
Velicia menatap wajah Jack dengan intens, ia merasa aneh dengan kedatangan pria itu, apalagi kini memintanya untuk berobat di luar negeri. Wanita itu beralih menatap Clara, yang sedang diam menatapnya dengan tatapan sendu. Ini yang tidak diinginkan, mengasihaninya karena penyakit yang dideritanya.
"Clara!" seru Velicia.
"Maaf, Nona," ucap Clara sambil menunduk, karena ia yakin ini akan terjadi.
Velicia menatap tajam kepada orang kepercayaannya itu. Ia tak habis pikir kenapa Jack harus tau bagaimana kondisinya yang sebenarnya.
"Apa yang harus dikhawatirkan, Jack!" kata Velicia.
"Cia, aku ingin kamu sembuh, apa kamu ingat apa kata Mama dan Papa kalau kita harus saling menjaga?" Jack mengingatkan adiknya.
Velicia hanya diam, ia begitu ingat akan hal itu, sedangkan yang sekarang terjadi berbeda dengan dirinya yang dulu.
"Jack, biarkan akun seperti ini sampai waktu itu akan datang," ujar Velicia.
Jack menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin hal itu terjadi. Bagaimanapun adiknya harus dibawa berobat, walau hasilnya hanya 5% untuk berhasil. Namun, tidak ada salahnya ia berusaha.
"Cia aku akan menginap disini beberapa hari karena ada urusan," kata Jack sambil berlalu menuju kamarnya di lantai dua.
Velicia tidak menjawab, itu tidak membutuhkan jawaban. Karena sampai kapanpun rumah ini akan menjadi milik Jack juga. Clara masih berdiri di tempatnya dari tadi.
"Pulanglah!"usir Velicia yang masih terlihat kesal karena ulah asistennya itu.
"Dia akan tinggal di sini, Cia!" Suara Jack mengejutkan kedua wanita itu.
"Jack, kamu mau kemana?" tanya Velicia tanpa menanggapi apa yang dikatakan pria itu tadi.
"Ada meeting, sore aku akan kembali, Clara jaga dia!" titah Jack kepada Clara.
"Baik Tuan," jawab Clara sambil menunduk hormat.
"Jack, jangan berlebihan aku tidak suka!" kata Velicia ketus.
Jack hanya menatap datar adiknya itu, tanpa kata ia pergi begitu saja, dengan bersikap acuh berharap adiknya mau berobat ke luar negeri.
__ADS_1
Jack memakai mobil yang sport milik adiknya, ia akan bertemu dengan Tuan Besar Setyawan di kediamannya. Pria itu tadi menghubunginya akan berkunjung ke Villa Arista, tetapi jack melarangnya biarkan ia yang akan mengunjunginya.
Mobil yang dikemudikan Jack melaju membelah keramaian jalan di Kota Ternate. Ia begitu merindukan hal ini berkeliling bersama kedua orang tua angkatnya, tetapi hal itu tidak akan pernah terjadi lagi.
Setelah menempuh tiga puluh menit, mobil warna merah itu sampai di depan villanya yang terlihat begitu megah. Jack membuka kaca jendela mobilnya sedikit, saat petugas itu tahu langsung membukakan pintu pagar untuk tamu Tuannya.
Jack mengerutkan keningnya saat melihat Tuan Besar Setyawan menyambutnya di teras, karena ia bukan tamu agung yang harus disambut sedemikian rupa.
"Selamat datang, Jack. Ini sebuah kehormatan atas kunjunganmu," kata Tuan Besar sambil mengajak Jack masuk dan kini keduanya duduk di ruang tamu. Tidak alam seorang pelayan datang membawa dua cangkir air guraka,
"Kamu masih ingat ini, Nak. Minuman khas Ternate ini dibuat dari campuran jahe parut dan gula aren yang kemudian dicampurkan dengan kenari," jelas Tuan besar sambil tersenyum.
"Tentu Tuan, Perpaduan rasa manis dari gula aren dan hangatnya jahe dari minuman ini mampu menemani berbagai sajian makanan ringan untuk mengisi waktu santai di sore hari," balas Jack sambil minum air guraka.
Tuang besar Setyawan tergelak, pria muda di depannya itu seakan memberikan kode. Pelayan datang sambil tersenyum membawa waku komo-komo, salah satu makanan yang berbahan utama tepung sagu dan diolah dengan berbagai macam bumbu serta santan kelapa. Olahan sagu yang telah matang ini kemudian dicampur dengan jeroan ikan sebelum dibungkus dengan menggunakan daun woka.
Mata Jack terlihat berbinar melihat waku komo-komo, tanpa menunggu ditawari ia langsung menyantapnya, hal itu membuat pria paruh baya itu tersenyum. Ia merasa bahagia semoga dengan penyambutan hangat ini bisa mempererat silaturahmi antara keluarga Setyawan dan Jack nantinya.
Kini Jack sudah merasa kenyang, Jack mulai bercerita kalau ia merasa bersalah karena sudah memutuskan kerjasama secara sepihak.
Jack hanya diam, pria itu kembali menyeruput air gerakunya lagi, lalu berkata." kalau mereka berpisah itu lebih baik."
Pria paruh baya hanya menarik napas dalam, sampai sekarang ia belum tahu apa alasannya kenapa keduanya bercerai, sedangkan publik tahunya kalau sampai sekarang Velicia dan Arnold masih sepasang suami istri.
"Jadi apa kerja sama itu masih bisa dijalankan, Nak?" tanya Tuan besar.
"Tergantung," kata jack.
Tuan besar mengernyitkan kedua alisnya, karena jawaban Jack tidak memuaskan dirinya, pria paruh baya itu kini mengusap wajahnya kasar. Berapa banyak kerugian yang akan ditanggungnya jika kerjasama ini benar-benar batal nanti.
"Saya harap kamu bisa pikirkan lagi, Jack." Tuan besar terlihat begitu memohon untuk melanjutkan kerjasamanya lagi.
"Nanti saya pikirkan lagi, Tuan." Jack beranjak berdiri dan langsung pamit karena ia tidak ingin meninggalkan adiknya lama-lama.
***
__ADS_1
DI Villa Arista.
Velicia sedang duduk, di ayunan, tak jauh dari taman samping rumahnya yang ditumbuhi bunga, saat sore hari udara begitu sejuk. Wanita itu sedang asik membaca koran tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran tamu yang tidak diundangnya.
"Cia," kata Arnold menyapa mantan istrinya itu.
Velicia hanya diam, ia cuek tidak menganggap kalau pria itu ada di sampingnya. Arnold hanya bisa tersenyum getir, wanita itu benar-benar bersikap dingin kepadanya.
"Cia, kalau kamu tidak ingin berbicara kepadaku tidak apa-apa, tapi setidaknya biarkan aku ada di sini," ujar Arnold yang saat ini berdiri di depan Velicia
Velicia hanya menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan kasar, matanya menatap tajam pria yang kini berdiri tepat di depannya.
"Apa maumu, Ar?" tanya Velicia ketus.
Senyum mengembang di bibir Arnold saat wanita di depannya itu mau berbicara kepadanya walaupun dengan nada kesal.
"Aku rindu padamu, Cia!" kata Arnold lembut.
Velicia begitu merutuki jantungnya yang sekarang, saat Arnold mengatakan rindu tiba-tiba jantungnya berdetak begitu cepat. Ia sadar tidak mudah untuk melupakan cintanya itu.
Velicia memejamkan matanya, ia sebisa mungkin menenangkan debaran jantungnya. Berharap pria di depannya itu tidak menyadari apa yang sekarang ia alami.
"Cia, kamu baik-baik saja?" tanya Arnold saat melihat wanita yang dicintainya itu memukul dadanya beberapa kali.
Arnold yang begitu panik, tiba-tiba ada yang mendorongnya dengan tenaga penuh, tubuh kekarnya yang tidak bisa menjaga keseimbangan karena serangan dadakan itu akhirnya jatuh terduduk tak jauh dari Velicia
Velicia terkejut dengan apa yang dilakukan oleh asistenya itu, mata Clara menatap tajam Arnold seakan siap untuk menguliti tubuh pria itu.
"Nona tidak apa-apa?" tanya Clara merasa khawatir saat melihat bosnya memukul dadanya.
"Aku enggak apa-apa, Clara. Ar, pulanglah!" usir Velicia dengan nada tegas.
"Cia aku ak-," kata-kata Arnold langsung terhenti saat Clara langsung menyelanya.
"Tuan, pintu keluar disebelah sana!" Suara Clara terdengar begitu datar sambil menunjuk pintu keluar.
__ADS_1