PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Undangan makan malam


__ADS_3

Hari ini hari yang ditunggu-tunggu oleh keluarga Setiawan, Di mana semua keluarga sedang berkumpul di ruang tamu.


"Apa semua sudah siap?" tanya Maria.


"Sudah Mam, kita berangkat sekarang saja." Arnold menatap Leon dan dan Andreas bergantian.


Semua segera keluar, Cia tersenyum melihat Langit dan Arnold memakai baju sama. Ini dari dulu ia rindukan, tapi mungkin ini jalan yang diberikan Allah. 


Langit hadir di tengah keluarganya. Velicia segera masuk  mobil.


Empat mobil jalan meninggalkan Vila milik Arnold.


"Apa Shinta juga sudah jalan?" tanya Arnold.


"Sudah sepuluh menit tadi," jawab Andreas.


Arnold hanya mengangguk, sedang Leon di mobil satu lagi. Mengikuti mobil Arnold yang lebih dulu jalan. 


Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit. Kini empat mobil itu sudah sampai di panti. 


Andreas melihat begitu takjub, pria itu tidak menyangka jika halaman luas itu sudah diubah menjadi taman yang begitu indah.


"Apa ini Mama?" tanya Andreas lirih ke Arnold.


"Mama dan Cia," jawab Arnold dingin.


Andreas melihat adiknya itu hanya mencibir. Sedangkan Cia terkekeh melihat Andreas yang terlihat kesal karena suaminya.


"Sabar, Kak," ucap Cia.


"Apa waktu kalian menikah seperti itu juga, Cia?" tanya Andreas.


"Lebih dingin waktu kamu menikah, melihatku saja tidak mau."


"Sayang," kata Arnold lirih.


Andreas melihat adiknya itu tersenyum, ia yakin Arnold tidak ingin sampai membicarakan bagaimana dulu hubungannya dengan Cia.


Kini mereka ikut bergabung dengan yang lainnya, sedang Leon yang sedang mengobrol dengan Jhon menggelengkan kepalanya saya melihat Andreas duduk di samping Arnold.


Pria itu segera beranjak dari duduknya, ia menghampiri kakak iparnya itu." Mempelai duduk di sana."

__ADS_1


Andreas melihat adiknya itu hanya mengangguk. 


"Ar, temani aku," ajak Andreas.


"Sekarang nggak apa-apa, asal jangan pas malam pertama minta ditemani." Arnold segera beranjak dari duduknya.


Cia dan Aura mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya. Bagaimana tidak Arnold yang biasa dingin. Kini sengaja membawa Andreas kesal


"Kak, Sepertinya acara sebentar lagi dimulai. Lihat Tuan Jimmy dan mama duduk bersebelahan memberikan restu." Aura sedari tadi memperhatikan interaksi antara Tuan Jimmy dan Mamanya.


"Jangan bicara yang enggak-enggak kamu jangan sampai disekap pria tua itu. Cukup hanya John saja yang menyekapmu." Cia mencoba mengingatkan adik iparnya itu.


Aura mendengar itu hanya bisa menelan salivamya, tapi berkat kejadian itu suaminya kini begitu menyayangi  anaknya bukan dirinya.


Acara pun berlangsung begitu hikmat, suara teriakan sah dari para saksi menandakan jika Shinta sudah resmi menjadi istri dari Andreas.


Acara demi acara sudah selesai. Cia yang merasakan Langi agak rewel. Wanita itu akhirnya mengajak suaminya untuk pulang lebih dulu. Begitu pula dengan Leon dan Jack.


Cia tidak lupa pamit dengan Clara dan suaminya. Sedangkan Maria begitu serius mengobrol dengan besannya itu.


Cia selama di perjalanan merasa heran karena Langit tidak juga bisa diam. Akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Arnold. Kini sudah sampai di depan Vilanya.


"Bagaimana Meli, apa semua aman?" tanya Cia yang baru masuk dengan menimang putranya.


"Aman, Kak. Untuk malam nanti semua terkendali." 


Cia mengangguk, wanita itu tersenyum. Iya segera membawa putranya ke kamar untuk beristirahat. Sedangkan Meli kembali ke dapur untuk melihat apa ada yang kurang atau tidak.


Wanita itu mengecek satu-persatu karena tidak ingin ada kesalahan, Cia datang, wanita itu bergabung dengan Meli. Sedangkan Arnold memilih menemani putranya. 


"Meli, kamu minta tolong beberapa orang itu untuk mengosongkan ruang keluarga dan tamu."  


" Baik Kak," jawab Meli.


Setelah Meli pergi, wanita itu mulai melihat beberapa buah dan menu yang sudah di letakkan di meja.  Setelah semua sudah tertata rapi di meja. Cia baru  naik ke lantai dua karena akan bersiap-siap untuk menyambut rombongan dari Tuan Jhon.


Wanita itu segera masuk kamar, dilihatnya suaminya sedang sibuk dengan laptopnya. Hal itu membuat Cia hanya menggelengkan kepalanya saja.


“Ar, kenapa kok malah kerja, rombinan tuan Jhon sudah jalan kata mama,” ujar Cia.


Arnold yang melihat istrinya kesal hanya tersenyum tipis. Pria itu bukannya mandi. Kini ia memeluk sang istri yang sedang menyiapkan pakaiannya.

__ADS_1


“Ar,” ucap Cia kesal.


“Cium dulu, Sayang,” kata Arnold.


“Cia mengecup pipi suaminya,tapi bukan Arnold namanya jika tidak langsung menyambar bibir Cia yang sudah seperti candu itu.


Setelah puas, pria itu segera masuk kamar mandi. Sedangkan Cia keluar dari kamar untuk mandi di kamar sebelah yang akan disiapkan nanti buat Langit. Hanya butuh lima belas menit,Cia sudah keluar dari kamar mandi. 


Wanita itu yang sudah hafal, kalau suaminya mandi begitu lama. Saat Cia sudah selesai bermake up. Bersamaan Arnold keluar dari kamar mandi


Arnold menautkan kedua alisnya karena sang istri begitu cantik saat ini. Namun, ia rasanya tidak  suka jika sang istri akan menjadi perhatian  pria lain.


“Sayang jangan terlalutebal make up dan lisptiknya,” kata Arnold.


Cia mendengar itu hanya terkekeh saja, entah apa yang dipikirkan suaminya itu. Hanya pria bodoh yang akan menggodanya karena ia bukan wanita sempurna.


Cia menatap wajah suaminya itu sendu, tapi kini ia harus ikhlas untuk  menerima takdir ini.


Setelah siap, wanita itu mengajak suaminya untuk keluar karena mertuanya bilang sepuluh menit lagi akan sampai.


Saat Cia dan Arnold hendak turun tangga, Meli menatap Cia. Hal itu membuat Arnold dan istrinya tersenyum.


“Apa  mereka sudah sampai?” tanya Cia.


“Mobil Tuan Loen sudah sampai kak,” jawab Meli. 


Cia yang masih berada di kamar, wanita itu buru-buru keluar, wanita itu tersenyum saat melihat Aura jalan beriringan dengan Leon.


“Hampir kami telat, untung Kak Leon ambil jalan pintas,” ujar Aura.


Leon hanya tersenyum tipis,  tapi hal itu membuat siapa saja yang melihatnya begitu kagum. Pria dingin itu hanya tersenyum untuk Aura.  


Cia sebagai iparnya saja jarang melihat Leon tersenyum padanya. Apalagi saat Papa mertuanya masih hidup.Leon sama sekali tidak tertarik dengan perempuan.Mungkin karena itu pria datar itu dijodohkan dengan Aura.


Tepat pukul enam sore rombongan besan dan pengantin baru sampai. Cia yang masih berada di kamar, wanita itu buru-buru keluar.Suara mobil terdengar, Cia mengajak yang lain untuk keluar menyambut rombang untuk makan malam. Arnold sebagai selaku tuan rumah menyambut dengan ramah.


Kedatagan Tuan Jimmy dan putranya merupakan sebuah kehormatan bagi Arnold dan keluarganya.


Mereka tanpa menunggu lama langsung menuju meja makan, tuan Jimmy melihat menu hidangan yang disediakan begitu menggoda selera.


Mereka makan dalam diam,hingga  Jimmy menatap Cia dan Aura bergantian.”Nona Kenapa wajah Anda begitu mirip dengan Arista?”

__ADS_1


__ADS_2