu keras kepala itu, Arnold tadi masih berada di kantor. Namun, mendapatkan telepon dari anak buah Leon jika Cia dilarikan ke rumah sakit.


"Maaf," kata Cia.


"Velicia kamu bukan anak kecil yang harus aku ingatkan setiap hari, apa tidak bisa kamu menghubungiku kalau mau keluar, Hah!" seru Arnold.


Cia hanya menunduk, kalau Arnold sudah memanggil nama Velicia itu artinya sedang marah. Wanita itu hanya diam menunduk.


Arnold yang tidak ingin sampai terbawa emosi dan membentak istrinya lagi, pria itu langsung keluar dari ruang rawat.


Velicia melihat itu mengusap air matanya. Wanita itu menatap pintu yang sudah tertutup. Ia akui ini salah, tapi tidak menyangka akan pingsan tadi.


Ia akan meminta maaf, kepada Arnold. Tidak menanggu lama Cia membuka infus yang terpasang di tangannya.


Wanita itu mengambil tas dan ponselnya yang berada di atas nakas, tidak menunggu lama langsung keluar dari ruang rawatnya.


Cia melihat ke lorong rumah sakit tidak ada suaminya, entah kenapa hatinya begitu sedih karena suaminya benar-benar meninggalkannya.


"Semarah itukah kamu, Ar." Cia mengusap air matanya.


Wanita itu berjalan keluar dari rumah sakit, ingin cepat sampai rumah. Cia naik ojek dan tidak lama motor yang ditumpangi Cia langsung jalan.


Hanya butuh lima belas menit Cia sudah sampai depan Vila, dilihatnya mobil suaminya sudah terparkir. Saat Cia akan masuk, wanita itu menghentikan langkahnya.


"Ar, Mama mohon menikahlah lagi. Jika kamu tidak ingin melukai Cia, menikahlah diam-diam." Suara Maria terdengar begitu pilu.


Arnold tidak menjawab, pria itu kini mengemgam tangan wanita yang sudah melahirkannya itu. Sedangkan Cia bisa melihat dengan jelas karena pintu terbuka walau hanya setengahnya saja.


"Mama, Arnold juga menginginkan anak, Namun, itu dari rahim Cia. Walau itu tidak akan terjadi." Arnold memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu.


Maria melepas pelukannya."Menikahlah lagi, tapi jangan sampai Cia tahu."

__ADS_1


Arnold diam, pria itu mengangguk. Hal itu membuat hati Cia sakit, tapi tidak seharusnya ia sakit hati karena itu keinginannya.


Saat Cia akan meninggalkan Vila, lagi-lagi dadanya sesak saat Arnold meminta Mamanya untuk menyiapkan semuanya.


__ADS_2