
Arnold membawa istrinya masuk kamar, pria itu kini mendudukkan Cia di tepi ranjang.
"Ada apa?" tanya Cia
Arnold menatap istrinya, pria itu menarik napas dalam dan berkata," Sayang, bagaimana kalau kita memberikan kado bulan madu ke Berlin."
Cia menatap suaminya itu, entah kenapa ia tidak setuju jika kesana."Ar, kalau ke paris saja bagaimana?'
Arnold menatap istrinya dengan tatapan yang berbeda. Bukan ia tidak mau, tapi pria itu ada rencana lain nantinya. Namun, saat ini masih dirahasiakan dari istrinya.
"Biar mereka di Berlin saja, biar Tuan Jimmy bisa sekalian mengadakan pesta," kata Arnold.
Mata Cia melebar melihat itu karena setahunya Shinta dan Andreas tidak ingin ada resepsi lagi. Wanita itu memicingkan mata dan bertanya, "Kamu ikut merencanakan ini, Ar?"
Arnold menautkan kedua alisnya, pria itu merasa heran karena sang istri bisa membaca pikirkannya.
"Kamu membaca pikiranku, Sayang?"
"Ar, ini bukan waktunya untuk bercanda, lebih baik tanya dulu Shinta dan suaminya akan bulan madu ke mana?
"
Cia menatap suaminya itu kesal, bukannya wanita itu perhitungan dengan keluarga Arnold karena ia takut sampai terjadi salah paham dengan Andreas lagi.
"Ya sudah nanti aku tanya kan, tapi apa kamu mau membujuk Shinta untuk pulang ke Berlin?" tanya Arnold.
"No, aku tidak mau." Cia keluar dari kamarnya.
Melihat itu Arnold hanya menarik napas panjang, apa lebih baik menyerahkan kepada Andreas dan Shinta saja.
Pria itu keluar dari kamar, saat sampai di ruang keluarga. Sudah ada Andrean dan Istrinya. Pasangan pengantin baru itu sedang asik menikmati bakso.
Arnold melihat jam menunjukkan pukul dua siang, ia melihat sekelilingnya tidak melihat Cia. Pria itu menuju ke pintu belakang.
Arnold tersenyum, saat melihat Cia sedang mengobrol dengan Langit.
"Sayang, aku cari kamu di sini," kata Arnold.
Cia menatap suaminya, ia masih kesal karena diam-diam Arnold kerjasama dengan Tuan Jimmy.
Arnold menggaruk kepalanya, pria itu akhirnya berkata," Maaf, aku sudah tidak akan ikut campur lagi."
Cia hanya diam, wanita itu menarik napas panjang. Di lain sisi tidak tega dengan Arnold. Namun, wanita itu merasa jika suaminya sesekali diberinya pelajaran.
Cia mengendong Langit, melihat itu Arnold mencekal lengan istrinya. Kedua netra keduanya beradu.
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku," kata Arnold.
Cia memejamkan matanya, wanita itu kini mengangguk. Hal itu membuat Arnold langsung memeluk tubuh ramping istrinya. Sedangkan Bayi berumur dua bulan itu menatap Arnold tanpa berkedip.
Cia dan Arnold saling pandang, keduanya tersenyum saat melihat bagaimana Langit menatap kedua orang tuanya.
Keduanya masuk dan ikut bergabung dengan Andreas, Arnold menatap istrinya. Pria itu kini mengalihkannya ke arah Andreas dan Shinta.
"Kakak apa mau bulan madu, kalau ia bilang saja mau kemana," kata Arnold.
Andreas menatap adiknya dan berkata, "Ada apa?"
"Begini, Kak. Kami akan memberikan hadiah bulan madu. Kakak dan Shinta mau kemana dan kapan mau pergi. Nanti kami yang mengurus semuanya."
Andreas menatap Cia, pria itu tersenyum tipis. Digemggamnya tangan Shinta."Kamu mau bulan madu di mana, selagi gratis."
Shinta menatap suaminya itu, baru saja damai sekarang sudah mulai menggodanya. Wanita itu menatap Cia.
Cia mengangguk tanda setuju, sedangkan Arnold merasa lega karena sudah lepas dari amarah istrinya.
*****
Sementara di Berlin, Jhon memijat keningnya karena papanya marah-marah karena Shinta tidak ingin resepsi lagi.
"Pa, aku mohon hargai keputusan Andreas dan Shinta," kata Jhon.
Jhon beranjak dari duduknya, pria itu naik ke lantai dua. Perlahan dibukanya pintu kamar. Kening pria itu mengerut karena istrinya tidak ada di dalam kamar.
"Clara," panggil Jhon.
Mata Jhon tertuju ke arah balkon kamarnya, Pria itu tersenyum saat melihat istrinya tertidur di kursi malas yang biasa ia gunakan.
Jhon melihat wajah cantik itu , pria itu berlutut di depan istrinya."Cantik, aku harap kamu segera bisa mencintaiku, Clara."
Jhon sadar semua ini salahnya, memaksa wanita kepercayaan keluarga Arista. Tanpa ada rasa cinta di hati Clara, wanita itu memutuskan menerimanya asal tidak mengganggu Leon dan Aura.
Rasa sakit, tapi wanita yang kini sedang mengandung darah dagingnya itu. Tidak menolak saat harus mengandung anaknya. Namun, Jhon merasa sampai sekarang Clara belum bisa mencintainya.
Clara membuka matanya, Wanita itu terkejut karena ada suaminya sedang menatapnya.
"Tuan," ucap Clara.
Jhon tersenyum, pria itu mengusap wajah putih istrinya." Kenapa tidur di sini, Hem?"
"Maaf saya ketiduran." Clara beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Jhon hanya menarik napas panjang, pria itu melihat tubuh istri masuk kamar mandi. Ia duduk di sofa yang berada di sudut kamarnya. Tidak lama pintu kamar mandi terbuka. Clara sudah terlihat segar. Jhon tersenyum , walau hanya mendapatkan tatapan datar wanita yang kini sedang mengandung buah hatinya itu.
"Sayang, apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Jhon.
"Tidak Tuan, saya mau makan apa yang dimasak oleh pelayan saja," kata Clara.
Jhon hanya menghela napas panjang, tapi pria itu harus sabar karena ini salahnya. Hingga ia melihat Clara keluar dari kamar.
Jhon tidak ingin istrinya terlalu dekat dengan papanya, pria itu segera keluar dari kamar. Ia menghentikan langkahnya saat sampai di tangga paling bawah. Pria itu tersenyum saat melihat istrinya sedang tertawa lepas dengan para pelayan.
Jhon turun, pria itu memberikan kode kepada pelayan untuk pergi. Tanpa Clara sadari hanya tinggal dia dan suaminya.
"Bi-bibi." Clara membalikan tubuhnya.
Clara begitu terkejut, entah sejak kapan suaminya berada di belakangnya. Jarak keduanya begitu dekat."Tuan butuh apa?"
"Aku butuh kamu," jawab Jhon.
Wajah Clara dari terkejut langsung berubah datar, hal itu tidak membuat Jhon menyerah.
"Sedang masak apa?" tanya Jhon.
"Hanya dadar telur," jawab Clara kembali membelakangi suaminya.
Jhon bukanya pergi, pria itu kini memeluk pinggang ramping istrinya. Ia menumpangkan dagunya ke bahu Clara.
"Tuan," kata Clara.
"Aku mau seperti ini, Sayang," ucap Jhon.
"Saya, sedang masak," tolak Clara.
"Lalu?"
"Saya mau makan, anak Anda kelaparan," ujar Clara.
Jhon terkekeh, pria itu melepaskan pelukannya. Tidak lama ia mengikuti istrinya ke meja makan. Jhon saat berada di rumah tidak mau jauh dari Clara.
Sudah berapa kali Papanya menasihatinya, karena kasihan Clara. Namun, itu tidak sama sekali diindahkan oleh Jhon.
Seorang pelayan datang menghampiri Jhon."Tuan, ada yang ingin bertemu."
Jhon dan Clara saling pandang, Pria itu menatap pelayan itu lalu bertanya," Siapa?
"
__ADS_1
"Tuan Eric, ingin bertemu dengan Nona Clara." Pelayan itu menundukan kepalanya karena melihat perubahan wajah tuannya.