
Leon tahu karena Tuan besar pernah menyuruhnya untuk menyelidiki Cia dan suaminya. Jika keduanya tidak saling menghargai. Rumah tangga yang keduanya jalani hanya semu saja. Saat itu ia ketahuan oleh Clara jika ia sedang menguntit.
Cia yang tahu kalau Leon sedang menyelidikinya mengajaknya untuk bertemu dan meminta untuk tidak menceritakan kepada Tuan besar.
"Aura, apa kamu percaya kalau anak kakak sekarang sudah besar dan mirip dengan Arnold?" tanya Cia sambil mengusap air matanya.
"Kakak jangan banyak berpikir jauh, yang penting sekarang kakak sehat," kata Aura sambil tersenyum menatap Cia yang sedang tersenyum tipis walau hatinya begitu merindukan anak kecil itu.
Aura memeluk tubuh lemah itu, sedangkan Leon hanya menatap kedua wanita itu yang sedang saling berpelukan. Pria itu beranjak dari duduknya saat ponselnya bergetar, Aura dan Cia hanya saling tatap dan kembali lagi tersenyum untuk menghibur Cia.
Leon yang mendapat pesan dari Tuan Besar jika ia harus secepatnya kembali ke tanah air hanya menarik napas panjang. Pria itu tidak mungkin menyatakan cinta kepada Aura karena ia tidak ada rasa sedikitpun.
Pintu ruang rawat terbuka, Aura keluar dengan pelan-pelan takut kalau Cia terbangun. Wanita itu yang merasa lapar berjalan begitu saja melewati Leon yang sedang menatapnya.
Leon beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti Aura, saat sampai taman pria itu langsung mencekal tangan gadis itu dan menariknya ke arah taman belakang rumah sakit.
"Kakak ini kenapa?" tanya Aura kesal dan menghempaskan tangan Leon yang mencekal tangannya.
Leon tidak bicara, pria itu terlihat gugup dan keringat dingin membasahi keningnya. Baru kali ini ia harus mengungkapkan isi hatinya seorang wanita atas suruhan bosnya.
"Nona," kata Leon menatap mata Aura intens.
Aura menatap tajam orang kepercayaan dari Papanya, gadis itu menarik napas dalam, dan berkata."Apa?"
"Saya ingin Anda menjadi istri saya!" kata Leon langsung membuang tatapannya ke arah lain.
Aura terdiam, gadis itu menggelengkan kepalanya tidak lama ia tergelak sampai keluar air matanya. Leon kini menatap tajam gadis di depannya yang sedang menertawakan dirinya itu. Tanpa aba-aba ia menarik tangan Aura dan langsung membungkam mulut wanita itu dengan bibirnya.
Hening karena di taman samping belum ada orang. Aura yang begitu terkejut hanya bisa diam, saat Leon ******* bibirnya dengan lembut. Saat mulai pasokan oksigennya menipis pria itu melepaskan tautan bibirnya.
Senyum mengembang dari bibir Leon saat melihat bibir Aura yang agak membengkak karena ulahnya. Melihat gadis itu yang masih diam mematung Leon tersenyum dan langsung pergi begitu saja karena ia harus segera ke bandara.
Aura mengerjapkan matanya saat ponsel dalam saku celananya bergetar, gadis itu melihat pesan dari Mamanya yang mengatakan jika Arnold sudah melewati masa kritisnya.
Aura memegang bibirnya, gadis itu wajahnya memerah ada rasa malu dan marah karena pria yang sudah mengambil ciuman pertamanya kabur begitu saja.
__ADS_1
"Dasar pria kaku, bisa-bisanya menciumku dan langsung pergi. Eh, tapi kokok bibirnya begitu lembut," kata Aura lirih sambil tersenyum tipis.
Aura berjalan menuju kantin, senyum tidak luntur dari bibirnya saat mengingat bagaimana pria itu mengatakan kalau ingin menjadikan dirinya istri.
Sampai di kantin Aura langsung memesan makan, karena ia butuh tenaga untuk memikirkan apa yang dikatakan Leon tadi.
Leon yang sekarang sudah di mobil beberapa kali mengusap wajahnya dengan kasar. Masih terbayang saat ia hanya ingin membuat tawa Aura diam. Namun, saat bibirnya menempel ke bibir ranum gadis itu ia merasakan begitu manis walau tidak dibalas lumatannya.
Apa aku sudah gila, sampai melakukan hal tadi. Apa sekarang gadis itu marah dan memakiku.
Leon menggelengkan kepalanya untuk melupakan apa yang sudah ia lakukan tadi. Manis dari bibir Aura tadi, membuatnya selalu terbayang.
Mobil yang dikemudikan anak buahnya sudah sampai di bandara, saat ia akan masuk ponselnya bergetar dilihatnya Tuan besar Setyawan menghubunginya.
"Halo Tuan," kata Leon.
"Kamu di mana?" tanya Tuan Besar.
"Saya di bandara, satu jam lagi akan langsung take of," ujar Leon.
"Leon," kata Tuan Besar karena tidak ada jawaban dari orang kepercayaannya itu.
"Baik Tuan," jawab Leon.
Sambungan langsung terputus, Leon langsung menghubungi anak buahnya untuk balik ke bandara. Pria yang bisa dingin itu kini terlihat begitu gusar karena tidak mungkin akan menghindari Aura terus.
Tidak lama Leon masuk mobil, anak buahnya tidak berani bertanya kenapa bosnya tidak jadi ke tanah air.
"Maaf Bos kita kemana?" tanya salah satu anak buahnya yang bernama Samuel itu.
"Rumah sakit, tapi kita pergi ke toko perhiasan saja dulu," kata Leon.
Samuel hanya mengangguk walau ada rasa ingin bertanya kenapa bosnya tiba-tiba ingin ke toko perhiasan.
"Kamu ikut!" kata Leon datar.
__ADS_1
Kini kedua pria tampan berbadan kekar itu berjalan menuju salah satu toko perhiasan yang berada di kota Berlin.
"Maaf, Tuan mau membeli apa?" tanya salah satu pelayan itu menatap Leon dan Samuel bergantian.
"Cincin," jawab Leon dingin
Pelayan memberikan beberapa pilih cincin berlian kepada Leon. Pria itu mengernyitkan keningnya saat ada banyak cincin di depannya.
"Saya hanya mau satu," kata Leon.
"Silahkan Tuan pilih mana yang Anda suka," ucap pelayan itu.
Leon menatap Samuel, sedangkan pria yang juga memiliki sikap dingin itu hanya menaikan bahunya saja.
"Kamu pilih!" titah Leon membuat Samuel menggelengkan kepalanya.
Leon yang tidak mau lama-lama langsung mengambil satu cincin, ia tidak peduli mana yang disukai oleh Aura nanti. Pria itu kini masuk dalam mobil, keduanya pria itu hanya diam, sedangkan anak buahnya yang satu lagi hanya menatap bosnya sambil menaikan bahunya.
Mobil sudah sampai di rumah sakit Leon turun dan langsung menuju ke ruang rawat Velicia. Pria itu perlahan membuka pintu membuat Aura yang sedang main ponselnya langsung menegang.
Leon sebisa mungkin bersikap biasa saja saat duduk di samping Aura, pria itu kini duduk menghadap gadis yang kini sedang menatapnya.
Saat Aura akan berbicara, Leon langsung ******* kembali bibir gadis di depannya itu, hingga Aura memukul bahunya karena ia sudah mulai sesak napas.
"Lepas ...." Aura menatap tajam pria mesum di depannya sekarang.
"Maaf, bukan aku meninggalkanmu. Namun, cincinnya tertinggal di hotel," ujar Leon.
"Cincin, untuk apa?" tanya Aura yang terlihat bingung.
Leon mengambil sesuatu dari saku celananya dan kemudian ia ingat pernah melihat pria yang melamar wanita sambil berlutut. Walau agak ragu, ia berlutut di depan Aura sambil membuka kotak berwarna biru itu.
Mata Aura melebar melihat cincin yang indah di tangan pria kaku itu.Tanpa kedua pasangan itu sadari Cia tersenyum sambil menatap Leon yang selama ini dingin terlihat begitu romantis walau wajahnya tidak berubah masih sama dengan datarnya.
"Apa Anda mau menjadi istri saya, Nona?"
__ADS_1
bersambung ya...