
Arnold tidak menjawab, pria itu kini berbaring sambil memejamkan matanya, walau tubuhnya berada di singapura. Namun, raganya sekalian berada di Berlin bersama istrinya.
"Cia aku sayang kamu, Andai kamu tahu kita masih sah suami istri. Apa kamu mau melupakan cinta pertamamu?" Arnold ingin sekali bertanya saat bertemu istrinya nanti.
Karena pengaruh obat yang diminumnya perlahan matanya mulai memejam.
****
Pagi harinya, Maria lebih dulu terbangun, dilihatnya putranya masih belum bangun.
Wanita itu langsung masuk kamar mandi, lima belas menit kemudian ia keluar dan tersenyum saat melihat Arnold sudah duduk sambil bersandar.
"Mam, ini bisa dilepas nggak aku mau mandi," ucap Arnold.
"Mama panggil perawat dulu," jawab Maria sambil membuka pintu.
Arnold menatap wajah wanita yang luar biasa itu. Entah kenapa ia ingat akan apa yang dulu dilakukan kepada istrinya.
Perawat masuk dan melepaskan infus di tangan Arnold. Setelah perawat pergi pria itu berjalan menuju ke kamar mandi.
Maria yang sudah selesai menyelesaikan administrasi langsung menuju ke kamar rawat putranya.
Wanita itu tertegun saat melihat brankar kosong, tidak lama terdengar suara gemericik air dari kamar mandi Maria bernapas lega.
Wanita itu menyandarkan kepalanya di sofa, tidak lama pintu terbuka. Arnold keluar dengan mengenakan kaos dan celana panjang sambil mengeringkan rambutnya.
"Mama dari mana, kok lama?" tanya Arnold.
"Dari bertemu dokter dan mengambil surat untuk rujukan," jawab Maria.
"Kamu sarapan dulu, Mama sudah belikan bubur," kata Maria menyiapkan makanan untuk anaknya.
"Terimakasih, Mam," jawab Arnold sambil duduk di samping wanita yang begitu menyayangi dirinya itu.
Kita jam sembilan pergi," kata Maria.
"Apa Mama sudah kasih tahu, Papa?" tanya Arnold.
Maria mengangguk, dan berkata," Mama bilang kamu ke Paris. Untuk menenangkan diri."
Arnold hanya mengangguk, ia yakin jika Leon akan mencari tahu dirinya di mana.
Setelah selesai sarapan, Arnold dan Maria keluar dari Rumah sakit dan akan langsung menuju Bandara.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan selama satu empat puluh menit keduanya kini sudah berada di bandara dan langsing cek in dan masuk pesawat karena jam sudah menunjukan pukul sembilan waktu singapura.
****
Di Berlin.
Aura sedang duduk di sofa ruang rawat Cia, Dokter James sudah memberi tahu jika sel kanker akan di tubuh Cia tidak menyebar lagi itu artinya untuk sembuh wanita itu akan lebih mudah. Selama hampir delapan bulan Cia menjalani perawatan.
Besok ia akan kemoterapi untuk terakhir karena akan memastikan kondisi daya tahan tubuh Cia, saat ini Leon sedang di apartemen yang disewa bersama Samuel. Pria itu tidak ingin tinggal di Apartemen milik Andreas karena ia lebih bebas jika hanya berdua saja dengan asistennya itu.
Hubungan Leon dan Aura sampai sekarang belum ada perkembangan semenjak aksi Aura yang lebih dulu mencium orang kepercayaan Setyawan itu seakan Aura menjaga jarak dengannya.
"Kamu besok jemput Nyonya!" kata Leon.
"Apa Arnold sudah sembuh?" tanya Samuel.
Leon hanya menaikan bahunya saja, ia berharap setelah Maria datang bisa kembali ke tanah air. Mungkin karena biasa kerja membuat tubuhnya rasanya sakit semua.
"Bos kita ke rumah sakit, orang kita bilang Andreas sedang berada di lobby," lapor Samuel.
"Apa sakit lagi?" tanya Leon.
"Seperti yang Anda tahu, sepertinya Tuan Andreas menyukai Nona Cia," jawab Samuel.
Keduanya sudah berada di mobil, Samuel mengemudikan dengan kecepatan sedang, pria itu membuka jendela untuk menikmati udara di pagi hari.
Setelah menempuh perjalan selama tiga puluh menit mobil yang dikemudikan oleh Samuel sampai di area parkir rumah sakit.
"Apa kita langsung ke atas?" tanya Samuel kepada Leon.
Leon melihat siluet Aura berjalan ke arah kantin, pria itu langsung mengikutinya, Samuel yang ditinggalkan begitu saja menatap heran. Namun, tidak ambil pusing pria itu kembali ke mobil untuk tidur lagi.
Benar tebakan Leon Aura sedang membeli makanan dan duduk di meja ujung, karena sebagian meja penuh. Tanpa basa-basi Leon duduk disamping Aura, membuat gadis itu terkejut dan kedua matanya beradu dengan netra pekat yang tajam. Namun, beberapa hari selalu dirindukan olehnya.
"Kenapa baru sarapan jam segini?" tanya Leon mengambil alih makanan Aura.
"Kak itu punyaku!" kata Aura saat piringnya dan sendok berpindah tangan.
"Aak, ayo buka mulutnya!" perintah Leon.
"Nggak mau aku bisa sendiri," tolak Aura.
"Mau aku cium atau buka mulut!" ancam Leon.
__ADS_1
Aura akhirnya membuka mulutnya, dan pria dingin itu menyuapinya. Jantung Aura berdebar lebih kencang dari biasanya. Namun, gadis itu selalu menepis perasaannya jika menyukai pria dingin dan kaku di sampingnya.
"Makan aja jangan melamun," kata Leon.
"Siapa yang melamun, "jawab Aura sambil mencibir Leon.
Leon diam. Namun, tangannya tidak berhenti untuk menyuapi Aura, setelah selesai pria itu memberikan minum kepada wanita yang selama ini mengganggu pikirannya.
"Tadi aku lihat Andreas," kata Leon.
Aura mendengar itu langsung tersedak, Leon dengan lembut mengusap punggung Aura. Wajah Aura merona karena baru kali ini ada pria yang bersikap manis kepadanya.
"Kakak enggak salah lihat 'kan?" tanya Aura langsung berdiri dari duduknya.
"Mau kemana?" tanya Leon.
"Mau memastikan kalau Kak Andreas sudah sembuh," jawab Aura.
Leon menarik tangan Aura supaya duduk lagi, gadis itu menurut sekarang ia duduk berhadapan dengan asisten papanya itu.
"Mamamu akan datang besok, Tuan Arnold juga. Namun, Tuan Arnold tidak ingin kedatangannya diketahui oleh siapapun," ujar Leon.
Aura mencoba mencerna apa yang dikatakan pria di depannya itu dan bertanya."Kenapa Kak Cia tidak boleh tahu, Kak?"
Leon menarik napas dan menggelengkan kepalanya, dan berkata."Besok kamu ikut jika ingin tahu jawabannya."
"Mama akan tinggal di mana?" tanya Aura.
"Bersamamu, sedangkan Tuan Arnold akan tinggal bersama Samuel. Apa setelah Nyonya Maria dan Tuan Andreas kembali kamu pulang atau tetap di sini?" tanya Leon berharap gadis di depannya ikut pulang bersamanya.
Aura diam, ia juga belum tahu akan tinggal atau pulang karena ia kuliahnya akan pindah di ternate supaya bisa membantu Papanya di kantor.
"Apa Papa ada mengatakan sesuatu, Kak?" tanya Aura menatap wajah tampan yang juga sedari dari tadi menatapnya.
"Nanti saya tanyakan, kalau Tuan besar telepon," ucap Leon.
"Dua minggu lagi masa cutiku habis kak," kata Aura.
Leon hanya mengangguk lalu berdiri membayar makanan yang dipesan oleh Aura dan mengajak gadis itu untuk menuju ke kamar rawat Cia.
Aura dan Leon saling pandang dan memutuskan untuk masuk, saat pintu terbuka sudah ada Andreas yang menatap Aura tajam dan berkata."Dari mana kalian, kenapa tinggalkan Cia sendiri, hah?"
bersambung ya ….
__ADS_1