PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Masih Sah


__ADS_3

Cia menatap Arnold, andai boleh memilih ia ingin bersama mantan suaminya ini dan membina rumah tangga yang normal. Namun, ia sadar tidak akan bisa memberikan keturunan kepada suaminya kelak.


"Kenapa melamun?" tanya Arnold.


"Ar, apa yang aku rasakan mungkin aku terlalu kekanak-kanakan karena cintaku padamu tidak akan pernah terbalas," ujar Cia.


"Maksudnya siapa?" tanya Arnold.


"Sebesar apa pun aku mencintai kamu. Namun, rasanya tidak mungkin kita bisa bersatu lagi," kata Cia sambil menunduk.


"Kenapa dan alasannya apa?" tanya Arnold.


Cia menatap wajah pria yang begitu dicintainya itu. Walau sudah kesekian kalinya ia disakiti. Namun, seakan hatinya dibutakan akan cinta.


"Kenapa diam?" tanya Arnold menatap netra indah istrinya.


"Ar, apa tidak bisa rujuk." Cia tidak peduli jika ia dikatakan pengemis cinta.


"Tidak," jawab Arnold  singkat.


"Kenapa?" tanya Cia dengan air mata  yang sudah  membasahi kedua pipinya. 


"Jangan menangis, sampai kapanpun kita tidak akan pernah  bisa rujuk, Sayang." Arnold mengecup kening Cia.


"Apa kamu tidak mencintaiku lagi, Ar?" tanya Cia hatinya semakin hancur saat ini padahal  ia sudah melupakan urat maunya.


"Kamu ingin tahu, "ucap Arnold menggenggam tangan Cia dan mengecupnya  beberapa  kali.


 Cia sudah  tidak sabar  lagi untuk mendengar apa alasan suaminya tidak mau rujuk lagi dengannya dan menjawab  singkat."Iya."


Arnold menarik napas dan berkata." Kita masih sah suami istri." 


Mata Cia membola karena terkejut, gadis itu menggelengkan kepalanya karena ia sudah  memberikan  berkas kepada pengacara keluarga Arista.


"Kamu bohong!"  seru Cia.


"Sayang, kalau kamu tidak percaya hubungi pengacaramu!" titah Arnold  memberikan ponselnya.


Tanpa ragu Cia menghubungi  pak Romy pengacara keluarga  Arista.


"Halo Tuan," kata suara yang tidak asing bagi Cia.


"Pak, saya Velicia. Apa Bapak sudah memberikan  surat cerai saya kepada Arnold?" tanya Cia.


Hening tidak ada yang berbicara, tidak lama Pak Romy berkata,." Saya sudah  memberikannya. Namun, Tuan Arnold  tidak ingin menandatanganinya."


Cia langsung menatap Arnold dan mematikan ponselnya. Wanita itu begitu bingung dengan apa yang ia rasakan saat  ini.


Ada rasa senang, tapi merasa di bohongi oleh Arnold.

__ADS_1


"Kenapa kamu lakukan  ini, Ar?" tanya Cia.


"Sayang, dengar  aku. Aku sangat  mencintaimu. Namun, saat aku  tahu jika pria yang kamu cintai sebenarnya  Kakakku rasanya aku mundur jika itu membuatmu bahagia.," ujar Arnold.


Cia terdiam ia mencoba mencerna apa yang dikatakan suaminya.


"Dulu aku mencintainya, sekarang aku sadar itu hanya cintai anak ingusan yang akan rindu kasih sayang dari orang tuanya," ujar Cia.


"Apa, itu artinya kamu tidak marah," kata Arnold menipis jarak keduanya.


"Tidak, " jawab Cia.


Mendengar apa  yang dikatakan istrinya, Arnold langsung menyesap bibir ranum yang begitu ia rindukan.


Sentuhan Arnold begitu  lembut, membuat ia Cia ikut hanyut dalam pelukan  suaminya.


"Apa yang lain tahu jika kita masih suami istri?" tanya Cia setelah panutan  bibir keduanya terlepas.


"Mama yang tahu," jawab Arnold  santai.


Cia yang gemas langsung mencubit perut Arnold membuat pria itu memekik kesakitan.


Cia yang melihat  itu panik karena ia hanya mencubit pelan.


"Ar, kamu kenapa?" tanya Cia.


Cia langsung  memanggil Perawat untuk minta pertolongan  dengan menekan tombol.


Dua orang perawat  datang dan mengangkat  tubuh Arnold ke atas brankar.


Seorang dokter memeriksa, tidak lama Cia menjelaskan  jika bercanda dengan suaminya dan hanya mencubit perutnya  di bagian kanan  saja.


Dokter segera memeriksa, Cia menutup mulutnya tidak percaya jika perut suaminya luka walau sudah tidak mengeluarkan darah.


"Ini apa Dokter?" tanya Cia .


Dokter langsung membuka perban dan hanya bisa menarik napas dalam. Luka operasi  Arnold infeksi hingga bernanah


Dokter segera meminta  perawat untuk memindahkan pasien ke ruang rawat lain. Namun, Cia keberatan.


Akhirnya Arnodl dibaringkan, Dokter  mulai mengobati luka Arnold.


Setelah tiga puluh menit, Dokter selesai. 


"Dokter itu luka apa?" tanya Cia.


"Suami Anda baru selesai mendonorkan ginjal. Karena waktu saya periksa hanya ada satu. Dilihatnya dari lukanya ini baru mendonorkan.


Cia terkejut, karena suaminya tidak memiliki riwayat ginjal. Wanita itu merasa ada yang ditutupi oleh Suaminya. 

__ADS_1


Cia berharap itu bukan  Viona, tidak lama pintu terbuka. Leon menatap Cia cemas.


"Ada apa?" tanya Cia.


"Kakak kenapa?" tanya Aura.


Leon menjelaskan kepada Cia kalau harus segera keluar dari rumah sakit ini. Dan kita akan ke tanah air langsung.


"Arnold bagaimana?" tanya Cia.


Dua orang  perawat  membantu membawa Arnold semua sudah disiapkan oleh Samuel.


"Aura kamu hutang penjelasan kepada  kakak," kata Cia.


Aura hanya diam, gadis  itu berjanji kepada Leon kalau ia akan baik-baik saja.


Kini mobil sudah sampai di bandara. Tanpa menunggu lama semuanya masuk  dalam pesawat.


Selama dalam pesawat semaunya  hanya diam. Seakan ada hatinya yang tertinggal di sana.


Cia menatap Leon dan Aura, di belakangnya ada dua pria yang begitu siaga.


Setelah menempuh perjalan  yang begitu lama rombongan Cia dan Arnold langsung dilarikan ke rumah sakit. Dokter Herman yang sudah dihubungi oleh dokter  James sudah menunggu pasiennya itu.


Arnold dan Cia  lagu-lagi harus satu kamar. Dokter membiarkan keduanya tidak berpisah, Setelah satu jam Arnold membuka matanya. pertama yang dilihat adalah wajah istrinya yang tersenyum kepadanya.


"Kamu akhirnya sadar, maafkan aku ya," kata Cia merasa begitu bersalah karena dirinya suaminya pingsan. Walau dokter sudah mengatakan jika itu karena infeksi.


Aura dan Leon masuk, Cia menatap Wajah Aura yang sudah tidak seburuk kemarin. Keduanya saling berpelukan. 


"Kak coba lihat siapa yang datang," kata Aura.


Cia melihat ke arah pintu, wanita itu menutup mulutnya tidak percaya karena Clara, Merry dan Hansen ada di sana.


Arnold juga merasa bingung dan hanya bisa menatap Leon. Pria itu hanya mengangguk kalau mereka sekarang sudah berada di kota Ternate.


"Tuan, bos orang yang kita siksa kemarin akan balas dendam, jika kita masih bertahan di negara orang kita akan kalah," ujar Leon.


"Bagaimana Mama dan Andreas?" tanya Arnold.


"Mereka di markas begitu juga Tuan besar sampai semau aman, hari ini kita akan pindah karena semua peralatan untuk Nona Cia dan yang lainnya sudah siap.


Nanti mereka akan bertukar baju," kata Leon sengaja mengajak Clara dan Merry untuk ikut kerja sama. Sedangkan Leon tetap ikut. Hanya Hansen harus mengantuk kursi rodanya karena yang sekarang akan dipakai Arnold.


Setelah lima belas menit Cia dan Aura keluar mendorong Arnold sehingga ketiganya bisa kelabui tiga pria yang kini sedang memperhatikan ruangan Cia.


Arnold merasa dadanya berdetak, walau ia dan tiga orang itu sudah agak jauh, Leon yang sudah menunggu di mobil membantu Arnold.


Leon yang melihat tiga orang pria itu memperhatikan sekeliling menunduk kepalanya supaya tidak kelihatan.

__ADS_1


__ADS_2