
Selly yang sedang memperhatikan pintu ruang dokter Herman. Tiba-tiba ponsel berdering. Suaminya menghubunginya jika tiga puluh menit lagi akan sampai Vila.
Selly menatap pintu itu yang masih tertutup rapat, wanita itu tidak ada pilihan lain. Akhirnya beranjak dari duduknya.
"Sekarang aku tidak bisa membuktikan apa-apa. Namun, aku yakin suatu saat akan tahu apa yang kamu sembunyikan Cia!"
Selly segera keluar dari rumah sakit, wanita itu berjalan ke arah depan dan saat taksi melintas langsung menghentikannya.
Wanita itu berharap suaminya belum sampai rumah, karena tidak ingin Jack khawatir akan dirinya. Setelah dua puluh menit Selly sampai dan segera masuk.
"Aura apa Jack sudah sampai?"
"Belum, kakak dari mana?"
"Dari jalan-jalan sekitar Villa." Selly segera ke kamar dan membersihkan diri.
Saat wanita itu keluar dari kamar mandi, bersamaan pintu kamar terbuka. Jack menatap istrinya.
"Sayang kamu sudah pulang?"
"Dari mana?" tanya Jack.
Selly menatap suaminya, ia berharap tidak ketahuan."Tadi aku jalan dekat Vila. Apa besok pagi kamu mau menemaniku?"
"Tentu, tapi kenapa kamu mandi lagi?"
Selly terkekeh, wanita itu kini bergelayut manja di lengan Jack."Aku tadi keluar."
"Kemana?"
"Mengikuti Veli."
Jack menatap wajah sang istri."Kenapa kamu senekat itu, Hem?"
"Sayang, sejauh ini Veli sudah berjuang untuk sembuh. Apa kamu merasa ada yang disembunyikan anak itu?" tanya Selly.
Jack tidak menyangka jika istrinya begitu khawatir dengan Cia, pria itu memeluk tubuh ramping sang istri.
"Apa Cia sudah kembali?" tanya Jack.
"Sepertinya belum, tadi aku pulang lebih dulu karena kamu mau pulang."
Jack terkekeh mendengar alasan istrinya itu, Pria itu mengajak istrinya untuk berbaring, apa lagi hujan sudah mulai turun membasahi bumi. Tidak lama keduanya kembali terlelap.
****
Di salah satu kamar lain, Aura menatap tetesan hujan dari balkon kamarnya. Wanita itu mengusap perutnya yang belum terlalu besar. Ia ingat apa kata Sam jika Clara menikah dengan Jhon karena ingin rumah tangganya dan Leon bahagia.
Aura berpikir jika Clara juga mencintai suaminya, hingga rela berkorban sampai pindah ke Berlin. Wanita itu mengusap air matanya, karena dirinya Leon harus berpisah dengan Clara. Wanita itu begitu besar pengorbanannya.
"Sayang." Leon menghampiri istrinya.
"Angin kencang sebaiknya duduk di dalam saja," ajak Leon.
"Kak," panggil Aura.
__ADS_1
"Hem." Leon mengusap pipi istrinya.
"Apa kamu masih mencintai Clara?" tanya Aura.
Leon mendengar apa kata Aura menautkan kedua alisnya."Kenapa kamu tanyakan itu, Sayang. Kamu istriku kenapa aku harus mencintai wanita lain, Hem?"
"Kak, aku sudah tahu alasan Clara mau menikah dengan Jhon." Aura menatap wajah tampan suaminya itu.
"Lalu, apa hubungannya dengan rumah tangga kita. Aura, apa pun alasan Clara menikah dengan Jhon. Itu tidak akan mempengaruhi rumah tangga kita, Sayang."
Aura mengangguk, wanita itu paham. Sejauh ini Leon mencoba membahagiakannya. Bahkan begitu posesif semenjak dirinya hamil.
"Maafkan aku," ucap Aura.
Leon tersenyum. Pria itu sudah lama tahu kenapa Clara rela menikah dengan Jhon. Pria yang terkenal kejam itu yang minta kepada Arnold dan Cia untuk menikah dengan Clara.
Awalnya Cia tidak setuju, tapi Clara menerimanya. Sampai sekarang juga Leon tidak tahu di mana dan bagaimana kabar Clara.
"Kak, aku kasihan dengan Cia dan Arnold," ucap Aura.
"Kenapa?"
"Cia sepertinya tertekan karena aku datang saat hamil, apa lagi dia tidak bisa lagi memiliki anak," ucap Aura.
"Sayang, jangan suka mengurusi rumah tangga orang lain. Meskipun itu kakakmu sendiri. Apa kamu tahu Arnold dari awal tahu resiko apa yang sudah diambilnya."
Aura mengusap air matanya, ia tahu pasti Arnold juga menginginkan anak. Namun, Kakaknya itu pasti harus pura-pura baik-baik saja saat ini. Semua itu untuk menjaga hati kakak iparnya itu.
Leon mengajak istrinya untuk keluar, ia tidak ingin istrinya sampai bosan karena asik di kamar terus.
Pasang suami istri itu berjalan beriringan menuruni tangga. Sedangkan di ruang keluarga ada Maria dan Andreas.
Maria hanya tersenyum, wanita itu berharap Leon sabar menghadapi putri manjanya itu.
"Mau kemana?" tanya Maria.
"Tidak ada , Kak Leon takut Aura bosan di kamar terus." Aura menatap suaminya itu sambil malu-malu.
Leon tersenyum tipis, menatap istrinya yang begitu mengemaskan itu. Sedangkan Maria terkekeh.
"Kamu itu hamil, bukan sakit," sahut Arnold yang baru datang bersama Cia.
Aura yang ingin membalas, apa kata Kakaknya itu langsung diam. Saat melihat Cia berjalan dibelakang Arnold.
Begitu juga dengan Andreas, pria itu akan membela Aura tidak jadi karena mereka begitu menjaga Velicia.
"Sayang, dari mana?" tanya Maria.
"Habis jalan," jawab Cia sambil tersenyum menatap mertuanya itu.
"Jack mana?"
"Tumben, apa kamu kangen padaku. Namun, aku sudah ada istri." Jack keluar dari kamar tamu bersama dengan Selly.
Arnold mendengar apa kata Jack, hanya menatap malas. Sedangkan Cia Selly langsung menatap Velicia. Adik iparnya itu terlihat begitu pucat.
__ADS_1
Jujur ingin rasanya ia membuka berwarna putih itu. Namun, sebisa mungkin ia mengendalikan diri.
Jack yang melihat istrinya selalu menatap Cia, pria itu menggenggam tangan Selly." Kalau kamu memperhatikannya terus, lama -lama Cia akan tahu kalau kamu mengikutinya."
Selly langsung menatap suaminya." Apa kamu tidak melihat wajahnya begitu pucat, walaupun sudah mengenakan make up."
Jack menarik napas panjang, pria itu harus berbicara dengan Arnold. Karena hanya iparnya itu yang bisa mengorek keterangan dari dokter Herman.
"Ar, bisa kita bicara sebentar?" tanya Jack.
"Ada apa?" tanya Arnold karena tidak ingin meninggalkan istrinya.
Jack tidak menjawab, pria itu beranjak dari duduknya. Ia keluar dan segera menuju taman.
Cia yang melihat kakaknya itu keluar, menatap suaminya. Namun, Arnold mengelengkan kepalanya." Sayang aku mau di sini denganmu."
"Ar, kasihan Jack pasti menunggumu," bujuk Cia.
Arnold mendengus, mau tak mau pria itu segera mengikuti Jack keluar.
Arnold tidak habis pikir, perasaan tidak ada kendala dengan kerjasamanya selama ini.
Arnold sampai di taman, ia melihat Jack sedang berdiri dengan kedua tangannya masuk dalam saku celana.
Jack menatap kolam ikan itu, di mana tempat Veli sering menghabiskan waktunya selama ini dengan membaca novel-novelnya.
Arnold memilih duduk di bangku, ia menatap hamparan bunga yang baru bermekaran. Salah satunya bunga yang baru dirawat oleh istrinya yaitu bunga Lily warna putih.
"Apa kamu tidak merasa ada yang janggal?" Jack kini membalikkan tubuhnya.
Arnold menatap Jack, pria itu mengusap wajahnya dengan kasar." Kamu pikir aku tidak tahu!"
Arnold menunduk, dadanya sesak . Hatinya sakit jika mengingat apa yang kini dirasakan oleh istrinya.
Jack dan Arnold saling diam."Apa kamu sudah bicara dengan dokter Herman?"
"Apa yang bisa kita lakukan, Cia melarang pria tua itu untuk menceritakan kondisinya sekarang padaku. Kamu tahu Jack, aku seperti orang lain untuk istriku sendiri sekarang."
Jack duduk di samping Arnold, pria itu mengusap punggung adik iparnya itu.
"Apa kamu tidak bisa membujuknya?"
Arnold menggelengkan kepalanya, ia begitu takut untuk kehilangan wanita yang begitu dicintainya itu.
"Apa Cia mengatakan sesuatu padamu, Jack?" Arnold kini menoleh ke arah pria di sampingnya.
"Tidak."
Arnol menatap ke arah depan,ia menarik napas panjang. Tanpa kedua pria itu sadari. Sedari tadi apa yang sedang Arnold dan Jack bicarakan didengar oleh sosok yang kini sedang menahan tangisnya.
Wanita itu itu Cia, ia sengaja membawa kopi untuk kedua pria yang begitu disayanginya itu. Namun, saat ia akan mendekat. Langsung menghentikan langkahnya.
Air matanya menetes membasahi kedua pipinya, ini yang membuatnya tidak suka jika ada yang tahu apa sebenarnya yang terjadi kepadanya.
Cia segera kembali lagi ke Vila. Wanita itu meletakkan kopi di atas meja makan. Hal itu membuat pelayan merasa heran. " Nyonya, apa Anda tidak apa-apa?"
__ADS_1
Cia bukan menjawab, ia hanya mengangkat tangan kalau jangan ada yang bertanya lagi.
Sampai kamar, Cia langsung menutup pintu. Wanita itu tidak lupa menguncinya."Apa yang harus aku lakukan, apa aku jujur saja kepada Arnold?"