
Cia menatap Arnold, andai boleh memilih ia ingin bersama mantan suaminya ini dan membina rumah tangga yang normal. Namun, ia sadar tidak akan bisa memberikan keturunan kepada suaminya kelak.
"Kenapa melamun?" tanya Arnold.
"Ar, apa yang aku rasakan mungkin aku terlalu kekanak-kanakan karena cintaku padamu tidak akan pernah terbalas," ujar Cia.
"Maksudnya siapa?" tanya Arnold.
"Sebesar apa pun aku mencintai kamu. Namun, rasanya tidak mungkin kita bisa bersatu lagi," kata Cia sambil menunduk.
"Kenapa dan alasannya apa?" tanya Arnold.
Cia menatap wajah pria yang begitu dicintainya itu. Walau sudah kesekian kalinya ia disakiti. Namun, seakan hatinya dibutakan akan cinta.
"Kenapa diam?" tanya Arnold menatap netra indah istrinya.
"Ar, apa tidak bisa rujuk." Cia tidak peduli jika ia dikatakan pengemis cinta.
"Tidak," jawab Arnold singkat.
"Kenapa?" tanya Cia dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.
"Jangan menangis, sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa rujuk, Sayang." Arnold mengecup kening Cia.
"Apa kamu tidak mencintaiku lagi, Ar?" tanya Cia hatinya semakin hancur saat ini padahal ia sudah melupakan urat maunya.
"Kamu ingin tahu, "ucap Arnold menggenggam tangan Cia dan mengecupnya beberapa kali.
Cia sudah tidak sabar lagi untuk mendengar apa alasan suaminya tidak mau rujuk lagi dengannya dan menjawab singkat."Iya."
Arnold menarik napas dan berkata." Kita masih sah suami istri."
Mata Cia membola karena terkejut, gadis itu menggelengkan kepalanya karena ia sudah memberikan berkas kepada pengacara keluarga Arista.
"Kamu bohong!" seru Cia.
"Sayang, kalau kamu tidak percaya hubungi pengacaramu!" titah Arnold memberikan ponselnya.
Tanpa ragu Cia menghubungi pak Romy pengacara keluarga Arista.
"Halo Tuan," kata suara yang tidak asing bagi Cia.
"Pak, saya Velicia. Apa Bapak sudah memberikan surat cerai saya kepada Arnold?" tanya Cia.
Hening tidak ada yang berbicara, tidak lama Pak Romy berkata,." Saya sudah memberikannya. Namun, Tuan Arnold tidak ingin menandatanganinya."
Cia langsung menatap Arnold dan mematikan ponselnya. Wanita itu begitu bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini.
Ada rasa senang, tapi merasa di bohongi oleh Arnold.
__ADS_1
"Kenapa kamu lakukan ini, Ar?" tanya Cia.
"Sayang, dengar aku. Aku sangat mencintaimu. Namun, saat aku tahu jika pria yang kamu cintai sebenarnya Kakakku rasanya aku mundur jika itu membuatmu bahagia.," ujar Arnold.
Cia terdiam ia mencoba mencerna apa yang dikatakan suaminya.
"Dulu aku mencintainya, sekarang aku sadar itu hanya cintai anak ingusan yang akan rindu kasih sayang dari orang tuanya," ujar Cia.
"Apa, itu artinya kamu tidak marah," kata Arnold menipis jarak keduanya.
"Tidak, " jawab Cia.
Mendengar apa yang dikatakan istrinya, Arnold langsung menyesap bibir ranum yang begitu ia rindukan.
Sentuhan Arnold begitu lembut, membuat ia Cia ikut hanyut dalam pelukan suaminya.
"Apa yang lain tahu jika kita masih suami istri?" tanya Cia setelah panutan bibir keduanya terlepas.
"Mama yang tahu," jawab Arnold santai.
Cia yang gemas langsung mencubit perut Arnold membuat pria itu memekik kesakitan.
Cia yang melihat itu panik karena ia hanya mencubit pelan.
"Ar, kamu kenapa?" tanya Cia.
Cia langsung memanggil Perawat untuk minta pertolongan dengan menekan tombol.
Dua orang perawat datang dan mengangkat tubuh Arnold ke atas brankar.
Seorang dokter memeriksa, tidak lama Cia menjelaskan jika bercanda dengan suaminya dan hanya mencubit perutnya di bagian kanan saja.
Dokter segera memeriksa, Cia menutup mulutnya tidak percaya jika perut suaminya luka walau sudah tidak mengeluarkan darah.
"Ini apa Dokter?" tanya Cia .
Dokter langsung membuka perban dan hanya bisa menarik napas dalam. Luka operasi Arnold infeksi hingga bernanah
Dokter segera meminta perawat untuk memindahkan pasien ke ruang rawat lain. Namun, Cia keberatan.
Akhirnya Arnodl dibaringkan, Dokter mulai mengobati luka Arnold.
Setelah tiga puluh menit, Dokter selesai.
"Dokter itu luka apa?" tanya Cia.
"Suami Anda baru selesai mendonorkan ginjal. Karena waktu saya periksa hanya ada satu. Dilihatnya dari lukanya ini baru mendonorkan.
Cia terkejut, karena suaminya tidak memiliki riwayat ginjal. Wanita itu merasa ada yang ditutupi oleh Suaminya.
__ADS_1
Cia berharap itu bukan Viona, tidak lama pintu terbuka. Leon menatap Cia cemas.
"Ada apa?" tanya Cia.
"Kakak kenapa?" tanya Aura.
Leon menjelaskan kepada Cia kalau harus segera keluar dari rumah sakit ini. Dan kita akan ke tanah air langsung.
"Arnold bagaimana?" tanya Cia.
Dua orang perawat membantu membawa Arnold semua sudah disiapkan oleh Samuel.
"Aura kamu hutang penjelasan kepada kakak," kata Cia.
Aura hanya diam, gadis itu berjanji kepada Leon kalau ia akan baik-baik saja.
Kini mobil sudah sampai di bandara. Tanpa menunggu lama semuanya masuk dalam pesawat.
Selama dalam pesawat semaunya hanya diam. Seakan ada hatinya yang tertinggal di sana.
Cia menatap Leon dan Aura, di belakangnya ada dua pria yang begitu siaga.
Setelah menempuh perjalan yang begitu lama rombongan Cia dan Arnold langsung dilarikan ke rumah sakit. Dokter Herman yang sudah dihubungi oleh dokter James sudah menunggu pasiennya itu.
Arnold dan Cia lagu-lagi harus satu kamar. Dokter membiarkan keduanya tidak berpisah, Setelah satu jam Arnold membuka matanya. pertama yang dilihat adalah wajah istrinya yang tersenyum kepadanya.
"Kamu akhirnya sadar, maafkan aku ya," kata Cia merasa begitu bersalah karena dirinya suaminya pingsan. Walau dokter sudah mengatakan jika itu karena infeksi.
Aura dan Leon masuk, Cia menatap Wajah Aura yang sudah tidak seburuk kemarin. Keduanya saling berpelukan.
"Kak coba lihat siapa yang datang," kata Aura.
Cia melihat ke arah pintu, wanita itu menutup mulutnya tidak percaya karena Clara, Merry dan Hansen ada di sana.
Arnold juga merasa bingung dan hanya bisa menatap Leon. Pria itu hanya mengangguk kalau mereka sekarang sudah berada di kota Ternate.
"Tuan, bos orang yang kita siksa kemarin akan balas dendam, jika kita masih bertahan di negara orang kita akan kalah," ujar Leon.
"Bagaimana Mama dan Andreas?" tanya Arnold.
"Mereka di markas begitu juga Tuan besar sampai semau aman, hari ini kita akan pindah karena semua peralatan untuk Nona Cia dan yang lainnya sudah siap.
Nanti mereka akan bertukar baju," kata Leon sengaja mengajak Clara dan Merry untuk ikut kerja sama. Sedangkan Leon tetap ikut. Hanya Hansen harus mengantuk kursi rodanya karena yang sekarang akan dipakai Arnold.
Setelah lima belas menit Cia dan Aura keluar mendorong Arnold sehingga ketiganya bisa kelabui tiga pria yang kini sedang memperhatikan ruangan Cia.
Arnold merasa dadanya berdetak, walau ia dan tiga orang itu sudah agak jauh, Leon yang sudah menunggu di mobil membantu Arnold.
Leon yang melihat tiga orang pria itu memperhatikan sekeliling menunduk kepalanya supaya tidak kelihatan.
__ADS_1