
Andreas mengusap rambut Velicia, perasan bahagia akan kehangatan yang Arnold berikan, seakan membuatnya takut untuk memejamkan matanya.
Velicia tersenyum saat seorang perawat yang terlihat cantik dan sepertinya bukan seperti orang indonesia, tetapi ia yakin itu perawat dari luar negeri. Banyak pertanyaan yang timbul di benaknya. Namun, kata jack kalau dirinya sekarang berada di salah satu rumah sakit di kotanya.
Suster itu hanya mengecek infus, setelah itu keluar ruangan begitu saja. Diliriknya pria yang kini masih duduk di tepi tempat tidurnya.
"Ar, Pulanglah!" usir Velicia.
"Biarkan aku di sini saja," ujar Arnold sambil tersenyum.
Velicia hanya diam, dipaksa pun akan percuma karena ia tahu kalau pria yang disampingnya itu begitu keras kepala.
"Istirahatlah, jangan pikirkan aku," kata Andreas lembut.
"Ar, jangan terlalu lembut denganku," ujar Velicia.
Senyum mengembang di bibir pria yang masih dianggap kalau itu adalah Arnold, senyum manis itu hanya milik Andreas yang sekarang akan menggantikan rasa sakit yang ditorehkan sang adik menjadi rasa bahagia.
Velicia dengan cepat mulai terlelap, itu karena pengaruh obat yang dimasukan lewat infus tadi, setelah melihat gadis kecilnya tertidur Andreas keluar. Di luar sudah ada jack yang sedang melakukan panggilan telepon kepada sang istri.
Jack harus menjelaskan sekarang ada di mana kepada istrinya itu, ia tidak ingin wanita yang dicintainya itu akan semakin membenci adiknya.
****
Pagi harinya, Velicia terbangun ia menatap wajah tampan yang sudah terlihat begitu segar. Andreas tersenyum menatap gadis kecilnya yang begitu lucu saat baru bangun tidur.
"Pagi," sapa Andreas dengan khas senyum manisnya.
Velicia tersenyum, ia merasa malu karena sekarang sudah ada Tuan besar Setyawan dan istrinya dan ada juga dokter Herman dan satu lagi dokter yang masih terlihat tampan walau umur tidak muda lagi. Tubuhnya tegap, alis tebal, hidung mancung dan ada yang membuat Velicia menyukainya netra berwarna biru itu begitu indah dipandangnya.
"Bagaimana Nyonya, apa Anda merasa lebih baik sekarang?" tanya dokter Herman sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya ini lebih enakan, apa saya akan bisa sembuh, Dok?" tanya Velicia menatap dokter itu dengan penuh harap,
"Kita harus berusaha, karena hidup dan mati hanya miliknya," ujar dokter Herman.
Velicia hanya mengangguk, ia mengerti. Namun, saat merasakan tubuhnya lebih sehat dari sebelumnya wanita itu kian semangat untuk sembuh.
Jack melihat semangat pada diri adiknya begitu besar, hal itu membuatnya yakin kalau Velicia bisa melewatinya, karena ia ingat apa kata Dokter James jika kita mengobati orang sedangkan semangat hidupnya turun, itu sama saja bohong.
Jack begitu sedih karena ia tidak bisa mendampingi adiknya nanti saat akan kemo terapi, harapannya Andreas akan selalu memberikan kabar bagaimana dengan adiknya itu.
Dokter James menjelaskan kalau melihat semangat dari Velicia, pria itu juga yakin kalau akan berhasil, karena ia selain kemoterapi akan menerapkan pengobatan tradisional dari istrinya yang selalu menemaninya saat mendapatkan pasien seperti Velicia.
Dokter Herman dan James keluar dari Ruangan Velicia, melihat itu Jack menghampiri adiknya. Diusapnya kepala Velicia dengan lembut.
"Kamu harus sembuh, buktikan kamu wanita yang terutama ke pria itu," bisik Jack sambil mengarahkan pandangannya ke Andreas.
"Jack kamu jangan terlalu lama di sini, nanti kakak akan mencarimu," ujar Velicia.
Andreas melihat Kakak dan adik itu sedang bercanda ikut bergabung dan berkata."Cia, akun panggilan perawat untuk membantu di kamar mandi."
"Ar, tidak perlu. Aku bisa sendiri!" tolak Velicia menatap wajah tanpa mantan suaminya itu.
"Tidak. Kamu harus menurut!" kata Andreas tegas.
Jack tersenyum, dan berkata." Kamu ikuti saja apa maunya."
"Jack!" seru Velicia tidak suka.
Jack terkekeh, ia tahu adiknya itu kesal kepadanya. Yang membuat pria itu heran adiknya tidak bisa membedakan mana Arnold pria datar dan dingin itu dengan kakaknya yang selalu hangat kepadanya.
Tuan besar menatap Velicia sambil tersenyum di ikuti Maria yang mengusap kepala Velicia. Ia berharap kehangatan dari keluarga mantan suaminya itu tidak berubah saat ia sembuh nanti.
__ADS_1
"Jack, kira-kira berapa lama aku akan menjalani perawatan ini?" tanya Velicia yang kini duduk sambil bersandar di ranjangnya.
"Jangan berpikir berapa lamanya, tetapi kapan kamu sehatnya. aku harap walau aku tidak bisa menemanimu tetaplah berpikir positif." Jack mengingatkan adiknya.
Velicia tersenyum hangat, ia berharap akan bisa sembuh juga, walau itu akan sulit. Namun, melihat semua yang menjaganya begitu menyayanginya membuatnya harus sembuh.
Velicia tidak ingin terlalu lama merepotkan keluarga dari mantan suaminya itu, ia berharap saat seperti ini ada Merry yang selalu ada. Namun, apa yang dikatakan jack benar karena sahabatnya itu tengah membuka cabang untuk cafenya.
"Nak, Papa dan Mama pamit dulu, kamu ditemani-," kata -kata Tuan besar terhenti saat Anderas menyelanya.
"Papa jangan khawatir, aku menjaganya dengan baik," ujar Andreas.
Tuan besar mengusap bahu putranya itu, andai yang mengatakan demikian adalah Arnold pasti wanita yang sedang terbaring lemah itu akan menyukainya. Walau Velicia sering menolak dan membenci putra keduanya itu, ia tahu kalau masih ada cinta dari mata wanita itu untuk putranya.
"Papa percaya, "kata Tuan besar tersenyum menatap putranya itu.
Maria mengecup kening Velicia, ada rasa haru yang menghangat di hatinya, karena baru kali ini mendapatkan kasih sayang dari wanita yang dipanggilnya Mama. air matanya mengalir begitu saja, saat tangan itu mengusap pipinya.
Velicia begitu rindu dengan Mamanya, rindu akan pelukan hangat itu. Jack melihat itu begitu hanya tersenyum getir, karena adiknya pasti sangat merindukan sosok kedua orang tuanya. Ingin rasanya Jack memeluk gadis nakalnya itu. Namun, ia urungkan karena masih ada Tuan besar dan istrinya.
Tuan besar dan istrinya keluar dari ruang rawat, melihat itu Andreas langsung memeluk tubuh Velicia yang bergetar menahan tangis, Jack hanya bisa menarik napas. Ia keluar dari ruang rawat, jujur hatinya begitu sakit saat melihat adiknya rapuh seperti itu.
"Jangan menangis, maafkan aku yang tidak peka dengan apa yang kamu rasakan," kata Andreas lembut.
Entah keberanian dari mana, Andreas mengecup pucuk kepala Velicia, wanita itu hanya diam saja, tak lama ia membalas pelukan pria yang kini memeluknya.
"Apa pun yang mengganjal di hatimu, jangan sungkan untuk menceritakan kepadaku, Cia!" kata Andreas lembut.
Velicia terkekeh, ia merasa kalau pria yang sedang memeluknya ini bukan Arnold yang baisa ketus kepadanya. Melihat gadis kecilnya kembali tersenyum, Andreas merasa senang.
"Sudah tenang, Nona," goda Andreas membuat wajah Velicia merona.
__ADS_1
Bersambung ya...