
Cia menatap pria itu.
"Tuan Mengenal Ayah saya?" tanya Cia.
"Ayahmu baru pulang dari Berlin, waktu saya dengar itu rasanya tidak percaya, Nak. Kamu tahu sebelumnya kami berencana akan menjodohkan anak-anak kami." Tuan Jimmy menatap sendu Cia.
"Papi. " Suara Nathan lembut, tapi terdengar datar.
"Ya... Papi tahu itu hanya masa lalu bukan, karena kita sekarang hidup untuk masa depan," ujar Tuan Jimmy.
Cia hanya tersenyum tipis, jujur ia tidak mengingat nama-nama rekan bisnis Papanya. Ia masih terlalu kecil saat itu.
Arnold sedari tadi diam, tapi tangannya sudah mengepal. Bagaimana tidak, istrinya saat ini begitu cantik dan semua menatap kepada Cia.
Cia memicingkan matanya saat melihat suaminya terlihat dingin menatap Tuan Jhon. Wanita itu hanya bisa menarik napas panjang. Sedangkan Shinta dan suaminya kini sudah memakai baju santai.
Clara kini mengobrol dengan Cia, Keduanya itu terlihat begitu serius.
"Clara, apa kamu baik-baik saja di sana?" tanya Cia.
"Nona tenang saja, saya akan selalu baik-baik saja."
Cia hanya mengangguk, bukan wanita itu tidak percaya. Namun, semua mendadak dari pernikahan dan lainnya.
Harapan Cia, Clara bahagia. Wanita itu menatap Jhon yang sedang mengobrol serius dengan Leon.
Malam kian larut, Baik Jhon dan keluarganya pamit. Sedangkan kedua mempelai juga pamit untuk pulang di kediaman Setyawan. Kini tinggal Cia dan Selly, Sedangkan Jack , Leon dan Arnold entah pergi kemana.
Aura berjalan mendekati mamanya, Lalu wanita itu bertanya, "Bagaimana, Mam?"
"Bagaimana apanya, Nak?" tanya Maria.
"Anak Mama sudah menikah semua, sekarang beban mama sudah lepas," kata Aura.
Maria menarik napas panjang, wanita itu menatap putrinya itu."Kamu itu mana ada anak jadi beban, tapi ada rasa lega saat semua sudah menikah."
Aura mengangguk, Ia paham apa maksud mamanya itu. Setidaknya sekarang Andreas dan Arnold ada yang mengurus yaitu istrinya masing-masing.
****
Di Kediaman Setyawan. Rumah itu sekarang begitu sepi. Andreas menghentikan mobilnya, Ia menatap Istrinya yang kini sudah tertidur karena kelelahan. Pria itu membuka pintu perlahan, Ia tidak ingin sampai istrinya itu terbangun.
Seorang pelayan membantu menutup pintu, kabar pernikahan Andreas sudah di dengar oleh para pelayan. Hal itu tidak mengejutkan karena mereka sudah lama menunggu kabar itu.
Andreas membawa istrinya ke kamar yang dulu ditempatinya, pria itu perlahan membaringkan istrinya yang masih memakai dress sepanjang lutut. Ia tersenyum melihat wajah lelah Shinta.
Andreas mengecup kening istrinya, pria itu menyelimuti Shinta hingga sampai di dada. Setelah itu ia menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Malam pertama yang biasa ditunggu setiap pengantin baru untuk merasakan rasanya indahnya surga dunia. Namun, tidak untuk Andreas dan Shinta.
Andreas naik ke ranjang, pria itu menarik istrinya dan kini kepala Shinta berada di atas lengannya. Baru saat ini, Andreas memiliki guling yang begitu hangat.
__ADS_1
Pria itu tidak lama terlelap, dengan sang istri berada dalam dekapannya. Rasa lelah membuat Andreas cepat terlelap.
Pagi harinya Shinta perlahan membuka matanya, dirasakannya tidurnya begitu nyaman hingga ia tidak sadar jika masih memeluk suaminya. Saat wanita itu mendongak, matanya seketika membola saat sadar jika suaminya yang sedari tadi dipeluknya.
Shinta terkejut karena kakinya menimpa sesuatu yang keras, wanita itu perlahan memindahkan kakinya. Saat ia akan bangun, tiba-tiba pinggangnya kembali lagi dipeluk oleh suaminya.
“Kak,” kata Shinta.
“Mau kemana?” tanya Andreas.
“Kamar mandi.” Shinta menundukan kepalanya.
Andreas tersenyum, melihatnya wajah istrinya bersemu merah begitu menggemaskan.
“Tidur lagi saja, sayang, Aku masih mengantuk,” ajak Andras.
"Sayang, tolong lepas dulu aku mau buang air kecil," pinta Shinta.
Andreas akhirnya melepaskan tubuh istrinya dengan berat hati. Setelah suaminya melepaskan pinggangnya. Shinta segera buru-buru lari ke kamar mandi.
"Sayang hati-hati," kata Andreas.
Shinta langsung masuk kamar mandi tanpa menjawab kata-kata suaminya. Andreas hanya menarik napas panjang saat mendengar pintu ditutup kencang.
Pria itu kembali lagi berbaring. Setelah lima belas menit Shinta keluar dari kamar mandi sudah terlihat begitu segar dan aroma sabun di tubuh istrinya membuat Andreas menelan salvianya. Bagaimanapun ia pria dewasa, melihat wanita yang dicintainya kini sudah sah menjadi dan halal untuk disentuh.
"Kenapa tadi nggak ajak mandi sama, Sayang?" Andreas beranjak dari ranjang.
Pria itu menghampiri istrinya yang sedang mencari baju ganti, tubuh Shinta menegang. Saat merasakan dua tangan melingkar dipegangnya.
"Kak." Shinta mencoba untuk melepaskan pelukan suaminya.
Shinta semakin panik saat sesuatu terasa begitu keras semakin menempel di pantatnya.
"Sayang." Andreas sudah terbawa gairah.
"Kak, tolong lepaskan dulu." Shinta agak sedikit kasar melepaskan tangan suaminya dari pinggangnya.
Andreas begitu terkejut atas penolakan Shinta. Pria itu menatap Shinta dingin. Setelah itu masuk kamar mandi. Shinta menarik napas dalam. Ada rasa bersalah, tapi is benar-benar belum siap untuk melakukannya sekarang.
Shinta begitu cemas karena hampir satu jam, suaminya tidak juga keluar dari kamar mandi. Ia berjalan menuju pintu kamar mandi, saat akan mengetuk pintu, tiba-tiba pintu terbuka. Tangan wanita itu menggantung di udara.
Andreas terkejut melihat istrinya berada di depan pintu kamar mandi. Suasana menjadi canggung saat ini.
Pria itu mengira istrinya akan masuk kamar mandi, lalu ia segera menyingkir tanpa mengatakan apa-apa. Andreas melihat Shinta duduk di tepi ranjang." Sayang, kenapa?"
Shinta menatap netra suaminya, wanita itu pikir Andreas akan marah dan mendiamkannya seperti di cerita novel yang selama ini dibacanya. Namun, suaminya masih bersikap lembut.
"Maaf," kata Shinta lirih.
__ADS_1
Andreas yang sedang memakai kaos menghentikan gerakan tangannya dan bertanya," Maaf untuk apa, Sayang?"
Andreas setelah selesai memakai pakaiannya, pria itu menghampiri istrinya. Ia duduk berlutut di depan Shinta, kedua tangannya menggenggam tangan Shinta.
"Kenapa kamu meminta maaf, hem? apa ada masalah?" tanya Andreas lagi.
Andreas semakin bingung saat Shinta meneteskan air matanya, pria itu mengecup kedua mata istrinya." Jangan menangis."
Andreas menarik tubuh wanita yang baru kemarin dinikahinya itu, tapi kini sudah dibuatnya menangis.
"Apa ada kata-kataku yang menyakitimu, Sayang?" Andreas mengusap rambut panjang istrinya itu dengan lembut.
Sesekali pria itu mengecup pucuk kepala Shinta, setelah sang istri sudah mulai tenang. Pria itu perlahan melepaskan pelukannya.
"Bukan Kakak yang salah, maaf aku belum siap untuk melakukan itu tadi," kata Shinta dengan menunduk.
Andreas tersenyum tipis dan mencoba menggoda istrinya." Itu apa?"
Wajah Shinta langsung merona, hal itu membuat Andreas semakin games. Apa lagi sang istri kini menggigit bibirnya dalam.
Andreas tidak bisa tahan rasanya, pria itu benar-benar ingin menerkam snag istri saat ini juga."Sayang jangan menggodaku."
Shinta menatap suaminya itu bingung, sedari tadi ia duduk tidak ada menggoda pria yang kini berstatus sebagai Imamnya itu.
"Kak, aku tidak menggoda kakak," kata Shinta.
Andreas menarik napas, ia tersenyum dan mengajak sang istri untuk sarapan di bawah.
Kini keduanya keluar dari kamar, saat sampai di meja makan baik Shinta dan Andreas terkejut karena sudah ada mama dan adiknya.
"Kapan datang?" tanya Andreas.
"Jam enam tadi," jawab Arnold.
"Ar," kata Cia.
Andreas menatap Arnold dan berganti ke adik iparnya itu, ia sudah yakin jika mereka baru datang.
"Bagaimana?" tanya Arnold dengan tatapan datarnya.
"Bagaimana apanya?" tanya Andreas.
"Cih, dasar!" seru Arnold.
Cia mendengar itu memukul lengan suaminya gemas, karena menanyakan hal yang begitu pribadi.
"Malam pertamanya, Kak," sahut Aura kesal
Andreas mendengar hanya menggelengkan kepalanya, sedangkan Shinta sudah menunduk karena malu atas jawaban Aura yang tidak difilter itu.
__ADS_1