PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Jhon cemburu


__ADS_3

Clara kini duduk sendiri di taman rumah sakit, gadis itu mengambil ponselnya dan melihat Foto seseorang yang selama ini ia cintai dalam diam, tapi saat mendengar pria itu sudah menikah dengan anak Tuannya hatinya seketika hancur dan rasanya begitu takut untuk jatuh cinta.


Andai ia memanfaatkan situasi ini untuk memisahkan Pria yang ia cintai dengan istrinya mungkin saja bisa. Namun, ia Sadar jika cinta tidak bisa dipaksakan.


Gadis itu menarik napas panjang, tidak lama Alek datang menghampirinya.


“Nona, Tuan mencari Anda,” ucap Alek.


“Tuan Alek, saya mau menikah dengan Tuan Jhon. Namun, ada syaratnya,” ucap Clara.


“Maaf, Nona sebaiknya Anda bicarakan langsung dengan Tuan,” ucap Alek bisa mati ia kalau sampai mengatakan langsung kepada Tuannya.


“Saya belum bisa bertemu Tuan Anda jika syarat itu tidak dikabulkan,” kata Clara lalu beranjak dari duduknya.


“Nona tunggu,” cegah Alek karena Clara menuju keluar rumah sakit.


Clara menghentikan langkahnya, wanita itu membalikkan tubuhnya menatap Alek.


“Apa?” tanya Clara.


“Apa syaratnya?” tanya Alek.


Cara tersenyum  dan menghampiri Alek.” Lepaskan Nona Aura karena mereka berhak bahagia.”


Alek menganga mendengar itu.” Nona Tunggu!”


Clara cuek dan hanya melambaikan tangan kepada Alek tanpa menatap pria itu. Pria itu merasa frustasi di buat oleh wanita yang akan diajak menikah oleh Tuannya 


Alek menghembuskan napas kasar, ia begitu benci saat seperti ini. 


Pria itu langsung bergegas menuju kamar rawat Tuannya.


Perlahan ia membuka pintu, Jhon sedang membaca buku menautkan kedua alisnya karena orang kepercayaannya itu hanya datang sendirian.


“Clara mana?” Jhon menegakkan tubuhnya.


Alek menarik napas panjang dan kini berjalan mendekati Tuannya itu.


“Maaf, Tuan. Nona Clara berpesan mau menikah dengan Anda, tapi harus ada syaratnya,” ujar Alek.


Jhon mengerutkan keningnya, pria itu merasa tertantang karena baru kali ini ada wanita yang akan dinikahinya mengajukan persyaratan.


Senyum tipis tersungging dari bibir tebalnya. Hingga Alek tidak mampu untuk melihat.


“Apa syaratnya?” tanya Jhon.


Alek yang terkejut langsung mendongakkan kepalanya menatap Tuannya karena nada bicaranya sama sekali tidak marah.

__ADS_1


“Nona Clara mau menikah dengan Anda dengan syarat lepaskan Nona Aura dan biarkan bahagia dengan suaminya,” ujar Alek.


Jhon mengepalkan kedua tangannya, pria itu merasa jika Clara rela berkorban demi pasangan itu.


“Alek, kamu cari tahu apa hubungan Clara dengan Leon!” perintah Jhon.


Alek langsung memberikan ponselnya karena ia yakin Tuannya pasti akan meminta data itu.


Jhon menarik napas panjang, pria itu menatap Alek dan bertanya,” Apa kamu yakin Clara dan Leon tidak pernah menjalani hubungan apa pun?”


“Saya yakin, Tuan,” ucap Alek.


Jhon menarik napas dalam-dalam dan kini menatap Alek. 


“Kabulkan hubungi Tuan Arnold langsung!” Jhon langsung memerintahkan kepada orang kepercayaannya itu.


“Baik Tuan, “ kata Alek langsung keluar dari ruangan untuk menghubungi Arnold.


Setelah orang kepercayaannya itu keluar Jhon menatap kosong ke arah jendela yang tertutup gorden setengah itu. Pria itu berharap pilihannya tepat mengenai Clara.


Terkadang ada rasa trauma untuk menikah lagi semenjak orang yang dicintainya menjadi sasaran empuk para musuhnya. Namun, dengan Clara yang mampu membela diri membuatnya tidak akan was-was.


Pintu terbuka muncul Alek dan kini mantap Jhon. 


“Apa Tuan sudah menghubungi Nona Clara jika setuju dengan persyaratan itu?” tanya Alek.


Alek Ingin sekali memukul kepala Tuannya karena begitu lemah masalah percintaan.


“Sebaiknya begitu, Tuan,” ucap Alek 


“Kamu telepon saja!” perintah Jhon.


Alek hanya mengangguk karena jika menolak sama saja minta dihukum.


Setelah telepon terhubung, Jhon memberikan kode untuk kepada Alek untuk louse speaker .


Alek ingin sekali tertawa, tapi hanya ditahan karena masih sayang akan nyawanya.


“Halo, Tuan Alek,” sapa Clara terdengar suara gemericik air seakan gadis itu sedang di kamar mandi.


“Nona, Tuan Jhon setuju akan persyaratan Anda,” ujar Alek.


“Hah, secepat itu’ kah. Tuan Alex saya sedang mandi nanti malam saya ke rumah sakit,” ucap Clara langsung mematikan sambungan teleponnya.


Alek tidak menjawab apa-apa, pria itu menatap Tuannya yang terlihat shock juga. Kedua pria itu susah menelan salvianya.


“Gila, sudah tahu sedang mandi kenapa di angkat teleponnya!” seru Jhon langsung mengusap wajahnya frustasi.

__ADS_1


“Maaf, Tuan. Mungkin Nona karena orang kepercayaannya Nina Velicia selalu membawa handphone kemana pun berada,” ujar Alek.


Jhon hanya menatap Alek datar, setelah itu pria itu menarik napas dalam mencoba membuang pikiran kotornya.


"Buang pikiran kotormu!" seru Jhon membuat Alel hanya menunduk karena sang Tuan sepertinya sedang cemburu kepadanya.


Alek entah kenapa ingin segera melihat Tuannya seperti itu berharap kembali lagi seperti dulu. Jujur ia merindukan seorang bos yang ramah tidak dingin seperti sekarang.


Andai Tuan Besar melihat tingkah Jhon tadi akan secepatnya untuk menikahkan Tuannya. Tidak jauh berbeda dengan Jhon karena merasakan marah saat mendengar penuturan Clara jika dirinya sedang mandi.


Tepat pukul lima sore pintu ruang rawat Jhon terbuka, pria itu pura-pura tertidur karena mencium aroma parfum sudah pasti jika Clara.


“Tuan, bangun sudah mau malam,” ucap Clara menyentuh bahu Jhon.


Pria itu merasa sentuhan Clara entah kenapa membuat tubuhnya berdesir.


“Jam berapa ini?” tanya Jhon pura-pura jika sudah tertidur lama.


“Sekarang sudah mau pukul lima, Tuan,” ucap Clara sambil menyusun buah yang dibawanya tadi.


“Apa Anda mau apel?” tanya Clara sambil melirik ke arah samping karena merasa jika Jhon sedang memperhatikannya.


“Jangan suka curi pandang nanti jatuh cinta beneran, loh,” goda Clara sambil memberikan potongan buah kepada Jhon.


Mendengar apa kata wanita itu membuka wajah tampan itu bersemu merah.


Kini Clara duduk di samping Brankar, wanita itu menatap Jhon yang tidak mau makan buahnya.


"Kenapa? apa tidak suka?" tanya Clara.


"Suka, suapi!" pinta Jhon membuat mata Clara membulat.


Clara merasa jika pria dingin tidak berperasaannya itu salah minum obat. Apa lagi tidak ada Alek yang akan ia tanya.


"Anda tidak salah minum obat' kan, Tuan?" tanya Clara.


Jhon langsung menyentil kening Clara karena mengatakan dirinya salah minum obat. Entah kenapa ada rasa senang saat Clara kini menyuapinya.


Alek yang akan masuk ruang rawat langsung mengurungkannya karena merasa jika akan menjadi penonton saja. Pria itu memilih duduk di depan ruang Tuannya. Sedangkan Jhon yang tahu bayangan orang mau masuk tidak jadi tersenyum karena ia yakin itu orang kepercayaannya.


"Ada apa?" tanya Clara.


"Lain kali kalau sedang mandi jangan terima telepon," ucap Jhon.


Mendengar itu Clara membeo,  kenapa pria itu bisa tahu dan kini ia ingat jika Alek tadi menghubunginya."Nggak kelihatan juga."


Jhon mengepalkan kedua tangannya karena pria itu tidak suka jika ada yang membantahnya. Entah kenapa ia merasa harus lebih sabar lagi menghadapi Clara karena bukan wanita sembarangan.

__ADS_1


__ADS_2