
Saat sedang asik mengobrol, Maria merasakan jika ada pesan masuk. Wanita itu membaca pesan dari Andreas
"Ada apa Mam?" tanya Arnold.
"Kakakmu baru sampai di Berlin," jawab Maria langsung menatap Arnold.
Arnold hanya diam, pria itu menatap ke arah jendela. Ia pasrah karena lelaki yang dicintai oleh istrinya bukan dirinya.
"Mam, apa surat kemarin masih Mami simpan?" tanya Arnold.
"Masih, Nak. Apa mau kamu ambil lagi Sayang?" tanya Maria.
"Iya Mam," jawab Arnold.
Maria mengambil tasnya, tangannya sibuk mencari sesuatu dan berkata."Nah, ini dia."
Arnold tersenyum, dan berkata." Mam, apa Papa sudah tahu jika aku sadar?" tanya Arnold.
"Tidak. Mama belum kasih tahu." Maria menatap putranya dengan sendu.
Arnold menunduk, ia berharap keputusannya tidak salah untuk melepaskan wanita yang dicintainya karena sesungguhnya cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
"Mam, kita keluar dan pindah. Aku mau tinggal sama Mama saja," ucap Arnold.
"Sayang, apa kamu yakin dengan keputusanmu. Kita di sini saja dulu sampai kamu sembuh, Nak." Maria mencoba membujuk putranya.
Arnold hanya diam, rasanya ia tidak sanggup kalau sampai melihat istrinya bersama Kakaknya, ada rasa Ragu dalam hatinya. Akankah memberitahu Mamanya kalau sebenarnya ia belum menceraikan istrinya.
"Mama, ada yang mau aku sampaikan." Arnold menatap wanita yang kini juga menatapnya.
"Apa itu, Nak?" tanya Maria merasa ada yang begitu penting.
"Mama janji akan merahasiakan ini, karena hanya Om Romy yang tahu," kata Arnold.
"Mama Janji, Nak." Maria berusaha meyakinkan putranya.
"Ma, aku dan Cia sampai sekarang masih suami istri," ujar Arnold.
Maria terkejut sampai menutup mulutnya dan menggelengkan kepalanya dan berkata."Kamu jangan asal Sayang."
Arnold menarik napas dalam dan menceritakan apa yang sebenarnya, jika ia tidak pernah menandatangani surat perceraian yang diberikan Cia kepada pengacaranya.
__ADS_1
"Kenapa kamu lakukan ini, kalau kalian masih saling mencintai kenapa tidak bersatu," kata Maria sambil menangis ia sungguh tidak mengerti jalan pikiran putranya itu.
"Maaf, aku baru sadar dari setiap perubahan Cia waktu tiga bulan terakhir sebelum ia meminta cerai Mam." Arnold tidak kuasa menahan air matanya.
Jika ia tahu dari awal kalau Cia sakit dan umurnya diperkirakan tinggal 3 bulan lagi pasti ia tidak akan berbuah semena-mena dengan istrinya.
"Mama akan konsultasi dengan dokter Marsel. Kita minta rujuk ke Berlin." Maria langsung beranjak dari duduknya dan keluar ruang rawat putranya.
Maria tidak mau jika rumah tangga anaknya akan hancur seperti rumah tangganya. Wanita itu selama ini melihat perubahan putranya jika masih begitu mencintai menantunya dan sebaliknya. Cia masih mengharapkan Arnold walau wanita itu tidak pernah mengatakan langsung.
Maria mengetuk pintu ruang Dokter Marsel, tidak lama pintu terbuka dan Dokter muda itu mempersilahkan masuk.
"Silahkan duduk, Bu," kata Dokter Marsel ramah.
Maria langsung duduk di depan Marsel dan berkata."Dok, apa putranya bisa pindah ke Berlin karena ia ingin selalu ada di samping istrinya."
Marsel hanya menarik napas, agak berat rasanya dan bertanya balik."Kenapa tidak tunggu sembuh dulu?"
"Dok, istrinya juga sedang dirawat karena kanker serviks stadium tiga," kata maria sambil menangis.
Marsel terdiam. Ia tidak menyangka jika Arnold sudah menikah dan istrinya sekarang sedang berjuang melawan penyakitnya.
Maria keluar dari ruangan Dokter Marsel, wanita itu tersenyum. Jika Cia ingin bersama Andreas, harus berpisah dulu dengan Arnold. Ia tidak ingin keluarganya akan saling bermusuhan karena wanita.
Maria menuju ruang rawat putranya, Arnold yang sedang melihat foto istrinya sedari tadi senyum-senyum sampai tidak menyadari jika Mamanya sudah berada di sampingnya.
"Kangen berat kayaknya," goda Maria.
"Mama, kapan masuk?" tanya Arnold karena ia tidak mendengar pintu terbuka.
"Jadi Mama lebih dicuekin sekarang, lebih menarik foto dalam ponselmu itu," kata Maria pura-pura merajuk.
"Mama, bukan begitu. Arnold enggak mendengar Mamaku yang cantik ini tadi membuka pintu. Apa Mama menembus dinding!" goda Arnold.
"Dasar anak kurang ajar, kamu pikir Mama Jin!" kata Maya sambil memukul lengan putranya.
Arnold tergelak karena Maria begitu kesal kepadanya. Ditatapnya wanita yang sudah mulai keriput di makan usia itu.
"Apa ada masalah, Mam?" tanya Arnold.
"Kemungkinan kita akan pindah rumah sakit," kata Maria.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Arnold.
Maria tersenyum dan menjelaskan kalau tadi ia menemui dokter Marsel, Arnold mendengar itu hanya diam. Bukankah kalau dari awal Mamanya tahu jika pria yang dicintai istrinya bukan dirinya.
"Mam, ini terlalu berlebihan," kata Arnold.
"Pertahankan apa yang sudah menjadi milikmu, Nak." Maria mengingatkan putranya.
Arnold hanya menatap mata indah milik Mamanya itu, ada banyak harapan yang terlihat dari tatapan wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Kita lihat nanti Mam," ucap Arnold.
Maria hanya mengangguk, jika dulu rumah tangganya hancur karena orang ketiga, ia tidak rela kalau rumah tangga Arnold hancur karena orang ketiga dan itu putra sulungnya. Tidak lama perawat dan Dokter Marsel datang, pria itu memeriksa Arnold supaya besok bisa berangkat ke Jerman.
"Kondisinya kian baik, saya rasa cepat pulih, Ingat harus banyak minum putih dan jaga pola makanan karena yang bekerja menyaring racun hanya satu ginjal Anda," ujar Dokter Marsel.
"Baik Dokter," jawab Arnold.
"Bu, nanti surat-surat akan diantarkan perawat, dan saya doakan istrimu cepat sembuh," ucap dokter Marsel sambil mengusap bahu Arnold merasa prihatin.
Setelah dokter Marsel keluar, Arnold menatap Mamanya yang hanya bisa tersenyum tipis lalu berkata."Maaf."
"Kenapa Mama katakan jika Cia sakit?" tanya Arnold.
Maria hanya menarik napas, dan berkata."Maafkan Mama, tadi dokter melarang Mama untuk membawamu ke Berlin. Namun, setelah Mama mengatakan jika Cia membutuhkanmu. Dokter Marsel langsung merekomendasikan rumah sakit yang bagus untuk perawatanmu, Nak."
Arnold tidak bisa berkata apa-apa lagi, mungkin ini yang terbaik untuknya bisa melihat istrinya dari dekat walau rasanya untuk mendekat tidak mungkin karena pria yang diinginkan Cia bukan dirinya.
"Kamu istirahat, biar Mama membereskan barang-barangmu!" titah Maria.
"Ma, jangan sampai Papa dan yang lainnya tahu aku akan Ke Berlin!" pinta Arnold.
"Kenapa, kalau sampai Papa menanyakan keberadaanmu bagaimana?" tanya Maria.
"Mama bilang saja tidak tahu, waktu Mama ke Berlin Arnold dijemput temannya," usul Arnold.
"Apa kamu tidak kasih kepada istrimu?" tanya Maria sambil menata pakaian Arnold.
Arnold tidak menjawab, pria itu kini berbaring sambil memejamkan matanya, walau tubuhnya berada di singapura. Namun, raganya sekalian berada di Berlin bersama istrinya.
"Cia aku sayang kamu, Andai kamu tahu kita masih sah suami istri. Apa kamu mau melupakan cinta pertamamu?" Arnold ingin sekali bertanya saat bertemu istrinya nanti
__ADS_1