PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
perlindungan Arnold


__ADS_3

Suara petir menggelegar membangunkan tidur Velicia. Hujan deras yang mengguyur sejak awal malam belum juga reda. Wanita itu menggeliatkan tubuhnya. Dilihat jam sekarang sudah menunjukan pukul tujuh pagi.


Velicia dengan malas berjalan menuju ke kamar mandi untuk menyelesaikan ritualnya. Setelah lima belas menit keluar dari kamar mandi. Keningnya berkerut saat melihat  wajahnya yang kian tirus. 


Velicia menatap tubuh polosnya di cermin, tubuh sintalnya sudah tidak ada lagi. Wanita itu tersenyum tipis, tidak ada lagi tubuh seksinya yang begitu membuat Arnold candu dulu. Diambilnya gaun warna merah hati, kini ia menatap penampilannya di cermin. Rambut panjangnya diikat seperti ekor kuda. Kali ini pilihannya hanya makeup natural dan lipstik warna pink.


Velicia tergelak melihat penampilannya sendiri, wanita itu merasa masih seperti anak SMA. Kali ini tampil beda, bukan untuk siapa-siapa. Rasanya ia lebih tenang dari pada makeup tebal seperti biasanya.


Velicia menuruni tangga di lihatnya pelayan yang dulu selalu mengurusnya. Wanita paruh baya itu tidak mau berhenti bekerja karena ia menganggap dirinya adalah keluarganya.


"Pagi Nona," sapa Bik Imah begitu melihat Velicia menuruni tangga.


"Pagi, apa kabar Bik?" tanya Velicia sambil tersenyum  menatap wanita yang selalu ada untuk dirinya itu.


"Saya masih lincah, seperti Non," jawabnya sambil mengikut gaya Velicia berjalan.


Velicia tergelak melihat tingkah Bik Imah yang selalu membuatnya tersenyum. Ia sarapan sendiri saat ini, tidak ada yang menemani. Setelah selesai sarapan ditatapnya foto kedua orang tuanya yang seakan tersenyum menatapnya.


"Mama, aku rindu," kata Velicia lirih.


Air matanya kembali membasahi kedua pipinya, karena begitu merindukan pelukan hangat itu. Diusapnya air matanya karena tidak ingin terlihat cengeng oleh pelayan yang sedang mengerjakan tugas-tugasnya.


Saat sedang bersantai ponselnya berdering, nomor tidak dikenalnya. Ada rasa ragu untuk mengangkatnya. Namun, karena ia juga penasaran akhirnya mengangkat teleponnya .


"Halo," sapa Velicia.


"Cia, kamu baik-baik saja' kan?" tanya Merry.


"Aku baik, jam berapa kamu pulang?" tanya Velicia karena ia tahu sahabatnya itu wajib lapor selama dua minggu.


"Aku sudah mau pulang, kita bertemu di kafe dekat kantor ya!" kata Merry semangat.


"Kamu ajak bertemu atau mau memalak, hem!" tandas Velicia.


Tawa Merry terdengar begitu keras hingga membuat Velicia harus menjauhkan teleponnya. Keduanya janjian setengah jam lagi akan sampai di kafe dengan kantor grup Arista. Sambungan telepon terputus. Sebelum pergi ia tidak lupa meminum obat pereda nyeri itu untuk jaga-jaga nanti.

__ADS_1


Velicia keluar dari kamar, ia tersenyum saat menuruni tangga sambil bersenandung merdu, wanita itu rindu akan masa remajanya yang terenggut karena harus menjadi seorang Ceo saat umurnya masih begitu muda.


"Mau kemana, Non?" tanya Bik Imah yang melihat Nonanya dengan tampilan berbeda.


"Mau ke kantor, Bik," jawab Merry sambil tersenyum.


Wanita paruh baya itu tersenyum. Velicia langsung masuk mobil sport warna merahnya. Hari ini ia ingin menghirup udara bebas seperti wanita yang seusianya walau kenyataannya sungguh berbeda.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, selama di perjalan ia mendengarkan lagu yang berjudul lumpuhkanlah ingatanku milik salah satu band. Wanita itu tersenyum getir karena ia ingin melupakan mantan suaminya sampai ke akar-akarnya.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit Velicia sampai di kafé depan kantornya. Dulu ia begitu angkuh untuk masuk kesana. sekarang wanita itu tidak ingin karena ia rindu akan kebebasannya.


Velicia berjalan dengan santai, ia menatap sekeliling dilihatnya Merry melambaikan tangan ke arahnya.


"Wah, Ini CEO dengan tampilan yang berbeda," goda Merry.


Velicia hanya terkekeh dan berkata." Sudah lama?"


"Ah, enggak baru sampai juga," jawab Merry.


"Kamu selalu yang terbaik," puji Velicia.


"Tentu dong," kata Merry sambil tergelak. 


Tanpa keduanya sadari sedari tadi ada yang memperhatikan keduanya dengan tatapan sendu, pria itu tak lain Arnold yang sedang makan siang dengan Viona. Viona yang merasa diacuhkan oleh kekasihnya terlihat kesal. Wanita itu mengikuti kemana arah pandangan Arnold.


Wajah Viona terlihat begitu marah saat melihat Velicia sedang tersenyum begitu bahagia, apalagi sekarang mantan istri dari Arnold itu terlihat lebih cantik dengan penampilan naturalnya.


Viona berdiri, wanita itu langsung mengambil minuman untuk membuat Velicia malu, tapi sayang niatnya digagalkan oleh Arnold karena pria itu menjadi tameng untuk mantan istrinya. Jus warna merah itu kini mengenai bajunya.


Velicia dan Merry terlihat begitu shock dengan apa yang terjadi, Arnold menatap tajam kepada Viona, ia membalikan badan menatap mantan istrinya dan bertanya." Kamu tidak apa-apa?"


Velicia hanya mengangguk, seakan mengatakan kalau ia baik-baik saja. Arnold merasa mantan istrinya itu tidak apa-apa langsung berjalan meninggalkan restaurant dan masuk mobilnya.


Viona terlihat begitu marah, ia ingin sekali memalukan wanita di depannya kini, tetapi saat ini Merry berdiri menatapnya tajam membuat wanita itu langsung pergi begitu saja.

__ADS_1


"Cia, itu Arnold?" tanya Merry.


Velicia hanya tersenyum, ia tidak tahu kalau ada sepasang kekasih itu di kafé yang sama. Moodnya menjadi buruk sekarang, senyum ceria itu sudah menghilang saat melihat adegan penyiraman tadi.


"Hai, apa yang kamu pikirkan?" tanya Merry.


Velicia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, wanita itu merasa tubuhnya mulai lemas lagi. Ia tak ingin sahabatnya khawatir.


"Merry aku ada perlu jadi tidak bisa lama-lama," pamitnya.


"Yah aku masih kangen," rengek Merry sambil cemberut membuat Velicia tergelak.


Kini keduanya berpisah naik mobil masing-masing. Velicia akan langsung menuju rumah sakit untuk cek up.


***


Di kantor Grup Arista.


Clara yang mendapatkan laporan kalau Velicia kini berada di kafe dekat kantornya tersenyum, Wanita itu hanya menarik napas panjang. Ia selalu meminta anak buahnya untuk mengikuti kemanapun bosnya itu pergi.


Clara mencari kontak Jack, karena ia akan melaporkan setiap kegiatan Nonanya itu. Tak lama di teleponnya nomer itu.


"Halo, Pak," kata Clara.


"Ada apa Clara?" tanya Jack dari seberang sana.


"Pak, Ibu hari ini jatahnya harus cek up lagi, kemarin kata dokter Herman kalau kondisinya semakin memburuk, tapi masih sering keluar rumah," ujar Clara kepada Jack.


Tidak ada jawaban dari seberang sana, hanya ada helaan napas panjang yang terdengar oleh Clara. Tak lama seperti biasa Jack akan memutuskan telepon begitu saja.


Clara hanya bisa mendesah, pria itu selalu sesuka hatinya mematikan teleponnya, kini Clara sedang menunggu email dari dokter Herman dengan hasil pemeriksaan Velicia.


Clara sampai sekarang tidak mengerti, kenapa sekarang Arnold yang menjadi bosnya, tapi sesuai perintah dari Velicia kalau Viona dilarang memasuki kantor Arista.


Bersambung... ya..maaf up lama karena anak sedang PTS 🙏

__ADS_1


__ADS_2