PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
salah orang


__ADS_3

Maria hanya bisa berdiri membeku melihat siapa yang datang, ia sampai lupa untuk mempersilahkan  Tuan besar dan Andreas untuk masuk.


"Mama, Apa kabar?" tanya Andreas.


Maria tersadar dari lamunannya saat putranya menyentuh bahunya, Wanita itu tersenyum kaku dna mempersilahkan kedua pria beda usia itu untuk masuk.


Maria masuk ke dapur, tak lama ia keluar bersama seorang pelayan yang menjaganya selama ini, Ketiganya hanya diam, hingga Tuan besar menjelaskan maksud kedatangannya. Mendengar itu hati Maria begitu sakit. Ditatapnya Tuan besar di depannya karena apa yang dulu dirasakan oleh istrinya Arnold pernah juga ia rasakan.


"Lalu untuk apa Anda kemari , Tuan?" tanya Maria.


"Maria, aku minta maaf dengan apa yang terjadi dahulu," kata Tuan Besar.


Maria hanya menarik napas dalam, sedangkan  Andreas mengusap bahu Mamanya itu. Pria itu tak ingin wanita cinta pertamanya itu sakit lagi.


"Apa?" tanya Maria dingin.


"Apa kamu mau menjaga Velicia untuk berobat di jerman bersama Andreas, tapi ini harus dirahasiakan dari Arnold," ujar Tuan besar.


Maria menatap putranya, Andreas hanya mengangguk agar Mamanya ikut dengannya. Wanita itu merasa tidak asing dengan nama wanita itu.


Maria mengemasi barang-barangnya untuk ikut anaknya, tetapi ia juga tidak lupa pamit kepada pelayannya untuk tetap menjaga rumahnya.


Ketiganya sudah masuk mobil, Andreas mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, pria itu duduk di depan bersama mamanya. Sepanjang jalan keduanya asik berbincang, seakan di belakang tidak ada orang.


*****


Di villa Arista.


Jack yang kini berada di villa menatap foto  yang berada di ruang keluarga. Tatapannya sendu, ia begitu sedih menatap foto yang sekarang tinggal dirinya dan Velicia. 


"Mama, Papa. Semoga Cia bisa sembuh, aku tidak mau kehilangan lagi," kata Jack sambil terisak menutup wajahnya.


Bik Imah melihat itu menghampiri Jack, disentuhnya bahu pria itu yang baru kali ini dilihatnya menangis di depan foto kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Bik!"seru Jack tangisnya pecah di pelukan wanita paruh baya itu.


Bik Imah meneteskan air matanya, ia juga begitu sedih saat tahu kalau Nonanya menderita penyakit yang begitu parah.


"Kota berdoa saja, Nak." Bik Imah mencoba menenangkan Jack.


Jack tidak menjawab, ia masih memeluk Bik Imah begitu erat. Wanita itu hanya bisa berharap Nonanya bisa sembuh. 


Headphone jack berdering, dilihatnya Tuan besar Setyawan menghubunginya. Bik Imah memberikan air putih supaya majikannya itu kembali tenang.


"Halo," kata Jack.


"Kamu di mana sekarang, Nak?" tanya Tuan besar.


"Di villa Arista," jawab Jack


Tak lama sambungan telepon terputus, Jack mengusap sisa-sisa air matanya, pria itu berjalan menuju dapur untuk menghampiri Bik Imah dan berkata."Bik nanti akan ada Tuan Besar datang." 


"Iya, Nak." Bik Imah mengangguk tanda mengerti.


Aroma vanila langsung membuat indra penciumannya menghafal, kalau itu aroma yang biasa dipakai oleh adiknya. Jack membuka laci dimana berkas disimpan oleh Cia, ia juga mendapatkan obat yang disimpannya begitu rapi itu.


jack langsung mengambil berkas dari paspor dan berkas lainnya saat di Jerman nanti. Saat asik tengah melihat foto masa kecilnya Bik Imah datang memberi tahu kalau Tuan besar Setiawan sudah datang.


Jack berjalan lebih dulu dari Bik Imah, saat sampai ruang tamu ia terkejut karena Tuan besar tidak sendiri, ia datang bersama pria muda yang wajahnya begitu mirip dengan Arnold dan wanita seumuran dengan Mamanya.


"Jack kenalkan ini Andreas dan Mamanya," kata Tuan besar.


Jack dan Andreas saling berjabat tangan dan bergantian dengan Wanita yang tersenyum hangat kepadanya.


Tuan besar mengatakan kalau nanti di Jerman anak dan istrinya yang akan menjaga Velicia, sedangkan Jack hanya menatap datar kemudian mengangguk karena tidak mungkin ia dan Tuan besar lama di sana.


Jack juga akan menghubungi Merry, sahabat adiknya itu belum tahu kalau Cia akan dibawa ke Jerman. Tak lama Ada pesan masuk di ponsel Jack dan Tuan besar, Kedua pria itu saling tatap.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit," kata Tuan Besar yang terlihat panik.


"Ada apa?" tanya Andreas sambil berjalan menuju mobilnya.


"Menantu papa sadar," jawab Tuan Besar.


Maria hanya diam, wanita itu memang tidak tahu istri dari anaknya, karena waktu itu ia harus menjalani perawatan di Jerman bersama Andreas.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, kedua mobil itu saling beriringan menuju ke rumah sakit di mana Velicia dirawat.


Setelah tiga puluh menit mobil sampai di area parkir, Clara menunggunya di lobby, wanita itu terlihat panik.


"Apa yang terjadi?" tanya Jack.


"Nona terpaksa dibius Tuan, karena hendak pulang," ujar Clara yang kini menatap tajam ke arah Andreas.


Andreas yang merasa diperhatikan hanya menaikan kedua alisnya merasa heran, ada apa sebenarnya kenapa wanita itu menatap dirinya seperti itu.


Mereka berjalan menuju ruangan dokter Herman. Sore ini Velicia haru diterbangkan karena tidak bisa menunggu lebih lama lagi.


Andreas yang begitu penasaran dengan adik iparnya itu berjalan menuju ruang Icu di mana tadi ia bertanya kepada perawat di mana Velicia di rawat. Perlahan dibukanya pintu, pria itu mengernyitkan keningnya saat tak asing dengan sesosok di depannya.


Andreas merasa ragu untuk  mendekat, di mana tubuh lemah itu kini sedang berbaring, sesakit itukah apa yang ia derita hingga tidak ingin lagi sembuh.


Saat mau mendekat seorang suster menghentikannya, dan berkata."Tuan, maaf biar kami cek dulu pasiennya." 


Andreas hanya mengangguk, ia keluar dari Ruangan ICU. Saat keluar ia melihat Jack dan kedua orang tuanya sedang duduk di ruang tunggu bersama wanita yang sekarang menunduk saat ia memperhatikannya.


Suster keluar dan memberikan berkas kepada dokter Herman, kemudian Jack dan tuan Besar mengikuti dokter Herman ke ruangan  untuk tanda tangan berkas memindahkan pasien ke rumah sakit di luar Negri.


"Mama, aku mau lihat adik iparku," kata Andreas yang langsung dianggukan kepala oleh Maria.


Andreas  kembali lagi masuk, dadanya begitu berdebar untuk melihat adik iparnya untuk pertama kalinya. Pria itu membuka pintu dan mulai mendekat, walau ada rasa ragu untuk melihat adiknya itu. Namun, hatinya mengatakan untuk melihatnya sebentar.

__ADS_1


Andreas maju tiga langkah, saat matanya melihat ke arah wajah yang begitu pucat keningnya mengernyit dan kedua alisnya menyatu.


Andreas merasa tidak percaya, ia yakin tidak salah lihat.  Ia berharap  bukan gadis kecilnya, hanya terlalu banyak memikirkan gadis kecilnya dulu. Saat ia akan membalikan tubuhnya dilihatnya air mata keluar dari sudut mata wanita yang kini berstatus sebagai mantan istri dari adiknya itu.


__ADS_2