PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Andreas Sakit


__ADS_3

Cia sudah mencoba untuk mencintai Andreas, cinta pertamanya saat kecil dulu. Namun, hatinya sama sekali tidak berdesir sedikitpun saat bersama cinta pertamanya.


Arnold membantu istrinya untuk berbaring di branker, pria itu membetulkan selimut hingga ke dada istrinya dan berkata." Jangan pernah bermimpi pria lain selain aku."


Cia menatap Arnold dan bertanya ."Meskipun cinta pertamaku?"


Arnold menatap istrinya sebentar, kemudian  ia hanya tersenyum. 


Saat akan pergi, tangannya  dicekal walau tidak kasar.


'Ar, kenapa tidak kamu jawab?" tanya Velicia.


"Aku harus jawab apa, karena  bukan aku orang kamu cintai, Cia!" Arnold memaksakan  untuk tersenyum  saat mengatakannya.


Cia hanya terdiam, kenapa rasanya dadanya sesak saat Arnold mengatakannya itu kepadanya. Wanita itu memejamkan  matanya, sedangkan  Suaminya duduk di sofa sambil mengotak-atik  ponselnya.


Arnold yang merasa  diperhatikan akhirnya menoleh ke arah istrinya dan tersenyum.


"Kenapa belum tidur?"tanya Arnold setelah kini duduk di tepi ranjang.


Air  mata Cia perlahan mengalir membasahi sudut matanya membuat Arnold terkejut.


"Eh, kenapa?" tanya Arnold  sambil mengecup kening Velicia  lembut.


Cia hanya tersenyum tipis, entah kenapa ia begitu senang saat mantan suaminya  itu mengecupnya.


"Jangan banyak berpikir, sekarang istirahatlah," ujar Arnold mengusap  punggung tangan  Cia.


"Kamu enggak  tidur?"tanya Cia dengan membetulkan bantalnya.


Arnold hanya tersenyum dan bertanya."Apa boleh aku tidur di sebelahmu?"


Velicia tersenyum  malu, kemudian  ia mengangguk. Arnold  langsung  naik dan membaringkan tubuhnya di samping  istrinya.


Kecupan  hangat ia berikan dan tangan kekarnya memeluk pinggang ramping itu.


Baru kali ini Cia bisa merasakan nyaman dalam pelukan hangat pria yang selama tiga tahun menjadi  suaminya itu.


Tidak lama keduanya terlelap. Jack dan Merry yang baru datang terkejut melihat Arnold tidur di samping Cia.


"Kenapa setelah bercerai mereka baru bisa saling menghargai," kata Merry sambil menghempaskan di sofa karena merasa lelah.


"Penyesalan itu terakhir," ujar Jack.

__ADS_1


Jack menatap pasangan yang sudah bercerai itu dengan tatapan yang berbeda, pria itu dapat melihat dengan tatapan yang berbeda. Pria itu hanya bisa menarik napas dalam.


"Merry, aku mau kembali ke hotel kamu mau ikut atau tinggal?" tanya Jack.


"Ikut Kak, aku enggak mau jadi obat nyamuk," kata Merry langsung berdiri mengikuti Jack.


Jack hanya tersenyum, melihat adiknya sebentar setelah itu, ia keluar dari ruang rawat Adiknya.


*****


Di Singapore tepatnya di apartemen Louis Kienne Serviced Residences. Andreas yang baru sampai langsung duduk di sofa, selama satu bulan ini ia merasakan sakit di bagian pinggang sampai perut.


Sinta, wanita berumur 23 tahun itu merasa heran karena Andreas selama sebulan lebih ini terlihat begitu lemas. Sebagai seorang asisten ia merasa khawatir karena sudah menganggap pria itu sudah seperti kakaknya sendiri.


"Kita ke rumah sakit ya," kata Shinta yang merasa tidak tega karena  wajah Andreas  sudah begitu pucat.


"Nggak usah, aku hanya kurang istirahat saja, shin," jawab Andreas sambil memejamkan matanya.


Shinta  hanya bisa menarik napas panjang, ia yakin kalau pria yang sudah dianggap sebagai  kakaknya sendiri  itu lelah karena menjaga wanita yang katanya wanita yang mandiri  itu.


Shinta  beranjak  dari duduknya, karena akan  membuatkan minum untuk Andreas.


Gadis itu terkejut saat melihat Andreas berkeringat dingin, dan berkata," Kita harus ke rumah sakit."


Kini keduanya sedang menuju salah satu rumah sakit terdekat dari apartemen. 


"Shinta, kita pulang saja,' kata Andreas dengan suara lemahnya.


"Setelah periksa ya," ucap Shinta.


Andreas hanya bisa pasrah saat ia dinaikkan ke atas brankar, Shinta langsung mendaftarkan Kakaknya. Gadis itu kini menunggu di luar UGD, terlihat wajah cemasnya saat ia jalan mondar-mandir di depan pintu.


Pintu UGD terbuka seorang dokter sekitar umur empat puluhan tersenyum menatapnya, dan bertanya."Apa Anda keluarga pasien?"


"Iya Dok, saya adiknya," jawab Shinta.


"Ada yang mau saya bicarakan, mari ikut ke ruangan saya," ajak Dokter yang bernama Marcel itu.


Shinta berjalan mengikuti dokter itu, kini ia sudah duduk di depan dokter dan bertanya," Bagaimana keadaan Kakak saya, Dok?"


Marcel tersenyum, setelah itu terdengar pria itu menarik napas panjang dan berkata."Ginjal sebelah kanan kakak Anda sudah tidak bisa berfungsi dengan baik."


Deg, Shinta menutup mulutnya. Air matanya mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya. Dokter Marcel membiarkan gadis di depannya itu menenangkan diri dengan menyodorkan air mineral kepada Shinta.

__ADS_1


"sebaiknya bagaimana, Dok?" tanya Shinta.


"Secepatnya harus mendapatkan donor ginjal, lebih cepat kalau keluarganya ikut periksa, sambil menunggu ginjal yang cocok untuk Kakak Anda," ujar Dokter itu.


"Baik Dok saya akan menghubungi keluarganya," kata Shinta lalu pamit untuk mengurus kepindahan Andreas ke ruang rawat.


Setelah selesai, Shinta masuk ke ruangan Andreas. Sebisa mungkin ia menahan agar tidak menangis. Ia belum siap untuk memberi tahu akan hasil pemeriksaan tadi.


"Aku hanya kecapean saja 'kan, Shin!" seru Andreas kesal kepada asistennya itu.


Shinta hanya tersenyum, gadis itu menarik kursi dan duduk di samping brankar Andreas." Kakak akan dirawat sementara di sini."


"Hah, kau ini bagaimana, besok kita haru latihan dan lusa konsernya!" sentak Andreas tidak terima.


"Kak, Shinta akan mengundurnya dan mereka pasti bisa mengerti," ujar Shinta berharap Andreas akan menurut.


"Aku minum vitamin saja besok sudah baikan!" kata Andreas terlihat raut kesal di wajahnya.


Shinta hanya menarik napas dalam, ia akan menghubungi tuan besar nanti saat Andreas tertidur. Ditatapnya pria itu masih membuang mukanya  tidak ingin menatapnya.


"Kak, kita lihat besok apa kata Dokter!" Shinta sudah mulai tegas itu artinya ia tidak main-main dengan kata-katanya.


Andreas hanya diam saja, ia sekarang memikirkan gadis kecilnya. Banyak pertanyaan yang timbul apakah ia juga kini sudah mencintai Velicia karena ada rasa rindu ingin bertemu.


Shinta menatap pria yang sekarang senyum-senyum sendiri itu, ia beranjak dari sofa dan berjalan menghampiri Andreas.


"Kakak amankan?" tanya Shinta dengan tatapan yang serius.


Andreas menatap  asistennya itu yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri dan berkata."Kamu pikir aku gila apa."


"Aku nggak bilang gitu," ucap Shinta dengan wajah kesal.


Andreas kembali lagi diam, ditatapnya langit-langit kamar rawatnya, pria itu menarik napas dalam. Ia memikirkan gadis kecilnya yang kini bersama Arnold. Harapannya Velicia tidak akan rujuk lagi karena ia melihat kalau adiknya itu sekarang mencintai mantan istrinya.


"Shinta kapan kita pulang ke Jerman?" tanya Andreas.


Shinta hanya menarik napas panjang dan menjawab."Lihat kondisi Kakak beberapa hari ini duku."


"Aku baik-baik saja, cuma aku sering lelah dan pinggang sering sakit," jawab Andreas.


Shinta mendengar itu menahan air matanya supaya tidak keluar di depan Andreas, tetapi Andreas bukan pria bodoh, ia bisa melihat perubahan di mimik wajah gadis yang kini sedang menundukan kepalanya itu.


 

__ADS_1


Melihat Shinta yang mencurigakan Andreas bertanya."Apa ada yang kamu sembunyikan, Shin?"


__ADS_2